Acara resepsi telah selesai, kini Jackson membawa Maita keluar dari aula. “Kamu lelah?” tanya Jackson, sembari membantu memegangi gaun panjang Maita. “Banget, lagian nih ya. Aku kira acaranya yang simple dengan tamu yang sedikit. Lah ini aduh,” kata Maita sembari memijit pelipisnya. Mengingat bagaimana capeknya dirinya menahan pegal di kakinya seharian berdiri menghadapi tamu sebanyak itu. “Ya maaf, lagian meskipun kita sudah punya anak duluan. Papa nggak bakalan biarin acara pernikahan kita biasa aja deh. Secara ya kan, aku anak tunggal. Kamu kan tahu sendiri,” ujar Jackson, dengan sedikit bersalah. “Hem, iya deh ... aku percaya. Ngomong-ngomong mana Mecca?” Maita nampak mengedarkan pandangan mencari keberadaan putrinya, yang dari tadi memang tidak dia lihat. Apalagi setelah naik ke a

