Bab 9. Diskusi Pekerjaan

1492 Kata
Yumi lalu tersenyum saat melihat Rangga sudah menghilang dari pandangannya. "Jadi Kirana ini yang sudah berhasil mengambil hati manusia gila itu?" gumam Yumi. "Baiklah bidadari cantik Yumi akan mempersatukannya, sekalian aku mau lihat apa yang akan terjadi jika Mia dan Kirana ini tiba-tiba menyukai Kakakku. Ah, sepertinya ini akan menjadi adegan yang seru." Yumi terlihat sangat bahagia sekali saat ini. "Hei! Apa yang ada dalam otakmu ini?" Efan mencolek Yumi yang sedang gila dengan pikirannya sendiri. "Ah ... aku, aku akan membuat cerita seru di dunia nyata." Yumi berkata dengan gaya khasnya. "Maksudmu? Ah sudahlah tak penting isi kepalamu," Efan lalu memasang wajah serius. "Katanya kamu punya penulis skenarionya, sudah dihubungi belum? Atau aku harus membujuk Lala biar dia mau menulis cerita lagi untuk kita?" "Eits! Tenang aja, kali ini aku akan mendapatkan seorang penulis skenario yang harusya lebih baik dari Lala si sombong itu, ditambah lagi kita gak perlu bayar royalti untuknya, karena semuanya akan dibereskan dengan kakak tercintaku." Yumi berkata dengan suara riang dan wajah penuh senyuman. "Siapa? Apa aku pernah mendengarnya? Susah untuk mencari penulis yang punya kualitas bagus seperti Lala. Apa kamu bisa menjaminnya?" Efan sedikit ragu. "Tenang aja, kalau biasanya kita ditekan dari dua sisi, sekarang kita perlu menekan penulisnya saja agar sesuai dengan kemauan kita, ditambah lagi penulis ini punya pengaruh penuh terhadap investor besar kita." Efan mengerutkan keningnya, menyadari kelicikan Yumi. "Jangan katakan kalo sekarang kamu lagi manfaatin orang lain." Efan memperingatkan Yumi yang sering mencari gara-gara. Efan paham kalau wanita ini punya latar belakang yang luar biasa, walaupun rekan mereka yang lain tidak ada yang tahu, tapi Efan merasa wajib untuk memperingatkannya. "Aku gak manfaatin orang kok, kali ini kamu tenang ya. Aku cuma manfaatin keadaan aja, kondisi sedang menguntungkan kita." Yumi tersenyum lebar. "Jangan banyak khawatirnya, serahkan padaku masalah ini." Yumi menenangkan Efan yang takut dirinya akan berbuat onar. "Aku hubungi penulisnya dulu." Yumi lalu berjalan menjauh. *** Kirana setelah mendapatkan telpon itu langsung mencari tau tentang Yuri Mizta. "Ah ... dia ini cukup berpengaruh ternyata." "Lumayan banyak juga drama pendeknya." "Ternyata dia sangat cantik dan cukup popular." "Boleh juga nih kalo memang dia bersedia memakai jasaku untuk membuat ceritanya." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kirana yamg masih sibuk melakukan scroll tentang Yuri Mizta ini. Dari yang awalnya masih terguling di atas kasur sekarang Kirana membenarkan posisinya menjadi duduk dengan wajah yang serius, kurang puas juga dia lalu mengambil alat tempur utamanya - laptop jadul yang dia punya, sudah lebih dari enam tahun barang ini menemaninya, tapi walaupun begitu masih tetap bisa digunakan, dia juga hanya memakainya untuk mengetik, tidak ada fungsi lain yang cukup berat misalnya untuk membuat desain gambar atau edit video. "Baiklah Nona Yuri, aku akan melakukan yang terbaik," gumam Kirana, ini pertama kalinya dia langsung dihubungi oleh orang yang seperti ini, biasanya paling kenalannya saja yang ingin menggunakan jasanya karena mereka terdesak banyak kerjaan. Dia sebenarnya ingin merasakan ada namanya terpampang di suatu karya tapi sampai saat ini masih belum bisa dia capai, uang hasil dari penulis hantu ini lebih cepat didapat walau tidak terlalu besar. Sebenarnya menjadi penulis hantu bisa juga dapat uang yang banyak asal sabar mencari klien bagus, tapi pada prakteknya tidak semudah itu. Pesan masuk ke dalam handphone Kirana, dan dia terkejut setelah membacanya, Fullerton High Rooftop pukul tujuh malam. "Apa orang ini benar-benar mengajakku bertemu disana?" Tanya Kirana meyakinkan dirinya. Karena merasa ada yang janggal Kirana lalu membalasnya. Kirana: Apa boleh saya menghubungi anda sekarang? Bukannya Kirana tidak mau kesana, tapi sungguh aneh baginya untuk pergi ke tempat itu, karena dirinya hanya orang biasa, semua orang tahu bahwa itu adalah tongkrongan anak muda kaum elit, lagipula apabila kerjasama tidak menemukan hasil, bagaimana caranya untuk membayar tagihan makannya. Entahlah pikiran Kirana memang serumit itu. Butuh dua puluh delapan menit akhirnya handphone Kirana kembali berdering. "Hai Kirana, apa kamu keberatan dengan tempatnya? Atau kau tidak yakin denganku?" Suara wanita diseberang telponnya ini terdengar santai, tapi Kirana menjadi tidak enak hati. "Bukan begitu maksudku apa kita tidak bertemu ditempat biasa saja?" Kirana berkata dengan suara lemah, saat ini dia sudah pasrah kalau tiba-tiba Yuri Mizta ini berubah pikiran untuk tidak jadi bekerjasama. "Apa kamu takut aku menipumu? Ah bukan bukan maksudku apa kamu takut kalau aku adalah orang lain yang berpura-pura menjadi aku?" Dia bertanya lagi seolah bisa menebak apa yang ada dalam otak Kirana. "Apa ini benar-benar Yuri Mizta? Maaf aku hanya heran saja orang sepertimu tiba-tiba bisa menghubungiku langsung, aku ini bukan orang yang terkenal sebenarnya." Kirana berkata dengan tidak percaya diri. "Apa? Kamu gak dikenal banyak orang? Siapa bilang? Masa sih? Kenapa kamu sangat tidak yakin sekali kalau kamu sebenarnya orang yang terkenal? Jangan khawatir kamu dateng ajalah, atau aku menyuruh orangku untuk jemput kamu? Katakan dimana kamu tinggal?" celotehnya. "Aku? Baiklah kita bertemu disana saja, aku akan datang." "Okay, begitu dong. Aku tunggu kedatangannya ya." Telpon langsung dimatikan begitu saja. "Ya Tuhan semoga ini bukan penipuan dan aku tidak dijual kepada orang kaya," ucap Kirana sambil memegang kepalanya. *** Yumi sudah menunggu kehadiran Kirana, dia melihat jam dipergelangan tangannya, kurang tiga puluh menit sebelum pukul tujuh malam. Yumi hanya menguji sejauh apa nyali Kirana, seseorang yang bisa mengambil hati kakaknya harusnya punya nyali besar dan punya kepribadian yang unik dan tidak bisa ditebak. Adik Rangga ini paham betul bahwa Rangga bukan orang yang akan terpikat dengan wanita yang kaya raya dan memiliki penampilan anggun, sopan serta berkelas, dia harusnya ditaklukan dengan wanita yang tidak bisa ditebak apa maunya. Dalam kepalanya, Yumi sibuk membayangkan, menebak bagaimana kehidupan kakaknya beberapa bulan kedepan. Apalagi jika Rangga tidak bisa meyakinkan pasangannya pada kakek dan nenek, maka habis sudah nasib mereka. "Maaf, Anda Nona Yuri Mizta?" Wanita dengan pakaian sederhana ini muncul dihadapan Yumi. "Ah, iya itu Saya, kamu Dewi Matahari Kirana, kan?" tebak Yumi, benar saja wanita ini sangat sederhana, dia terlihat imut, apalagi dia hanya menggunakan riasan ala kadarnya. Yumi jelas bisa tahu dengan benar bahwa Kirana pasti tidak pernah memakai skin care apapun. "Iya Saya Kirana," jawabnya sopan. Suara Kirana ini sangat nyaman mengetuk gendang telinga Yumi, membuatnya menjadi senyum sendiri. "Ah, maaf saya sedikit terkesima dengan Dewi Matahari ini." Yumi lalu berdiri. "Silakan duduk." Dia mempersilakan Kirana untuk duduk dengan sangat sopan sekali, dia harus bersikap manis dihadapan calon kakak iparnya. Kirana sedikit gugup, dia merasa bahwa sambutan ini benar-benar hangat. "Terima kasih Nona Yuri sudah memberikan saya kesempatan ini, saya sangat merasa terharu sekali, apalagi Nona Yuri langsung menghubungi saya, saya yakin sekali Nona Yuri pasti —" "Sudah, sudah, sudah, jangan terlalu formal, panggil nama aja biar enak." Dia memotong pembicaraan Kirana, padahal Kirana saat di kosan sudah menghafal intro seperti ini saat bertemu dengannya. "Ah maaf Yuri, sebelumnya saya mengucapkan —" "Sudah kubilang jangan terlalu sungkan dan formal, ringkas aja, saya boleh langsung ke intinya ya." Yumi berkata santai, tapi tetap dengan tujuan awalnya. "Ah iya boleh, silakan saja, cerita seperti apa yang ingin dibuat?" Kirana bertanya, gugupnya perlahan menghilang karena Yumi yang begitu mudah membawa suasana menjadi cair. "Eh, tapi sebelumnya kamu mau pesan apa?" Yumi bertanya pada Kirana. "Apa saja boleh," jawab Kirana cepat, dia hanya tidak ingin membuang waktu membaca menu yang pastinya dia ada kendala dalam menerjemahkan makanannya. "Baiklah, aku yang pesan." Yumi kemudian memanggil pelayannya dan memesan makanan dan minuman. "Ah, lanjut ya ... tadi pembicaraan kita sampai mana?" Yumi bertanya pada Kirana yang masih sedikit canggung terhadapnya. "Belum mulai apapun." Kirana lalu tersenyum. Dimata Yumi entah kenapa senyum Kirana ini sangat membuat auranya lebih positif dan terlihat sangat manis! "Pantas saja manusia gila itu suka dengan Kirana." Yumi membatin. "Iya juga ya." Yumi tertawa terbahak, membawa suasana mencair. "Aku tahu kalau kamu lebih suka membuat cerita fantasi, aku melihat dibeberapa unggahan media sosialmu, dan itu yang buat aku tertarik. Buatkan aku kisah cinta fantasi, apa kamu bisa mengerjakannya dalam waktu kurang dari sebulan?" Yumi bertanya dengan wajah yang serius. "Romansa fantasi dalam waktu satu bulan?" tanya Kirana dengan mata membulat, bukan apa-apa tapi ini terlihat sangat terburu-buru. Yumi tertawa. "Sebenarnya aku maunya mulai ambil gambar bulan depan, rilisnya mungkin dua bulan lagi. Apa bisa?" tanya Yumi dengan wajah serius, walaupun ditelpon tadi dia sudah bilang rilis bulan depan, tapi demi Kirana dia rela memundurkannya, saat melihat keterkejutan Kirana. "Rangga, kau harus berterima kasih padaku." Yumi bergumam pelan. Kirana memutar otaknya, bagaimanapun jungkir baliknya dalam membuat naskah ini dia harus bisa melakukannya. "Baiklah akan kucoba," jawab Kirana, lalu percakapan mereka terus mengalir. Ditengah diskusi mereka, Yumi juga sesekali terlihat sibuk dengan membalas pesan masuk dan juga menjawab telpon. Kirana berpikir bahwa sepertinya Yumi adalah orang yang sangat sibuk. Akhirnya setelah pembicaraan panjang mereka, Kirana dan Yumi sudah bersepakat tentang pembuatan naskahnya. "Terima kasih Yuri, aku akan segera menghubungimu lagi." Ucap Kirana saat mereka selesai mendiskusikan pekerjaannya. *** Tempat ini untungnya tidak jauh dari transportasi umum, Kirana lalu melangkahkan kakinya menuju halte bus untuk segera pulang ke kosan-nya, baru tiga langkah dia sudah dihadang seorang pria dengan senyum tebar pesonanya. "Sayang, biar kuantar pulang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN