BAB 1 DAMI(Y)AN
Seonggok selimut berisi gadis masih mengorok di kasurnya, hingga ia terbangun karna seruan ibunya
"Dami, Mi! Bangun, wes pagi iki loh! "
"Dami~!"
FYI, dia gak bakalan mau kalo dibangunin pakek nama Dami. Maunya dia tuh dipanggil pakek Iyan doang. Si ibu, Alisyah pun ingat.
"Iyan, bangun! "
Dami pun mengiyakan seruan ibunya.
Seperti biasa nya, Dami bangun terus menyapu halaman lalu mandi. Memakai seragam sekolah dan sarapan. Setelah itu, dia berpamitan pergi sekolah kepada ibu nya. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih kelas 3 SD, setelah itu hanya ibunya lah yang menafkahi mereka.
Dami tidak punya teman baik disekolah, hanya teman kelas saja. Dengan teman sebangkunya saja dia tidak terlalu dekat. Sekolah yang monoton, setelah pulang sekolah ia memutuskan untuk pergi ke taman kota. Sekedar merenung kenapa hidupnya semonoton ini. Bikin mageran meningkat jadi mager akut stadium akhir.
"Huft~ monoton banget hidupku, banyak cogan tapi kok yah wes ada pawangnya"
"Rasanya mau nyari kerja aja bantuin ibu, jadi rindu ayah"
Monolognya sambil mencebikkan bibir.
Karena sudah agak lama Dami ditaman, akhirnya ia berdiri untuk pulang. BTW dia jalan kaki ya. Berjalan di trotoar dengan sepasang earphone, menikmati suara oppa yang ngajak goyang ranjang *eh.
Hingga tak sengaja menemukan kucing lucu yang kakinya masuk ke lobang selokan, tak sengaja ingatan waktu ibu nya melarang ia memelihara kucing membuat nya sedih. Namun tak urung membantu kucing itu.
"Aduh mpush kasian banget kamunya, sikile masuk kesitu. Tak tolongin ya, ojok gerak-gerak!"
Menjinjing lengan bajunya, ia pun mengeluarkan kaki kucing itu dengan sedikit bantuan minyak kayu putih ditasnya. Setelah kaki kucingnya keluar, ia pun menggendong kucing itu.
Saking asiknya dengan kucing digendongannya, tiba-tiba terasa ada yang menarik ranselnya. Ia menoleh kebelakang, melihat siapa yang menarik tas nya.
"Subhanallah, oppa"
Lawan bicaranya hanya menaikkan salah satu alis keheranan.
Dami melongo dibuat kegantengan nya yang tumpah ruah, sebuntut anak adam *eh sesosok anak adam tinggi, jakun menongol, bibir bawah tebal yang merah, hidung cem prosotan kolam renang, matanya tajem bat nyeremin kek garuda *ceilah, bulu mata nya kebalik cem punya burung bango, alisnya menukik kek smashannya atlit badminton. *berlebihan emang, but this is me.
Masih membeo, Dami yang terkagum semakin kagum karena si cowok ngomong.
"Kucing punya gue" Sambil menyodorkan tangan berniat mengambil alih kucingnya.
Dami melihat ke kucing itu, dalam hati sedih karena ada yang punya. Membatin kenapa judes banget nih cowok. Ia menoleh ke cowok tadi, sambil berkata.
"Eum~ ini punya Dami, tadi nemu di situ" Tunjuknya ke selokan tadi.
"Iya, punya gue." Jawab si cowok mengambil paksa kucingnya.
"Loh~ ini punya Dami, gak boleh! Ganteng-ganteng gak boleh jahat-jahat! Ini punya Dami. " Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Si cowok bodo amat, meninggalkan Dami dengan kesedihannya. Tak mau cepat berpisah dengan si kucing, Dami mengejar cowok tadi.
"Mas~ itu kucingnya punya Dami, Dami mau kucingnya. Jangan diambil ih! " Udah nangis kejer dia, terus memanggil cowok tadi hingga putus asa karna langkah kaki nya yang pendek.
Cowok tersebut berhenti melangkah karena tak mendengar panggilan cewek tadi. Ia pun menoleh ke belakang dan menemukan Dami yang duduk bersila di trotoar sedang menangis. Ia pun menghampirinya.
"Heh, ngapain lo? "
Dami mendongak dengan mata berbinar, dan bersorak.
"Mpush, sini mpush sama mbak Iyan! " Menjulurkan tangan ke kucing itu yang Terima saja dioper-oper. Dami berbalik arah dengan kucing digendongannya, berjalan meninggalkan si cowok.
"Kucing gue, rumah lo mana? Gue anter, balikin kucingnya nanti! " Ajak si cowok
Dami hanya diam melihat ketampanan cowok itu.
"Nama pean siapa?" Tanya Dami
"Aksa"
"Mas Aksa? Mau antarkan Dami mantok? "
"Mantok apaan? " Tanya Aksa
"Eum~ mantok pulang"
"Iya buruan! " Ajak Aksa
Mereka pulang dengan petunjuk jari Dami serta jangan lupakan kucing Aksa yang anteng dipangkuan Dami. Nama kucingnya itu Rakasa, tapi dipanggil Raka. Di perjalanan hanya ada celotehan Dami dan ngeongan Raka. Hingga sampai di rumah sederhana milik Dami.
"Makasih yah, Mas Aksa"
"Sama-sama, mana" Menodongkan tangan menyambut sangat kucing.
"Mas Aksa, Raka boleh ikut Dami sehari? Dami ada maemnya kucing kok di dalem. Besok kan hari libur, Dami kembalikan kalo mpon jam 4 sore. Nggeh~" Pintanya dengan mata bak anak anjing
"Jan telat! " Setuju Aksa
"Makasih, mas Aksa ganteng! Dami masuk dulu, mas Aksa hati-hati!" Serunya dengan semringah
Si Aksa mah cuma deham-dehem aja cem intro lagu sabyan.
Setelah Dami masuk kedalam, dia dipanggil ibunya karna melihat anaknya membawa kucing kerumah.
"Iyan, kok bawa koceng nak? Ayo dikeluarkan, ibu kan mpon bilang gaboleh bawa hewan luar kedalam rumah. "
"Tapi bu, Iyan mau jagain kucingnya cuma sehari. Sehari aja, ini dipinjemin sama mas Aksa tadi" Adunya sambil menundukkan kepala mengelus-elus Raka.
"Mas Aksa siapa ndok? "
"Eum~ itu temen barunya Iyan tadi yang punya Raka"
"Terus kenapa kucingnya sama, Iyan? "
"Iyan suka kucing, bu. Iyan mau kucing, jadi Iyan pinjam Raka ke mas Aksa. " Iyan takut ibunya marah dan tidak membolehkan nya merawat Raka sehari. Ia sudah terisak karena merasa bersalah telah melanggar larangan ibunya.
"Maafin iyan, bu. Iyan sayang sama Raka, boleh ya Raka disini sehari! " Pinta pada ibunya, ibunya yang luluh karena keinginan anak gadisnya itu pun menyetujui tapi besok harus dikembalikan ke Aksa Aksa tadi.
"Nggeh mpon, gausah nangisan. Ndang beres-beres sana, diramut Rakanya! Harus tanggung jawab nggeh! "
"Ah~ ibu makasih! " Pekiknya girang
"Ibu tak masak dulu nggeh, nanti kalo sudah beres ndang maem! Ibu mau kerja dulu, dapet shift sore"
Dami mengangguk dan beberes bebarengan dengan Raka, setelah itu makan makanan yang sudah dimasakkan ibunya, beberes rumah belajar, bermain dengan Raka dengan sedikit obrolan tentang majikan Raka yang notabene adalah Aksa.
"Raka, mas Aksa ganteng yah? Mbak Iyan jadi suka, gimana ya besok kalo ketemu? Duh pasti deug-deugan ginjal ku. Gimana ya kalo jadi bebeb nya Mas Aksa? Pasti dia sayang banget sama mbak iyan. Eh tapi dia kan judes banget, kalo dikasih jaran goyang bidadari Sky Castel cem Iyan gini bisa gak ya dia bucin ke iyan? Menurut Raka gimana? "Tanyanya sambil elus-elus Raka yang ngedusel-dusel didadanya. Hanya ngeongan yang dia dengar dan menurut Dami, Raka setuju-setuju aja. Dan gak kerasa dia tertidur dengan Raka dipelukannya