6

1003 Kata
"Apa definisi bahagia bagiku? Bisa mendapatkan kesempatan kedua darimu, meskipun terdengar amat sangat mustahil" --------------- Jam menunjukkan pukul lima sore, Sergio keluar dari kantornya dan mengemudikkan mobilnya menuju ke suatu tempat. Setelah memasuki gerbang rumah Saska, Sergio pun menghentikkan mobilnya tepat di samping Ninja bewarna hitam yang sudah terparkir lebih dulu. "Motor siapa ini? Oh mungkin pacarnya Celia sedang berkunjung." gumam Sergio. Sergio pun melangkah dan menekan bel rumah. Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet, dia adalah Helena "Sergio, silahkan masuk. Tumben sore-sore ke sini," basa-basi Helena. "Saska nya ada, Tan?" tanya Sergio. "Ada Saska lagi di ruang tamu," kata Helena sedikit ragu. "Oh saya mau temuin Saska dulu, Tan," ujar Sergio dibalas anggukan kepala oleh Helena Sergio mematung saat hampir sampai di ruang tamu, dia mengepalkan tangannya sampai buku tangannya memutih, di sana tepatnya di sofa terlihat dua sejoli yang sedang tertawa bersama, siapa lagi kalau bukan Saska dan lelaki itu pasti Dafa, pacar Saska. Sergio sangat emosi melihat bagaimana Saska tersenyum begitu manisnya di depan lelaki lain yang bukan dirinya, dulu hanya Sergio yang sering melihat senyuman manis itu, Tapi sekarang posisinya telah tergantikan oleh lelaki lain. "Permisi," ucap Sergio saat sudah sampai di depan dua sejoli itu. Dafa mengernyitkan dahinya bingung, karena tidak mengenali lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya. Apa lelaki ini keluarga Saska? "Kenalin saya Sergio, calon suaminya Saska," kata Sergio dengan percaya diri. "Calon suami Saska?" Dafa mengernyitkan dahinya. "Lo gak usah ngaku-ngaku deh! Gue aja gak kenal sama lo, bagaimana mungkin lo bisa jadi calon suami gue," ketus Saska. "Apa kamu lupa siapa aku Saska, coba kamu ingat dulu, kata orang sih cinta pertama itu susah dilupakan, masa kamu udah lupa sama aku?" ujar Sergio santai. "Yang, kita ke kamar aku aja yuk, Gak usah ladenin dia, lagian aku juga gak kenal sama dia," ujar Saska begitu manis. "Udah sore Saska, aku pulang aja gak enak kalau papa kamu tau, nanti kalau kita gak direstuin gimana?" ujar Dafa lembut seraya membelai rambut Saska. "Papa pasti gak masalah kok, lagian dulu kamu sering banget tidur di kamar aku buat nemenin aku tidur," rengek Saska. "Kan beda sayang, dulu kita itu cuma temenan, tapi sekarang kita itu sepasang kekasih jadi gak mungkin kalau aku sering masuk ke kamar kamu. Menimbulkan pikiran negatif dari orang tua kamu tau," kata Dafa. Sergio yang masih berada di hadapan mereka semakin emosi, wajahnya sudah merah padam. Tapi dia tetap berusaha mengontrolnya, bagaimana bisa Saska yang dulu begitu dekat dengan dirinya, tapi sekarang bertingkah seperti tak mengenalinya. Saska yang dulu tak pernah mau tersenyum ke arah lelaki lain selain dirinya, kini senyuman manis itu bukan lagi milik Sergio Adiatama, jadi sebesar inikah perubahan Saska? Kenapa Saska berubah, kenapa dia dengan begitu mudahnya melupakan Sergio. "Saska, saya mau bicara sama kamu," ujar Sergio. Dafa yang sepertinya mulai sedikit mengerti keadaan ini, menatap Saska. "Saska, aku pulang ya. Tidurnya jangan kemalaman, jangan lupa belajar! Besok ulangan fisika, besok pagi aku jemput kamu ke rumah biar gak telat," ujar Dafa. "Iya udah deh, hati-hati sayang, kamu juga jangan lupa belajar ya, kalau mau punya anak pintar kita juga harus pinter," ujar Saska kemudian terkekeh. Dafa hanya menanggapinya dengan senyum, setelah itu dia pergi meninggalkan Saska dan juga Sergio. Saska hendak berjalan menuju ke arah tangga tapi Sergio menahan kepergian Saska dengan mengenggam erat tangan itu. "Lepas," ujar Saska dan menepis tangan Sergio kasar. Sergio tak bergeming, dia masih mengenggam erat tangan Saska. Selanjutnya iya malah menyatukan tangannya dengan Saska. "Aku kangen genggam tangan kamu kayak gini Saska, dulu cuma aku yang kamu bolehin buat genggam tangan ini, tapi kenapa sekarang kamu mengizinkan lelaki lain?" "Lelaki lain?" tanya Saska lalu tersenyum meremehkan. "Lelaki lain siapa yang kamu maksud? Dafa! Yang harusnya tanya gitu itu Dafa, kenapa pacarnya mau di genggam sama cowok lain," Saska mencoba melepaskan genggaman tangan itu namun gagal, malahan Saska melotot saat Sergio menarik Saska dalam dekapannya. "Aku kangen peluk kamu Sas, hampir lima tahun aku gak peluk kamu, kamu pasti kangen juga sama aku 'kan? Jangan tutupi perasaan kamu dengan kebohongan Sas, sepandai-pandainya kamu berbohong aku akan tetap tau apa yang sedang kamu sembunyikan." Sergio menghirup aroma shampoo Saska yang berbau green tea, rambut Saska masih seperti dulu selalu wangi dan menenangkan. "Lepasin gue, mau lo apa sih, gue udah lupain lo, gue udah hapus semua ingatan tentang lo, bahkan kalau saat itu mama izinin gue buat cuci otak! Gue bakalan dengan senang hati melakukan itu, karena cowok kayak lo emang pantes buat dilupain." Sergio melepas pelukan Saska, lalu menatap gadis yang menatapnya penuh dendam. "Kasih aku kesempatan kedua Sas, untuk memperbaiki semuanya yang udah gue rusak." "Kesempatan kedua? Enak banget cara lo ngomong, gue gak mau kasih kesempatan kedua buat lo. Gak usah mimpi, bangun dan hadapi kenyataan." "Kenapa, karena kamu masih ada rasa sama aku kan? Kamu takut kasih aku kesempatan karena hati kamu masih ada buat aku, hanya saja terlapisi dengan sedikit amarah. Tenang, Sas. Aku bisa bersabar untuk itu, aku siap nunggu kamu buat kembali terbiasa dengan kehadiran aku lagi." "Punya rasa sama lo! Gak sama sekali. Lo jangan kegeeran." "Kalau emang kamu gak punya perasaan apa-apa ke aku, kenapa kamu takut?" Sergio menantang, tidak punya cara lain. Biarkanlah dia terlihat seperti tidak punya malu sekarang. "Oke, gue kasih waktu lo satu bulan, kalau gue emang gak punya rasa apa-apa lagi sama lo, gue harap lo bersedia pergi dari hidup gue dan jangan pernah ganggu gue sama Dafa. Awas aja kalau sampai ingkar janji." "Deal, aku pasti bisa dapetin kamu lagi Ghea. Jadi siap-siap aja buat kembali sama-sama." "Kita lihat aja nanti, jangan kepedean dulu. Gue bukan cewek gampangan yang mudah kembali setelah memilih pergi." Setelah berkata seperti itu, Saska langsung menuju kamarnya dan meninggalkan Sergio "Aku pasti bisa dapetin kamu lagi Ghea." Sergio tersenyum senang. Dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebisa mungkin dia harus membuat Saska kembali mencintainya. Hanya dirinya, bukan Dafa ataupun orang lain yang bisa mendapatkan Saska.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN