Sentuhan Yang Tidak Disengaja

1056 Kata
Pesan dari Raka datang lagi lima menit kemudian. "Kita bicara di ruang kerja, sekarang." Nara menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya bangkit dari ranjang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia keluar kamar dengan langkah yang hati-hati, memastikan pintu kamar Nadira tertutup dengan rapat. Lorong rumah itu terasa lebih panjang malam ini. Ruang kerja Raka menyala redup. Lampu meja menyinari tumpukan berkas dan satu cangkir kopi yang sudah dingin, Raka berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap pintu. “Kunci,” katanya tanpa menoleh. Nara menutup pintu perlahan, kemudian menguncinya. “Ada apa?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Raka berbalik, wajahnya tampak tegang dan rahangnya mengeras. “Nadira mulai curiga.” ucapnya. Nara menelan ludah. “Aku tahu.” ucapnya pada Raka. “Kamu lihat caranya dia memandang kita malam ini?” Raka melangkah mendekat. “Dia memperhatikan hal-hal kecil tentang kita.” lanjutnya lagi. “Aku sudah berusaha untuk bersikap biasa saja.” ucapnya lirih. “Justru itu,” kata Raka. “Kamu terlalu hati-hati, jadi dia merasa seperti ada yang di sembunyiin dari kita.” ucapnya. Nara mengernyit. “Maksudmu?” tanyanya. “Kita terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.” jelasnya pada Nara. Kalimat itu membuat Nara terdiam. “Lalu apa yang harus kita lakukan, bukannya kita memang sedang menyembunyikan rahasia besar?” tanyanya pelan. Raka menghela napas, lalu mengusap wajahnya. “Kita perlu terlihat lebih normal.” katanya lagi. Nara mengangkat kepala. “Normal seperti apa?” tanya Nara heran. Raka tidak langsung menjawab, tatapannya turun ke tangan Nara yang terlipat gugup di depan tubuhnya. “Seperti pasangan yang tinggal serumah,” katanya akhirnya. Hening sesaat di antara mereka. “Tidak,” jawab Nara cepat. “Itu sudah melanggar perjanjian.” katanya protes. “Aku tidak bilang kita harus,” Raka berhenti. “Aku hanya bilang, di depan Nadira, kita perlu terlihat nyaman satu sama lain.” lanjut Raka. “Nyaman bukan berarti menyentuh,” kata Nara, nadanya langsung meninggi. Raka menatapnya tajam. “Nara.” ucap Raka dengan nada yang tinggi juga. Nada itu membuatnya terdiam. “Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuan dari mu,” lanjut Raka lebih pelan. “Tapi kita juga tidak bisa terus bersikap seperti orang asing.” ucap Raka. Nara memalingkan wajah. “Kamu tahu betul risikonya.” ujar Nara. “Dan kamu tahu betul konsekuensinya kalau Nadira tahu,” balas Raka. Kata-kata itu menggantung di udara. Nara menutup mata. “Aku lelah.” lirih Nara. Raka terdiam kemudian ia melangkah lebih dekat, tanpa menyentuh. “Aku juga sama lelahnya,” katanya lirih. Mereka berdiri terlalu dekat. Nara bisa mencium aroma kopi dan sesuatu yang khas dari Raka bersih, hangat, dan menenangkan tanpa alasan yang jelas. Ia mundur selangkah. Raka refleks meraih pergelangan tangannya, sentuhan yang singkat, namun cukup untuk membuat waktu seakan ikut berhenti. Nara menegang, napasnya tersangkut. Ia bisa merasakan kehangatan telapak tangan Raka, genggamannya yang tidak kasar, tapi juga tidak sepenuhnya ragu. Raka menyadari apa yang ia lakukan dan dengan segera ia melepaskannya. “Maaf,” katanya akhirnya. Nara menunduk, jantungnya berdegup liar. “Jangan ulangi itu lagi.” kata Nara pelan. “Aku tahu.” jawab Raka cepat. Tapi keheningan setelahnya justru terasa lebih berat, tiba-tiba, terdengar langkah kaki di luar. Nara seketika membeku. Raka bergerak dengan cepat, ia meraih tangan Nara lagi tapi kali ini lebih mantap dan menariknya mendekat, bukan ke dalam pelukan, tapi cukup dekat hingga jarak mereka tampak wajar dari luar. Pintu diketuk. “Pa?” suara Nadira terdengar memanggil. “Aku mau minum.” teriaknya. Raka tidak melepaskan Nara, suaranya tenang saat menjawab, “Masuk.” Pintu terbuka. Nadira berdiri di ambang pintu, menatap mereka berdua, tatapannya berhenti pada jarak yang terlalu dekat, pada tangan Raka yang masih menggenggam pergelangan Nara. “Oh,” kata Nadira pelan. “Aku ganggu?” tanyanya pelan. Nara menahan napas. “Tidak,” jawab Raka. Ia melepaskan tangan Nara perlahan. “Kami sedang bicara.” ucapnya. Nadira mengangguk, tapi matanya menyipit sedikit. “Tentang apa?” tanya Nadira. “Urusan kerja,” jawab Raka singkat. Nadira melirik Nara. “Kamu kelihatan pucat, Na.” ucapnya pada Nara. Nara memaksakan senyum. “Aku hanya kurang tidur.” ucap Nara menunduk. “Jangan begadang,” kata Nadira sambil berjalan ke dapur. “Aku ambil air dulu.” katanya lagi. Pintu tertutup kembali. Nara menatap Raka, matanya gemetar. “Itu hampir saja.” ucapnya lirih. “Aku tahu,” jawab Raka pelan. “Jangan lakukan itu lagi,” ulang Nara. “Jangan sentuh aku hanya karena panik.” kata Nara. Raka mengangguk. “Aku salah.” ucapnya menyesal. Namun malam itu, setelah mereka berpisah dan kembali ke kamar masing-masing, Nara tidak bisa tidur. Ia memejamkan mata, tapi yang terlintas justru rasa hangat di pergelangan tangannya. Dan dia kamar sebelah, Raka duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia hindari yaitu sentuhan itu tidak terasa asing dan itu masalahnya. Keesokan paginya, mereka bertiga sarapan bersama lagi. Kali ini, Raka sengaja duduk lebih dekat dengan Nara. Tidak menyentuh, tapi cukup untuk dilihat. Nadira memperhatikan secara diam-diam. “Pa,” kata Nadira sambil menyendok nasi. “Papa kelihatan beda.” ucapnya. Raka menoleh. “Beda bagaimana?” tanyanya pada Nadira. “Lebih hidup,” jawab Nadira jujur. Nara tersedak kecil. Raka meliriknya cepat. “Makan pelan-pelan.” ucapnya. Nada itu perhatian kecil yang spontan membuat Nadira menatap mereka lebih lama. “Hm,” gumam Nadira. Setelah Nadira pergi ke kampus, Nara berdiri di dapur, tangannya gemetar saat mencuci piring. “Kita harus berhenti,” katanya tiba-tiba. Raka menoleh. “Berhenti apa?” tanyanya. “Bermain peran.” Nara menatapnya. “Ini makin berbahaya.” ucap Nara. “Lalu apa rencanamu?” tanya Raka balik. Nara terdiam, ia tidak punya jawaban. Raka mendekat, berhenti pada jarak yang aman. “Aku tidak ingin menyakitimu.” kata Raka akhirnya. “Tapi kamu sudah melanggar batas,” kata Nara pelan. Raka mengangguk. “Dan aku menyesal.” ucapnya lirih. Namun di balik penyesalan itu, ada sesuatu yang lebih jujur keinginan yang tidak mereka rencanakan. Nara menarik napas panjang. “Kalau ini terus berlanjut kita akan kehilangan lebih dari sekadar rahasia.” terang Nara. Raka menatapnya lama. “Aku tahu itu.” katanya. Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua menyadari masalah terbesar mereka bukan lagi Nadira, melainkan perasaan yang mulai tumbuh tanpa izin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN