Sofia berjalan untuk menuju kantornya setelah turun dari angkutan umum yang mengantarkannya. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi selama ia tidak masuk bekerja beberapa hari ini dan tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya sama sekali belum ia temukan juga.
" Semoga mereka bisa mengerti..." harap Sofia dalam hati.
Sesampainya di dalam perusahaan tempat ia bekerja tersebut, ia merasa jika beberapa orang memandangnya dengan pandangan aneh seolah kehadirannya di sana merupakan hal yang tidak seharusnya.
" Sofi...!" seru salah seorang rekan kerjanya.
" Arlin..." ucap Sofia tersenyum pada rekannya tersebut.
" Kamu ngapain ke kantor? Ada yang kelupaan?" tanya Arlin dengan raut wajah sungkan.
" Ng... Maksudnya?"
" Bu--- Bukannya kamu udah di pecat?"
" Dipecat? Aku? Kapan? Kenapa? " tanya Sofia terkejut.
" Kamu nggak tahu?"
" Nggak. Kenapa aku di pecat?"
Arlin nampak memperhatikan sekitarnya lalu menarik tangan Sofia ke tempat yang lebih leluasa untuk mereka bisa berbicara.
" Sof... Kamu lagi ada masalah sama bos?" tanya Arlin.
" Nggak... Kenapa?" ucap Sofia masih bingung dengan apa yang terjadi.
" Ya karena perintah kamu di pecat itu langsung dari bos. Bukan dari atasan kamu. Dan karena kamu masih dalam probation, jadi mereka nggak perlu banyak alasan atau prosedur untuk mecat kamu. Emangnya ada apa sih, Sof?. Kamu kan kerjanya bagus. Kamu pinter dan rajin. Lagian hape kamu kok nggak bisa aku hubungin sejak kemarin- kemarin sih?" ujar Arlin yang nampak ikut prihatin.
Sofia nampak berpikir sesaat. Arlin benar, ia selama ini bekerja dengan baik dan tekun. Ia belajar dengan cepat dan berusaha sebaik mungkin.
(" Apa ini juga perbuatan laki- laki jahat itu?") batin Sofia.
" Sof... Kalau kamu mau, kamu bisa bicara sama---"
" Nggak perlu, Lin... Aku udah tahu sebabnya." ucap Sofia dengan hati yang seolah akan meledakkan amarahnya. Sejauh apa lagi pria itu akan menghancurkannya, ia sama sekali tidak tahu. Namun apalah dayanya jika ia harus melawan pria tersebut. Pria yang bahkan tidak ia ketahui nama dan asal usulnya sama sekali, namun bisa menghancurkannya dalam semalam dan memporak porandakan seluruh masa depannya. Pria asing yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
***
" Kak Sofi..." sapa Zanna ketika Sofia memasuki kamar perawatannya yang bagaikan berada di dalam hotel bintang lima.
" Kakak nggak kerja?" tanya Zanna lagi dan dijawab oleh Sofia dengan menggelengkan kepalanya dengan lesu.
" Kenapa? Kak Sofi dipecat ya?"
" Ng... Kakak... Anu... Kakak mengundurkan diri."
" Hah?! Mengundurkan diri? Kenapa? Bukannya kak Sofi suka kerja disana?"
" Ya ampun... Kamu cerewet banget sih?! Kepo banget." elak Sofia karena tidak ingin membuat adiknya kepikiran.
" Bik Nana mana?" tanya Sofia mengalihkan pembicaraan.
" Lagi ke kantin. Mana bik Nana lupa bawa hape lagi." jawab Zana memanyunkan bibirnya yang masih terlihat sedikit pucat.
" Emang kenapa? Kamu butuh sesuatu?"
" Nggak sih... Kak Sofi pasti belum makan. Aku mau nitip beliin sarapan untuk kakak."
" Nggak usah. Biar kakak susulin ke kantin aja. Sekalian kakak pengen nanya ke suster kapan kamu bisa pulang."
" Tapi kak Sofi makan ya kak... Jangan sampai penyakit maag kak Sofi kambuh lagi." ujar Zanna mengkhawatirkan saudarinya.
" Iya, Sasa... Kak Sofi bakalan makan." ucap Sofia sambil berjalan keluar ruangan tersebut namun terpaksa langkahnya harus terhenti ketika sosok pria bertubuh atletis tersebut muncul dari balik pintu.
" Mau kemana?" tanyanya dengan tersenyum ramah.
" Mau... Keluar."
" Aku bawa sarapan buat kalian. Makan dulu ya..."
(" Bajingann!!!") pekik Sofia dalam hati. Ia begitu jijik dengan wajah ramah, sopan dan hangat yang pria itu tampilkan.
" Kak Sam..." sapa Zanna dengan tersenyum dan malah membuat orang yang disapa tersebut langsung mendekat dan memeluk Zanna dengan hangat. Kedua lengan besarnya seolah memberikan kenyamanan dan perlindungan untuk gadis remaja tersebut.
(" Sasa! Bisa- bisanya dia main pelukan sama orang itu! Dia itu iblis yang bisa menghancurkan kamu hanya dengan sekali sentuhannya.") batin Sofia yang membelalakkan kedua matanya melihat keakraban dua orang tersebut.
" Sasa! Kamu jangan banyak gerak dulu." ucap Sofia dengan tegas dan membuat Sam melepaskan pelukannya dan mengedipkan satu matanya pada Zanna yang juga heran dengan reaksi sang kakak.
" Sof... Kamu pasti belum sarapan. Makan dulu yuk. Aku bawa sandwich, omelette, dan bubur ayam. Bik Nana mana?"
" Lagi ke kantin." jawab Zanna sambil mengamati Sofia yang terlihat tidak nyaman.
" Sof... Kamu mau yang mana?" tanya Sam lagi sambil membuka makanan yang ia bawa dan menatanya ke atas meja makan.
" Saya tidak lapar!" ucap Sofia cuek dan terlihat membaca sebuah majalah yang ada di sana.
Sam lalu bertukar pandangan dengan Zanna lalu berjalan untuk mendekati Sofia dan sedikit menunduk hingga ia tepat berada di atas kepala Sofia yang sedang menunduk.
" Kamu makan sekarang kalau kamu tidak mau saya mencium kamu dan melepaskan pakaian kamu dengan paksa disini." bisik Sam yang mengakhiri kalimatnya dengan kecupan kecil di puncak kepala Sofia.
Sofia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Sam dengan sinis. Sungguh sifat yang ia tunjukkan pada Zanna dan dirinya sangat jauh berbeda.
" Apa yang kamu masukkan kesana? Racun atau obat perangsang lagi?" tanya Sofia sinis dengan sedikit berbisik.
" Tidak ada. Tapi itu ide yang bagus. Dan saya lebih suka pilihan yang kedua. Saya bahkan sudah tidak sabar lagi. Apa kita harus melakukan itu disini? Atau di kamar mandi?"
Sofia lalu membalas tatapan Sam dengan tajam dan meletakkan majalah yang ada di pangkuannya dengan kasar ke atas meja. Ia lalu berdiri untuk mencuci tangannya di wastafel yang tak jauh dari posisi mereka saat ini.
Sam lalu melirik Zanna yang terlihat tersenyum melihat tingkah kedua orang tersebut yang malah terlihat romantis baginya.
" Kak Sam berantem sama Kak Sofi?" bisiknya ketika Sam mengulurkan bubur ayam yang telah Sam letakkan di sebuah mangkuk kecil yang ia temukan di atas meja makan.
" Biasa... Kakak kamu masih belum mau menikah dan menganggap kak Sam bukan calon suami yang tepat " jawab Sam santai dan berpura- pura kecewa. Hal yang membuat Zanna memikirkan sebuah ide.
" Kak Sofi... Kakak sayang nggak sih sama kak Sam? Jangan gitu dong sama kak Sam. Dia kan baik sama kita. Emang kak Sam salah apa sama kak Sofi?" tanya Zanna yang membuat Sofia seolah ingin membunuh Sam saat ini juga.
" Kak... Kak Sofi..." panggil Zanna dengan manja karena Sofia tidak menghiraukannya dan malah berlalu untuk mencari tissue guna mengeringkan tangannya.
" Kak..."
" Apa, Sa?!" jawab Sofia kesal.
" Kok marah terus sih? Kan aku cuma nanya kak Sofi sayang nggak sama kak Sam?" tanya Zanna lagi.
" Nggak, Sa. Kak Sofi---"
" Kamu nggak sayang sama aku? Jadi... Kamu nggak mau menikah sama aku?" potong Sam dengan wajah kecewanya sebelum Sofia melanjutkan kata- kata yang akan membuatnya marah.
(" Dasar bodohh! Tentu saja aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai!") batin Sofia.
" Kak Sofi..." ucap Zanna dengan sendu.
" Sof... Please kasih aku kesempatan untuk membahagiakan kamu. Melindungi kalian. Aku janji. Aku nggak akan mengecewakan kamu. Aku... Aku sayang sama kalian." ucap Sam dengan tatapan penuh harapnya sambil berjalan mendekati Sofia. Namun ketika ia telah melewati Zanna, sorot matanya langsung berubah menakutkan dengan tatapan penuh amarah.
" Kamu akan menyesali hari ini. Dan jangan salahkan saya kalau sesuatu terjadi pada bik Nana dan juga adik kamu! Dasar perempuan tidak tahu diuntung!" bisik Sam dengan bengis.
Kedua kelopak mata Sofia mengerjap mendengarkan ancaman Sam barusan dan ia tahu ia tidak akan bisa mencegah apapun.
" Iya. Saya bersedia. Saya bersedia menikah dengan kamu. Kapanpun kamu mau, kita bisa menikah. Saya... Saya..."
" Aku juga sayang sama kamu, Sofia." ucap Sam lalu langsung memeluk Sofia dengan keras. Pelukan tersebut bahkan menyakiti dan membuat Sofia merasa akan remuk saat ini juga.
" Permainan kita sudah dimulai, Sofia. Bersiap- siaplah..." bisik Sam yang malah terlihat jika ia sedang mengecup pipi Sofia dengan lembut.
" Kak Sofi... Kak Sofi selamat..." ucap Zanna yang terlihat sangat bahagia.
(" Sa... Maafin kakak... Tolongin kakak, Sa...") pekik Sofia dalam hati.