Marco Bie menghela, dia menutup korannya lalu pergi dari kamar tersebut. Bianca langsung frustasi dan kesal, sesekali dia meremas rambutnya sendiri karena tak suka atas sikap pria yang selalu semena-mena pada dirinya.
Marco Bie memang tidak bisa menunjukkan perasaannya, tapi tindakan pria ini terlihat sangat jelas. Dia menyukai Bianca dan setuju atas pertunangan mereka, saat ini Marco Bie dalam proses meluluhkan hati Bianca. Tapi kemungkinan pria ini salah sasaran hingga membuat gadis itu ketakutan. Karena tidak ingin begitu terlarut dalam masalah percintaan Marco Bie kembali melihat laptop. Mega proyek yang akan di mulai dalam waktu satu tahun ini cukup menguras isi kepalanya. Dia ingin Casino terbesar tak lagi berada di Macau karena Shanghai juga memiliki benefit yang bagus.
Belajar dari Winstar, Marco Bie akan membangun Mega Proyeknya yang bernama Dark Angel, dia berharap seluruh penikmat malam di seluruh dunia menjadikan Shanghai pusat perputaran uang terbesar. Rasanya mimpi ini tidak mudah untuk di capai, tapi Marco Bie sudah merancang sejak umurnya masih belasan tahun. Semua bermula saat dirinya pergi menemui Bos besar di Asia Tenggara, mereka yang sedang berada di Macau memperlihatkan pada Marco Bie jika Hitam dan Putih hanya setali tiga uang.
“Elfoy, kau bisa membantuku memperhatikan Bianca di sana. Entah kenapa perasaanku tidak enak beberapa hari ini. Hubungi juga Kimza karena aku ingin mengetahui secara detail perkembangan hukum internasional. Banyak yang perlu kami bicarakan, tapi dia terlihat sangat sulit untuk memenuhi kebutuhanku. Seharusnya dia tidak membuka Firma hukum di Shanghai hingga aku bisa menggunakan jasa lain.”
Karena tidak ingin Tuan besar kecewa, Elfoy masih berdiri dengan setia di hadapan Marco Bie, dia berusaha mendengarkan semua kekesalan yang tidak mungkin di ucapkan pada orang lain. “Tuan, silahkan di minum s**u anda.” Elfoy mencoba untuk mengingatkan karena sejak tadi melihat gelas tersebut di sana.
“Terimakasih karena sudah mengingatkan aku, Elfoy! Jangan lupa kirimkan aku setiap video pergerakkan Bianca, aku tidak ingin salah mengambil tindakan karena Nickwa akan membunuhku jika sesuatu yang buruk terjadi. Aku tak suka situasi ini, entah kelompok mana yang mengetahui kelemahanku hingga mengintai Bianca. Ini tidak benar Elfoy.”
“Tuan, saya permisi sekarang! Anda tidak perlu khawatir karena saya tidak akan lupa untuk berbagi Informasi. Untuk beberapa masalah ke depannya akan saya tangani dengan benar, terimakasih karena sudah memberikan saya kepercayaan penuh, Tuan.”
Marco Bie mengibaskan tangan, “apa perlu kau terlalu formal padaku? Sekarang lebih baik kita segera melakukan pergerakan. Semakin dekat waktu Mega Proyek ini, maka orang-orang yang ada di sekelilingku juga semakin menyoroti. Aku tidak ingin gagal, kita sudah sangat lama menunggu. Aku memang butuh Bianca untuk menjadi pendamping, tapi Mega Proyek ini lebih penting.” Elfoy terdiam, dia tak bisa bicara apa-apa saat ini karena sang Bos sedang sangat serius membicarakan isi hatinya. “Kau boleh pergi sekarang! Setidaknya aku tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
“Baik Tuan.”
Elfoy segera keluar dari ruang kerja Marco Bie dan melajukan mobilnya menuju Apartemen milik Sunsein. Seperti biasa Elfoy tidak bergerak sendiri, dia bersama Tim dan memantau Bianca dari gedung yang berada tepat di samping kiri dan kanan Apartemen tersebut.
Rasanya ada yang aneh dengan situasi ini karena ada tiga titik termasuk dirinya yang mengawasi Apartemen milik Nyonya Sunsein. Elfoy berniat untuk mencari tahu situasi ini, tapi dirinya terjebak di antara mereka. Jika Elfoy bergerak sekarang, maka hal buruk akan terjadi. “Tuan, lebih baik anda tidak bergerak!” salah satu dari anggota mencoba memperingatkan Elfoy.
“Situasi apa ini? kenapa begitu banyak Tim dan mata-mata yang mengawasi kediaman tersebut. Setidaknya kita harus mengetahui lebih lanjut dengan apa yang terjadi. Saya melihat keadaan tak cukup memberikan informasi ataupun intruksi pada Tuan Marco Bie.”
“Tapi bisa fatal jika anda bergerak sembarangan, musuh Tuan besar tidak sedikit! Kita bukan membahayakan diri sendiri, tapi juga akan membahayakan Tuan Marco Bie. Tenanglah Tuan Elfoy, kami di sini jelas untuk membantu anda.”
Dia memicingkan matanya, “kau yakin? Aku sangat tidak suka orang yang banyak bicara. Aku sedikit aneh melihat ekspresimu dari tadi, apa ada sesuatu yang kau simpan Iner?!” Pria muda yang sejak tadi mencoba menghalangi Elfoy kini terdiam. “Bukan begitu, saya hanya-” belum sempat dia bicara sebuah peluru yang keluar dari senapan kedap suara menembus tubuhnya. Kini Iner tergeletak tidak berdaya, “Kalian tidak memeriksa keanehan yang dia lakukan beberapa hari ini?! aku tahu siapa yang akan berkhianat jadi jangan pernah menyembunyikan apapaun.”
Dua anggota lainnya terdiam, mereka tidak ingin mati sia-sia. Elfoy yang masih penasaran mengambil ponsel Iner dan di sana terlihat jelas beberapa percakapan antara Iner dan seseorang di ponsel tersebut. Iner sudah memberikan informasi detail tentang Bianca.
“Bagaimana kelanjutannya Tuan?!”
“Tunggulah di sini dan tetap berjaga, aku akan memeriksa Apartemen Nyonya Sunsein. Kalian tidak perlu khawatir, ini adalah area kita. Mereka tidak akan bisa sembarangan. Tetap berjaga dan bersiap, segala konsekwensinya harus kita tanggung bersama. Kalian harus mengingat dengan jelas apa yang telah di berikan oleh Tuan Marco Bie kepada kita, agar kalian lebih berani."
Elfoy menekan bel Apartemen Sunsein berulang kali, tak lama Bibi yang menjaga Apartemen tersebut membukanya. Tatapan mata Elfoy sedikit curiga, dan dengan cekatan dia langsung menodongkan senjata tajam. “Dimana mereka?!” Pelayan itu mundur perlahan, dan dia menusukkan tubuhnya dengan jarum. Melihat itu Elfoy langsung menggunakan ponselnya. “Bereskan mayat wanita, aku tunggu sekarang di Apartemen.” tanpa peduli Elfoy langsung masuk ke Apartemen dan melihat Nyonya Sunsein dan Bianca tertidur di dalam kamar. Sedangkan pelayan di Apartemen tersebut masih dalam keadaan di sekap. “Erena!” Elfoy bergegas mebuka sekapan tersebut.
“Kejadian ini baru satu kali terjadi, aku bahkan tidak bisa mengendalikannya. Kau bisa memeriksa CCTV, aku akan membereskan ruangan agar Nyonya Sunsein dan Nona muda itu tidak terkejut dan bingung.” Elfoy mengangguk, “segara hubungi Tuan besarmu, karena aku akan menghubungi Tuan Nickwa saat ini juga!”
Sunsein tidak pernah tahu jika pria yang berstatus mantan suaminya tersebut selalu menjaga dirinya sejak awal perpisahan mereka. Bahkan Nickwa selalu menempatkan penjaga di setiap langkah Sunsein, semua itu bertambah berat bagi dirinya saat mengetahui jika Sunsein melahirkan seorang bayi. Sayang sekali Nickwa tidak tahu jika bayi yang di lahirkan Sunsein adalah buah hatinya, pria itu masih menyangka jika bayi yang di lahirkan oleh Sunsein adalah milik Edrigo. Hanya cintanya saja yang terlalu besar hingga bertahan untuk mencintai Sunsein sampai akhir walaupun tak akan bisa bersatu.
Erena adalah pelayan yang memiliki seni bela diri, begitu juga dengan Elfoy. Mereka menguasai senjata api dan senjata tajam, kejadian mengerikan ini hanya satu kali terjadi setelah sekian tahun. Erena tidak tahu apa motif sebenarnya, yang jelas dia tidak akan berkhianat pada sang Tuan besar.
Tanpa semua orang ketahui Erena dan Elfoy menjalin kasih sejak mereka masih muda, komunikasi di antara mereka sangat intens. Makanya pria tersebut sangat paham jika pelayan yang membuka pintu adalah penyusup. Walaupun mereka bekerja di tempat yang berbeda, Elfoy dan Erena sangat cekatan bersikap profesional.
“Tuan Marco Bie, saya sedang berada di Apartemen.” Elfoy yang menghubungi pria tersebut pun langsung menceritakan segalanya. Marco Bie terkejut karena baru saja melepaskan Sunsein dan Bianca untuk tinggal bersama beberapa jam yang lalu. “Menurut saya kita tidak bisa mengambil resiko Tuan, sebaiknya Nyonya Sunsein di beritahu keadaan ini sedangkan Nona Bianca tidak perlu di beritahu. Saya yakin Nona muda juga tidak bisa menerima kejadian ini, sedangkan Nyonya Sunsein bisa memperhatikan kamera CCTV.”
“Baiklah, kalau begitu lebih baik bawa mereka ke Penthouse.”
Elfoy yang menerima perintah langsung membawa Nyonya Sunsein dan Bianca ke Penthouse. Yang berada tepat di Menara perusahaan miliknya. Marco Bie pun langsung menghubungi Nickwa, dia menceritakan kejadian hari ini. Nckwa terlihat sangat terkejut, dan dia lebih terkejut lagi saat Marco Bie melepaskan Bianca untuk tinggal bersama Sunsein.
“Daripada berita ini, aku lebih terkejut dengan berita yang kau sampaikan Marco Bie.”
Karena mendengar suara tenang Nickwa, pria ini semakin gugup. Karena pada prinsipnya semakin tenang pria tersebut, maka semakin dalam dia menahan emosi dan mengendalikan diri. “Aku tidak ikut campur dalam masalah ini, mereka bertemu di perusahaan. Bianca sakit, dan aku menahannya di Mansion. Adikmu berusaha lari dariku padahal kesehatannya sangat tidak baik. Aku bisa apa jika sakitnya bertambah parah?! saat Sunsein memberikan berkas yang akan aku tanda tangani dia bertemu lagi dengan Bianca, mereka berdua sepakat tinggal bersama karena adikmu tidak ingin tinggal denganku.”
Marco Bie benar-benar tidak menceritakan bahwa dirinya dan Sunsein sudah memiliki rencana berdua. Sunsein yang sangat ingin tinggal bersama mantan adik iparnya, dan Bianca yang sangat ingin keluar dari Mansion Marco Bie. Semuanya menjadi satu dan cocok untuk di terapkan, namun sayang sekali kejadian naas ini malah membuat rencana yang baru di realisasikan dua jam yang lalu itu hancur berantakan.
“Baiklah, aku tidak ingin Bianca tetap bersama Sunsein. Tapi aku setuju jika dia tinggal bersamamu, aku tidak perlu menjelaskan segalanya. Aku hanya tidak ingin Bianca mengetahui kisah cintaku yang kelam, kau dan aku sama-sama tidak mau dia trauma atas pernikahan, bukan? Jadi lakukan saja yang aku katakan saat ini.”
Marco Bie yang tidak ingin itu terjadi langsung setuju. “Aku meminta mereka di bawa ke Penthouse, aku akan memisahkan Bianca dan Sunsein, aku akan memberikan pengertian pada Sunsein. Untuk Bianca, aku akan mengatakan dia pingsan tiba-tiba. Dia harus mendengarkan yang aku katakan daripada aku pecat!”
Nickwa dia balik panggilan mengangguk setuju, “jangan main-main denganku Marco Bie, kita tidak tahu jalan ke depan akan berbentuk seperti apa! Aku yakin ini salah satu tingkah dari si tua Jies. Mega proyek itu bisa membunuh kita, jadi aku harap mulai sekarang kau hati-hati.”
“Baiklah, aku mengerti! Maaf jika ini menjadi permasalahan yang tidak bisa di selesaikan dengan mudah. Aku akan menutup panggilan ini sekarang juga, maafkan aku! Bianca dan Sunsein akan aku urus dengan benar.”
Nickwa tidak tahu harus berbuat apa, jantungnya berdebar sangat kencang dan tak nyaman. Di umurnya yang sudah menginjak 38 tahun, Nickwa sudah sangat pandai mengendalikan dirinya. Dia berjalan menuju ruang kerja, melihat dan memonitor pergerakan Bianca dan Sunsein. Dia sudah membayar mahal untuk mereka berdua, Jies adalah orang yang sudah pasti berada di belakang peristiwa ini. Dia pria picik yang menjadi musuh besar siapapun yang ingin melebihi batas di Kota Shanghai. Dia ingin menjadi satu-satunya, dan gilanya dia bisa melakukan apa saja agar keinginannya tercapai.
Dia pun mengambil ponselnya kembali dan menghubungi seseorang. “Segera ke lokasi, kau harus mendapatkan orang-orang yang berada di lokasi. Mereka yang harus bertanggung jawab aku tunggu di tempat biasa, aku akan berikan waktu 2x24 jam. Siapapun yang sudah menyentuh adikku pasti akan menyesal. Aku bukan orang yang bisa diajak bercanda, apalagi ini mengenai Bianca. Aku rasa kau juga sangat paham jika aku bisa merelakan segalanya untuk gadis kecil itu. Kalau untuk Sunsein, Aku tidak ingin dia mengetahui apa yang sudah aku lakukan untuknya. Aku rasa kau juga harus pandai menyimpan rahasia ini, jangan sampai dia merasa terbebani oleh sikapku. Dia juga berhak hidup bahagia, Aku tidak ingin mengganggu pikirannya sama sekali. Terkadang kita harus melindungi orang yang kita sayang walaupun harus secara sembunyi."
Bianca terbangun, matanya sangat berat. Gadis ini menggeliat di atas ranjang, tubuh Bianca terasa retak. Dia bergumam sesekali karena perutnya terasa sedikit keroncong. Tapi karena mengingat sudah tinggal bersama orang lain, dia berusaha mengangkat tubuh dari atas ranjang.
Gadis ini masih belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia masuk ke kamar mandi menyikat gigi seperti biasa dan keluar dari kamar setelah rapi. Kebiasaan buruk Bianca ini tidak pernah berubah, dia kurang waspada dan hati-hati. Belum lagi kesadarannya sangat lambat timbul sesaat bangun dari tidur.
Marco Bie yang sejak tadi memperhatikan pergerakan gadis ini sejak tadi mengangkat alisnya, dia heran melihat masih ada manusia sembrono seperti Bianca. Bahkan di posisi ini pun dia masih belum sadarkan diri, pria ini menggeleng berulang kali karena lucu dengan tingkah Bianca yang sedikit menyebalkan tapi aneh sekali.
"Ehm," dia berdehem tapi Bianca sama sekali tidak menghiraukan. "Ehm." karena tak kunjung bangun Marco Bie langsung terbatuk hingga dia terkejut. “Bangun, sampai jam berapa kau akan tidur!”
Bianca mengucek matanya, seolah sangat sial karena sudah mendengar suara Marco Bie. “Haduh, kenapa pria sialan itu berada di mimpiku, aku sudah berusaha untuk menghilangkannya dengan segenap mantra tidur, tapi bisa-bisanya dia datang lagi dan lagi. Aku benci suaramu itu Marco Bie.”