Insiden Makan Siang

1098 Kata
Wahyu tiba-tiba dipanggil Bu Riska ke dalam untuk membantu melayani beberapa tamu yang baru datang. Karena suasana lagi ramai pengunjung, akhirnya mereka berbagi tugas untuk membantu pelayan di dalam. “Wahyu, kamu bantu-bantu teman di dalam dulu ya. Sekarang lagi ramai karena jam makan siang,” kata Bu Riska padanya. “Oh oke bu, saya akan bantu,” jawab Wahyu. Dia masuk ke ruangan VIP bersama Mas Budi untuk mencatat bill di meja-meja pengunjung yang sudah selesai makan. Sementara Wahyu membantu mengemasi piring-piring kosong di sana agar bisa dirapikan mejanya. “Wahyu, kamu masukin nasi sisa ini ke dalam tempat ini ya. Dan saya akan mencatat makanan yang telah habis,” ujar Mas Budi mengarahkannya. “Baik Mas, tapi nasi ini masih banyak sisanya Mas. Apa ngak sayang dibuang ke sini?” tanya Wahyu heran. “Sudah, memang peraturannya begitu. Yang boleh disimpan kembali hanya lauk-lauk yang tidak dibuka bungkus plastik piringnya ini,” tunjuk Mas Budi pada Wahyu. Eleh-eleh, Wahyu jadi merasa mubasir melihat nasi seputih ini dibuang begitu saja ke tempat pembuangan. Padahal jika mengingat susahnya menanam padi dari benih hingga bisa dihasilkan beras sangatlah membutuhkan waktu yang lama. Tapi memang peraturannya begitu, akhirnya Wahyu menurutinya. Dia memasukkan sisa nasi dalam mangkuk itu ke dalam ember dan merapikan piring-piring kosong ke dalam troli. Sedangkan Mas Budi telah pergi ke tempat pegawai kasir. Saat Wahyu sibuk mengelap meja, dia melihat ada uang 100 ribu di balik piring makan. Wahyu pun kaget, apa orang yang makan tadi lupa membawa uangnya ya? Pikirnya dalam hati. Lalu Wahyu memanggil orang duduk makan di meja barusan, “Mbak, Mbak. Ini uangnya ketinggalan di bawah piring!” ujar Wahyu memanggil-manggil wanita yang baru saja makan di situ. Semua pelayan memandangi Wahyu dengan ekspresi lawak. Memang hal ini sudah biasa terjadi di sana, karena pengujung itu sengaja memberikan uang tips kepada karyawan yang melayani mereka. Dan Wahyu yang merupakan anak baru, malah terang-terangan mengingatkan uang tips untuk dibawa kembali. “Wahyu.. ssssht. Itu buat kamu. Jatah kamu tuh, sayang jangan dibalikin,” bisik Bu Riska kepada Wahyu. "Eheh," Wahyu hanya tersenyum cengo mendapati hal baru itu. Dia sangka uang ini ketinggalan, tapi malah sebaliknya. “Aih.. aihs, si Wahyu…. Kau ini dikasih uang malah nolak. Kalau enggak mau sini bagi ke aku saja,” ujar Mas Budi menggoda Wahyu. “Hehe, saya kira ini bukan untuk saya Mas. Kalau begini mah siapa juga enggak akan nolak, hwahaha” kata Wahyu tertawa sembari mengantongi uang seratus ribuan itu ke sakunya. Lumayan buat beli baju kaos sama beli balon-balon air untuk keponakannya saat pulang kerja nanti. Tak jauh dari Wahyu berdiri, Celine memandangi pria kampung yang membuat semua tamu tertawa geli itu dengan tatapan sinis. Melihat gaya Wahyu yang polos, membuat Celine jadi penasaran, namun dia tidak terlalu memikirkannya sekarang karena perutnya sangat lapar, sedangkan makanannya belum juga datang-datang. “HeI! Mas Norak! Tolong dong bawakan makanan saya segera. Lapar nih!” panggil Celine pada Wahyu yang selesai merapikan meja makan. “Hah? Mbak panggil saya?” tunjuk Wahyu pada dirinya, karena tidak yakin jika wanita galak ini memanggilnya. “Iya kamu, masak setan!” sahut Celine galak. “Oh, iya. Iya… sebentar Mbak,” kata Wahyu mengeringkan tangannya ke kain lap dan berjalan mendekati Celine. “Mbaknya mau pesan apa?” tanya Wahyu ramah. “Pesan apa sajalah yang penting cepat dan bikin kenyang. Buruan!” kata Celine mengibaskan tangannya. Wahyu tersenyum sinis melihat lagak Celine yang menganggapnya jonggos. Padahal dia sudah beramah tamah menanyakan apa pesanan yang ingin dimakan wanita ini, namun ucapannya sangat kasar, batin Wahyu. Dia pun bergegas ke tempat makanan, dan meminta Mas Aryo untuk mengambilkan pesanan Celine. Karena Celine adalah pengunjung tetap, jadinya mereka yang sudah lama bekerja di sana tahu apa makanan kesukaan wanita itu. Ada ayam goreng balado dan juga kuah gulai di atas piringnya. Tak lupa dengan kuah gulai bercampur kerupuk kulit. Wahyu hanya geleng-geleng lemah melihat porsi makan Celiene yang seperti kuli bangunan. Pantas wanita ini suka marah-marah karena ternyata suka makanan bersantan dan bikin tensi naik ini, batin Wahyu menebak Celine. Lalu dia membawa hidangan itu ke meja Celine. “Ini makanannya Mbak, silahkan,” kata Wahyu menghidangkan di meja makan. Celien hanya mengangguk dan tak mengucapkan kata terima kasih. Karena saking laparnya di butik, akhirnya Celine tidak berbasa-basi menyantap makanannya dengan sangat lahap. Dia tidak menghiraukan Wahyu yang masih berdiri dekat mejanya. “Ngapain masih disini? Udah sana jauh-jauh. Saya mau makan nih!” bentak Celine mengusir Wahyu. Nih orang kenapa sih, tanya Wahyu keheranan. Baru juga diambilkan makan, kini malah marah-marah mengusirnya. “Halo Mbak, saya mau bertanya saja, apa minuman yang mau anda pesan?” tanya Wahyu bersabar. “Air putih saja,” sahutnya. “Baiklah, ada lagi?” tanya Wahyu. “Astaga! Jangan banyak bertanya begini dong! Saya mau makan nih. Saya minta air putih, ya kamu bawa air putih! jangan banyak tanya-tanya lagi,” jawabnya galak. “Oke,” kata Wahyu ketus dan pamit dari hadapan Celine. Dia merasa jengkel menghadapi kelakukan Celine yang sok begitu. Beruntung Mas Budi menenangkannya dan memberi tahu bahwa Celine memang orangnya seperti itu, suka berbicara kasar. Tapi sebenarnya orangnya baik dan suka memberi banyak uang tips untuk mereka. “Kamu yang sabar ya Wahyu. Mbak Celine memang begitu orangnya, suka marah-marah. Tapi dia yang paling sering kasih kita uang tips disini untuk jajan,” ujar Mas Budi menepuk pundak Wahyu. “Iya Mas,” sahut Wahyu. Namun meskipun begitu, tetap saja cara Celine membuatnya tersinggung karena dibentak-bentak di tempat banyak orang. Di kampung saja ngak ada yang pernah membentaknya seperti itu, semua wanita di tempatnya selalu bertutur sopan dan santun. Setelah selesai memberikan minum untuk Celine, Wahyu kembali berdiri di depan untuk menyambut tamu dan membantu para tamu untuk kembali ke mobilnya. Entah ini nasib baik untuk Wahyu, dia malah mendapat uang tips lagi dari salah satu pengunjung. Kali ini uang 50 ribu rupiah. “Dek, ini hanya pesan saja. Yang rajin ya bekerjanya. Tidak selamanya nasib kita berada di bawah, jika kamu terus tekun maka percayalah suatu saat kamu akan berhasil,” pesan orang yang memberinya uang itu. “Baik pak, terima kasih,” kata Wahyu sopan. Dalam hatinya, Wahyu sangat senang karena rezekinya di hari pertama bekerja sangat biak. Bahkan dia sudah mendapatkan uang 150 ribu sejak tadi. “Terima kasih Tuhan, semoga pekerjaan ini bisa berkah juga buatku,” kata Wahyu lirih. Mas Budi juga ikut senang melihat Wahyu yang bisa menghandle pekerjaanya dengan baik tanpa perlu dikasih tahu. Memang orang seperti Wahyu ini terlihat akan menjadi salah satu orang-orang sukses nantinya. Apalagi auranya yang ramah, membuat pengunjung jadi senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN