Rasa Yang Mulai Tumbuh

1115 Kata

Kampus terasa lebih ramai dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Nara saja. Ia melangkah di antara kerumunan mahasiswa dengan ransel tergantung di satu bahu, mencoba menyatu seperti hari-hari sebelum semuanya berubah. Tapi langkahnya terasa lebih berat, seolah setiap pasang mata berpotensi melihat sesuatu yang tidak seharusnya mereka tahu. “Nara!” panggil Nadira. Suara Nadira terdengar dari belakang. Nara menoleh dan tersenyum, senyum yang sudah ia latih sejak pagi tadi. “Eh, kamu, Dir.” sapanya pada Nadira. Nadira menyusul, menyamakan langkah. “Kamu pulang bareng aku nanti, ya.” ajaknya pada Nara. Nara terdiam sepersekian detik. “Aku ada urusan habis kelas nanti.” jawab Nara. “Urusan apa?” Nadira spontan bertanya, lalu langsung tertawa. “Eh, maaf, aku kepo.” ucapnya terkekeh.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN