BAB 2 AKSA
Aksa teringat waktu di taman tadi. Niat jalan-jalan dengan kucing yang diberi nama Raka yang diturunkan dari gendongannya saat membeli minum. Aksa jadi kehilangan kucing gembul itu, mencari disetiap taman namun tak terlihat juga batang anunya *eh hidungnya. Tak lama, terlihat dari jauh kaki kucingnya itu masuk kedalam lubang kecil selokan *selokan yang tutupnya kek di pertamina. Dihampirinya Raka, tapi keduluan gadis kecil yang membantu kucingnya itu keluar dari selokan. Gadis itu membawa kucingnya pergi, Aksa pun segera mengejar gadis itu.
Setelah dekat Aksa menarik tas bagian belakang gadis itu, sedikit terkesiap karena keimutannya. Pipi sedikit chubby, mata besar, bulu mata pendek tapi hitamnya, dan bibirnya yang kecil amit-amit*eh imut-imut. Aksa segera menormalkan ekspresinya.
Aksa meminta kucingnya untuk dikembalikan, tapi gadis yang diketahui namanya Dami atau Iyan itu tidak mau mengembalikannya. Meminta untuk dibawa pulang sehari dan dikembalikan lagi disini besok sore. Aksa yang bodo amat pun mengiyakannya, mengantarkan Dami pulang.
Sadar akan lamunannya, ia menggelengkan kepala.
"Sialan, jadi gini gue. "
"Aksa waktunya makan nak! " Panggil maminya
Tanpa menjawab, Aksa pergi ke meja makan. Makan dengan dentingan sendok dan garpu serta keheningan.
"Tadi jalan-jalan kemana, Sa? " Tanya mami nya, Maria.
Yang ditanya hanya diam saja.
Aksa dipanggil Maria lagi, tetap diam. Membuat papanya melihat kearahnya. Aura ketegangan manakala Wijaya, ayah Aksa nampak sedikit menggeram kepada anaknya itu.
"Jawab mami Aksa! " Ucap Wijaya datar
Aksa acuh, lebih memilih melenggang ke kamar mencari Raka. BTW dia baru inget kalau Raka ikut dengan Dami.
Menghela napas lelah, ia benci dengan ayahnya. Kenapa harus dengan menikah, menyebabkan ia punya ibu sambung. Ia rindu mama nya, kenapa mama nya pergi meninggalkan Aksa sendiri dengan ayahnya yang egois. Ia sudah bilang pada ayahnya kalau dia tidak akan pernah mau mempunyai ibu pengganti mamahnya, bagi Aksa ibunya hanya mama nya. Mama Sasa, hanya mama Sasanya. Tak terasa air mata mengalir ke pipinya, ia benci semua yang ada dirumah nya. Memikirkan itu membuat Aksa tertidur diiringi kesedihan.
Skip jam 4 sore
Dami sudah di taman kemarin dari jam 3,tentu saja dengan ijin ibu nya. Dami sengaja datang lebih awal agar ia dapat bermain-main dulu dengan Raka. Hingga Aksa datang dan menggendong Raka, tanpa mengucapkan apapun kepada Dami. Dami masih kaget dengan mata berkaca mengerjapkan lucu, sedikit terisak membuat Aksa menoleh ke arah Dami.
Dami yang merasa dilihatin, jadi...
"Hiks hiks, Raka~ Raka! Mas Aksa, mau Raka! Mau Raka~aa~! Hiks huwaaaaa mas Aksa! "
Raka mengeong, menyadarkan juragannya yang agak lemot.
"Lu apaan sih? " Bentak Aksa setelah disamping gadis itu, membuat Dami tambah menjerit.
"HUWAAAAAA MAS AKSA JAHAT, MARAH-MARAHIN DAMI! IBU~DAMINYA DIMARAH MAS AKSA. HUWAAA IBU IBU MAU IBU!
Aksa malu karena Dami yang malu-maluin. Aksa segera menarik Dami ke tempat yang agak sepi pengunjung, dan memenangkan Dami.
" Diem!" Sambil mengusap air mata Dami
"Nih Raka! " Serahnya ke Dami.
Dami menerima Raka, Dami kicep dah.
"Eum~ lucunya Raka, sayang Raka. Sayang dikit mas Aksa juga. Mas Aksa pelukan yuk! " Tanpa mendengar jawaban Aksa, Dami memeluk Aksa. Aksa terdiam kaku karena tidak pernah berpelukan dengan lawan jenis termasuk keluarga nya.
Mereka terlihat seperti keluarga yang manis dengan anak gembul yang veri-veri kiyut ulalah.
"Heum~ mas Aksa wangi yah, pasti parfumnya tumbas di mol?" Sambil dusel manja
Tanpa sadar Aksa membalas pelukan Dami yang pas dipelukannya.
"Lo mau? "
"Emang mas Aksa mau tumbasin Dami di mol? "
Mengiyakan pertanyaan Dami, mengelus sayang rambut Dami dengan Raka digendongannya.
Sesampainya di mall, mereka menuju ke stan makanan dulu. Dami mengadu lapar.
"Mas Aksa, Dami gak bawa uang buat maem disini. " Menunduk sedih
"Gue bayar, cepet pesen! "
Setelah memesan mereka duduk dengan posisi bersebelahan, tentunya dengan permintaan Dami. Katanya kalo makan duduknya selalu bersebelahan dengan ibunya membuat Dami terbiasa.
Tiba-tiba Aksa merasakan bahunya yang disenderin, ternyata Dami menyender bercanda dengan Raka. Aksa mendengar ocehan Dami yang hanya dibalas ngeongan tentunya oleh Raka.
"Adhek Raka, mama Iyan sama Papa Aksa maem dulu ya. Nanti gantian baru adhek Raka yang maem. "
Sedikit tercengang dengan ucapan Dami, mau memprotes ucapan Dami yang ngelantur namun panggilan pelayan.
"Silahkan dinikmati! Mas istrinya lucu yah? Hehe semoga cepet dapet momongan ya mas! Permisi" Canda pelayan tadi.
Aksa yang digoda seperti itu cengo, mana ada nih kerdil istrinya blendung bayi embul. Kalaupun iya juga bukan bayi nya.
"Ayo makan, Raka biar sini sama gue! "
Dami mengiyakan, dengan segera mereka makan karena ingin beli parfum buat Dami.
"Lo makan kek bayi ya, kagak bisa makan sendiri apa?" Sebal Aksa
"Mas Aksa, Dami cantik"
"Hubungannya apaan bocil? " Geram Aksa
"Heheh hehehe uhuk uhuk" Kekeh Dami sampek keselek sendok eh makanan
Demi apapun ini tuh menyakitkan buat Dami, sampai-sampai mengeluarkan air comberan *eh air mata maksudnya. Aksa jadi khawatir pun menurunkan Raka dari pangkuan nya dan segera memberi Dami minum. Sedikit menepuk-nepuk punggung Dami
"Banyak gaya sih! " Solot Aksa
"Ih~ jahat banget marah-marah lagi, mas Aksa! Hiks hiks ibu~ huwaaahuwaaaa"
Aksa tambah pusing, menyuapi Dami biar diem tuh congor.
"Diem lo, makan buruan! Abis itu ke toko parfum. Ck! " Titah Aksa
Dami menurut saja, Aksa heran. Nih bocil baru kenal kok yah udah nurut nemplok sana sini aja, herannya lagi Aksa juga tidak merasa terganggu beda kalo lagi sama cewek-cewek yang lain. Dia seperti frezer es batu.
Menyelesaikan makannya tak lupa dengan Raka yang digendong lagi. Mereka menyusuri koridor parfum dan langsung mengambil parfum yang sama dengan Aksa.
"Udah kan, pulang sekarang! Ayo gue anterin lagi! " Ajak Aksa
Dami menunduk sedih karena tidak bisa bermain dengan Raka dan Aksa lagi.
"Mas Aksa, mas Aksa gak bisa nginep dirumah hiks Dami yah? Dami hiks seneng main sama Mas Aksa hiks sama Raka. " Pintar Dami sedih sedikit terisak
Hadeuh bocil atu', pengen gintes aja jadi biji wijen. Dikasih ati minta usus. Gemas Aksa dalam hati.
"Kagak bisa cil, lo ama gue gak kenal. " Tutur Aksa
"Dami kenal mas Aksa, Mas Aksa juga kenal sama Dami. Ayo kita kenalan sama ibu Dami, mas Aksa harus kesana. Masakan ibu Dami enak, mas Aksa gak bakal nyesel kok. " Pinta Aksa dengan puppy eyes
Tanpa banyak komando, Aksa menarik Dami dan langsung mengantarkan pulang.
Di perjalanan yang diisi keheningan, membuat Dami merasa kalau Aksa marah karena permintaannya. Aksa yang merasa Dami tidak banyak bicara seperti biasanya pun menoleh ke Dami.
"Ngapain lo diem aja? "
"Mas Aksa jangan marah, Dami minta maaf mas Aksa! " Dengan ringan ia peluk lengan Aksa yang tidak menyetir.
Aksa yang dipeluk mendadak pun terdiam kaku.
"Udah deh sana jauh-jauh, gue lagi nyetir. Mau gue tubrukin lo? " Sadar Aksa
"Tuh kan marah lagi, utukutuk jan marah lagi" Dami memainkan dagu Aksa dengan gemas
Berani bat nih Dami gangguin maung serem, Aksa mendelik sangar.
Dami jadi mesam-mesem cem kena kampleng
Sampai didepan rumah Dami, Aksa meminta Raka nya dikembalikan. Namun Dami teringat ajakannya untuk Aksa.
"Mas Aksa sini aja dirumah Dami, kenalan sama ibu Dami. Mumpung ibu Dami dirumah gak kerja. " Paksa Dami
"Gue gak mau cil. "
Dami mendengar penolakan itu pun ingin menangis rasanya, baru kali ini dia merasa mempunyai guardian angel.
"Eng~h mas ak-sa hiks ayo sama Dami disini pokoknya, gamau tau titit eh titik! Raungan Dami
" Eh titit, ngaco lo! Mana ibu lo? Gue pamit aja. "
"GABOLEH PAMIT! DISINI SAMA DAMI POKOKNYA HUWAAAA IBU~IBU~ MAS AK-SA NYA BANDEL! " Jerit Dami
Tetiba ibu Dami keluar rumah tergesa.
"Iyan kenapa nak? Sini sama ibu! Ada yang nyakitin Iyan? Heung? Kenapa? " Cecar Alisyah
Dami tidak menjawab Alisyah, tapi menunjuk langsung ke Aksa. Aksa ya g ditunjuk biadap aja eh biasa aja.
"Kenapa sama kakak nya, Iyan? " Kepo nih ibunya Dami
"HUWAAA IBU MAS AKSA, MAS AKSA GAMAU SAMA IYAN. IYAN MAU MAS AKSA SAMA RAKA BU~ HEUHEUUUU! " adu Dami pada Alisyah
"Shut~ Iyan, anak cantik gaboleh bandel yah. Mas Aksa nya gabisa disini sama Iyan disini, mas Aksa punya rumah sendiri nak." Tutur halus Alisyah
Dami yang pada dasarnya keras kepala tetap menangis menggeleng tidak terima. Aksa dari tadi cuma merhatiin doang, Alisyah yang begitu lemah lembut membuat Aksa teringat sang mama.
"Mas Aksa~ disini bu, harus sama Iyan!" Mutlak Dami
Aksa mengeluarkan suaranya
"Maaf tante, sebelumnya saya gak bermaksud buat Dami nangis gini! " Maaf Aksa
"Justru tante yang minta maaf karena Dami pasti ngerepotin kamu, dia emang gapunya temen. Eh sekalinya punya temen nempel banget, cowok ganteng lagi." Lapar Alisyah
"Kalo begitu, saya pamit pulang dulu tante. " Hampir saja menyalimi Alisyah, Dami tiba-tiba nemplok ke Aksa. Beuh maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?! Bocil centil mang semakin didepan.
"Eh eh, Iyan ayo masuk ya nak! Biarin mas Aksa nya mantok, dia nanti dicariin orang tuanya gapulang-pulang nak! Mpon gausah nangis nanti cantiknya berkurang! " Ajak Alisyah
Dami langsung terdiam dan cegukkan tetap memeluk Aksa erat, menengadah menatap Aksa yang lebih tinggi.
"Bu, Iyan mau ikut mas Aksa ya? " Mohon Dami
"Gaboleh anak cantik, udah ayo masuk ya nak! Gabaik loh ngerepotin mas Aksa, mas Aksa pasti capek. " Dengan penuh kelembutan Alisyah menasehati Dami
"Lo mau ngikut gue? Dirumah gue orangnya nyeremin semua, lo gak takut? " Aksa ikut membujuk Dami dengan membalas pelukan Dami
"Kan ada mas Aksa temenin"
"Serius? Ijin dulu sama ibu lo! "
"Bu boleh kan? " Tanya Dami
"Apa tidak merepotkan nak Aksa? Iyan anaknya suka bandel. " Alisyah bertanya pada Aksa dulu
"InsyaAllah tidak tante. "
"Yasudah ibu ijinkan semalam, tapi Iyan ingat ya nak tidak boleh merepotkan orang lain selain ibu! " Setuju Alisyah
Dengan semangat Dami menganggukkan kepala, berterimakasih untuk ijin Alisyah
"Sini peluk ibu dulu! " Pinta Alisyah
Memeluk Alisyah, dan tak lupa Dami kecup pipi ibunya itu.
"Nak Aksa boleh ibu minta tolong sekali lagi? " Tanya pelan Alisyah
"Silahkan tante! "
"Tante minta maaf sebelumnya! tante minta tolong, tolong Dami dirumah kamu sampai besok sore jangan pagi-pagi. Soalnya tante dapat shift kerja jam 12 malam nanti, kalau tidak bisa bilang Dami untuk tunggu saja dirumah yah! Apakah bisa? " Mohon Alisyah halus
"Boleh tante, kebetulan sekali saya besok tidak ada jadwal kuliah. Dami juga libur kan tante? " Sambil mengelus rambut Dami yang panjang tergerai
"Terimakasih banyak loh nak Aksa! Iya dia libur."
"M~ tante, suaminya juga kerja ya kok gak kelihatan? " Tanya pelan Aksa
Wajah Alisyah berubah agak murung, dengan senyum paksa Alisyah menjawab.
"Dami anak yatim dari kecil"
"Ouh maaf tante saya gak tau! Kalau gitu kami pamit, permisi! " Pamit Aksa
"Iya hati-hati yah nak Aksa! Maaf merepotkan, loh Iyannya tidur. Gimana nak Aksa?
" Gapapa tante biar saya gendong. "
Alisyah menatap kepergian anaknya dengan seorang lelaki yang terlihat sedih kalau melihat nya berbicara dengan Dami tadi, tapi dia teringat harus siap-siap kerja.