Bab 14. Presdir

2101 Kata
Marco Bie tidak marah, dia malah senang karena Bianca sekarang mulai memikirkan dirinya. “Kau memikirkan aku? Katanya tak suka, tapi terus memimpikan.” nada suara itu seperti mengejek. Bianca yang tak sabar langsung membuka matanya, dia terkejut karena kalimat yang di lontarkan sangat pedas. “Kenapa aku di sini? Dimana Nyonya Sunsein?!” Bianca berdiri dan ingin sgera pergi dari tempat Ia berbaring. “Bukankah aku di Apartemen Nyonya Sunsein?!” Marco Bie yang pura-pura tidak mendengar memiliki menghindar. “Presdir, apa-apaan ini?! anda menculik saya?” “Sunsein ada pekerjaan yang mendesak di Luar Negeri, kau tidak bisa tinggal di Apartemen sendirian. Jadi dia mengantarmu ke tempatku! Aku bertanggung jawab atas nasib sekretaris pribadi yang harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Tahukah kamu jika Mega Proyek yang akan di luncurkan dalam beberapa waktu ini akan menyita waktu kita sangat banyak, tak bisa di hindari Mega Proyek ini seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.” Bianca yang baru saja sadar terperangah mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Tuan besar. “Ini dimana? Saya yakin ini bukan rumah anda, Tuan.” “Kita saat ini berada di Penthouse yang berada tepat di atas pusat perusahaan, aku tidak bisa mengulur waktu karena kemacetan di jalan. Makanya memaksa diri untuk pindah kemari! Kau tahu Shanghai kota yang sangat sibuk. Memperpanjang jarak tempuh sama dengan membuang waktu, aku tak masalah jika dalam hati kau berkata bahwa diriku ini gila kerja.” Bianca langsung menelan saliva, karena tak habis pikir dengan sikap Marco Bie. Dan entah darimana lagi dia bisa membaca pikiran yang seharusnya hanya Bianca yang tahu. “Bagaimana bisa anda membaca pikiran saya? Jangan-jangan selama ini anda sengaja menyiksa saya karena membaca pikiran.” Marco Bie enggan membalasnya, “semua perlengkapanmu sudah aku letakkan di kamar ini, pelayan yang menyiapkan jadi tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin kau paham Mega Proyek perusahaan kita sangat penting bagiku, bahkan aku dan beberapa perusahaan di Negara lain bersatu untuk menyatukan impian ini. Semua data ini berada di Penthouse, tak banyak yang bisa membaca dan mengetahui seluk-beluknya. Jadi jika ini sampai bocor keluar, jawabannya hanya kau seorang PENGKHIANAT.” Bulu kuduk Bianca rasanya berdiri semua, “jangan berkata seperti itu Bos.” Marco Bie menghela, “masalah kepindahanmu kemari tidak masalah jika tidak suka, karena aku akan segera mencari penggantimu. Aku sangat butuh Asisten yang siap siaga berada di sisi, karena aku juga manusia biasa. So, katakan saja jika kau sudah tidak mampu lagi.” Bianca tidak mungkin berhenti dari pekerjaannya, dia tidak ingin menikah muda. Mau tidak mau gadis ini harus menunduk di bawah kaki Marco Bie, dia tidak akan membuat pria ini marah karena dia akan sangat mudah memecat Bianca. Karena tidak ingin semua ini berlarut Bianca pun berkata, “Tuan, selama di sini kita tak perlu Pelayan karena saya akan mengerjakan semuanya untuk anda.” Marco Bie menghela, dia bukannya tidak tahu jika Bianca adalah anak manja yang tak bisa melakukan apapun. “Baiklah, jagalah dirimu karena aku tidak akan memberitahu siapapun jika kita tinggal bersama. Aku mendengar sedikit gosip tentangmu, mereka bilang Bianca naik ke atas ranjang Presdir.” “Ya, saya juga mendengarnya! Tapi jujur saja awalnya sedikit kesal, lalu lama-kelamaan tidak lagi karena saya pikir tidak semua orang bisa dalam posisi ini. Mereka hanya iri karena saya sedikit di perhatikan oleh seorang Presdir.” Marco Bie berusaha menahan tawa, Bianca terlihat sangat lucu, dan itu cukup menghibur dirinya. “Terimakasih karena sudah berpikir begitu, tapi aku pria yang cukup nakal untuk seorang wanita.” dia berjalan pelan, “aku juga bisa menggoda dengan baik, jadi silahkan kunci pintu dengan benar jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.” Bianca pun langsung membekap tubuhnya, “Presdir, anda tidak bisa macam-macam pada saya!” dia mendorong tubuh Marco Bie hingga pintu kamar yang dia tempati. “Saya akan selalu siaga, anda tidak bisa berbuat apa-apa!” “Saya tidak akan berbuat sesuka hati Bianca, jadi tenang saja! Sekarang bangun dan makan siang, ada pekerjaan yang sudah menunggu.” jawab Marco Bie. Semua tujuan hidupnya sudah benar, Bianca hanya perlu bertahan dalam waktu 2 tahun ini. Setelah semua kakaknya berkeluarga dia akan kabur ke Luar Negeri, Bianca pikir umur 30 Tahun adalah yang paling tepat untuk dirinya menikah, jadi siapapun tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dengan kucuran air hangat yang membasahi tubuhnya Bianca merasa sangat rileks. Samar-samar dia teringat dengan perkataan Alen Lim yang menahan dirinya saat akan berkemas. Pria tersebut terlihat sedikit berbeda, walaupun Bianca tidak tahu alasan tepatnya namun tetap saja membuat dirinya tidak nyaman. Percakapan mereka sangat tidak nyaman, Bianca menjadi serba salah dan bingung. Pertanyaan kembali timbul dalam pikirannya, apa benar Presdir bukanlah pria yang baik dan bisa saja berbuat semena-mena pada wanita. Rasanya Bianca tidak bisa percaya. “Siapa yang di harapkan Bianca menurutmu? Aku sedikit heran dengan keinginannya. Dia kadang suka tertawa sendiri, lalu marah! Bahkan dia suka membentak ketika bicara sendiri. Aku selalu memperhatikan Bianca dari jauh, aku suka rawut wajahnya yang manis. Aku suka saat dia tertawa, tapi yang menyebalkan saat aku tahu dia mengumpat untukku.” Elfoy yang ada di sana tak bisa menjawabnya karena dia tak tahu situasi di perusahaan saat mereka berdua bersama. “Maaf Tuan, saya juga bingung harus menjawab sepertinya Nona Bianca tidak sengaja membuat anda kesal. Jadi jangan pernah masukkan ke dalam hati, bukankah anda memang menyukai dirinya? Bersabarlah sampai kalian menikah, itu menurut saya. Bagaimana menurut anda sendiri? Perkara seperti ini sangat susah untuk di kendalikan, apalagi Nona Bianca memang menolak untuk menikah dengan Tuan sejak pertama kali di ajukan pertunangan.” “Kau membuat hatiku patah lagi, seharusnya kau tidak boleh berkata seperti itu. Kadang aku pun juga merasa tak bisa menembus pertahanan gadis gila tersebut, padahal aku sudah berusaha untuk bersikap lembut. Sayangnya dia malah tak suka dan marah padaku.” Elfoy terkekeh, “anda tak sadar apa yang anda lakukan sudah membuatnya takut, Tuan! Lagipula semua orang berhak bersikap, bukan?! lihat saja Nona Bianca itu masih berumur 21 jalan 22 tahun. Apa yang anda harapkan padanya Tuan? Sebuah pengertian? Rasanya lucu sekali jika saya mendengar hal tersebut dari seorang Marco Bie yang terkenal bijak dan santai dalam setiap melakukan apapun.” “Jangan tertawa lagi, aku akan memotong gajimu, Elfoy! Apa kau ingin merasakannya? Katakan saja padaku.” Elfoy kembali terkekeh, “tidak seperti itu juga, gaji adalah vitamin U untukku. Rasanya lemas sekali beberapa hari ini karena sudah tak pernah dapat bonus. Gilanya pekerjaan semakin banyak tanpa adanya penambahan gaji, aku bisa apa?!” “Kadang aku melihatmu seperti teman, tapi kadang benar-benar sebagai pelayan.” Elfoy mengibaskan tangannya. “Uh, kasar sekali. Sebagai teman seharusnya kau tidak melakukan ini padaku, uang tidak berteman kawan. Aku tidak ingin lemas dalam bertugas hanya karena tidak mampu mengendalikan kehausan ini.” Marco Bie yang awalnya fokus kini terdiam, saat Elfoy lihat ternyata ada Bianca yang masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu karena terlalu banyak berkas yang ada di tangan kiri dan kanan miliknya. “Presdir ada yang perlu anda tanda tangani, ini berat sekali!” dia meringkih. Elfoy yang ada di sana langsung berusaha membantu, tapi Marco Bie kelihatannya tidak suka. “Apa tugasmu Elfoy? Itu tugas Bianca jadi urus saja pekerjaanmu sendiri, bahkan mobil tak ada yang di cuci selama satu minggu ini.” Marco Bie merutuk karena kesal dengan tingkah Elfoy yang sadar atau tidak sudah menggoda dirinya. “Aku harap kau segera menyelesaikan tugasmu, atau tidak akan ada libur.” Dia mengangkat kedua tangannya, dengan senyum tergelitik Elfoy keluar dari ruangan tersebut. Bianca yang melihatnya menghela, dia memang membutuhkan bantuan, tapi sayang pertolongan yang dia miliki malah kabur karena sang Pesdir yang tak senang melihat Bianca, itu adalah versi sang gadis yang memandang sinis yang pimpinan. Rok span, blouse berwarna navy. Bianca yang merasa sudah berpenampilan biasa saja malah membuat mata Marco Bie tak bisa berpindah darinya. Wanita itu memang belum sadar, tapi ada seorang wanita yang sejak tadi ada di ujung pintu menatap dengan wajah sinis. Dia ingin melihat seberapa perhatian pria ini pada wanita yang ada di hadapannya. Bianca meletakkan semua berkas, Marco Bie dengan santai menggoreskan tanda tangan tanpa ingin membuka lembaran. Alhasil Bianca juga yang melakukan hal tersebut. Sambil menahan hati dia membuka setiap lipatan untuk Marco Bie tanda tangani. Walaupun terlihat sangat sepele tapi cukup menguras hati dan tenaga. “Apa pekerjaanmu belum selesai? Aku sudah reservasi di sebuah Restoran yang kau sukai.” Tanpa perlu mengangkat kepalanya Marco Bie sudah tahu siapa yang saat ini sedang bicara padanya. “Maaf aku sedang enggan makan apapun di Restoran, lagipula aku sudah makan! Ada rapat penting yang harus di selesaikan, aku juga harus bertemu dengan klien, Cleo.” Ya, gadis bernama Cleo tersebut tidak ingin kalah. Setelah menangis berhari-hari dia akhirnya bisa bangkit dan memutuskan untuk pergi menemui Marco Bie. Dia harus mendapatkan cinta pria yang kini memasang wajah dingin. Langkah kaki Cleo terlihat ragu, dia tidak ingin melihat Marco Bie marah. Tapi ketika dia melihat kembali wajah Bianca, hatinya semakin kesal, “aku tidak ingin di tolak Marco Bie, lagipula aku sudah mengecek seluruh jadwal yang kau miliki pada Noni. Tidak ada yang terlambat di sana, dan tak ada masalah jika kamu pergi bersamaku.” Wajah Marco Bie menegang, dia menekan pena yang di gunakan untuk tanda tangan. “Kau sudah tahu jika aku tidak suka jika ada seseorang berusaha mengatur hidupku. Mendengar itu Bianca menegang, dia yang berada di samping Maeco Bie sangat takut jika tiba-tiba rambutnya di jambak sangat kuat. “Pulanglah, kita tidak perlu bicara hari ini! Aku yakin kau sangat paham kalau aku sedang repot sekali Cleo.” lagi-lagi dia masih tidak menatap wanita yang kini berada di hadapan dirinya. “Kalau begitu aku ingin menemani dirimu rapat, kita akan berada di sini sampai kau pulang. Aku sudah terlanjur rindu dan kau tidak bisa mengabaikan aku begitu saja.” Marco Bie terkekeh, “siapa yang ingin mengabaikan dirimu begitu saja? Aku heran jika kau terus marah seperti ini, ada beberapa hal yang tidak boleh di lakukan seseorang kepada orang lain, apa kamu tahu apa itu?!” “Bermain kata-kata lagi denganku?! jujur saja Marco Bie, aku tidak ingin berada di rumah. Aku ingin bersama denganmu di sini, aku sudah harus operasi minggu depan apa salahnya sedikit bersenang-senang? Aku tidak bisa terus sehat seperti kalian.” Marco Bie terdiam, dia tahu Cleo selalu menjadikan ini sebuah alasan. Belum lagi Marco Bie sudah mendapat panggilan dari Paman Cleo yang seolah mengancam dirinya. Dia tak boleh membuat Cleo sakit ataupun patah hati, rasanya memang lucu saat mendengar hal tersebut tapi dia ingin menghargai orang yang lebih tua, dan beberapa orang yang sudah membantu dirinya keluar dari kegelapan saat itu. Entah salah atau benar yang jelas Marco Bie pun tidak ingin di kekang, di tambah Cleo sangat sengaja melakukan ini. Bianca terdiam sejak tadi, karena akhirnya dia dan Presdir pergi makan siang bersama Cleo. Padahal dia pikir umur dirinya dan Cleo tidak beda jauh, tapi entah kenapa dia terlihat seperti anak-anak yang suka memanfaatkan situasi. Beberapa menit yang lalu di perusahaan dengan sama aja dia berpura-pura pingsan hingga membuat Marco Bie panik. Bianca yang mengetahui tingkat Cleo hanya berusaha diam tidak ingin ikut campur dengan perbuatannya, walaupun sedikit risih gadis itu berusaha untuk tenang. Padahal saat ini dengan terlalu jelas Cleo menjahili Bianca, dia mengambil semua makanan yang akan Bianca makan. Lebih gilanya lagi Tuan Marco Bie membiarkan saja hal itu terjadi. Karena tidak senang, Bianca akhirnya melawan. Dia merebut kembali makanan yang sudah Cleo ambil dari garpunya, dan parahnya Bianca mengambil makanan tersebut dari ujung mulut Cleo. Entah telinganya yang bermasalah atau bagaimana, tapi Bianca sangat jelas mendengar Marco Bie tertawa. Jelas saja rasanya gadis itu ingin menggeprak meja, dia ingin melihat makanan berhamburan mengenai wajah Marco Bie dan Cleo. Restoran yang mewah ini pasti akan berantakan dan semua akan berhamburan. Bayangan yang ada dalam benak Bianca tersebut benar-benar mengobati kekesalan hatinya. Sejenak Marco Bie menatap ke arah Bianca yang tersenyum sendiri, pria ini juga heran kenapa dia melakukan itu. Karena bingung melihat tingkah Bianca, tanpa sadar Marco Bie terkekeh. "Kenapa kamu tertawa Marco Bie?! Aku sedang kesal karena anak buahmu, tapi kamu malah tertawa seperti itu seolah tidak terjadi apapun." Dia meletakkan sendok dan garpu nya dengan kasar. "Aku tidak ingin lagi meneruskan makan siang ini, lebih baik kita berdua pergi dan meninggalkan dia menghabiskan semua makanan. Kamu tahu sendiri aku tidak bisa makan sembarangan dan tidak sempurna. Anak buahmu memberatkan aku dengan tingkah lakunya, aku sedih sekali kalau begini!" Dia berpura-pura menangis dengan tersedu-sedu dan itu membuat Bianca ingin mencakar wajahnya. "Ayo kita pergi dari sini, aku malas berdebat dengannya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN