The Deal

2013 Kata
" Jadi bagaimana? Adik kamu sudah tahu soal pertunangan kita?" tanya Sam sedikit berbisik pada Sofia yang meletakkan air mineral ke atas meja sementara Zanna sedang diperiksa oleh Romi. " Saya bertanya. Dan kamu harus menjawab. Jangan sampai saya melakukan hal yang akan kamu sesali di depan adik kamu." ucap Sam lagi karena Sofia hanya diam sejak tadi. " Sofia!" desis Sam. " Apa? Tunangan apa?!" jawab Sofia dengan kesal. " Oh... Jadi kamu nggak memperhatikan ucapan saya?! Kamu mau main- main dengan saya?!. Baik. Sepertinya kamu memang harus saya beri pelajaran." ucap Sam lalu mengambil ponselnya dan berjalan hendak keluar dari ruangan tersebut " Apa? Kamu mau apa?" tanya Sofia sambil mengikuti Sam dengan gerakan yang tidak akan membuat Zanna curiga. " Kamu mau apa?" tanya Sofia lagi ketika mereka sudah berada di luar kamar perawatan Zanna. " Saya harus mengingatkan kamu kalau saya tidak main- main dan saya akan membuat kamu membayar sikap kurang ajar kamu ini." (" Aku kurang ajar? Lalu yang dia lakukan sama aku?") batin Sofia. " Kamu mau apa?" tanya Sofia lagi. " Hans, saya punya video yang harus kamu serahkan ke---" " Jangan... Jangan lakukan itu. Saya mohon." ucap Sofia sambil melipat kedua tangannya memohon pada Sam. Matanya memerah seolah akan kembali menangis. " Kenapa? Bukannya kamu nggak peduli?" ujar Sam. " Saya telepon kamu lagi nanti." sambungnya pada Hans lalu kembali memutuskan panggilannya. " Sofia, jangan mempermainkan saya. Kamu tahu betul apa yang bisa saya lakukan." " Saya bisa melaporkan kehilangan cek tanpa nama ke bank yang sudah digunakan untuk membayar rumah sakit ini. Jadi kalau kamu macam- macam, saya bisa melaporkan kamu mencuri cek saya. Selain itu video porno kita berdua akan bisa di tonton orang banyak. Andai kamu ingat betapa menggodanya kamu malam itu, kamu pasti akan sangat malu ketemu saya sekarang ini." " Apa... Apa mau kamu?" ucap Sofia sambil menyeka bulir air mata yang telah lolos dari mata indahnya. " Bagus. Itu yang saya harapkan, tentu saja selain tubuh kamu." ucap Sam lalu memandangi Sofia dari kaki ke kepalanya dengan pandangan meremehkan dan menjijikkan. " Tapi saya berubah pikiran. Kita tidak akan bertunangan saja. Kita akan menikah." " Apa?! Menikah? Tapi... " " Kenapa? Karena kamu punya pacar?" tanya Sam dengan seringai di sudut bibirnya. " Kamu pikir pacar kamu akan masih menginginkan kamu setelah melihat video kita? Kamu menyerahkan diri secara sukarela, Sofia. Kamu menikmati kebersamaan kita." " Tapi kamu tahu betul saya sedang tidak sadar. Dan... Dan selanjutnya, kamu memaksa saya." " Saya tidak peduli. Yang jelas, kamu milik saya. Kamu b***k saya. Dan pacar kamu, tidak akan mau lagi menerima kamu setelah tahu kamu menjual diri kamu ke saya. Demi uang. Kamu melakukan semuanya demi uang." " Kamu menjebak saya!" " Kamu masuk dengan sendirinya." " Begini, saya akan sedikit berbaik hati sama kamu." sambung Sam. " Kita buat kesepakatan." " Kesepakatan apa?" tanya Sofia. " Kita menikah. Dan kamu akan tetap mendapatkan hak kamu sebagai istri saya. Tenang saja, saya cukup kaya. Rumah sakit ini saja, masih milik keluarga saya. Kamu dan keluarga kamu akan mendapatkan hak sebagaimana mestinya." " Maksud kamu?" " Ternyata kamu langsung tertarik kalau soal harta. Kamu memang materialistis." sindir Sam. " Saya akan menanggung keluarga kamu. Saya akan menjadi penjamin adik kamu. Saya akan mengurus visa dan tempat tinggal adik kamu di Chicago. Bik Nana juga bisa ikut menemani karena saya punya rumah disana. Biaya hidup mereka akan saya tanggung. Saya tahu adik kamu pintar dan cerdas, jadi akan sangat disayangkan jika dia harus berhenti di tengah jalan dan mengorbankan masa depannya. Begitu dia lulus, dia juga bisa bekerja di perusahaan saya. Bik nana juga akan mendapatkan hak upah dan kesehatan selama mengurus adik kamu. Hutang ayah kamu akan saya lunaskan jadi kamu tidak perlu kabur atau takut ditemukan lagi. Bagaimana?" Sofia nampak berpikir sejenak tepat disaat ponsel Sam berdering dan ia menjauh beberapa meter. " Ya sayang... Aku lagi di rumah sakit. Harus mengurus beberapa hal dulu. Aku telepon kamu nanti, ya. Bye, baby." ucapnya yang tentu saja bisa didengar oleh Sofia. (" Aku harus bagaimana? Lalu bagaimana dengan Zein? Apa yang harus aku bilang sama dia? Dia pasti khawatir aku sudah dua hari tidak bisa dia hubungi. Dan dia tidak tahu nomor baru Zanna. Tapi... Tapi paling tidak, Zanna dan bik Nana akan hidup dengan baik. Mereka akan tercukupi dan terjamin. Lalu aku? Bagaimana dengan aku? Apa yang akan laki- laki ini lakukan ke aku nantinya?") batin Sofia. " Saya akan kasih kamu waktu 24 jam. Waktu kamu tidak banyak karena adik kamu sudah harus mengirimkan kelengkapannya dan juga visa. Pihak universitas hanya akan menanggung biaya pendidikan bukan? Jadi berpikirlah yang benar. Lagipula kamu tidak punya pilihan." ucap Sam lagi lalu kembali masuk ke dalam ruangan Zanna dan meninggalkan Sofia seorang diri. Ingin sekali rasanya Sofia berteriak dan memaki pria tersebut. Meneriakkan sumpah serapah dan juga mengeluarkan amarahnya. Namun tentu saja ia tidak bisa melakukannya. Ia hanya bisa menggigit bibirnya dan menyeka air mata yang kembali jatuh di pipinya. (" Dia benar, aku tidak punya pilihan. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu Zanna dan bik Nana. Aku tidak ingin mereka menderita lagi. Cukup aku saja.") batin Sofia lalu mulai menyusul Sam. *** " Mbak Sofi... Bangun mbak, ini makanannya sudah ada. Bibi udah datang." ucap Bik Nana sambil menggoyangkan tubuh Sofia dengan lembut. Sofia membuka kedua matanya dengan perlahan dan menyapu keadaan di dalam ruangan tersebut. Hanya ada Zanna yang setengah berbaring di ranjangnya dan bik Nana yang menata makanan di atas meja makan. " Mbak Sofi makan dulu ya..." " Ng... Sa, sejak kapan kakak ketiduran?" tanya Sofia. " Kakak lagi nonton dan pas aku sama kak Sam noleh, eh udah tidur." jawab Zanna. " Oh..." " Kak Sam udah pergi. Katanya mau balik ke kantor. Kak Sof, dia baik banget ya. Sepertinya sayang banget sama kakak loh. Dia yang bantuin kak Sofi biar posisinya bagus. Pakein selimut." jelas Zanna yang seolah sangat mengidolakan pria tersebut yang tentu saja melakukan semua ini hanya karena ingin mendapat simpatik darinya. " Ng.. Bik, saya pulang aja ya. Makanannya saya makan di rumah. Saya mau pulang ganti baju dan mandi dulu." " Ini bibi ada bawain pakaian ganti, mbak." " Nggak usah , bi. Simpan aja. Besok saya datang lagi." Zanna dan bi Nana saling menukar pandangan karena Sofia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. " Kak Sofi baik- baik aja?" tanya Zanna khawatir. " Iya, aku baik- baik aja. Aku mau pulang dulu. Kalian baik- baik, ya..." jawab Sofia yang merasa pergelangan tangannya sangat perih. Mungkin karena saat tertidur ia tidak sengaja menindihnya. " Ya udah. Makasih banyak ya, kak. Aku nggak tahu harus membalas kak Sofi dan kak Sam bagaimana lagi." ucap Zanna. Sofia mendekati sang adik lalu mengecup keningnya dengan lembut. " Cukup dengan belajar yang baik, hidup yang baik dan bahagia. Itu udah lebih dari cukup buat kak Sofi." " Aku pasti akan jadi psikolog yang hebat kak. Aku akan dapat pekerjaan yang baik dan akan bahagiakan kak Sofi dan bi Nana. Aku janji." ucap Zanna yang membuat Sofia semakin sedih. Ia tidak akan tega menghancurkan impian sang adik. " Sa, untuk masalah beasiswa kamu... Kapan kamu---" " Nggak usah, kak. Aku kuliahnya bisa nanti aja. Beasiswanya mungkin bukan rejeki aku. Lagian, biaya hidup disana nggak murah. Kalaupun aku kerja paruh waktu, mungkin nggak akan ketutup juga. Aku bisa kursus aja sambil kerja dan nabung untuk kuliah tahun depan. Gampang kok kak..." " Nggak, sayang. Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Kami udah punya solusinya untuk kamu." " Kami? Maksudnya... Kak Sofi dan kak Sam?" tanya Zanna yang membuat Sofia seolah sangat ingin menangis saat ini juga namun ia malah hanya mengangguk. " Iya. Dia akan mengurus semuanya. Kamu tenang aja." " Serius, kak? Aku jadi ke Chicago? Kenapa? Kok bisa?" tanya Zanna yang nampak sangat bersemangat. " Karena kamu adalah adik aku, berarti saat kami menikah, kamu juga akan menjadi adiknya dia kan?" ujar Sofia yang membuat Zanna dan bi Nana terkejut. " Menikah? Kak Sofi mau menikah sama kak Sam?" Sofia mengangguk dan mencoba memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Bi Nana pun mendekati kedua adik kakak tersebut. " Iya. Dia melamar kak Sofi tadi. Dan jujur kak Sofi sedikit terkejut." jawab Sofia. " Ya ampun, kak... Selamat. Apa kak Sofi udah kasih jawabannya? Tapi... Tapi gimana dengan kak Zein?" " Aku belum kasih jawaban karena aku juga belum terlalu yakin. Dan aku belum kasih tahu Zein kalau selama ini aku dekat dengan orang lain." jawab Sofia mencoba mengarang cerita. " Kak Sofi cintanya ke siapa? Kak Sofi akan bahagia sama siapa? Dan kak Sofi merasa aman dan nyaman sama siapa? Maka itulah yang baik menjadi pendamping hidup kakak. Jangan karena aku, kak Sofi terpaksa menerima Kak Sam. " (" Tentu saja aku akan menjawab Zein untuk semuanya, Sa.") " Zein nggak pernah ada saat aku butuhkan. Dan Zein akhir- akhir ini sangat sulit kak Sofi hubungin. Mungkin saja dia juga sudah memiliki orang lain. Yang seperti mamanya inginkan." ucap Sofia lirih. " Jadi... Kak Sofi maunya gimana?" " Aku mencintai dia. Dan aku tahu aku akan selalu bisa mengandalkan dia. Lagipula dia manis banget kan?" ujar Sofia yang sangat enggan menyebut nama Sam dari bibirnya. " Iya, sih. Kak Sam manis banget. Dia selalu aja liatin kak Sofi. Seolah setiap gerakan kak Sofi tuh menarik banget." " Ih anak kecil kok pinter banget sih nilai soal cinta- cintaan?!" ucap Sofia mencoba mengalihkan pembicaraan. " Aku tuh sekarang tim kak Sam garis keras." " Oh ya, mbak. Ini uang dari pak Sam kemarin. Sudah saya pakai untuk beli kebutuhan dan masih ada sisanya." ucap bi Nana mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya. Sofia menggeleng dan menolak amplop tersebut dengan lembut. " Simpan aja, bi. Kami juga selama ini nggak pernah ngasih duit ke bibi. Itu buat bibi aja. Untuk simpanan bibi." ujar Sofia. " Lah kenapa bibi harus di bayar? Bibi juga suka kok ngurusin kalian berdua. Udah seperti anak bibi sendiri. Yang penting bibi sehat, bisa makan, bisa tidur, bibi nggak butuh uang." " Nggak apa- apa, bi. Simpan aja ya... Buat beli kebutuhan bibi sendiri. Dan makasih udah mengurus kami dengan baik. Kami akan sangat sedih kalau nggak bisa ngasih apapun ke bibi. Ini juga nggak banyak dibandingkan dengan apa yang bibi lakukan untuk kami." Bi Nana tersenyum, matanya berkaca- kaca. " Baik, non. Bibi terima. Bibi simpan. Terima kasih banyak." " Dan juga... Bibi harus tetap sehat karena nanti bibi akan ikut sama Zanna." Zanna dan bi Nana kembali saling berpandangan tak percaya dengan apa yang baru Sofia ucapkan. " I... ikut non Zanna?" Sofia tersenyum melihat keterkejutan di wajah bi Nana yang terlihat sangat tak percaya. " Iya, bi. Sasa nggak boleh pergi kalau bi Nana nggak ikut. Dan disana kalian akan tinggal di rumah yang akan disediakan. Kalian nggak perlu khawatir. Semua udah kami pikirkan." ucap Sofia. " Serius, kak?" tanya Zanna masih tak percaya. Pasalnya, sejak sejak ia akan menjalani operasi, ia sudah mengubur keinginannya tersebut dan membuat rencana sendiri. Ia tahu untuk kuliah di luar negeri akan membutuhkan biaya hidup yang lumayan meskipun dengan beasiswa. " Serius lah, sayangku... Aku pengen banget dengan bangga bilang ke papa kalau Sasa ku yang manja sekarang bisa kuliah di Chicago." " Tapi kak... Biayanya nggak murah." " Kan kamu dapat beasiswa, Sa. Sisanya biar kak Sofi yang urusin." " Tapi kak Sofi nggak kesusahan kan?" " Nggak lah... Lagian aku akan ngelakuin apapun untuk kamu, Sa. Kamu keluarga kak Sofi satu- satunya." Zanna lalu mengulurkan tangan dan memeluk Sofia dengan erat. " Makasih banyak, Kak. Aku sayang banget sama Kakak. Dan aku akan bahagiain kak Sofi suatu hari nanti. Aku janji aku akan membalas semua kebaikan kak Sofi." ucap Zanna yang membuat Sofia juga memeluk adiknya dengan erat. Air matanya tumpah. Ia tidak sanggup lagi menahannya. " Terima kasih karena ada kak Sam dalam hidup kita, kak. Aku juga berhutang budi sama kak Sam." Sofia hanya mengangguk meski ia merasa sangat perih di dalam hatinya. (" Entah apa yang harus aku bayar untuk ini semua. Tapi selama untuk kebaikan kamu, kakak rela.") batin Sofia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN