04. Tidak Semangat

1062 Kata
Chika berdiri didepan cermin melihat matanya yang masih bengkak, semalam ia bisa tidur nyenyak karena mbok Darmi memeluknya memberikan kehangatan seperti seorang ibu yang selalu Chika rindukan. Hari inipun ia merasa lebih baik, walau hatinya masih sakit dan sesak, saat bayangan Sandi bercinta dengan wanita lain melintas dipikirannya. "Kamu pasti bisa Chika melewati ini semua, kamu sudah terbiasa menjalanin semuanya sendiri, mulai sekarang kamu juga harus bisa melanjutkan masa depanmu tanpa mas Sandi lagi". batin Chika menguatkan dirinya sendiri. Membuang naparnya dengan kasar. Dilihatnya jam dinding masih jam 6 pagi. Mbok Darmi sudah sibuk didapur dan Anton masih tidur dikamarnya. Chika ingin membantu si mbok didapur tapi, si mbok dengan keras melarangnya, menyuruhnya istirahat saja karena melihat mataku yang masih bengkak. Rencananya Chika ingin pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian. Menyiapkan bahan-bahan untuk membuat pesanan kuenya hari ini, walau ia merasa tidak bersemangat seperti hari biasanya. Ia harus profesional, tidak mencampur adukkan masalah kerjaan dengan masalah pribadinya. Tapi langkahnya terhenti, saat melihat pria yang sedang tidur meringkuk dikursi kayu yang lumayan panjang yang ada diteras rumahnya. Tanpa alas dan selimut, hanya bantalan dengan lengan tangannya. Penampilannya kacau dan terlihat garis hitam dibawa matanya. Menandakan ia tidak tidur dengan baik, pria itu adalah Sandi Prayoto. Semalam Anton memang mengatakan bahwa Sandi menunggunya didepan rumah, tapi Chika tidak menyangka kalau Sandi akan menunggunya semalaman seperti ini. Hati Chika seakan lulur dan merasa kasihan karena jujur saja Chika masih sangat mencintai pria dihadapannya saat ini. Nalurinya menuntunnya mendekat kearah Sandi, membelai kepalanya dengan lembut. Namun seketika bayangan Sandi yang sedang bercinta dengan wanita lain melintas dibenak Chika. Membuat Chika mengurungkan niatnya lalu pergi begitu saja. Sandi terjaga dari tidurnya saat sinar matahari menerpa wajahnya, membuatnya menggeliat dan perlahan membuka matanya. Lalu duduk sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, kepalanya juga sedikit pusing karena ia tidak bisa tidur dengan nyenyak apa lagi nyaman. Sandi baru sadar kalau ia tertidur diteras rumah Chika, karena semalam ia menunggu Chika sampai jam 2 dini tapi Chika tak kunjung pulang hingga ia tertidur sendiri karena lelah. Sandi langsung melihat kearah pintu rumah, berharap saat ia tertidur Chika sudah kembali kerumahnya, tapi harapannya sia-sia ternyata pintu rumahnya masih tergembok. "Chika, apa kamu baru saja pulang? Mas merasa kamu membelai kepala mas dengan lembut. Apa mas hanya bermimpi? Tapi mas merasakannya seperti sangat nyata sayang.. Dimana kamu sayang? Apa kamu tidak ingin bertemu mas lagi? Apa tidak ada kata maaf untuk mas dan kesempatan untuk menebus kesalahan mas? Mas sungguh sangat menyesal sayang". batin Sandi, merasakan kepalanya pusing, dan ia mengacak rambutnya karena frustasi. Mengambil ponsel disaku celananya, Sandi sudah berkali kali menelpon dan mengirim pesan pada Chika. Tapi tidak ada balasan pesan dari Chika apa lagi telpon. Sandi memasukan ponselnya kembali tapi ada sesuatu yang mengganjal disakunya, ia merogoh dan mengeluarkannya. Ternyata cincin lamarannya yang semalam dilepas oleh Chika dan membuangnya kelantai. Sandi memandang lama cincin ditangannya itu. "Harusnya hari ini kita jalan-jalan berdua, bergandengan tangan, makan es cream dengan santai saling suap menikmatinya dan tertawa bersama. Andai saja tadi malam mas tidak tergoda dan bisa menahannya, pasti semua ini tidak akan terjadi." guman Sandi dengan pelan dan air mata yang tiba-tiba saja keluar. Sandi menyeka air matanya, lalu pergi dari rumah Chika. Ia butuh istirahat sebentar karena lelah dan badannya terasa sakit semuanya. Ia akan pulang sebentar lalu mencari Chika lagi. * * * Chika berdiri dengan termenung, tangannya memegang adonan kue yang harusnya ia aduk tapi malah ia diamkan karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Chika khawatir saat melihat Sandi pergi dari rumahnya dengan penampilan sangat kacau, ia merindukan pria itu tapi ia belum siap untuk bertemu dengan Sandi. Chika tersadar dari lamunanya saat bahunya dipegang seseorang. "Mau sampe kapan adonannya hanya didiamkan saja". tegur Darmi. "Sini biar mbok bantu". lanjutnya sambil mengambil ahli adonan kue dari tangan Chika. Chika membuang napasnya dengan kasar. "Maaf Chika bikin si mbok repot begini". ucap Chika dengan lesu. "Gak papa, mbok malah seneng kok direpotin nak Chika terus". hibur Darmi, sambil mengaduk adonan kuenya. Tadi pagi setelah Sandi pergi dari rumahnya. Ia segera pulang mengambil beberapa pakaian ganti, serta bahan-bahan kue dan alat-alatnya lalu membawanya kerumah mbok Darmi. Ia memutuskan untuk membuat pesanan kuenya dirumah mbok Darmi dan tinggal sementara waktu dirumah si mbok. "Kenapa tidak menemuinya, bicara baik baik dan mendengarkan penjelasan dari nak Sandi". tanya Darmi. "Untuk apa dijelaskan mbok dimata Chika semuanya sudah sangat jelas, walau Chika sangat mencintai dan sayang mas Sandi melebihi diri Chika sendiri. Tapi penghiyanata mas Sandi lebih besar mbok, dengan bercinta dengan wanita lain itu membuat hati Chika tidak bisa menerima mas Sandi lagi". jelas Chika. "Tapi sayang...". "Maaf mbok, Chika tidak mau membahasnya lagi". potong Chika, karena hati dan pikirannya belum bisa berpikir dengan jernih. Darmi tidak bertanya lagi, ia mengerti perasaan Chika dan ia lebih memilih mengadu adonan kuenya. Hening tidak ada percakapan di antara mereka hingga pekerjaan mereka selesai. Anton mengantar kue pesanannya karena Chika tidak mungkin keluar dengan keadaannya yang sekarang. Ia juga tidak ingin sampai Sandi melihatnya. Chika memilih mengurung dirinya dirumah dan lebih banyak berdiam didalam kamar, ia juga tidak lagi menerima pesanan kue. Chika tidak bersemangat lagi membuat kue, biasanya ia akan bersemangat dan senang saat akan membuat kue karena sudah menjadi hobby-nya. Tapi sekarang tidak, bahkan untuk mengangkat sendok kemulutnya saja rasanya Chika tidak memiliki tenaga. Darmi yang melihat iba pada Chika pun hanya bisa diam. Darmi sudah menyarankan dan menasehatinya untuk mencoba bicara baik baik dengan Sandi. Tapi Chika selalu menolaknya dan bersih keras tidak ingin menemuai Sandi. Chika melihat ponselnya diatas meja kecil yang ada dikamar, semenjak kejadian malam itu ia tak ingin menyalakan ponselnya bahkan ia berencana untuk mengganti nomornya dengan yang baru. Entah ia hanya menenangkan diri atau menghindari Sandi, yang jelas Chika sama sekali tidak ingin bertemu dengan Sandi lagi, mungkin untuk selamanya. Bayangan Sandi yang sedang bercinta dengan wanita lain selalu muncul dipikirannya. Membuat luka dihatinya semakin dalam dan sesak setiap kali mengingatnya. Chika tidak mungkin akan selalu berdiam dirumah, mengurung dirinya dikamar, dan selalu merepotkan si mbok. Takdir begitu kejam padanya dimana ia hidup sebatang kara ditinggal orang tua dan neneknya kesurga. Dan sekarang, ia harus meninggalkan orang yang sudah mengisi ruang kosong dihatinya, yang selalu menghiasi hari harinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena sebuah penghiyanatan yang Sandi lakukan membuat harapannya sirna tak tersisa dan Chika tidak mungkin bisa menerima Sandi dalam hatinya atau pun kehidupannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN