Pagi ini Saska berangkat sekolah bersama Dafa seperti janji mereka berdua, tampak senyum bahagia yang terpancar dari wajah Saska dan sesekali ekspresi manyun saat Dafa menggodanya. Setelah Dafa dan Saska pergi barulah Sergio memasuki pekarangan rumah itu, dia sengaja tidak ingin bertemu dengan Saska karena Saska sedang bersama Dafa. Sergio tidak mau terlihat sakit hati di depan Saska, karena hal itu pasti akan membuat Saska menyangka bahwa Sergio akan menyerah.
Sergio menekan bel rumah Saska, pintu terbuka dan muncullah Helena.
"Sergio mau jemput Saska? Tapi Saskanya udah pergi," ujar Helena.
"Enggak, Tan. Sergio mau ketemu Om Arlan ada kan?" tanya Sergio sopan.
"Ada, Om lagi di ruang kerja di lantai dua. Kamu langsung aja ke sana, tante mau pergi ke pasar dulu temenin bibi belanja," kata Helena.
Sergio tersenyum ke arah Helena, kemudian melangkah menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua, saat sudah tiba di lantai dua. Sergio bukan langsung menemui Arlan melainkan memasuki sebuah kamar yang pintu yang bewarna pink, Sergio tahu betul siapa pemilik kamar itu.
Sergio menelusuri kamar itu, beberapa foto yang dipasang di dinding menyayat hati Sergio, di foto itu tampak tawa bahagia dua sejoli, Sergio mengambil salah satu foto yang terletak di lemari, di situ terlihat Saska mengenakan gaun bewarna putih dan juga Dafa yang mengenakan kemeja putih, di foto itu tertulis "Pangeran berkudaku, kehadiranmu di hidupku adalah kado terindah."
Foto itu saat Saska berumur ke-17 tahun. Sergio tersenyum pahit setelah membaca tulisan di foto tersebut, apakah dia memang tidak lagi mendapatkan tempat di hati Saska, haruskah sesakit ini? Semua hati Saska sepenuhnya milik Dafa sekarang. Memang benar, yang pernah ada akan kalah dengan yang selalu ada.
Sergio berjalan ke arah nakas samping tempat tidur Saska, di situ juga terdapat foto dirinya dengan Dafa.
Saska mengenakan gaun bewarna peach dan Dafa mengenakan kemeja hitam. Keduanya tampak bahagia, dan tak lupa tulisan yang ada di foto itu. Ingin sekali Sergio membakar foto itu, kata-kata yang tertulis di foto begitu menguncangkan pertahanan hatinya. Bagaimana tidak tulisan yang tertulis di situ seolah menegaskan bahwa Saska takkan pernah mau lepas dari Dafa.
Beginilah tulisannya.
"Terima kasih untuk 2 tahun ini, menerima semua sifatku yang kekanak-kanakan, jangan lupa janjimu untuk selalu berada disisiku tak seperti dia."
Saska sudah level berapakah membenci dirinya? Sergio tak dapat menemukan jawabannya. Yang jelas sudah dipuncak paling tinggi.
Sergio ingin tau adakah sedikit tentang Sergio yang masih berada di kamar ini, tanpa pikir panjang Sergio membuka lemari Saska dan di bagian yang paling bawah terletak semua kardus yang berukuran sedang. Di atasnya tertulis "jangan dibuka"
Sergio tak menghiraukan tulisan itu, dia membuka kardus itu dan melihat isinya, ternyata di situ terdapat hadiah yang pernah Sergio berikan dulu kepada Saska, dan ada sebuah surat. Sergio membuka surat itu dan membacanya
Dear kamu
Dulu yang pernah hadir tapi memilih pergi tanpa kata
Dulu hadirmu layaknya senja yang selalu aku rindukan
Dulu tawamu adalah sumber semangatku
Dulu perhatianmu yang selalu ingin aku raih
Di saat aku sudah ingin menyerahkan seluruh hidupku padamu.
Tapi entah kenapa engkau malah pergi meninggalkan beribu luka yang kukira takkan mungkin bisa sembuh
Dulu kupikir kamu adalah takdir yang diciptakan tuhan untukku, namun saat dirinya datang dan mengajakku untuk keluar dari keterpurukan itu.
Aku baru paham, ternyata kamu tak seindah seperti yang aku bayangkan. Kamu tak seindah dia.
Kamu hanya datang untuk memberi luka.
Namun dia berbeda, dia datang untuk membawa sejuta kebahagiaan untukku.
Dulu untuk mempercayainya itu susah. Karena aku takut terluka untuk kedua kalinya
Namun saat aku lihat tekadnya, baru aku percaya kalau dia tak sama sepertimu
Dia itu berbeda, sangat berbeda darimu.
Kuharap setelah engkau memilih pergi.
Jangan pernah kembali lagi
Jangan pernah berfikir bahwa aku akan kembali jatuh hati setelah semua perlakuan yang telah engkau berikan
Jangan mengusikku lagi, bahagia ku bersamanya bukan bersama dirimu
Kuharap engkau takkan pernah kembali lagi
Terima kasih atas semua luka yang telah engkau berikan, setidaknya aku sudah sangat ikhlas jika suatu saat nanti melihatmu bahagia bersama orang lain yang bukan diriku.
Surat itu ditulis saat Saska berada dikelas X SMA. Sergio meremas surat itu, kesimpulan yang dapat diambil setelah membaca surat yang tertulis adalah Saska takkan pernah menginginkan dirinya untuk kembali lagi karena hanya bersama Dafa dia akan bahagia.
Kata-kata yang tertulis di kertas itu dapat menyadarkan Sergio kalau dirinya sudah kalah telak! Dan takkan pernah ada kesempatan untuk kembali ke gadis yang amat sangat dia cintai.
Haruskah Sergio menyerah sekarang. Haruskah Sergio menjauh dan membiarkan Saska bahagia dengan Dafa yang memang sangat gadis itu harapkan.
Sergio tertawa pahit. Kenapa sangat susah untuk menyadarkan dirinya bahwa Sergio hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah tidak punya hak lagi untuk mengusik Saska. Sergio benar-benar tidak tau malu. Karena cinta dia bisa sampai seperti ini, mengorbankan segala hal, mengabaikan banyak perempuan lain demi Saska.
Sayangnya, harapan tidak pernah sesuai ekspektasinya. Dia telah dikalahkan sebelum kembali berjuang. Semakin Sergio mengejar Saska, semakin jauh juga gadis itu berlari, berusaha menghindar bahkan menampar Sergio dengan kata-kata menyakitkan.
Sergio paham betul semua orang akan berubah seiring berjalannya hari, waktu, bulan, bahkan tahun. Sudah begitu lama Sergio meninggalkan Saska. Sudah begitu terbiasa Saska hidup tanpa bayang-bayang Sergio. Sudah sangat kuat usaha Saska tetap baik-baik saja selama ini. Lantas, kenapa Sergio masih cukup jahat dengan kembali datang dan mengusik Saska? Sergio benar-benar tidak menemukan alasan lain. Selain kalimat bahwa dirinya sangat mendambakan Saska kembali.
Sergio kembali menyimpan semua hal yang dia lihat di kamar Saska hari ini, esok dia tetap akan berpura-pura tidak tau. Saska sudah memberikannya satu kesempatan lagi. Sergio akan berjuang sampai dia benar-benar dibuang dan hadirnya sama sekali tidak dianggap oleh Saska.
Sergio mengintip sebelum keluar dari kamar Saska, setelah aman karena tidak ada yang melihat. Dia berjalan denga langkah cepat. Bukan menuju ruang kerja Arlan, tapi melangkah untuk pulang. Sergio butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Mengobati hatinya setelah sakit karena melihat semuanya di kamar Saska. Kenyataan yang menamparnya kuat-kuat untuk sadar diri.
Ingat, Sergio belum menyerah. Masih banyak hari yang masih dia dapatkan untuk kembali berjuang.