That Day

1648 Kata
" Apa ini, Sam?" tanya Regita dengan marah pada Sam yang duduk tepat di hadapannya. " Kenapa tiba- tiba kamu akan menikahi anak perempuan itu?. Tante nggak nyangka kamu akan sejauh ini." " Tante, pertama aku minta tante jangan berteriak sama aku. Kedua, lagipula ini hidup aku, terserah aku mau menikah dengan siapapun." " Tentu saja ini hidup kamu. Tapi tante nggak akan membiarkan kamu salah memilih pendamping hidup. Kamu mau nasib kamu sama seperti papa kamu?. Kamu mau hidup kamu di hancurkan oleh orang seperti Dilara?. Dia akan sama saja dengan ibunya, Sam." " Cukup, tante. Biar aku yang memutuskan harus bagaimana. Biarkan aku menjalankan rencanaku sendiri." " Oh ya? Bisa tante tahu rencana bagaimana itu?" Sam nampak berpikir sesaat. " Aku harus menikahi dia agar selamanya bisa menyiksa perempuan itu. Dan lagipula, kalau dia tidak aku nikahi, bisa saja dia akan melaporkan aku ke polisi. Aku sudah menyekap dan memberi dia pelajaran, tante. Dia bahkan hampir bunuh diri karena aku." " Sam... Kamu serius?" tanya Regita tak percaya. " Apa aku pernah bercanda?" tanya Sam dengan sinis. " Maksud tante, kamu yakin dia anak Dilara? Bagaimana kalau kamu salah? Kamu nggak salah orang kan?" " Tentu aja dia anak Dilara. Dia juga sudah membenarkan itu meskipun dia juga sepertinya menolak dilahirkan dari seorang wanita seperti Dilara." " Jangan sampai kamu tertipu dengan dia. Ingat, dia itu adalah anak dari seorang wanita yang paling licik di dunia yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan." ucap Regita dengan penuh kebencian. " Lagipula, ini syarat yang harus aku penuhi kalau masih ingin berada dalam posisi aku sekarang, bukan?" Regita Flash Back... " Alden... Kamu mau kemana?" tanya Regita begitu memasuki kamar tidurnya. " Dengar, aku rasa kita nggak bisa melanjutkan ini lagi." " Apa... Apa maksud kamu?" tanya Regita masih tidak mengerti sementara Alden, pria yang telah menikahinya karena dijodohkan itu sedang sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper. " Aku nggak tahan lagi. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Kita tidak saling mencintai dan---" " Aku cinta sama kamu. Kenapa kamu ngomong gitu? Bukannya kita sudah sepakat untuk mencoba? Bukannya kita akan sama- sama berusaha? Please, Al... Lalu bagaimana dengan anak kita?" ucap Regita penuh harap. Tangannya memegangi lengan sang suami dengan lembut. " Aku minta maaf. Terima kasih sudah membantu aku merawat aku dengan baik. Tapi... Tapi aku tidak bisa lagi. Aku akan bicara sama papa. Aku tidak bisa membohongi kata hati aku lagi." " Siapa? Dilara lagi? Perempuan itu lagi?" tanya Regita mulai terdengar marah. " Maafkan aku..." " Alden, apa kamu sadar apa yang perempuan itu inginkan dari kamu? Kamu pikir dia mencintai kamu? Dia punya keluarga, Alden. Dia punya suami dan anak. Apa kamu pikir dia akan melepaskan keluarganya demi kamu?" " Kami akan menikah. Kami akan pergi dari sini." " Alden! Kamu sadar! Perempuan itu meracuni kamu! Apa menurut kamu dia akan mencintai kamu sedangkan dia sendiri rela meninggalkan keluarganya?!" " Dia melakukan itu karena dia mencintai aku. Aku seharusnya mendengarkan dia sejak dulu." Regita menangis pilu mendengarkan ucapan gamblang sang suami. Hati wanita mana yang tidak akan menangis ketika mendengar pernyataan seperti ini dari seorang suami yang dicintainya. " Sayang, kamu lupa apa yang sudah terjadi dengan mbak Rania? Apa itu tidak memberikan pelajaran apapun untuk kamu? Perempuan itu berbahaya. Dilara itu berbahaya. Dia hany menginginkan harta kamu, Alden. Harta kamu!" " Gita, dengar... Aku mencintai Dilara. Bagaimanapun aku mencoba melupakan dia. Aku tidak bisa." " Tentu saja kamu tidak bisa karena kamu masih saja terus mempekerjakan dia di kantor kamu. Dia akan terus menggoda kamu." " Lalu aku bagaimana?" tanya Regita sendu. " Maafkan aku... Aku sudah mencoba sebisa aku. Sungguh... Kamu wanita yang baik. Aku hanya tidak bisa mencintai wanita lain lagi. Maafkan aku." " Brengsekk kamu, Alden. Kamu laki- laki paling pengecut dan paling egois yang pernah aku temui. Kamu mengorbankan terlalu banyak orang untuk wanita itu. Mbak Rania, anak- anak, aku, papa kamu, pekerjaan kamu, perusahaan yang kamu buat bangkrut. Semua kamu korbankan demi dia. Sangat luar biasa!" ucap Regita dengan bercucuran air mata. " Aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian. Dan untuk masa depan anak- anak, semua sudah aku persiapkan. Jangan khawatir." Regita tersenyum sinis mendengarkan ucapan Alden yang kini telah selesai mengemasi barang- barangnya. " Kamu pikir kami akan kekurangan uang? Mbak Rania dan aku bahkan punya lebih banyak saham daripada kamu. Jangan bersikap seolah mengasihani kami." " Gita... Aku minta maaf. Aku tahu kalian tidsk membutuhkan aku. Tapi Dilara, dia sangat membutuhkan aku." " Aku mohon... Jangan pergi. Baik... Kamu--- Kamu boleh berhubungan dengan perempuan itu selama kami tidak melihatnya. Terutama Sam. Terserah kamu aja, Al. Tapi tolong... Tolong jangan pergi. Jangan menambah luka semua orang lagi seperti dulu. Kasihani kami, Al..." ujar Regita mengiba. " Maafkan aku. Aku... Aku sudah berjanji sama Dilara." jawab Alden dengan mata yang penuh penyesalan. Tentu saja ia menyayangi keluarganya, tapi untuk melupakan dan menjauhi Dilara juga adalah hal yang sulit untuk ia lakukan. Terlebih lagi karena ia telah memberikan sebagian besar harta kekayaannya untuk wanita tersebut agar ia percaya jika ia masih sangat mencintainya. " Kamu jahat, Alden. Kamu egois. Kamu memikirkan janji kamu sama wanita itu tapi kamu melupakan janji kamu sama papa dan juga Sam. Sekali saja Al... Sekali saja kasihani Sam. Apa yang sudah kalian lakukan pada mbak Rania itu sangat jahat. Dan kita tidak pernah tahu kapan mbak Rania akan sembuh akibat ulah kalian. Please, Al... Pikirkan dulu..." " Aku sudah memikirkan semuanya. Tapi aku bisa apa, Gita? Aku menyesal dengan apa yang terjadi sama Rania. Tapi aku bisa apa? Aku juga tidak bisa berbuat apa- apa. Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Dan---" Plakkk Satu tamparan keras mendarat di pipi tegas Alden dari istri yang selama ini sangat patuh tersebut. Air matanya semakin deras dengan sorot mata penuh amarah dan tangan yang bergetar hebat. " Jangan pernah kamu kembali ke rumah ini. Sampai aku mati, aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua. Semoga kalian berdua membusuk di neraka. Semoga kalian tidak akan pernah bahagia dengan cinta busuk dan menjijikkan yang kalian banggakan itu. Kalian adalah manusia paling keji yang pernah ada di muka bumi. Dan kalian akan membayar semua ini dengan sangat mahal. Sangat sangat mahal." ujar Regita penuh amarah lalu keluar dari kamar tidurnya. " Sam.... Sam.... Sam...!" Seru Regita dengan suara lantang menggelegar di seluruh penjuru rumah besar mewah tersebut. " Gita... Kenapa kamu panggil Sam?" tanya Alden heran. " Papa...! Papa...!" Serunya lagi memanggil sang ayah mertua tanpa memperdulikan Alden yang mencoba menahannya untuk menuruni tangga. " Sam! Mana kamu, Sam! Sam...!" Sam yang sedang berada di dalam kamarnya pun langsung keluar dan menatap ke arah tangga dimana Regita, sang ibu sambung sedang berjalan menuruninya bersama sang ayah. " Tante..." panggil Sam. " Sam, kamu lihat baik- baik papa kamu!" seru Regita yang membuat Sam sedikit terkejut karena sikap Regita saat ini sangat berbeda dengan pembawaannya sehari- hari yang selalu terlihat patuh pada suaminya. " Gita... Diam kamu!" " Kenapa? Kamu malu sama anak kamu sendiri? Dia sudah tahu seperti apa papanya!" sindir Regita. " Sam, kamu lihat baik- baik papa kamu. Ini bisa jadi terakhir kalinya kamu melihat dia. Karena apa? Karena dia lagi- lagi akan pergi dengan wanita murahann yang sudah menghancurkan kita semua!" " Regita!" seru Alden marah. " Kenapa? Belum cukup apa yang kalian lakukan pada mbak Rania? Huh?! Apa kamu juga mau aku masuk rumah sakit jiwa?!!" Plakkk Tanpa sadar Alden menampar wajah Regita yang membuat Sam dan Regita terkejut bukan main. " Alden!!!" seru Alan. " Papa..." ujar Alden yang terkejut dengan kehadiran sang ayah yang tiba- tiba dan menyaksikan apa yang telah dilakukannya. " Sam... Gita... Aku... Aku minta maaf" sambung Alden yang sadar akan apa yang baru saja telah ia lakukan pada Regita. " Kamu sangat ingin bersama wanita itu bukan? Pergilah, Alden. Dan anggap kamu tidak memiliki keluarga lagi disini. Mulai hari ini, kamu bukan siapa- siapa untuk kami. Kami akan menganggap kamu mati mulai saat ini juga." ucap Alan dengan bijak namun kemarahan seolah membakar dadanya. Rasa malu, marah, dan kecewa bercampur disana. Regita adalah keponakan jauh yang ia nikahkan dengan putranya setelah Rania. Dua orang wanita yang telah ia hancurkan hidupnya karena selalu percaya akan janji sang anak yang mengatakan akan memulai kehidupan yang baru hanya untuk bisa terus memimpin perusahaannya. Alan memang memberikan syarat kepada Alden jika ia ingin terus menduduki jabatannya, ia harus memiliki seorang pendamping yang ia yakini akan bisa membuat anak satu- satunya tersebut menjadi lebih baik. Terlebih lagi selama ini, Regita adalah orang yang mengurus Alan sejak kedua orang tuanya meninggal. " Pa... Aku..." " Tidak perlu bicara lagi, Alden. Silahkan. Pintu itu terbuka lebar untuk kamu. Kami tidak akan menahan kamu lagi. Tapi begitu kamu melangkahkan kaki kamu keluar, jangan pernah... Jangan pernah sekalipun kamu berpikir bisa kembali ke sini lagi. Kamu akan menjadi orang asing untuk kami." ucap Alan lagi. Ia mencoba sekuat tenaga terlihat tegar dan tegas meski hatinya hancur melihat sikap anak kesayangannya. Anak yang selalu ia manjakan dengan cara yang salah. Sam hanya bisa menggelengkan kepalanya berharap sang ayah akan memikirkan betapa hancurnya hati semua orang dengan keputusan yang akan di ambilnya. " Sam... Maafin papa... Papa---" Sam bahkan tidak menunggu lagi untuk kelanjutan kalimat Alden yang kini bagai omong kosong di telinganya. Ia langsung berlalu memasuki kamar tidurnya dan membanting pintunya dengan keras. " Pergi dari sini... Kehadiran kamu tidak lagi kami harapkan. Semoga kebahagiaan yang kamu cari, bisa kamu dapatkan dari wanita ibliss itu." ucap Alan lalu berlalu meninggalkan Alden dan juga Regita yang tak hentinya menangis. " Gita... Aku---" " Kamu, wanita itu, dan semua yang ada hubungannya dengan kalian. Akan membayar semua ini. Saya lebih memilih kamu mati saat ini daripada menghinakan diri kamu dan keluarga kamu demi wanita itu." ujar Regita dengan penuh amarah. " Kalian berdua memang cocok. Kalian sama- sama menjijikkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN