Dikamar yang tidak terlalu besar dan terlihat sederhana namun tertata dengan rapi. Chika memasukan pakaiannya kedalam tas yang tidak terlalu besar, bersama mbok Darmi yang membantunya berkemas kemas.
Saat Chika ingin menutup pintu lemari, tanpa sengaja ia melihat kotak yang cukup besar berwarna ungu dengan pita berwarna emas diatasnya, terlihat sangat cantik dan indah. Chika mengeluarkan kotak itu dari laci lemari paling bawah dan membukanya. Didalamnya terdapat baju kebaya pengantin yang akan Chika pakai dihari pernikahannya dengan Sandi. Namun kini semuanya tinggal kenangan. Air mata Chika mengalir begitu saja dipipinya saat ia mengingat kenangan indah saat Sandi memberikan kejutan kepadanya, membeli baju pengantin.
Flasblack :
Chika sedang duduk diruang tamu sambil menonton tv, karena hari ini ia tidak ada pesanan kue. Jadi ia memilih bersantai saja dirumah. Saat sedang asyik menonton tv tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok.. tokk...tokk
Chika segera bangkit lalu membuka pintu, ia terkejut saat melihat Sandi sudah ada didepan pintu rumah. Padahal tadi ia baru saja mengirim pesan kalau ingin berangkat kerja.
"Mas Sandi". ucap Chika, yang tekejut melihat kedatangan Sandi.
"Biasa aja mukanya dek, kayak mas s***n aja". tegur Sandi sambil menjawil hidung Chika.
"Mas kok disini, tadi baru aja kirim pesan bilang mau berangkat kerja". tanya Chika dengan heran.
"Mas kan cuma bilang mau berangkat gak bilang mau berangkat kerja". sahut Sandi berlalu masuk dan duduk dikursi.
"Iya tapi, Chika kira mas mau berangkat kerja, gak taunya mau berangkat kesini". ujar Chika sambil duduk.
"Siap siap sana, mas mau ngajak kamu kesuatu tempat hari ini"
"Memang mas gak kerja, terus mau ngajak Chika kemana?" tanya Chika merasa penasaran.
"Nggak, hari ini mas izin gak masuk kerja".
"Kenapa tiba-tiba mas izin?".
"Yaa karena mas mau ngajak kamu kesuatu tempat dek".
"Kemana mas?".
"Sudah jangan tanya mulu, kayak wartawan aja. Siap siap dulu sana, nanti juga kamu tau kita mau kemana".
"Kan penasaran mas".
"Cepet sana, kalo gak mau mas jalan sendiri nih". ucap Sandi yang ingin beranjak dari duduknya.
"Iya.. iya, Chika ganti baju dulu".
"Jangan lama lama macaknya".
"Iya.. bawel". ucap Chika sambil berlalu kekamar.
Hanya butuh 10 menit Chika bersiap karena ia sudah mandi jadi hanya perlu mengganti bajunya saja. Chika keluar dari kamar dengan penampilan sederhananya namun terlihat cantik natural alami. Ia memakai sweeter rajut panjang berwarna baby pink dan jeans hitam, dengan rambut yang ia ikat tinggi seperti ekor kuda memperlihatkan leher jengjangnya yang mulus dan putih.
"Ayo berangkat". ajak Chika yang sudah berdiri didepan pintu.
"Kok cepet".
"Tadi bilang jangan lama lama, sudah buru-buru sekarang malah bilang cepet, gimana sih?". sewot Chika.
"Buru buru aja tetap cantik, apa lagi kalo lama macaknya dek, bisa pingsan mas liat kamu bagaikan bidadari turun dari surga saking cantiknya". puji Sandi.
"Gak usah gombal". ucap Chika yang masih sedikit kesal.
"Iya.. gak usah cemberut gitu, nanti mas kuncrit nih bibir cantiknya". goda Sandi.
"Enak aja, memang rambut pake dikuncrit". sahut Chika dengan galak.
"Galak amat, lagi PMS yaa". goda Sandi.
"Gak...". jawab Chika sok sinis, sambil berlalu menginggalkan Sandi yang masih berdiri ditempatnya, menggelengkan kepalanya, merasa gemes melihat Chika yang sudah duduk lebih dulu diatas motor karena merajuk.
Sandi melajukan motornya membelah jalanan, banyak kendaraan yang berlalu lalang membuat suasana jalanan menjadi cukup ramai. Chika tak henti hentinya bertanya pada Sandi, ia akan membawanya kemana. Tapi jawaban Sandi tetap sama ia bilang ini adalah kejutan untuk Chika, kalau ia memberi taunya sekarang pasti tidak akan menjadi kejutan lagi.
Chika tidak bertanya lagi pada Sandi karena ia lelah bertanya berkali kali tapi tidak mendapat jawaban juga, akhirnya ia memutuskan diam saja sambil cemberut, dan itu membuat Sandi yang melihatnya menjadi semakin gemas.
Sandi menghentikan motornya didepan sebuah toko yang cukup besar. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ketoko ini. Chika yang tadinya cemberut tiba-tiba matanya jadi berbinar saat melihat beberapa baju pengantin yang terpasang dipatung yang ada didalam toko itu.
"Mau sampai kapan duduk dimotor terus, tidak mau masuk". tegur Sandi, membuat Chika tercengang lalu ia segera turun dari motor.
"Mas yakin kita akan beli baju pernikahan kita disini". tanya Chika sedikit ragu, ia yakin pasti baju ditoko ini mahal mahal.
"Pernikahan kita sudah ditetapkan dan mas sudah merencanakan ini dari sebelum belumnya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Sekarang, kamu hanya perlu memilih baju yang kamu suka dan memcobanya karena mas juga mau liat, calon istri mas pakai baju pengantin". jelas Sandi sambil menggoda Chika. Membuat pipi Chika merona.
"Nanti pas kita nikah kan mas juga bisa liat aku pake baju pengantin".
"Kan beda dek kalo itu".
"Apa bedanya?". tanya Chika sambil menaukai sebelah alisnya.
"Kalo sudah nikah kan, mas bebas berduaan sama kamu dek, gak harus nahan nahan lagi". goda Sandi yang bicara kearah lain.
Chika sempat bingung apa yang Sandi bicarakan tapi setelah ia mencerna kata-kata Sandi ia baru tau kemana arah pembicaraan Sandi.
"Iihhh.. Dasar m***m mas nih". sahut Chika, membuat ia merasa malu sambil berjalan masuk lebih dulu kedalam toko.
Sandi yang melihat hanya tertawa lalu mengekor dibelakang Chika. Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan kami dan menemani Chika memilih milih baju, sedangkan Sandi duduk dikursi tunggu sambil sibuk dengan ponselnya. Chika bingung baju mana yang harus iya pilih karena semuanya terlihat bagus dan cantik. Ia juga sempat kaget melihat harga satu baju hingga jutaan.
Akhirnya ia memilih baju kebaya yang sederhana namun terlihat cantik, dan harganya pun tidak terlalu mahal menurutnya. Ia mulai mencoba baju pilihannya dibantu oleh salah satu pelayan toko. Baju kebaya berwarna putih dengan renda renda dan hiasan bunga mawar dibagian dadanya berwarna emas, dengan bawahannya berwarna hitam kecoklatan dengan hiasan hiasan berwarna emas sangat pas ditubuhnya. Sedikit ragu Chika keluar dari ruang ganti, melihat Sandi yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Mass..". panggil Chika yang sudah berdiri di depan Sandi.
Sandi yang merasa dipanggil segera mengangkat kepalanya dan melihat kearah Chika. Sungguh ia tercengang saat melihat Chika sudah memakai baju kebaya pilihannya. Ia terlihat sangat cantik dan anggun, membuat Sandi susah menelan liurnya sendiri. Chika yang melihat Sandi tepesona padanya, tersenyum karena Sandi sampai tak berkedip memandang dirinya.
"Bagaimana menurut mas?". tanya Chika meminta pendapat Sandi, membuat Sandi sadar dari lamunannya.
"Cantik.. Sangat Cantik, mas suka". jawab Sandi yang terucap begitu saja dari mulutnya.
"Kalo mas suka, aku pilih yang nih saja". ucap Chika, berlalu mengganti bajunya kembali. Setelah semuanya selesai dan baju pilihan Chika juga sudah terbungkus cantik ditangannya.
"Suka dengan kejutan mas".
"Suka banget, terima kasih banyak mas". ucap Chika, tersenyum bahagia sambil memegang lengan Sandi dengan manja. Sandi hanya mengangguk sambil tersenyum.
Flasblack end :
* * *
Chika tersadar dari lamunan panjangnya saat bahunya ditepuk seseorang.
"Nak Chika baik baik saja". tanya mbok Darmi yang khawatir melihat air mata Chika yang sudah membasahi pipinya.
"Chika baik baik aja mbok". jawab Chika sambil menghapus air matanya.
"Kalo sudah selesai berkemasnya kita pulang sekarang". ajak mbok Darmi.
"Iya mbok". sahut Chika sambil menutup kembali kotak yang ia pegang lalu memasukannya kedalam lemari.
Darmi tidak ingin berlama lama lagi dan melihat Chika semakin larut dalam kesedihannya karena selalu teringat kenangan antara dirinya dan juga Sandi. Mungkin keputusan Chika sudah benar untuk pergi kekota dan meninggalkan masa lalunya didesa ini.