"Ini minumanmu." Yumi membawakan minuman kaleng dan melemparnya pada Rangga.
"Apa kamu tidak tahu cara yang sopan memberikan pada Kakakmu ini?" Rangga dengan sigap menangkapnya, jika terlambat sedetik saja, maka wajahnya pasti sudah memar karena lemparan keras dari Yumi.
"Ini pertama kalinya kamu mencariku, apa ini sangat penting sampai otak pintarmu itu tidak bisa menyelesaikannya?" Yumi lalu duduk di sebelah Rangga.
"Sudah dihubungi belum penulis naskahmu itu?" Rangga malas menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak terlalu penting, dia lebih suka langsung ke intinya saja.
Yumi lalu melihat Rangga dengan pandangan curiga, banyak yang ingin dia tanyakan, tapi pria disebelahnya ini sudah pasti tidak akan menjawabnya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Rangga menjadi risi karena pandangan Yumi yang melihatnya seperti seorang kriminal.
"Apa kamu bermasalah disini?" Yumi lalu memegang d**a Rangga, tapi dengan cepat Rangga segera menepisnya.
"Kamu ini apa-apaan sih?" Rangga berdecak kesal.
"Berdasarkan pengalamanku menangani emosimu yang tidak stabil dan suka marah-marah padaku, sudah dipastikan kamu menyukai seseorang, kan?" Tunjuk Yumi tepat didepan wajah Rangga.
"Kamu ini menyebalkan sekali, jawab saja jangan banyak omongan yang tidak penting." Rangga terlihat kesal.
"Sudah kamu tidak perlu malu, orang yang belum pernah pacaran sepertimu ini sudah pasti sangat aneh kalau mendekati wanita, seperti yang kau pernah bilang, wanita itu makhluk yang kompleks dan kau malas berhubungan dengan hal seperti ini, tapi sekarang kau malah suka dengan seseorang dan sepertinya juga akan —"
"Sudah sudah sudah, tutup mulutmu ini," Rangga mencapit bibir adiknya yang masih ingin terus bicara.
"Yang ingin kutanyakan, sudah kau hubungi belum penulisnya?" Rangga menegaskan kedatangannya.
"Baiklah, jadi penulis naskah ini yang berhasil mencuri perhatianmu?" Yumi sangat yakin tebakannya benar.
"Fokus saja yang menjadi urusanmu, mau aku investasi atau tidak?" Rangga mengeluarkan ancamannya.
"Ya jelas belum dihubungilah, rencananya sorean dikit, soalnya aku dan timku yang sibuk ini masih ada urusan lain," jawab Yumi santai.
"Kau ini —" Rangga ingin memukul Yumi tapi adiknya ini sudah membaca gerakannya dan langsung berdiri.
"Baiklah, demi manusia sepertimu aku akan segera menghubunginya. Ah, tapi ada syaratnya." Yumi melirik ke arah Rangga dengan banyak maksud dalam otaknya.
"Jangan menambah banyak syarat atau kubatalkan saja." Ancaman Rangga lebih memberatkan.
"Ya sudah kau batalkan saja, aku akan cari investor lain, kau pikir adikmu ini tidak bisa mencarinya?" Yumi melipat kedua tangannya didepan d**a sambil memanyunkan sedikit bibirnya.
"Jangan mengeluarkan ekspresi seperti itu, kau tahu sendiri ini tidak akan berhasil. Ya sudah aku pulang saja dan tidak perlu investasi pada kerjaan gilamu itu." Rangga berdiri dari kursinya.
"No, no, no, baik, baik, baik, kamu memang tak terbantahkan, aku akan menghubunginya segera, mengenai kontrak kerja kita sudah diantar oleh Arni ke kantormu sebelum kau datang kemari. Ingatlah, untuk syarat semuanya kamu harus menyetujuinya." Yumi berkata dengan suara tegas.
"Kupertimbangkan lagi." Rangga berkata dengan cuek lalu menegguk minuman kalengnya sampai habis.
"Kamu ... apa aku harus membantumu mendapatkannya?" Yumi menggoda kakaknya.
"Bicara apa sih, lagipula apa yang tidak bisa diselesaikan olehku?" Dengan nada sombongnya Rangga membanggakan diri sendiri.
"Jangan sampai kamu cariin aku karena hal ini ya, ingat kamu juga perlu meyakinkan kakek dan nenek kalau benar-benar sudah menemukan calon istrimu, kalau tidak habislah riwayatmu dijodohkan dengan wanita itu!" Yumi lalu tertawa terbahak.
"Sebentar! Kamu mengatakan padaku kalau wanita itu bernama Mia, kamu tahu latar belakang wanita itu?" Rangga penasaran, karena saat Yumi menghubunginya tadi pagi, dia belum memberitahukan latar belakang wanita ini.
"Masih ingat Nenek pernah pingsan dulu?"
Rangga mencoba mengingat.
"Itu loh yang kita panik cariin nenek hilang selama sehari, tiba-tiba kita dapat kabar nenek ada di rumah sakit." Yumi mencoba mengingatkan Rangga akan kejadian dua tahun lalu.
"Iya aku ingat, ini ada hubungannya dengan Mia?" Rangga langsung menebak.
"Ya!" Yumi mengangguk cepat.
"Katanya Mia yang menyelamatkan nenek yang saat itu tiba-tiba pingsan di jalan karena gula darahnya kambuh lagi."
Rangga mengerutkan keningnya.
"Jadi maksudnya nenek mau berterima kasih pada si Mia dengan menjodohkanku dengannya?"
"Sepertinya begitu, tapi kamu tenang saja, selama kamu bisa membawa si penulis naskah ini pada acara ulang tahun grup, kemungkinan kanu tidak akan dijodohkan dengannya." Yumi berkata dengan penuh semangat.
"Sudah aku pergi dulu, kamu jangan lupa menghubunginya dan jangan katakan apapun tentangku!" Ancam Rangga.
"Siap! Aku akan menghubunginya, kamu tenang saja aku akan membantumu mendapatkannya!" Yumi tersenyum lebar memamerkan giginya.
"Tanpa bantuanmu aku harusnya sudah mendapatkannya." Rangga lalu membalikkan badannya dan menghilang dengan cepat dari pandangan Yumi.
"Kau mendapatkannya? Aku tidak yakin kau mendapatkannya dengan cara yang wajar," desis Yumi.
***
Kirana saat ini sedang berbaring di atas kasurnya dan menatap ke langit-langit kamar yang dirasanya sekarang menjadi sempit.
Dia lalu mengeluarkan cincin yang diberikan Rangga dari dalam saku blazer broken white miliknya, dia melihat benda itu dengan pikiran kosong, Kirana juga bingung apa yang sedang dia rasakan saat ini, dia tidak tahu apakah dia sedang senang, takut atau sakit hati, baginya ini terjadi begitu cepat dan sangat tiba-tiba, dia tidak bisa menerimanya.
Dia kembali teringat ucapan Rangga tentang Mia, saudara sepupu yang membantunya masuk ke perusahaan milik Rangga dua tahun lalu.
"Kirana, aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu." Mia menepuk punggung Kirana perlahan.
Kirana hanya mengangguk.
"Terima kasih Mia. Terima kasih juga karena kamu sebelumnya membantuku kembali ke kampung jadi aku masih sempat bertemu ayah walau sebentar."
"Sesama keluarga kita harus saling tolong-menolong, kan? Ini sudah hal yang sewajarnya," jawab Mia dengan suara yang lembut.
Kirana menghapus aliran air mata yang masih terus mengalir.
"Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus?" Tanya Mia lagi, dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Kirana.
"Yang sabar ya Kirana." Suara Mia turut melemah.
Mia adalah anak dari paman Kirana, adik bungsu ibunya. Mereka tidak seperti ibunya yang memiliki nasib baik dibidang keuangan. Ayahnya hanya seorang sopir truk pengangkut batubara, sedangkan ibunya hanya seorang tukang urut di desa. Kirana adalah anak kedua dari empat bersaudara, kakaknya yang tertua sudah berumah tangga, hidupnya juga sangat pas-pasan bahkan sering meminta uang pada ibu untuk membeli kebutuhan makan keluarganya, lalu dia memiliki sepasang adik kembar yang usianya terpaut lima belas tahun dari Kirana.
Setelah tamat sekolah menengah Kirana mendapatkan beasiswa tidak mampu dari kampusnya, dia menyelesaikan pendidikannya dalam waktu empat tahun. Saat ini dia masih bekerja paruh waktu menjaga mini market di pagi sampai sore lalu lanjut menjaga kedai kopi di malam harinya, terkadang dia juga mendapatkan pekerjaan sebagai penulis hantu untuk cerita pendek, novelet ataupun penulis skenario agar bisa menghasilkan tambahan lainnya. Dia ingin sekali mendapatkan pekerjaan yang bagus tapi sangat susah di jaman sekang ini.
Setelah dia kembali ke Jakarta selesai masa berkabungnya, dia dihubungi oleh Mia dan membantunya mendapatkan pekerjaan.
Kirana berhasil masuk ke perusahaan furniture dan alat rumah tangga yang dibilang cukup berpengaruh di Indonesia dengan merk dagang "For Home" yang dijalankan oleh PT. Megah Home Service salah satu anak usaha Group Megah Perkasa.
Tiba-tiba suara deringan telpon memecah ingatan Kirana, nomor tidak dikenal menghubungiya, dia ragu untuk menerimanya karena sekarang ini banyak sekali modus penipuan, apalagi ini adalah nomor pribadi yang dia gunakan untuk berhubungan dengan keluarga dan juga teman di kantor.
"Tunggu dua kali lagi, kalau dia menghubungiku dua kali lagi, maka aku anggap ini telpon penting," ucap Kirana sambil menatap layar ponselnya.
Benar saja telponnya terus berdering dan ini kali ketiga.
"Hallo," ucap Kirana.
"Apa benar ini Kirana? Ehm, maksud saya Dewi Matahari?" Suara wanita diseberang sana membuat Kirana heran, karena dia merasa aneh seseorang tiba-tiba menghubungi menggunakan nomor pribadinya, dan tahu dengan nama pena dan juga nama aslinya.
"I-iya betul, maaf dengan siapa ini?" tanya Kirana dengan dahi yang berkerut.
"Ah baiklah, kenalkan Aku Yuri Miztah, apa kamu tahu?" Suara diseberang sana sangat percaya diri kalau dirinya sungguh dikenal Kirana, tapi Kirana malah makin bingung.
"Yuri Miztah?" ulang Kirana.
"Ya, ah apa mungkin kamu tidak tahu? Aku salah satu seleb medsos yang selalu membuat konten drama pendek," jelasnya lagi, dan kembali Kirana bingung.
"Oh ... maaf tapi saya masih belum tahu, karena akhir-akhir ini saya jarang buka medsos." Kirana berkata jujur.
"Yah sayang sekali, tapi tidak masalah kamu mengenalku atau tidak, yang jelas sekarang ini aku lagi membutuhkan seseorang agar bisa membuat naskah drama pendek yang akan aku rilis bulan depan, apa kamu bersedia?" Suara wanita ini awalnya terdengar kecewa saat Kirana tidak mengenalnya tapi mendadak jadi ceria kembali ketika dia menawarkan Kirana untuk membuat naskah ceritanya.
"Naskah drama pendek?" Kirana bertanya ulang, apa dia tidak salah dengar?
"Ya betul drama pendek, nanti cerita garis besarnya aku yang berikan padamu," ucapnya lagi.
"Apa nanti akan ada kredit namaku di drama itu?" Ragu Kirana bertanya hal ini, dia hanya berpikir bahwa ini tawaran penulis hantu seperti sebelumnya.
"Tentu saja namamu, aku pikir kamu akan bersedia, bagaimana kalau kita bertemu malam ini?" tawarnya lagi pada Kirana.
"Malam ini?" Kirana nampak terkejut.
"Tentu saja. Nanti aku akan kirimkan jam dan lokasinya padamu, kuharap kamu bisa datang tepat waktu. Ah aku ada urusan lain dulu, kau jangan tidak datang ya." Sambungan dimatikan setelah terdengar suara yang agak berisik dari belakangnya, Kirana hanya melongo mendengar kalimat terakhir wanita itu.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanya Kirana pada dirinya sendiri sembari mencubit pipi dengan keras.
"Auw! Ini aku sedang tidak bermimpi, kan?" Kirana seakan takjub dengan apa yang dia lalui hari ini, benar-benar diluar dugaannya.