Sudah seminggu, semenjak kejadian malam itu Chika tidak pernah keluar rumah. Lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdiam diri didalam kamar, sama seperti yang sekarang ia lakukan. Chika berdiri didepan jendela kamarnya melihat keluar jendela menatap kosong rintikan rintikan hujan yang turun dari langit, membasahi bumi, membersihkan debu yang bertebaran dibumi dan memberikan kehidupan baru.
Chika sudah memutuskan untuk mengubur masa lalunya disini, meninggalkan desa kelahirannya, dan memutuskan untuk merantau kekota. Menata kembali serpihan hatinya yang tersisa dan mulai menjalani hidup kembali dari awal ditempat baru. Chika juga tidak ingin selalu merepotkan si mbok dan Anton yang sudah banyak membantunya. Demi mereka juga Chika harus bisa melewati takdirnya yang menyakitkan dan mencari kehidupan yang membuatnya nyaman, tenang, dan bahagia. Walau mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka dihatinya. Chika mencoba untuk mengiklaskan dan memaafkan Sandi, tapi tidak untuk kembali lagi pada pria itu.
Chika mengingat pesan si mbok, jika kita mengiklaskan sesuatu yang hilang maka hati kita akan merasa tenang. Tapi jika Chika tetap berada disini ia akan selalu mengingat kenangan indah bersama Sandi dan juga penghiyanatan Sandi. Chika sudah memantapkan hatinya dengan keputusannya untuk pergi kekota, ia hanya perlu membicarakannya dengan mbok Darmi. Lamunan Chika buyar saat mendengar ketukan pintu kamar.
Tok.. tok... tokk
Suara ketukan pintu, tidak lama suara mbok Darmi terdengar dari luar.
"Nak Chika.. boleh mbok masuk".
"Masuk aja mbok, gak Chika kunci pintunya". sahut Chika tanpa mengalihkan pandangannya.
Darmi membuka pintu, menghampiri Chika yang berdiri didepan jendela.
"Makan dulu yukk, siang tadi nak Chika tidak makan dan pagi tadi juga nak Chika cuma sarapan sedikit". bujuk Darmi dengan suara lembutnya sambil mengelus pucuk kepala Chika.
"Chika gak lapar mbok". tolak Chika masih menatap kosong keluar jendela.
"Mau sampai kapan nak Chika mengurung diri dikamar ini? Nak Chika tidak sayang lagi sama si mbok". tanya Darmi dengan suara lirih, Chika yang mendengar langsung melihat si mbok.
"Kenapa si mbok bilang begitu? Chika sayang si mbok, melebihi rasa sayang Chika pada diri Chika sendiri, Chika hanya punya si mbok yang selalu ada buat Chika". ucap Chika sambil memeluk Darmi.
"Kalo sayang kenapa selalu mengurung diri dikamar ini, tidak mau makan. Si mbok sedih kalo lihat nak Chika seperti ini terus, hati si mbok juga ikut sakit".
"Maafin Chika mbok, sudah bikin si mbok sedih, ...". Chika melepas pelukannya.
"Chika ingin bicara sesuatu sama si mbok" lanjut Chika.
"Baiklah, tapi nak Chika makan dulu setelah itu baru mbok mau bicara sama nak Chika". sahut Darmi.
Kalau sudah seperti ini, Chika harus mau tidak mungkin bisa menolak lagi. Dengan terpaksa ia mengangguk, membuat Darmi tersenyum.
Chika makan dengan diam ditemani mbok Darmi karena tadi siang ia sudah makan lebih dulu, dengan terpaksa Chika harus menghabiskan makanannya, si mbok memaksa Chika jika ingin bicara dengan si mbok maka harus menghabiskan makanannya. Setelah makan mereka duduk diruang tamu.
"Ingin bicara apa sama si mbok, kok kayaknya serius gitu". tanya Darmi yanga penasaran.
"Mbok.. Chika mau pergi kekota dan tinggal disana". ucap Chika dengan yakin, membuat Darmi terkejut dengan keputusan Chika yang tiba-tiba.
"Tapi, kenapa tiba-tiba nak Chika ingin pergi kekota? Disana juga nak Chika tidak punya siapa siapa". tanya Darmi dengan khawatir.
"Chika akan mulai menjalani hidup Chika dari awal lagi ditempat baru mbok, Chika tidak bisa tinggal disini lagi. Terlalu banyak kenangan Chika bersama mas Sandi disini dan juga penghiyanatan mas Sandi membuat hati Chika semakin rapuh jika terus ada disini. Chika butuh tempat baru dan suasana baru, dimana tidak ada yang mengenal Chika disana. Chika janji akan baik-baik saja dikota". jelas Chika panjang lebar.
Mbok Darmi hanya bisa pasrah dan mendukung keputusan Chika bagaimana juga ia benar, Chika tidak bisa menjalani hidupnya kembali jika selalu dibayangi masa lalunya yang kelam dan menyakitkan.
"Nak Chika sudah memikirkan keputusan nak Chika akan pergi kekota?". tanya Darmi, yang dijawab dengan anggukan oleh Chika.
"Baiklah.. kalo memang nak Chika sudah yakin dengan keputusan ini, si mbok hanya bisa mendukung dan berdo'a semoga nak Chika dikota bisa memulai awal yang baru dengan baik dan bahagia". ucap Darmi sambil mengelus pipi Chika.
"Kapan nak Chika ingin berangkat kekota?".
"Rencana besok, pagi-pagi sekali Chika berangkat mbok, Chika tidak bisa berlama lama lagi disini".
"Kalo begitu biar besok pagi Anton yang antar sampai terminal, biar nanti si mbok kasih tau Anton. Mbok gak akan tenang kalo nak Chika berangkat sendiri dari rumah apa lagi terminal jaraknya cukup jauh dari sini". jelas Darmi.
"Terima kasih mbok".
"Yaa sudah sekarang nak Chika istirahat dulu, nanti malam si mbok bantu berkemas kemas barang nak Chika". suruh mbok Darmi.
Chika mengangguk, beranjak dari duduknya lalu kembali kekamar. Merebahkan badannya ditempat tidur sambil menutup matanya. Mengistirahatkan hati dan pikirannya sejenak.
* * *
Chika baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basah. Saat ia ingin masuk kamar, Anton yang baru saja keluar dari kamarnya yang ada disamping kamar Chika, memanggilnya.
"Mbak..". panggil Anton,
Mengurungkan niat Chika yang ingin membuka pintu kamar langsung menoleh kearah Anton.
"Kenapa?". tanya Chika.
"Nih..". Anton mengulurkan tangannya pada Chika yang memegang kartu sim card baru.
"Bilang mau ganti kartu baru, nomornya sudah aku aktifkan, mbak tinggal pasang aja diponsel mbak. Nomorku juga sudah aku save". jelas Anton.
"Makasih, mbak ganti gak nih uangnya". tanya Chika sambil mengambil kartu dari tangan Anton.
"Kalo mbak mau gantiin berarti 10x lipat yaa". goda Anton sambil tertawa menaik turunkan kedua alisnya.
"Kalo gitu tunggu mbak nikah sama orang kaya baru mbak ganti 10x lipatnya". sahut Chika dengan asal.
"Aminnn...". Anton menjawab dengan semangat sambil mengusapkan kedua tangan kewajahnya.
"Orang kaya mana juga Ton yang mau nikah sama mbak yang miskin gini". protes Chika.
"Kata si mbok kalo do'a baik itu harus di aminin, memang mbak gak mau apa punya suami orang kaya". tanya Anton.
"Terserah kamu aja Ton". jawab Chika dengan pasrah.
"Kenapa lagi toh kalian ini, berantem lagi?". tanya mbok Darmi yang baru keluar dari kamar belakang.
"Nggak mbok, Anton aja nih yang lebay minta gantiin kartu yang dia beli buat Chika 10x lipat". sahut Chika.
"Anton kan gak bilang mbak suruh gantiin, tapi kalo mau gantiin berarti 10x lipat.. Terus mbak bilang, tunggu mbak nikah sama orang kaya dulu baru digantiin 10x lipat.. Yaa Anton Aminnin, kan do'a mbak baik". jelas Anton tak terima di bilang lebay.
"Mbak kan cuma asal bilang gak do'a Ton". sahut Chika sambil memutar bola matanya
"Ucapan itu do'a juga mbak, tanya aja sama si mbok. Yaa kan mbok". tanya Anton sambil melihat kearah mbok Darmi.
"Iya, ucapan kita adalah do'a kita". jawab mbok Darmi.
"Tuhkan bener..". ucap Anton dengan bangga.
"Sudah.. sudah, nak Chika kita keruang tamu yuk, ada yang mau mbok bicarakan". ajak mbok Darmi sambil berjalan keruang tamu lalu duduk, diikuti Chika yang duduk disamping mbok Darmi, dan Anton juga ikut duduk dikursi tunggal.
"Apa yang ingin mbok bicarakan". tanya Chika. Darmi membuang napasnya dengan kasar, sebelum ia bicara.
"Sebenarnya mbok berat untuk melepas kepergianmu. Tapi mbok juga ingin nak Chika bisa menjalani hidup seperti biasanya yang selalu ceria dan selalu tersenyum, bahagia. Mbok berdo'a semoga nak Chika bisa menemukan kebahagiaan yang nak Chika cari dikota, dan semoga suatu saat nanti nak Chika bisa menemukan calon suami yang menyayangi dan tulus mencintai nak Chika apa adanya". ucap mbok Darmi dengan raut wajah sedih.
"Chika janji setelah hari ini Chika akan selalu ceria dan selalu tersenyum seperti yang mbok inginkan. Jadi Chika harap mbok tidak akan bersedih dan khawatir lagi. Percaya pada Chika, Chika pasti akan baik baik saja disana dan bisa menjaga diri Chika dengan baik". jelas Chika dengan senyum manisnya.
"Besok kalo sudah sampai dikota langsung kabari mbok yaa. Dan ini mbok punya sedikit simpanan semoga bisa membantu nak Chika dikota dan mbok gak bisa bantu lebih dari ini". ucap mbok Darmi memberikan amplop coklat yang ia pegang sejak tadi pada Chika.
"Terima kasih selama ini mbok selalu membantu Chika. Tapi kali ini Chika tidak bisa menerima bantuan mbok. Mbok dan Anton sudah banyak membantu Chika". tolak Chika secara halus, mengembalikan amplop coklat yang mbok Darmi berikan padanya.
"Mbok lebih membutuhkannya dari pada Chika, dan mbok tidak usah khawatir. Chika punya tabungan dari hasil jualan kue, Chika bisa menggunakannya dan itu cukup untuk beberapa bulan kedepan sambil Chika mencari pekerjaan disana. Chika juga akan mengabari mbok kalo sudah sampai dikota". jelas Chika.
Mereka saling berpelukan dan Anton yang melihatnya jadi terharu. Chika tau itu uang simpanan si mbok dari hasil kerja Anton yang setiap hari diberikan pada si mbok dan Chika tidak mungkin bisa menerima uang itu karena si mbok lebih membutuhkannya. Toh Chika memiliki sedikit tabungan dari hasil jualan kuenya, dulu ia berencana menggunakannya untuk membantu Sandi setelah kita menikah. Tapi semuanya gagal, dan Chika akan menggunakannya untuk menyewa kontrakan dikota. Walaupun jumlahnya tidak banyak tapi masih cukup untuk beberapa bulan kedepan dan juga makan sehari hari disana sambil Chika mencari pekerjaan dikota.