BAB 3 RUMAH AKSA

1167 Kata
BAB 3 RUMAH AKSA Setelah menempuh perjalanan setengah jam, akhirnya sampai juga di rumah megah Aksa. Maksudnya rumah ayahnya Aksa. Dilihat Dami yang masih tertidur, Aksa berinisiatif menggendong Dami masuk kerumah. Di ruang tamu ada ayah Aksa yang kebetulan sudah pulang. Wijaya yang melihat anaknya menggendong seorang gadis, agak mengernyit bingung. "Siapa gadis di gendongan kamu itu?" Tanya Wijaya dengan tangan bersedekah Aksa berhenti sejenak, tanpa memperdulikan ayahnya ia kembali berjalan ke arah kamarnya disebelakang ayahnya. "Aksa!" Tegur Wijaya "Gapenting ini siapa, urusin aja istri papa! " Balas Aksa terus berjalan "AKSA! " Teriak Wijaya yang geram pada Aksa Dami yang mendengar suara bising menggeliat dalam gedongan Aksa dan terbangun dengan berbinar karena Aksa benar mengajaknya kerumah Aksa. "Mas Aksa? Kok mukanya kayak nahan b***k? " Nih bocil nanya kagak tau sikon yah gini nih "Diem! " Titah Aksa dengan mimik serius tanpa melihat Dami Dami diam menurut dan mengeratkan rangkulan pada leher Aksa. Wijaya yang melihat itupun bertanya dalam hati, tumben sekali anaknya membawa gadis yang terlihat biasa-biasa saja. Sesampainya Aksa dikamar ia menurunkan Dami dikasur nya yang empuk dan mahal, Dami melihat sekelilingnya. Kamar Aksa sungguh luas dengan aksen monokrom. "Mas Aksa, nanti Dami bobok sini ya? " Tanya Dami dengan nada bersemangat Aksa jadi gemas dengan Dami, kenapa dia bisa membuat Aksa sedikit banyak bicara dan tertarik dibuatnya. Aksa duduk disebelah Dami, mengelus surai Dami dengan sayang. Baru sebentar mereka bertemu dan bisa sedekat ini, unusually untuk Aksa begitupun Dami. "Mas Aksa kok ngelamun? " Dami meraba wajah Aksa "Aduh mas Aksa ganteng, Dami makasih diturutin sama mas Aksa! Xixixi" Puji Dami dengan polos "Sama-sama bocil, dah sekarang lo bersih-bersih ya! Pakek baju gue di lemari itu! Tunjuk Aksa di lemari yang bercat coklat. Dami mengangguk dan segera bangkit mandi " Cil-bocil! Gemes gue! "Monolog Aksa Aksa bangkit untuk membersihkan diri di kamar mandi dapur biar sama dengan Dami. Sedangkan di ruang tamu, Maria menghampiri Wijaya dan bertanya siapa gadis yang digendong Aksa tadi. " Papa gak tau Mi" Jawab Wijaya degan senyum yang terpatri "Tumben banget ya pa?" Heran Maria "Udah biarin aja, kita awasin nanti lewat CCTV. Mendingan sekarang kita yang kek mereka hahaha" Goda Wijaya ke Maria sambil colek sambalado *eh dagunya Maria gengs Kita balik lagi ke Aksa dan Dami yeuheu~ Dami sudah keluar kamar dan tidak menemukan Aksa disini, Dami yang masih mengantuk memutuskan untuk telentang memejamkan matanya sejenak menunggu Aksa. Tidak lama Aksa masuk dan melihat Dami telentang dengan bajunya, hanya sweater turtle neck hitam oversize milik Aksa. Dan~ apaan tuh putih²? "Anjing nih anak akhlakless emang, sempaknya unyu banget eh astaghfirullah! " Shock Aksa, segera Aksa menurunkan baju Dami biarpahanya gak diluslus anak setan alias Aksa eh hehehe "Mas Aksa? Dari mana aja? Dami laper nih. " Sambil bangun dari meremnya Aduh manja bat anak siapa sih lo cil? Gemes pen nelen "Mandi gue diluar, yok makan malem. Inget jan bandel lu, serem-serem orang disini!. " Nasehat Aksa "Ho'oh ho'oh, ayo mas Aksa buruan! " Gandeng Dami "Iya pelan dah ah! " Sungut Aksa Dami cengengesan cem miss K Diruang makan sudah ada Wijaya dan Maria yang menungu mereka, Wijaya dan Maria penasaran sosok Dami seperti apa kok bisa-bisa nya Aksa mau-mau aja dikintilin cem anak monyet. Dami yang ditatap sedemikian oleh mereka tertunduk takut merapatkan diri ke Aksa, apalagi tatapan Wijaya yang terlihat tegas dan berkharisma. "Baru aja mami mau panggil kalian, eh udah turun duluan. Sini cantik, namanya siapa sayang? " Ramah Maria mengelus rambut Dami yang masih setengah basah "Eum~eum~ Iyan eh eum~ Da-Dami, Dami tante. " Gugupnya malu-malu "Aduh lucunya, panggil mami ya cantik! Mau ya, iya dong! " Ingin sekali Maria mencubit pipi moci Dami yang memerah Aksa hanya diam menelisik sikap mami tiri nya yang terlihat antusias sekali dengan Dami. Wijaya juga ikut gemas sendiri melihat interaksi istrinya dengan Dami. "Sudah nanti ngobrolnya dulanjutin lagi! Sekarang makan dulu! " Titah Wijaya Setelah Maria mengambilkan nasi beserta t***k bengek untuk Wijaya, ia melihat Dami yang kebingungan. Maria berinisiatif untuk mengambilkan juga untuk Dami dan Aksa juga maybe. "Mami ambilin ya sayang! " Dengan telaten Maria mengambilkan makanan untuk Dami. Setelah itu tersenyum seri keadaan Dami, megelus sayang kepala Dami. Aksa yang daritadi memperhatikan tanpa mengambil makanan, turut menjadi perhatian Maria. Tanpa bertanya dan disuruh Maria mengambilkan makanan juga untuk Aksa, ia tau Aksa akan menolaknya. Maka dari itu ia sengaja langsung bertindak. Dengan hati berbunga karena Aksa tidak menolak dan memakan langsung. Mereka makan dengan armosfer yang bahagia kecuali Aksa, karena dia biasa saja. Setelah selesai makan malam, Dami membawa piring kotornya untuk dicuci sendiri. Namun dicegah salah satu bibi dirumah ini. "Haduh neng geulis, kenapa piring kotornya dibawa? Mau kemana? " Tanya bi yayah "Dami mau cuci nih budhe, dimana tempatnya" "Gausah Dami sayang, Dami mending cuci tangan aja ya! Biar piring kotornya bibi yang bawain nak! " Sambil menuntun Dami untk meletakkan piring kotornya di meja makan lagi, lalu menuntun Dami untuk mencuci tangan ke dapur. Tinggalah Aksa dan Wijaya, Wijaya meneliti mimik sangat putra yang sesuai tadi memperhatikan tindakan saran dan Dami. "Sekali lagi, siapa Dami Aksa? Pacarmu atau apa? Tumben sekali kamu bawa gadis kerumah ini? " Wijaya benar-benar penasaran. "Iya, kenapa? " Tanya Aksa dengan sini sembari megelap bibirnya. "Tau kamu latar belakang gadis itu? " Wijaya bertanya sambil bersidekap dada "Sangat tau. " Cuek Aksa. "Bagaimana? " "Gadis yatim yang tinggal sama ibunya dirumah sederhana peninggalan almarhum ayahnya, ibu yang bekerja dan tidak punya saudara siapa-siapa disini. " Papar Aksa sejujur-jujurnya "Yakin kamu sama pilihan kamu? " "Kenapa tidak istri mu terlihat menyukai pacarku bukan_papa? "Jeda Aksa saat mengucap papa Hening sebentar kemudian Aksa menyusul Dami kedapur, menarik Dami yang baru saja selesai mencuci tangannya. Membuat Maria kaget saja, tapi ia biarkan. Pasti ada sedikit obrolan antara Aksa dan Wijaya tadi, seperti biasa. " Eh mas Aksa, kita mau bobok kan ya? Yei bobok sama cogan! Sorak Dami bahagia Aksa sedikit terkekeh dibuatnya, mengelus sayang rambut Dami membuat bau shampoo menguar. Masuk kamar dan merebahkan diri mereka, Aksa pikir tak apa satu kamar seranjang. Lagipula Dami kan masih kecil, jadi tidak akan apa-apa kan? Aksa juga tidak akan macam-macam untuk sekarang hahaha "Udah ayo tidur! Udah ngantuk kan? Buru ambil posisi yang bener! " Perintah Aksa sambil merapihkan bantal "Mpuk ya mas Aksa kasurnya, bikin ngantuk. " Dami dengan polosnya memeluk Aksa dari samping, membuat Aksa tanpa sadar tersenyum. "Udah ayo tidur, heran gue. Udah gede tapi kok badan cilik cem boneka susan, kagak bisa berkembang ck! Ayo yang bener pala lu! " Sambil membenarkan pelukannya Aksa meraih selimut dengan kaki untuk menyelimuti mereka, dengan telaten Aksa menepuk pelan p****t Dami. Teringat dengan sang mama dulu yang sedang hamil dan mendambakan anak perempuan yang retular keinginan itu pada Aksa. Gemas sekali rasanya sama bocil atu, Aksa mengerat kan pelukannya pada Dami. Mengusap paha yang tanpa sadar terbuka dibalik selimut. Aksa sadar, tapi rasanya candu. Biarlah seperti ini, merasakan berpelukan dengan seorang gadis yang baru datang ke dalam kehidupan Aksa yang dulu sempat berharap punya adok gadis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN