Sam menyetir kendaraannya setelah menyelesaikan beberapa urusan tertunda karena mengurusi masalah Sofia selama beberapa hari ini. Amarahnya selalu membuncah ketika ia mengingat Sofia bisa hidup dengan tenang saat ia dan ibunya harus masih menderita karena akibat perbuatan Dilara.
Dilara. Sam sangat membenci nama tersebut. Nama wanita yang sangat ingin ia remukkan dengan tangannya sendiri. Nama yang sejak ia kecil menjadi bahan pertengkaran kedua orang tuanya. Ia akan menghancurkan apapun yang berhubungan dengan wanita tersebut. Dan suatu hari nanti, ia akan dengan senang hati menunjukkan pada Dilara apa yang telah ia lakukan pada putri kesayangannya.
Sam lalu mengingat bagaimana Sofia mengiba kepadanya malam itu. Bagaimana ketakutannya ia ketika tersadar dan mendapati dirinya kembali di cumbu oleh orang yang tidak ia kenali. Dan Sam sendiri tidak mengerti mengapa ia seolah sangat kesetanan malam itu. Dan ia melakukannya dengan dalam keadaan yang sangat sadar. Ia begitu menggilai tubuh wanita tersebut. Ia seolah begitu memuja setiap apa yang wanita tersebut miliki.
Meski ia memiliki kekasih yang juga bisa selalu memuaskannya dengan bentuk tubuh yang luar biasa menggoda, namun kali ini ia merasa sangat berbeda. Ia takut melukai Sofia namun ingin menghancurkannya di waktu yang sama. Ia bahkan tidak peduli dengan teriakan perih gadis tersebut yang di telinganya malah terdengar seperti desahan yang menggodanya. Entahlah, yang Sam tahu malam itu ia seolah tidak ingin berhenti menggilai tubuh gadis tersebut. Dan meski Sam adalah orang yang keras dan cuek, namun ia bukanlah orang brengsekk yang akan melakukan hal seperti itu kepada seorang gadis yang lemah.
Namun melihat bagaimana malam itu Sofia terlihat sangat seksi dengan obat perangsangg yang ia berikan di minuman yang para pria bayarannya sodorkan pada Sofia, ia menjadi kalap dan memutuskan untuk melakukannya sendiri dan mengubah rencananya. Sam pun tidak menyangka jika gadis tersebut ternyata masih perawan dan itu semakin membuatnya merasa menang dan semakin menikmatinya. Hingga setelahnya, melihat bagaimana menderitanya anak Dilara tersebut, ia semakin tidak ingin melepaskannya hingga dendamnya terbalaskan.
***
Sofia memakan makanannya di teras rumah sewa sederhana dimana ia biasa tinggal. Di teras tersebut di kelilingi oleh banyak bunga dan juga tanaman hasil karya bik Nana yang memang sangat menyukai tanaman. Beberapa diantaranya bahkan merupakan bunga yang mereka bawa dari rumah milik nenek Sofia.
" Papa, Sofi kangen... Sangat kangen. Biasanya papa akan ngajak aku makan di teras sambil ngobrol. Papa akan dengan senang hati mendengar semua cerita dan keluhan aku." ucap Sofia sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya meski air matanya nampak sudah menggenang di kelopak matanya.
Harry Sinaya adalah sosok ayah yang sangat perhatian dan menyayangi kedua putrinya. Sekalipun ia tidak pernah memarahi anak- anaknya sebesar apapun kesalahan mereka. Ia akan selalu dengan sabar mendengar alasan dan setiap ucapan sang anak dengan penuh perhatian. Sangat berbeda dengan Dilara yang selalu memarahi Sofia untuk hal sekecil apapun. Sofia selalu di tuntut menjadi anak yang mandiri dan selalu mengalah pada Zanna.
Beruntunglah Sofia memiliki ayah yang sangat sabar dan tidak pernah menghakiminya. Ia selalu meminta Sofia melakukan apapun untuk membuat dirinya bahagia. Dan sebelum meninggal dunia, ia juga meminta Sofia untuk menikah dengan seseorang yang mencintainya dan memperlakukannya dengan baik.
" Sof... Menikahlah dengan orang yang mencintai kamu dan memperlakukan kamu dengan baik. Menikahlah hanya sekali seumur hidup kamu. Sayangi dia, rawat dia dengan penuh kasih sayang... Kamu pasti akan menjadi istri dan ibu yang hebat untuk keluarga kamu. Papa titip adik kamu. Maafkan papa lagi- lagi merepotkan kamu, nak. "
Saat itu Sofia merasa sangat miris dengan pesan sang ayah. Seorang pria yang dikhianati dan ditinggalkan oleh istrinya masih sempat berbicara soal kesakralan pernikahan dan masih mempercayai hal tersebut bahkan disaat terakhirnya. Namun ia juga tahu jika ayahnya memiliki hati seluas samudera yang akan selalu bisa memaafkan siapa saja.
" Papa... Maafin Sofi... Karena aku akan menikah dengan orang yang tidak mencintai aku dan memperlakukan aku dengan sangat buruk. Dia jahat, pa. Sangat jahat. Dan dia membenci aku. Dia menghancurkan hidup aku, pa. Aku harus gimana?" isak Sofia sambil terus menyeka air matanya. Andai saja perutnya tidak kesakitan, tentu ia tidak ingin memakan apapun saat ini. Pikirannya dan perasaannya membuat semua panca inderanya seolah tidak berguna. Sungguh, ia merasa sangat ingin mati saja saat ini. Tapi ia tahu ia tidak bisa egois. Ada Zanna dan Bik Nana yang masih menjadi tanggungannya dan bergantung kepadanya. Bagaimana mereka nantinya jika Sofia tidak ada. Kecerdasan sang adik dan semua upaya yang telah ia lakukan selama ini akan sia- sia. Bik Nana bahkan rela meninggalkan anak laki- lakinya yang telah dewasa di kampung hanya untuk merawat mereka berdua. Akan sangat egois rasanya jika Sofia akan mewariskan penderitaan pada dua orang tidak bersalah tersebut.
" Biarlah, pa. Biarlah aku yang menanggung semua ini. Aku pasrah. Aku tidak tahu lagi apa yang baik untuk aku. Yang jelas aku akan memberikan masa depan yang baik untuk Zanna. Papa pasti akan bangga punya anak seperti Sasa." ucap Sofia. Ia teringat bagaimana ayahnya selalu mengatakan sangat bangga memiliki dirinya sebagai anak tertua. Bagaimana ia rela menukarkan apapun demi dirinya.
" Pa... Aku hanya ingin dipeluk. Cukup dipeluk aja. Aku nggak butuh solusi apapun. Aku nggak butuh apapun selain di peluk, pa. Aku sangat ingin dipeluk." ucap Sofia lagi dengan terisak. Air matanya tumpah dengan bebas dan semakin membuat hatinya perih. Ia sangat merindukan ayah yang selalu mendengarkannya tanpa menghakiminya sama sekali. Tidak berkomentar apapun selain mengucapkan jika ia sangat menyayangi putrinya sambil memeluk dan mengusap punggungnya dengan lembut.
Dan tanpa Sofia sadari, seorang pria sejak tadi mengamati setiap gerak geriknya dengan kening berkerut. Tentu saja ia tahu jika gadis itu tengah menangis dengan tersedu. Tangannya bahkan bergetar setiap kali menyendokkan makanan ke dalam mulutnya yang juga bergetar dan sesekali ia menggigit bibir bawahnya agar suara isakannya tidak sampai keluar.
" Kamu tahu Sofia, air mata kamu saat ini belum sebanding dengan air mata yang mama saya keluarkan. Dan juga belum sebanding dengan sakit hati saya sampai saat ini setiap kali bertemu mama." ucap Sam seorang diri.
Sam lalu kembali akan mengemudikan kendaraannya tepat disaat ponselnya berbunyi dan membuatnya langsung tersenyum.
" Halo, sayang..." jawab Sam.
" Hai... Kamu lagi ngapain?"
" Di jalan. Baru mau pulang. Kamu?"
" Aku mau ke rumah teman aku. Cecilia. Ingat?"
" Tentu aja... Ngapain?"
" Ng... Kami... Kami mau jalan- jalan."
" Oh ya? Kemana?"
" Ketemu kamu."
Sam tiba- tiba menginjak rem kendaraannya dengan dalam ketika mendengarkan ucapan Valerie barusan.
" Ke--- Ketemu aku?" tanya Sam lagi.
" Iya, sayang. Aku mau datang ketemu kamu. Well, ini masih rencana aja sih. Kenapa? Kamu nggak senang?"
" Bukan... Bukan gitu sayang. Hanya aja, ada yang mau aku omongin dulu sama kamu."
" About what?"
" Ng... Aku akan kesana minggu depan. Akan lebih baik kalau kita ketemu langsung."
" Serius? Kamu mau kesini? To Milan, baby?" tanya Valerie tak percaya.
" Iya... Ke Milan. Aku akan datang. Ada hal yang mau aku bicarakan."
" Tentang apa? Apa sesuatu yang penting?"
" Penting. Sangat penting. Dan akan lebih baik kalau aku menjelaskan semuanya dengan langsung biar kamu mengerti."
" Oke... Aku akan tungguin. Tapi... Semuanya baik- baik aja kan?"
" Baik. Sangat baik. Jangan khawatir."
" Oh ya, soal anak dari wanita yang kamu cari itu bagaimana? Sudah ketemu?" tanya Valerie lagi.
" Sudah. Sudah ketemu."
" Well... Then enjoy your revenge, baby."
" Iya... Tentu saja. Oh ya, aku tutup dulu. Nanti aku telepon lagi. Bye." ucap Sam tiba- tiba dan langsung memutuskan panggilan Valerie tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya tersebut.
Sam lalu dengan cepat membuka pintu kendaraannya dan keluar untuk menghadang langkah Sofia yang baru saja keluar dari pintu pagar rumah sederhananya.
" Kamu..." ucap Sofia terkejut karena mendapati sosok Sam yang secara tiba- tiba ada di hadapannya dengan wajah mengerikan dan tatapan tajamnya.
" Mau kabur lagi? Setelah saya memberikan referensi bank dan biaya operasi untuk adik kamu, kamu malah mau melarikan diri lagi. Dasar materialistis!. Tidak tahu terima kasih." ujar Sam dengan marah.
" Saya tidak perlu berterima kasih apapun sama kamu. Semua yang kamu lakukan juga tidak gratis. Jadi saya tidak berhutang apapun." bantah Sofia.
" Dan juga... Saya tidak kabur. Saya mau membawa pakaian ini untuk dicuci. Kami tidak punya mesin cuci dan saya harus bekerja besok. Saya tidak akan sempat untuk mencuci." sambung Sofia sambil memperlihatkan kantongan plastik besar berisikan pakaian kotor yang akan ia bawa pada jasa cuci setrika kiloan yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya.
" Kamu jangan banyak alasan!" ujar Sam menutupi salah tingkahnya karena telah salah sangka.
" Terserah!" jawab Sofia lalu melewati Sam dengan kesal.
Baru saja Sam ingin kembali menyusul Sofia, ponselnya kembali berdering dan nama Regita muncul disana.
" Ya halo, tante..." jawab Sam masih dengan tatapannya pada sosok Sofia yang telah menjauh dan memasuki sebuah rumah dengan plang nama bertuliskan Laundry Kiloan.
" Sam, apa maksudnya kamu akan menikahi gadis itu?" tanya Regita dengan marah.
" Benar. Tante, kita akan bicara di rumah. Aku pulang sekarang." jawab Sam lalu kembali berjalan menuju kendaraannya dan meninggalkan Sofia yang menatap kepergiannya dari kejauhan.
(" Apa salah kalau aku berharap orang itu mati saja saat ini?. Supaya aku nggak perlu berurusan lagi sama dia... Aku sangat membenci orang itu.") batin Sofia ketika mobil SUV mewah milik Sam melewatinya.