"Apa kamu pikir aku bersedia?" Kirana berkata begitu saja membuat Rangga yang awalnya percaya diri bahwa dia tidak mungkin ditolak merasa down seketika.
"Kamu yakin tidak mau?" Rangga berusaha yakin kalau dia tidak mungkin ditolak.
"Apa untungnya untukku?" Kirana berkata sombong.
"Kamu akan jadi Nyonya Rangga dan bisa hidup enak." Rangga berkata cepat, tapi sayangnya Kirana hanya tersenyum meremehkan.
"Rangga, kamu pikir uang bisa memberi semua yang kau inginkan?"
"Ya tentu saja."
"Aku tidak mau." Kirana menolak.
"Kamu harus mau." Rangga tetap memaksa membuat Kirana kehabisan kata-kata.
"Aku tidak tahu apa kamu sekarang sedang mengujiku atau bagaimana, tapi yang jelas seharusnya kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Aku menyukai dewi matahari terbit dan kamu juga nyaman dengan dewa perang, lalu salahnya dimana? Terlepas dari kesalahanku padamu yang sering menindasmu di kantor." Kalimat terakhir dari Rangga terdengar lemah padahal sebelumnya sangat berapi-api.
Kirana tertawa mengejek lalu menyeruput greentea milk miliknya, "Rangga, aku butuh waktu untuk ini. Apa kau sering mendengar jodoh adalah cerminan dirimu? Apa kamu yakin aku adalah cerminan dari dirimu yang sangat luar biasa ini?"
Rangga mengerutkan keningnya, dia mencoba menelaah ucapan dari Kirana tapi dia tidak mengerti. Lagipula, jika dihubungkan dengan masalah perasaan pada seorang wanita, ini baru pertama kalinya Rangga menyukai wanita. Dia tidak pernah terpikir untuk berhubungan dengan wanita manapun, karena baginya wanita itu makhluk aneh yang selalu menuntut kebenaran, lalu wanita juga bisa mempengaruhi kinerja otak menjadi bodoh.
Bukan tidak ada alasan dia berpikir hal demikian, dia selalu menafsirkan wanita itu seperti Yumi sang adik yang selalu berperilaku manja dan sulit diatur, tidak bisa disalahkan dan kurang bertanggungjawab, lalu adik laki-lakinya Satya, malah menangis seperti orang bodoh saat diputuskan kekasihnya, padahal dia sudah memberikan semua yang diperlukan pacarnya termasuk biaya kuliah sampai uang untuk keperluan keluarga pacarnya.
Namun, semua persepsi itu berubah tatkala Ryan memaksanya menggunakan aplikasi yang dikembangkannya, dimana dia juga orang yang memberinya modal dalam proyek itu. Dia bertemu dengan seseorang yang memiliki nama pengguna Dewi Matahari terbit, memberinya banyak pandangan tentang sebuah hubungan dan akhirnya dia menyukainya tepat satu bulan setelah mereka berhubungan.
Tidak kenal di dunia nyata, hanya berhubungan melalui Chat dan beberapa kali melakukan panggilan suara di akhir pekan yang durasinya juga sebentar, tapi mampu membuat Rangga memiliki rasa nyaman dan bergantung, ditambah lagi saat itu dirinya sedang mengalami masa krisis di perusahaannya, wanita ini mampu membuatnya tenang dan berpikir rasional serta berhasil membantunya menemukan solusi.
Memang benar saat dia tahu kalau Kirana, yang mana wanita ini adalah karyawan yang dia benci adalah seseorang yang sangat dia butuhkan di kehidupan nyata dia sangat terkejut dan berusaha untuk menolaknya, tapi setelah dia pikir lagi Kirana juga bukan orang yang jahat, wanita ini hanya salah tempat bekerja saja, jika dia bisa membuat Kirana bekerja ditempat yang semestinya dia akan menjadi wanita yang cemerlang.
"Rangga! Kamu memikirkan apa? Kamu sedang tidak memikirkan bagaimana cara membunuhku, kan?" Kirana mengibaskan tangannya di depan wajah Rangga.
"Aku—" Rangga menarik nafas dalam.
"Apa aku seburuk itu dimata Kirana?" Dia lalu bertanya dengan tenang.
Kirana lalu mengerutkan keningnya.
"Kirana yang bekerja diperusahaanku adalah seseorang yang sangat baik dalam membuat kalimat di dalam jurnal laporannya, dia juga sangat kreatif dalam memberikan ide pemasaran produk dengan kata-kata yang saling berkaitan demi promosi produk, dia juga wanita yang cukup tangguh jika harus lembur semalaman, seharusnya dia tidak boleh menyia-nyiakan kemampuannya." Ucapan Rangga terdengar tulus, membuat Kirana mencoba menelaahnya.
"Maksudmu apa? Bukankah kau sangat membenciku?"
Rangga kembali menghela nafas berat. "Kirana karyawan dunguku itu, tidak paham bagaimana cara bernegosiasi dengan calon investor dan sering kali ceroboh yang nyaris menggagalkan rencanaku untuk memenangkan tender. Coba kamu pikir ulang, apa pekerjaan ini cocok dijalankan terlepas dia masuk melalui koneksi nenekku?"
Kirana mengerutkan keningnya. "Nenekmu?" ucap Kirana, dia hanya sedikit bingung saja dengan pernyataan Rangga barusan.
"Bukankah kamu tahu dengan kakek dan nenekku?" Rangga menyelidik, Kirana menggeleng.
"Aku masuk ke sana karena bantuan sepupuku. Namanya Mia, dia anak dari Pamanku, katanya dia bisa memberiku pekerjaan yang bagus." Rangga melihat Kirana sepertinya wanita itu bicara jujur.
"Mia?" Rangga teringat ucapan Yumi, lalu dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa yang ada dalam otakmu itu sekarang?" Kirana penasaran karena sikap Rangga yang menurutnya sedikit aneh.
"Mia adalah sepupumu? Apa hubunganmu dan dia cukup dekat?" Rangga penasaran.
"Lumayan, kemarin aku baru menghubunginya dia akan kembali bulan depan setelah wisuda Ph.D-nya di Havard." Kirana menjawab lancar, menandakan hubungan mereka tidak ada yang salah.
"Kamu ... menikahlah denganku," ucap Rangga lagi.
Kali ini Kirana benar-benar tak habis pikir dengan pria yang duduk dihadapannya ini, memaksanya menjadi tunangannya lalu tidak berhasil malah memintanya untuk menikah.
"Apa kepalamu terbentur sesuatu yang membuat otakmu menjadi rusak?"
"Kepalaku masih baik-baik saja, aku hanya tidak ingin menikah dengan sepupumu yang tidak kukenal, aku menginginkanmu," ucap Rangga terus terang.
Kirana lebih terkejut lagi, ucapan Rangga ini sangat melampaui kemampuan berpikirnya.
"Tunggu, apa maksudmu? Mia ... kamu ... menikah, dan kaitannya denganku? Tidak bisakah kamu menjelaskan secara perlahan padaku? Kepalaku sudah mau pecah." Kirana berkata dengan nada putus asa.
"Aku harus menjelaskan bagian yang mana? Bahwa kamu adalah Kirana, karyawanku yang masuk melalui koneksi? Atau Mia akan segera dijodohkan denganku?"
"Semuanya, jelaskan semuanya."
"Aku mengamati Kirana seorang karyawanku punya kemampuan lain, dia sepertinya tidak cocok berhubungan dengan pemasaran, bukan bidangnya. Lalu Dewi matahari terbitku itu, dia mengatakan kalau terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan di dunia nyatanya dan mengubur mimpi untuk menjadi seorang penulis. Setelah aku tahu bahwa mereka adalah orang yang sama, apa mungkin aku membiarkannya tersiksa dengan apa yang tidak dikuasainya?" Rangga melihat Kirana dengan tatapan dalam.
Sejujurnya Kirana tidak ingin membantah, apa yang dikatakan Rangga benar, saat menjadi karyawannya dia terlalu sibuk dan melupakan impiannya, dia pernah kembali masuk ke dunia literasi, sayangnya dia harus berhenti kembali karena pekerjaan kantor yang memberikannya pendapatan tetap tiap bulan membuatnya harus bekerja ekstra.
"Kamu sebagai dewi matahari terbitku memang mengatakan seorang perancang cerita, tapi media sosialmu sudah lama tidak di update, tulisanmu sudah lama tidak terlihat, kau hanya pura-pura sibuk aku bahkan menemukan komentar dari salah satu pembacamu tiga hari yang lalu, menanyakan keberadaanmu, menanyakan kapan kamu kembali membuat cerita. Apa kamu harus menghentikan impianmu ini dan terus bekerja di perusahaanku?" Kali ini Rangga seperti sosok yang sangat berbeda, Kirana merasakan sebuah perasaan tulus yang dalam, memberinya sebuah kehangatan dalam dinginnya kehidupan yang dia lewati.
Kirana menunduk.
"Kamu, bukankah lebih baik berhenti dan mengejar impianmu?" Suara Rangga benar-benar membuat sebuah ketenangan baru dalam hati Kirana.
"Tidak ada yang salah dengan ucapanmu, tapi mengejar impianku sekarang sangat tidak mungkin. Kamu bisa mengatakan hal seperti ini karena kamu punya materi yang lebih dari cukup, sedangkan aku harus menghidupi keluargaku, membiayai kebutuhan rumah dan sekolah adikku, mencari tambahan untuk pengobatan ibuku, apa kamu tahu rasanya seperti apa?" Ucapan Kirana ini membuat Rangga diam.
"Aku sangat bersyukur saat Mia mengatakan dia akan membantuku mencari pekerjaan, aku hanya tidak menyangka bisa bekerja di perusahaan besar yang memberiku banyak keuntungan, bagaimana mungkin aku terus bertahan dengan impianku yang tidak tahu kapan bisa menjadi kenyataan."
"Tapi Kirana, kamu harus mencoba dulu. Tenang saja, kamu masih memilikiku, kamu katakan saja berapa yang kamu perlukan dalam sebulan untuk mencukupi kebutuhan keluargamu? Kau fokus saja dengan impianmu itu." Rangga tersenyum tanpa beban, dan itu menyinggung Kirana.
"Apa kamu pikir aku harus bergantung padamu?" Kirana berkata kembali dengan suara meninggi.
Rangga menganggukkan kepalanya membuat Kirana sangat tidak habis pikir dengan jalan pikirannya.
"Dengar Kirana," Rangga lalu berpindah tempat duduk kesebelah Kirana, "Apapun yang kamu butuhkan aku akan membantumu, aku akan —"
"Berhenti bicara omong kosong!" potong Kirana cepat.
"Aku tidak bicara omong kosong, hanya saja kau jangan terlalu naif untuk tidak menerimaku." Rangga tetap memaksa.
"Kau bilang akan dijodohkan dengan Mia, kan? Kupikir kalian pasangan yang cocok. Sangat serasi, sepupuku itu punya latar belakang keluarga yang baik, pendidikan yang bagus dan kedepannya juga kalian akan memiliki hubungan yang harmonis."
"Aku mau Dewi Matahari Terbit milikku, dia bernama Kirana yang sekarang ini bersamaku." Rangga kembali memohon padanya.
"Maaf Rangga, sepertinya aku belum bisa menerimamu dikehidupan nyata ini, menurutku kita ini bagai langit dan bumi, bagiku, kamu terlampau tinggi untuk digapai," ucap Kirana.
"Tapi Kirana —"
"Saat ini aku merasa bahwa aku seperti bermimpi, tiba-tiba datang seorang pangeran yang melamarku, aku tidak mungkin bisa bohong kalau aku sangat senang, tapi disisi lain aku hanya takut mimpi ini segera berakhir dan menghempaskanku ketika terbangun."
"Baiklah, mungkin aku yang terlalu terburu-buru. Aku akan memberimu waktu, tapi aku akan terus mengitarimu, kamu tidak boleh menganggapku sebagai orang asing." Rangga lalu menyerah.
Kirana mengangguk, "Jika tidak ada hal lain lagi aku akan pergi, ah-" saat Kirana akan berdiri tiba-tiba minuman di atas mejanya tertumpah, dia berusaha untuk membersihkan pakaiannya yang terkena siraman air itu, tapi merasa aneh saat dia melihat jarinya sudah tersemat cincin yang sedikit kebesaran.
"Kamu —" Kirana melihat ke arah Rangga.
"Itu pakai saja dulu, memang agak sedikit kebesaran, nanti aku belikan yang baru," ucap Rangga sambil tersenyum penuh kemenangan.