Wahyu terkantuk-kantuk saat duduk menunggu semua karyawan selesai membersihkan restoran. Mereka telah tutup satu jam yang lalu, dan dia harus menunggu Mas Budi selesai menghitung pendapatan hari ini di meja kasir.
“Wahyu.. Yu?” panggil Mas Budi membangunkan Wahyu yang tertidur di bangku di sampingnya.
“Hei, bangun! Kamu mau pulang atau enggak?” tanya Mas Budi membuat Wahyu tersintak kaget.
Dia tak sadar karena tertidur sambil duduk barusan. Rasanya sangat capek setelah bekerja seharian ini. Meski tidak bekerja berat, namun semua persendiannya terasa ngilu.
“Mas, aku ketiduran ya barusan. Capek banget rasanya tubuhku Mas,” katanya sambil merenggangkan lehernya.
“Ya sudah, sekarang kamu balik pulang. Ini buat gaji kamu hari ini, kata Bu Alen uang ini buat membeli seragam hitam putih. Katanya seragam kamu kurang baru,” ucap Mas Budi memberinya uang 300 ribu.
“Wah yang benar Mas. tapi kan saya baru bekerja hari ini, kok sudah dapat gaji sebanyak ini?” tanyanya lagi.
“Iya, terima saja. Rata-rata orang baru memang dikasih uang untuk membeli seragam agar lebih rapi saat bekerja,” sahut Mas Budi.
Wahyu menerimanya dan segera pamit pada Mas Budi. Dia juga capek dan ingin segera beristirahat pulang ke rumah. Kebetulan hari telah menunjukkan pukul 10 malam.
“Kamu yakin mau pulang? Atau mau tidur di sini saja?” tawar Mas Budi.
“Tidur dimana Mas? apa disini disediakan kamar?” tanya Wahyu.
“Oh, kalau masalah tempat tidur kamu tak usah khawatir. Noh, lihat karyawan lain, mereka sudah mencari posisi nyaman,” tunjuk Mas Budi pada 30 karyawan yang berpencar mencari bangku dan pojokan yang nyaman untuk tidur.
Hanya beralaskan kardus bekas, mereka membagi tempat untuk tidur berdempet-dempetan. Wahyu jadi geli sendiri membayangkan dirinya tidur dekat-dekatan begitu dengan banyak orang.
“Oh. Enggak dulu deh Mas. rumah kakak saya dekat sini kok, jadi saya pulang saja,” kata Wahyu buru-buru pamit.
Dia pun bergegas pulang dan menaiki gojek yang telah menunggunya sedari tadi. Benar-benar capek sekali rasanya bekerja. Mendingan banting tulang ke sawah atau ladang, pikir Wahyu saat melamun di motor.
Saat mau memasuki jalan rumah kakaknya, Wahyu singgah sebentar di minimarket untuk membeli balon-baon air kesukaan Najwa. Karena dia telah berjanji tadi pagi untuk membelikan mainan untuknya.
“Mungkin Najwa sudah tidur sekarang, tapi aku beli sajalah daripada besok pagi dia menangis mengomel-ngomel karena tidak tepatin janji,” ujar wahyu masuk ke minimarket.
Dia membeli satu botol balon air dan juga cokelat mini untuk Najwa. Pasti keponakan cantiknya itu senang melihat hadiah yang dia beli sekarang.
Tiba di rumah, hanya ada Kak Intan yang masih bangun karena menonton serial kesukaannya. Dia membukakan pintu untuk Wahyu.
“Kok pulangnya lama?” tanya Intan sembari berjalan kembali ke sofa.
“Iya Ni, tadi aku nungguin resto tutup dulu baru boleh pulang,” katanya.
“Oh. Kamu sudah makan. Tuh di meja makan ada ketoprak dibeliin Abang tadi,” ujar Intan.
Wahyu pun dengan senang hati berjalan ke meja makan. Kebetulan dia juga lapar karena terakhir makan siang jam 3 sore tadi. Selebihnya dia hanya minum es teh saja bersama teman-teman yang lain.
Esok paginya, Wahyu telah bangun lebih dulu dari yang biasanya. Dia menunaikan sholat subuh dan merapikan kamar tidurnya. Hari masih menujukkan pukul setengah enam pagi. Dia pun telah selesai mandi dan berpakaian rapi untuk siap bekerja.
Tak lama, terdengar suara rengekan Najwa yang dipkasa bangun oleh Mamahnya dari kamar sebelah. Sudah menjadi rutinitas Najwa jika menangis di pagi hari untuk siap-siap ke sekolah lantaran diomeli Kak Intan karena sulit sekali bangun pagi.
Lihatlah, si kecil imut ini masih terkantuk-kantuk sembari berjalan memeluk boneka panda di tangannya. Dan dia langsung masuk ke kamar Wahyu untuk menghampiri pamannya itu. Apalagi kalau bukan minta dimandikan dan menanyakan hadiah yang dijanjikan kemarin.
“Adang…. Aku males pergi ke sekolah hari ini,” rengeknya mengadu.
“Loh, loh kenapa Najwa cantik?” tanya Wahyu sembari berjongkok untuk menyeka air mata Najwa.
“Iya. Aku ngantuk sekali. Tapi mamah terus omelin aku untuk buru-buru mandi,” ucapnya merajuk.
"Dang... apa Adang jadi beliin balon?" Tanyanya.
Wahyu gemas sendiri melihat sikap keponakannya ini. Dia pun berjalan mengambil tasnya yang digantung di balik pintu kamar.
“Najwa harus rajin sekolah ya. Nanti biar jadi anak yang pintar, nih Adang kasih hadiah,” ucap wahyu sambil mengeluarkan balon air dan cokelat di tasnya.
Mendadak mata Najwa berbinar kesenangan. Dia merebut kedua barang itu dari tangan pamannya dan berseru riang melupakan kegalauannya yang tidak mau sekolah.
“Eits, tunggu dulu. Najwa harus pergi ke sekolah ya. Dan ayo sekarang Adang mandiin,” katanya.
Najwa bergegas menaruh boneka kesayangannya dan mengambil handuk di kamar. Dia ingin bermain balon sebentar sebelum mandi. Wahyu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah imut keponakannya.
“Najwa, jangan main-main dulu. Nanti kamu telat nak, tuh udah mau jam enam. Buruan mandi,” kata Kak Intan sambil mempersiapkan seragam.
“Iya Mah,” sahutnya.
Dalam kamar mandi, Wahyu malah ikut meladeni Najwa main balon. Namun, karena tangan Najwa licin, botol balon itu tumpah ke lantai. Alhasil, dia menangis melihat mainan barunya habis tumpah ke lantai semua.
“Adaaaang! Hiks.. balonnya tumpah..” Najwa menangis sedih.
“Yaah. Ya sudah, nanti Adang beliin lagi ya. Sekarang ayok mandi dulu. Nanti Adang jadi terlambat gara-gara kamu,” kata Wahyu lalu mengguyur Najwa dengan air hangat.
Rasanya Wahyu mirip seperti ayah muda yang pagi-pagi repot mengurusi anaknya. Namun, ini adalah keponakannya yang sangat manja kepadanya.
Dan Kak Intan sudah heboh memanggil-manggil mereka untuk segera sarapan di bawah.
“Wahyu, Najwa, ayo cepetan sarapan. Nanti terlambat!” suara Intan mengomel dari bawah.
Suaminya hanya tersenyum melihat istrinya yang selalu heboh mengurusi anak mereka yang manja pada Wahyu. “Sudahlah sayang, kamu jangan terus mengomeli Najwa, nanti lama-lama dia bisa melawan sama kamu,” tegur suaminya.
“Kalau aku ngak ngomel, semua isi rumah ini ngak bakal terurus Bang. Tuh, anak kamu, sejak Wahyu di sini dia sangat manja dan selalu menempel kepada Adangnya,” oceh Intan lagi.
Wahyu pun turun ke bawah sembari menggendong Najwa yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
“Adang, nanti aku boleh main ke tempat kerja Adang ngak?” tanya Najwa saat digendong Wahyu.
“Hmm boleh dong. Nanti ajak Mamah ya,” sahut Wahyu.
“Iya Dang. Siapa tahu di sana banyak cewek-cewek cantik buat Adang,” kata Najwa cekikikan.
“Ondeh Mandeh, anak kecil ko,” ujar Wahyu keheranan mendengar ucapan keponakannya.
“Tuh kan, pasti Najwa keseringan nonton YouTube tuh, makanya tahu pula istilah pacar-pacaran,” Kak Intan terus saja merepet saat meletakkan sarapan di meja.
“Aduh Uni. Najwa masih kecil, dia mah ngak ngerti artinya. Iya iyain saja biar dia ngak merajuk lagi ke sekolah,” sahut wahyu, sambil mendudukkan Najwa di kursi makan. Mereka pun makan bersama.