Camilla hari ini ada kegiatan amal dan hal ini membuat Austin bisa bernapas lega tanpa perlu bersusah payah menemui dan menemani mantan kekasih El itu. Austin kembali menyesap rokoknya dalam-dalam sebelum memasuki rumah dan mungkin dia akan melihat Charlotte. Setiap kali melihat wanita itu ada sensasi aneh dalam diri Austin. Sensasi yang... Austin belum bisa benar-benar menebak arti sensasi yang dirasakannya.
Austin tidak melihat siapa-siapa di ruang tamu, ruang keluarga dan dapur. Dia tidak melihat Charlotte di tepi kolam atau di kebun belakang. Mungkin Charlotte sedang berada dalam kamarnya.
“Bibi Ann, Charlotte dimana?” tanya Austin saat Bibi Ann menghampirinya.
“Mungkin di kamarnya.”
“Apa dia sudah makan fish and chips yang Bibi Ann buat?”
Bibi Ann mengangguk. “Tapi tidak terlalu lahap. Ekspresi wajahnya berubah saat Bibi memberitahunya kalau kamu meminta Bibi membuat fish and chips.”
Dahi Austin mengernyit. “Berubah bagaimana?”
“Seperti terkejut. Ya, semacam itu.”
“Itu karena Bibi Ann bilang aku meminta Bibi Ann membuatkan fish and chips.” Austin agak kesal karena Bibi Ann menyebut-nyebut namanya.
“Haha, ma’af. Tapi, kenapa kamu begitu peduli pada kakak iparmu. Kenapa Bibi harus membuatkannya makanan kesukaan Charlotte?”
“Itu...” Austin menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Matanya melirik ke arah kanan. “Ya, aku merasa kasihan dia ditinggal El.”
Jawaban macam apa itu?
Bibi Ann menatapnya curiga. “Jangan bilang kalau kamu naksir Charlotte. Tidak, tidak. Itu bahaya. Tidak boleh.” Bibi Ann berkata seperti seorang ibu yang melarang anaknya yang masih berusia tujuh tahun bermain permainan berbahaya.
“Ah, Bibi terlalu berlebihan. Aku tidak mungkin naksir dia kan.” Austin tersenyum tapi senyuman itu seperti mengisyaratkan hal yang berbeda dari perkataannya.
Bibi Ann mengangkat bahunya.
“Aku akan mandi, Bibi bisa siapkan aku air hangat. Tahu kan, aku salah satu makhluk pemalas di dunia ini.”
Bibi Ann tersenyum. “Baiklah, Nak. Akan Bibi siapkan.”
Austin melihat Charlotte melewatinya. Mata mereka bersitatap dan Bibi Ann melihat tatapan mereka sembari menerka-nerka perasaan Austin dan Charlotte sendiri.
“Ah, kalau begitu Bibi Ann akan pergi ke kamar mandimu.”
Austin tersadar dari hipnotis mata Charlotte, dia menoleh pada Bibi Ann. “Ya, Bibi Ann.”
Bibi Ann memelesat pergi dari hadapan Austin.
Charlotte menghampiri Austin. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi tertahan.
“Kenapa?” tanya Austin.
“Apa kamu punya box?”
“Hah? Apa?”
“Box ukuran sekitar 30x20x5 sentimeter, apa kamu punya? Atau di rumah ini ada box ukuran segitu?”
“Untuk apa?”
“Aku membuat syal untuk El, aku ingin syal itu disimpan di dalam box agar terlihat eksklusif. Mengerti kan maksudku?”
Austin tersenyum sinis. “Ya. Aku paham. Ayo, ikut aku!” Austin melangkah menuju gudang diikuti Charlotte. Austin tidak tahu dimana lagi box yang dimaksud Charlotte kecuali box yang ada di dalam gudang.
Austin membuka pintu gudang yang berada di ruang bawah tanah. Menyalakan lampu kedap-kedip dan masuk. “Biasanya kami membuang box pakaian, sepatu, buku, hadiah dari orang di sini.” Austin mencari-cari box yang masih bagus.
Charlotte berada di belakangnya ikut mencari box namun dia mendapatkan box sepatu bermerk. Tidak, bukan box seperti ini. Dia butuh box polos.
“Bagaimana dengan ini?” Austin memberikan box warna camel dengan hiasan huruf aneh di atasnya.
“Ini bagus.” Charlotte meraihnya. “Aku akan membersihkannya.”
Lampu tiba-tiba mati. Sesuatu menyenggol kaki Charlotte hingga Charlotte memekik, melempar boxnya sembarangan dan refleks memeluk Austin. “Apa yang ada di kakiku tadi?” dia bertanya dengan ketidaksadarannya memeluk Austin.
Lalu, hening.
Tidak ada yang bersuara.
Charlotte membuka matanya, lampu kembali menyala berkedap-kedip. Menyadari apa yang dilakukannya, dia cepat-cepat melepaskan diri dari Austin yang hanya menatap tanpa mengatakan apa pun.
“Nak, aku sudah menyiapkan air panasnya.” Suara Bibi Ann semakin mendekat.
***
Austin memejamkan mata di atas bath. Pelukan refleks Charlotte memberikan suntikan energi aneh pada tubuhnya. Dia mematung merasakan pelukan erat Charlotte saat lampu mati. Austin tidak pernah berpikir untuk memeluk atau mendapatkan pelukan dari seorang wanita di dalam gudang rumahnya. Pelukan yang Charlotte berikan mungkin tidak ada artinya sama sekali. Dia hanya kaget dan ketakutan.
“Jangan, Austin, jangan menginginkan Charlotte, kamu sudah merebut Camilla dari El.” Gumamnya pada dirinya sendiri.
Semakin dipikirkan Austin merasa otaknya semakin tak terkendali. Semakin sulit memahami apa yang dia rasakan. Mata sembab Charlotte, cara wanita itu menghindari tatapannya, cara wanita itu berbicara padanya, pelukannya... semuanya terus menari-nari di benak Austin.
“Sialan! Kenapa aku semakin memikirkannya?!” Austin kesal sendiri. Dia meraih handuknya. Mencari ponsel dan membaca pesan ancaman dari El.
Jangan pernah mendekati Charlotte atau aku akan membongkar rahasia besarmu pada Aleda dan Dad.
Austin menarik napas perlahan. “Dia memang seorang pengancam.”
Austin enggan untuk membalas pesan dari El. Baginya, ancaman itu tidak penting. Dia tidak terlalu memikirkan karena yang dipikirkannya sekarang hanyalah cara untuk melenyapkan Charlotte dari benaknya.
***
Damian Garver berusia 45 tahun tepat hari ini. Pesta ulang tahunnya diadakan dengan meriah. Para kolega diundang dan diperlakukan begitu istimewa. Dia menyeringai melihat El datang bersama Bella.
“Akhirnya, kamu datang juga, El. Dari semua tamu yang datang aku hanya menunggu El Grishman.” Dia tersenyum lebar.
“Terima kasih.”
“Emm—“ Damian menatap Bella dengan penuh perhatian. Rambut hitam kuncir kuda, poni yang menambah kesan cute serta seksi dari wajah Bella membuat Damian berpikir kalau Bella adalah istri El. “Ini pasti Charlotte.” Terkanya.
Bella agak takjub saat Damian menganggapnya sebagai istri El.
“Bukan. Dia asisten pribadiku.”
“Oh,” Damian kembali menyeringai. “Asisten pribadimu.” Dia mengulang dengan tatapan yang tidak Bella sukai. “Wajahnya mengingatkan aku dengan wanita yang pernah aku kencani belasan tahun lalu. Sayang, kami tidak bisa menikah.”
El tidak suka mendengar cerita rapuh yang diluncurkan kedua daun bibir Damian. Dan lagi, tatapan pria ini kepada Bella cukup mengganggunya.
“Tidak perlu berbasa-basi, langsung saja ke topik pembicaraannya.” Kata El dengan tatapan tak ramah.
“Oh, nanti, El. Tunggu dulu, aku suka melihat wajah asisten pribadimu ini.” Dia kembali menyeringai. “Bagaimana kalau aku meminjamnya barang sejam saja?” dia melirik pada El.
Bella menatap tersinggung pria 45 tahun itu.
El mengumpat dalam hati. Lalu dia berdiri. “Ayo, Bella, kita pergi dari sini.” Perintah El. Dia melangkah disusul Bella.
“Prince El!” Damian memanggilnya. “Bagaimana dengan kontrak kerja kita?”
El tidak membalikan badan. Dia hanya berhenti. Bella menunggu jawaban El dengan d**a berdebar. Bagaimana kalau nanti El malah berbalik dan menganggap perkataan Damian Garver hanya angin lalu saja?
“Batalkan!” El berkata tanpa mau menatap wajah Damian.
“Kamu ini terlalu dianggap serius, aku hanya bercanda, Prince El.” Damian menghampirinya.
“Aku datang ke sini bukan untuk bercanda.” El segera melesat pergi dari ballroom disusul Bella.
Bella tersenyum semringah saat berjalan cepat di belakang El. Dia merasa El melindunginya. El peduli padanya. Persetan dengan kontrak kerjasama dengan Damian Garver. Dia senang karena El membelanya.
Dan Bella menyadari sikap El ini membuatnya semakin jatuh hati pada pria ini.
Di dalam mobil, Bella menatap El dan dengan hati-hati dia berkata, “Tuan...”
“Apa?” El menyahut tanpa menatap ke arah Bella.
“Terima kasih.”
El menoleh pada Bella. menatap sebentar wanita itu dan kemudian dia mengangguk kecil. Dia menyalakan mesin dan tiba-tiba dia teringat Charlotte. Dia ingin segera sampai rumah dan menelpon Charlotte.
***