Cant Wait

1960 Kata
Sofia memasuki rumah kontrakan sederhana yang beberapa bulan ini telah mereka tempati bertiga dalam suka dan duka. Ia biasanya hanya akan pulang untuk istirahat sebentar dan mandi sebelum ia kembali ke club malam tersebut untuk bekerja. Itupun sangat jarang ia lakukan karena baginya cukup membuang- buang waktu di perjalanan. Karena itulah terkadang Sofia lebih memilih membawa keperluannya, beristirahat di club dan membersihkan dirinya disana. Bekerja di club memang bukanlah pilihan terbaik yang ia punya, namun tentu saja Sofia melakukan ini semua hanya karena untuk memenuhi kebutuhan mereka bertiga. Selama ini Sofia bekerja keras untuk bisa menyekolahkan Zanna di sekolah yang terbaik dan mengikuti beberapa les tambahan karena adiknya tersebut memang sangat senang belajar dan membaca. Sofia selalu berprinsip jika adiknya tersebut harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Ia harus mendapatkan apa yang tidak ia dapatkan sewaktu remaja. Zanna juga harus lebih bahagia dari dirinya karena selama ini, hidup gadis remaja tersebut hanya seputar rumah, sekolah, dan tempat les. Meski ia tergolong anak yang cantik dan ramah, namun ia sama sekali tidak tertarik untuk ikut bergaul dan mengikuti trend seperti layaknya anak remaja seumurannya. Ia merasa tidak adil jika ia harus bersenang- senang sedangkan Sofia harus jarang pulang ke rumah hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka semua. Zanna memang sedikit introvert dan lebih suka diam di dalam kamarnya untuk membaca. Sesekali ia akan bercanda dengan Sofia dan menceritakan tentang kawan- kawannya di sekolah, hal yang ia alami, atau boyband Korea kesukaannya yang bahkan membuat Bik Nana ikut bersenandung ketika Zanna memutar video musik mereka. Sejak kecil Sofia merawat sang adik dengan sangat baik. Ia bahkan seperti ibu untuk Zanna kecil yang selalu di tinggal oleh Dilara yang saat itu masih bekerja di ibukota yang membuatnya harus bolak balik setiap harinya dan akan sampai di rumah saat malam hari. " Dimana kamu sekarang Dilara Thomas? Kapan kamu akan kembali dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu? Tapi aku juga berharap aku dan Zanna tidak akan pernah bertemu dengan kamu lagi." ucap Sofia sambil duduk di tempat tidur Zanna. " Aku harus cerita semuanya ke siapa? Aku harus minta pendapat siapa? Apa yang aku lakukan ini sudah benar?" tanyanya lirih sambil mengusap air matanya. " Zein... Apa kamu akan memaafkan aku? Maafin aku. Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku malu, Zein. Aku malu ketemu sama kamu dan kamu akan tahu semuanya. Aku malu kamu tahu aku kerja di club malam. Aku malu kamu tahu kalau aku akhirnya di perkosaa saat aku bahkan nggak membiarkan kamu untuk mencium aku lebih lama. Tapi aku sayang sama kamu, Zein. Sangat. Aku hanya merasa nggak pantas untuk kamu..." ucap Sofia yang kini sudah sesenggukan membayangkan wajah kekasih yang sangat dirindukannya. Lelaki yang selalu memeluknya dan mengucapkan betapa ia menyayanginya. Pria yang ia kenal secara tidak sengaja namun berakhir menjadi kekasih yang selalu ada untuk memberikan rasa nyaman dalam pelukannya. Sofia Flashback " Ma... Ketemu Sofia dulu ya sebelum pulang." bujuk Zein pada ibunya. " Nggak bisa, Zein. Mama banyak urusan. Lagian mama sudah bilang sama kamu kalau mama nggak mau ketemu sama teman kamu itu." " Dia pacar aku, ma. Dia penting untuk aku." " Terserahlah, Zein. Yang jelas mama nggak suka kamu bergaul sama orang disini. Mereka itu mengejar harta kamu." " Ma, nggak ada yang seperti itu. Dan Sofia juga nggak seperti itu." bantah Zein. " Pokoknya mama nggak mau dan mama nggak setuju. Kalaupun kamu mau ngenalin mama sama teman dekat kamu, pastikan dulu dia dari keluarga baik- baik. Pastikan dia tidak mengejar harta kamu. Dan pastikan dia bukan orang biasa. Mama nggak mau ya, kamu dekat dengan orang sembarangan yang nggak jelas asal usulnya." " Tapi, ma. Dia udah di jalan mau kesini. Kasihan kalau..." " Jangan kasihani orang lain selain mama, Zein. Kamu itu harapan mama. Kamu akan jadi penerus perusahaan. Harapan mama sangat besar sama kamu dan tolong jangan hancurkan semua harapan mama hanya karena tergoda rayuan murahan perempuan yang baru kamu kenal." " Tapi, Ma..." " Udah, kalau kamu sudah selesai makan kita langsung kembali ke kamar. Mama mau siap- siap pulang." Zein tentu tidak bisa berkata- kata apapun lagi saat ini. Ia teringat ucapan Sofia yang mengatakan untuk tidak memaksa ibunya karena itu hanya akan membuat dirinya semakin tidak disukai nantinya. Sofia yang sudah sejak tadi berdiri dari balik sekat pembatas restoran di hotel tersebut hanya bisa mengelus dadanya mendengarkan percakapan antara Zein dan ibunya yang sedang membicarakan dirinya. Ia tahu jika ia dan Zein berbeda. Sangat berbeda. Namun pria itu selalu mengatakan jika ia akan membuat semuanya membaik. Ia hanya akan mengikuti keinginan ibunya dulu untuk melanjutkan kuliah masternya di luar negeri dan akan meminta persetujuannya untuk hubungan mereka sebagai imbalan saat kembali nanti. Zein bahkan berniat akan menikahinya dan tak ingin lagi berlama- lama untuk meresmikan hubungan mereka. Melihat Zein yang sedang serba salah antara menunggui kedatangan dirinya atau mengikuti permintaan sang ibu untuk menemaninya kembali ke kamar hotel, Sofia akhirnya mengirimkan pesan kepada Zein jika ia tidak bisa datang karena masih memiliki pekerjaan. Ia bisa melihat gurat kekecewaan di wajah sang kekasih yang sudah satu tahun lebih selalu memberikan dukungan kepadanya. Melindungi dan mengasihinya dengan tulus. Zein adalah orang yang mengingatkannya akan sikap hangat sang ayah. *** Tok Tok " Sofia..." Sofia terbangun dan terkejut ketika ia mendengarkan seseorang memanggil namanya disaat ia telah tertidur lelap. " Suara itu..." ucapnya dengan detak jantung yang tiba- tiba berdetak kencang. (" Mau apa dia kesini malam- malam? Apa lagi yang akan dia lakukan sama aku?") batin Sofia ketakutan. " Sofia... Buka pintunya." Sofia berjalan dengan perlahan dan mencari apa saja yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri. Ia benar- benar tidak ingin Sam kembali melakukan aksi bejatnya. Sofia lalu menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan tersebut dan mengambil apa saja yang ia pikir bisa ia gunakan. " Sofia! Buka atau saya dobrak!" seru Sam karena ia menyadari ada pergerakan dari dalam rumah sederhana tersebut ketika Sofia tak sengaja menabrak meja kayu di ruang tamunya. " Mau apa kamu?!" jawab sofia akhirnya setelah berusaha menetralkan ketakutannya. " Saya butuh tubuh kamu!" jawab Sam asal yang ia tahu akan langsung membuat Sofia meradang dan ketakutan. " Kamu gila! Kamu bajingann! Pergi kamu dari sini atau saya teriak!" ancam Sofia. " Teriak saja! Yang akan di cap perempuan nggak benar itu kamu! Bukan saya! Kamu kira akan ada yang percaya sama perempuan yang bekerja di club malam dan akan diperkosa oleh orang seperti saya?! Saya bisa mendapatkan 100 perempuan yang jauh lebih baik dari kamu saat ini juga. Jangan sok jual mahal." " Lalu kenapa kamu kesini?! Saya tidak akan membiarkan kamu menyentuh saya lagi! Dasar bajingann!" seru Sofia penuh amarah. " Jangan sok cantik! Jangan- jangan nanti malah kamu yang akan meminta untuk saya sentuh dan bahkan kamu yang tidak akan mau saya lepaskan." " Brengsekk! Pergi kamu!" " Sudah! Buka pintunya sekarang! Kamu terlalu banyak bicara untuk seseorang yang tidak berharga. Cepat buka!" " Pergi!" " Buka! Saya bilang buka!" " Tidak akan!" " Sofia!" seru Sam dengan kesal. " Mundur kamu! Sekarang!" " Kamu mau apa?" tanya Sofia namun tanpa sadar melangkah mundur masih dengan wajan anti lengket yang berada di tangan kanannya. Brakk!!! Dengan dua kali dorongan kuat dari tubuh tinggi besarnya, Sam akhirnya berhasil membuka pintu kayu rumah sewa milik Sofia dan langsung mendekati gadis tersebut dengan penuh amarah. " Jangan pernah memancing kemarahan saya, Sofia!" ucap Sam lalu langsung menarik pinggang Sofia dengan kasar dan menciuminya. Sofia yang berusaha menjauhkan bibirnya dari raupan kasar Sam, hendak memukulkan wajan anti lengket tersebut ke kepala milik pria kasar tersebut. Namun Sam yang sudah tahu akan hal itu langsung meraih tangan Sofia dan meremasnya dengan keras hingga Sofia melepaskannya dan kemudian mengunci kedua tangan gadis tersebut ke belakang tubuh langsingnya. Sam menciumi bibir Sofia dengan kasar. Dengan liar dan dalam. Ini sama sekali tidak berada dalam rencana kedatangannya malam ini namun melihat sikap membangkang dari gadis tersebut dan melihat betapa pendeknya celana tidur yang ia kenakan dan memamerkan kaki jenjangnya, hingga membuat Sam gelap mata dan begitu ingin memberikan pelajaran untuk wanita yang akan menjadi istrinya tersebut. Sam akhirnya melepaskan lumatan bibirnya karena merasa kehabisan nafas dan ia lagi- lagi membuat Sofia menangis karena perbuatannya tersebut. Nafas mereka berdua naik turun dan membuat gundukan kenyal yang menempel tepat berada di depan d**a berototnya tersebut seolah sangat menggodanya. " Jangan pernah memperlihatkan sikap sok jagoan dan membangkang seperti ini lagi kalau kamu tidak mau saya melakukan apa yang ada di kepala semua laki- laki yang pernah kamu layani." ucap Sam tepat di depan wajah Sofia yang kini terlihat menahan amarah dan tangisnya. " Ingat Sofia, lusa kamu sudah akan menjadi istri saya. Dan saya pasti akan melakukan itu kembali pada kamu. Berulang kali. Dimana saja dan kapan saja saya mau. Kamu akan saya jadikan b***k nafsu saya seumur hidup kamu. Dan akan saya buat kamu seperti sampah yang tidak berarti. Yakinlah akan hal itu. Dan juga berdoalah semoga saya tidak akan membagi kamu dengan teman- teman ataupun musuh- musuh saya." ancam Sam. Sofia hanya terus menatap mata Sam dengan tajam. Ia tidak habis pikir mengapa bisa bertemu dengan pria seperti Sam di dalam hidupnya. Bahkan membayangkan semua ancaman Sam saja ia sudah merasa ngeri dan ketakutan. Sam kemudian melepaskan tubuh Sofia dengan kasar lalu kembali keluar sesaat dan kemudian ia kembali masuk dengan sebuah paper bag di tangannya. " Ini ponsel baru untuk kamu. Jangan pernah membuat saya menunggu lama. Dan kamu harus selalu menjawab panggilan saya kapanpun dan di manapun sesegera mungkin." ucap Sam lalu meletakkan paper bag tersebut ke atas meja. " Saya... Saya tidak butuh. Kembalikan saja hape saya yang lama." ujar Sofia dengan menyeka air mata di pipinya dengan kedua punggung tangannya. " Sudah saya buang. Kamu tidak butuh itu lagi. Dan jangan sok penting dengan membuat saya jauh- jauh kesini hanya untuk memberitahu kamu kalau lusa kita akan menikah." " Saya sudah tahu. Kamu sudah memberitahukan itu sebelumnya." jawab Sofia yang membuat Sam mengeraskan rahangnya. " Sofia... Sofia... Mulut kamu terlalu banyak bicara. Kamu terlalu sering membantah. Apa kamu mau saya membungkam mulut kamu dengan cara yang kasar atau yang lembut?" ujar Sam dengan senyum smirk khas dirinya. " Saya punya permintaan." ucap Sofia tegas ketika Sam kembali akan keluar dari rumahnya. " Permintaan? Siapa bilang kamu punya hak untuk meminta?" tanya Sam dengan wajah mengejek. " Tapi baik... Saya mau dengar apa permintaan kamu." sambung Sam karena Sofia tidak membantah apapun lagi. " Saya mau perjanjian biaya hidup adik saya ada hitam di atas putih. Dan juga... Saya mau... Video malam itu... Kamu hapuskan." ucap Sofia dengan serius meski ia takut ucapannya akan membawa petaka lagi baginya. Sam kemudian kembali berjalan mendekati Sofia dan berhenti tepat di depan gadis tersebut dengan tatapan tegasnya. " Sekali lagi saya kasih tahu ke kamu, jangan SOK PENTING! Kamu pikir kamu siapa bisa memerintah saya?" tanya Sam dengan serius. Matanya menatap dalam ke arah iris mata Sofia yang mencoba tetap tegar menghadapinya. Sesekali ekor matanya memperhatikan bibir Sofia yang terlihat sedikit memerah dan bergetar. " Tap baik. Deal. Saya setuju. Suratnya bisa saya siapkan besok. Dan video itu akan saya hapus saat kita sudah menikah. Lagipula saya tidak harus menonton video itu terus saat saya bisa mengulangi untuk melakukannya langsung bukan?" ujar Sam dengan tatapan mengejeknya. " Sofia... Sofia... Kamu semakin pintar dan saya semakin tidak sabar ingin menjadikan kamu b***k. Saya tidak sabar lagi ingin menikah." ujar Sam lalu akhirnya benar- benar keluar dan meninggalkan Sofia seorang diri. " Brengsekk kamu! Brengsekkk!!!" seru Sofia dengan keras dan bercampur tangis yang bisa didengar Sam sebelum ia memasuki mobil miliknya dan hanya tersenyum penuh kemenangan. " Bersabarlah, Sofia... Akan saya perlihatkan sebrengsekk apa wanita yang sudah melahirkan kamu. Dan kekacauan apa yang sudah dia sebabkan dalam hidup orang lain." ucapnya lirih lalu mulai menyalakan mesin kendaraannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN