Bab 10-Tanggungjawab (Pov Reza)

1199 Kata
Aku memasuki kamar dengan langkah gontai. Sepertinya ini memang akhir dari hubunganku dengan Asti. Mungkin aku terlalu memaksakan diri, padahal Asti tidak pernah mencintaiku. Kutatap langit-langit kamar. Aku benar-benar merasa sendiri, hidup sebatang kara tanpa ada orang yang mencintai. Ada rasa nyeri di ulu hatiku mendapatkan kenyataan bahwa Asti lebih memilih Aldo daripada aku. Ting!! Notifikasi ponselku berbunyi, rupanya pesan dari Lala. [Mas, kamu nggak masuk kerja? Kok tumben belum datang?] Oiya, hari ini masuk siang. Kenapa bisa lupa? Segera aku mandi dan berangkat kerja. Meski suasana hati sedang tidak baik, tapi pekerjaan tetap jadi prioritas. Mungkin dengan menyibukkan diri, aku bisa melupakan kesedihan karena berpisah dari Asti. "Mas, kamu sakit? Wajahmu pucat. Kalau sakit ijin saja! " kata Lala sore itu ketika kami istirahat makan. "Aku nggak papa, La! Hanya kurang tidur," jawabku bohong. "Mas, kalau ada masalah cerita sama aku. Bukankah kita sahabat?" Lala memegang tanganku dan menatap lembut wajahku. "Aku nggak papa, La! Bener kok, cuma kurang tidur." Bibir ini berusaha tersenyum di depan Lala, jangan sampai gadis itu tahu masalah ini. Aku tak ingin terlalu dalam melibatkan dia. Lala memang menyukaiku. Namun, entah kenapa hati ini tak bisa membalas perasaannya. Padahal setiap hari kami kerja bersama. La, kuharap kamu bisa mencari pria lain yang bisa menyayangi dan membahagiakanmu. Jangan menungguku! Satu bulan berlalu sejak aku putus dengan Asti. Aku tak pernah lagi ke rumahnya, meski sebenarnya ingin. Tiba-tiba aku kehilangan sosok ibu seperti Bu Santi. Aku mencoba menahan diri untuk tidak bertemu Asti. Aku hanya ingin menata hati ini. Biarlah kurelakan semua, asalkan Asti bahagia. Pagi itu jadwal libur kerja, biasanya aku berkunjung ke makam Ayah dan Ibu di luar kota. Pagi-pagi sekali aku bersiap berangkat ke Tangerang, tempat keduanya dimakamkan. Ketika mengunci pintu depan, aku dikejutkan dengan kedatangan Bu Santi. Wajah beliau terlihat marah dan tiba-tiba ... plak!! beliau menampar pipi kiriku sampai aku meringis kesakitan. "Bu, ada apa ini?" tanyaku bingung. Belum pernah beliau bersikap sekasar ini. Bu Santi selalu menyayangiku seperti anaknya sendiri. "Masih tanya kenapa ... setelah apa yang kamu lakukan pada Asti? Ibu sudah percaya padamu, tapi kamu mengkhianati kepercayaan Ibu!" Napas Bu Santi masih ngos-ngosan, sepertinya dia sedang marah besar. "Maafkan saya, Bu! Asti tidak mencintai saya. Jadi, saya mengalah untuk Aldo. Bagi saya, yang penting Asti bahagia. Saya ikhlas, Bu." Aku menunduk, benar-benar tak menyangka kalau Bu Santi akan kecewa seperti ini. "Apa maksudmu mengalah untuk Aldo? Ibu nggak ngerti!" Perlahan amarah Bu Santi mereda. Beliau menatapku penuh tanya. "Asti mencintai Aldo, bosnya di kantor. Jadi, sudah sebulan ini saya putus dengan Asti. Maaf, saya tidak pernah berkunjung ke rumah Ibu setelah itu, karena saya ingin menjaga hati, Bu!" jelasku jujur. Bu Santi menatapku aneh, beliau menggeleng. "Astagfirullah, Nak Reza. Jadi, bukan kamu yang melakukannya?" Bu Santi memegang kepalanya lalu duduk di kursi teras rumahku. "Melakukan apa, Bu? Memang ada apa dengan Asti?" Ganti aku yang panik. Aku jongkok di depan Bu Santi yang mulai berlinang air mata. "Asti hamil, Za. Ibu kira kamu yang melakukannya. Maafkan Ibu." Bu Santi menangis, kedua tangannya memegang wajahku penuh perasaan bersalah. "Apa, Asti hamil? Kurang ajar si Aldo, saya akan buat perhitungan sama dia, Bu!" Aku berdiri sambil mengepalkan tangan, lalu bergegas meninggalkan Bu Santi. "Nak Reza, kamu mau ke mana? Tunggu!" Tak kuhiraukan teriakan Bu Santi. Aku segera melajukan motor menuju kantor Aldo. Aku akan buat perhitungan dengan cowok b******k itu. *** "Mbak, saya mau ketemu Aldo," kataku pada seorang wanita yang duduk di depan ruangan Aldo setelah sampai di kantornya. "Sudah ada janji, Pak?" tanya wanita itu yang ternyata adalah sekretaris Aldo. "Saya teman Aldo, Mbak. Tolong, ini penting!" "Baiklah, dengan Bapak siapa?" "Saya Reza." "Sebentar, Pak!" Wanita itu menelepon Aldo, kemudian tak berapa lama dia mempersilahkan aku masuk ruangan Aldo. Aku memasuki ruangan Aldo, ruangan direktur utama. Selain punya wajah ganteng, Aldo punya posisi tertinggi di kantor ini, pantas saja Asti tergila-gila sama dia. Aldo langsung berdiri dari duduknya saat aku memasuki ruangan. Dia mendekat, lalu ... bugh!! langsung satu pukulanku melayang di wajah Aldo sampai dia jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah di sudut mulutnya. "Ada apa ini, Reza? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan memukulku?" Aldo berusaha bangkit dari tempatnya terjatuh. Aku menarik dasinya hingga dia berdiri tegak dihadapanku. "Apa yang sudah kau perbuat pada Asti?" aku mencengkeram dan menarik dasi Aldo, dia tampak tercekik. Lalu kulepas dan empaskan tubuhnya sehingga jatuh di sofa. "Aku masih tidak mengerti maksudmu?" Aldo melonggarkan dasinya yang tadi kutarik. Napasnya masih tersengal. "Asti hamil dan aku yakin pasti kamu yang melakukannya. Dasar cowok m***m!" Kembali pukulanku mendarat di wajah Aldo, aku sangat geram. Aldo mengusap pipinya yang memerah karena pukulanku. "Apa, Asti hamil?" Aldo tampak terkejut sekaligus bingung. Kedua tangannya menjambak rambutnya. "Kamu berani berbuat harus berani tanggung jawab. Ingat Aldo! Kalau sampai kamu tidak menikahi Asti, aku akan berbuat lebih buruk dari ini," ancamku pada Aldo. "Aku akan menikahi Asti, tapi beri aku waktu untuk menyampaikan pada keluargaku." Aldo berusaha berdiri walaupun sempoyongan. Tak sedikitpun dia berniat membalasku. "Aku beri waktu seminggu dari sekarang, jika kau tidak datang melamar Asti jangan salahkan jika aku berbuat nekat padamu." Kuacungkan jari telunjukku di depan wajah Aldo kemudian aku berpaling. Dreettt-dreettt!! Ponselku berbunyi, panggilan dari Bu Santi. "Ada apa bu? Apa, Asti pingsan? Ya, saya segera ke sana!" Aku segera berbalik dan keluar ruangan tanpa memperdulikan Aldo. Aku lihat seorang wanita mendengarkan percakapan kami dari depan pintu. Wanita itu segera menghindar mundur ketika aku lewat untuk keluar ruangan. Wanita itu menatapku dengan pandangan yang sinis. Siapa dia? Ah aku tak peduli. "Reza, tunggu!" Aldo memanggilku dan aku berbalik menatapnya. "Aku ikut ke rumah Asti." Dengan berjalan terseok Aldo mendekatiku. "Aku bawa motor, kamu bisa menyusul di belakangku!" "Aldo, biar aku antar!" tawar wanita yang tadi nguping pembicaraan kami, tangannya meraih lengan Aldo untuk memapahnya. "Gak perlu! Aku bisa sendiri!" jawab Aldo ketus sambil menepis tangan wanita itu. Tampaknya wanita itu menyukai Aldo. Sekitar 20 menit kemudian, aku dan Aldo sampai di rumah Asti. Asti masih pingsan dan Bu Santi tampak bingung. Aldo langsung mendekat ke hadapan Bu Santi. "Bu, maafkan saya. Saya akan menikahi Asti. Tolong restui kami!" Bu Santi terdiam, beliau memandangku seolah tau betapa sakitnya hatiku. Aku sudah seperti anaknya sendiri, beliau bisa merasakan sakit yang menjalar di ulu hatiku. "Tolong restui Asti dan Aldo, Bu! Saya sudah ikhlas." Aku mencoba menguatkan hati. Mungkin ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. "Baiklah Aldo, bawa kedua orang tuamu melamar Asti secepatnya. Ibu tak mau menanggung malu jika perut Asti mulai membesar," ucap Bu Santi tanpa melihat ke arah Aldo. Lelaki itu pun berdiri masih dengan posisi menunduk. "I-ibu." Asti mulai sadar dari pingsannya. Kami bertiga mendekat. "Asti, aku janji akan menikahimu." Aldo menggenggam tangan Asti. Ibu masih menangis dan sesekali menoleh ke arahku. "Mas Reza, terima kasih. Maafkan Asti ya, Mas." Asti menoleh ke arahku dengan perasaan bersalah. "Sudahlah As, yang penting kamu bahagia. Semoga Aldo bisa membuatmu bahagia." Aku mendekati bu Santi. "Bu, saya harus ke Tangerang untuk ziarah ke makam kedua orang tua saya. Saya pamit ya, Bu!" Aku mencium punggung tangan Bu Santi kemudian meninggalkan rumah Asti. Sebentar lagi, Asti akan benar-benar menjadi milik Aldo. Aku menarik napas panjang. Semoga aku bisa melalui semua ini. Semoga kamu bahagia, Asti ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN