“Hmph!” Bai Xingge yang merasa terhina menubruk bahu Darren dengan bahunya. Itu sangat keras karena bukan hanya bahu, tetapi otot lengan kekar itu juga ikut menubruk lengan Darren. Laki-laki itu segera berlalu dari aula latihan tanpa berucap lagi. Padahal Bai Xingge membutuhkan penjelasan Darren, bukan? Hal itu membuat Darren mengernyit tak mengerti. Sudahlah. Lagi pula, perutnya sakit sekarang seperti mengalami gastritis. Darren mendesah sambil memegangi perutnya. Namun, detik berikutnya sebuah senyum terukir di bibirnya. “Mengagetkan saja.” Senyum itu menjadi lebih lebar lagi lalu Darren mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Mencondongkan badannya ke belakang, ke kiri, ke kanan dan ke depan. “Cukup seru,” ucapnya lagi. Orang-orang ini cukup berbeda dengan rekan kerja Darre

