“Pelan-pelan, Aylin.” Baja berucap hati-hati dan saaangat lembut, penuh perhatian. Tentu saja, dia sedang memapah istri. Tangannya sigap menopang siku Aylin saat berjalan memasuki ruang praktik dokter kandungan. Aylin mendesah pelan—bukan jenis desah yang biasa dia loloskan ketika dicumbu om suami, lalu satu tangannya bertumpu pada perut buncit yang ... uh, sudah sangat besar. Bayangkan! Isinya tiga bayi dan ini trimester ketiga Aylin. “Mas ... kekencengan megang akunya. Kalau lebih kenceng lagi, aku nggak bisa jalan, lho.” Baja langsung melonggarkan pegangannya. "Habisnya, kan, Mas khawatir kamu jatuh." Aylin mencibir, tetapi ada senyum di bibir. Memang om suami sejak Aylin hamil, tingkahnya overprotektif sekali. Ya, tapi kalau Mas Bajanya tidak begitu, nanti Aylin bakal nanya-na

