Alen Lim menghela, "Paman, aku benar-benar tidak mempermainkan siapapun. Aku memang menyukai Bianca, tapi hanya sebatas itu saja! Misiku masih sama, bahkan Bianca beberapa kali menyelamatkan aku. Karena dia tak menyadarinya, aku menjadi tahu cara memanfaatkan kehadirannya. Aku dan Bianca bisa melangkah ke jenjang yang lebih baik jika membinasakan Marco Bie, jadi paman salah besar jika berpikir aku tak serius melakukan ini. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dan langsung di patahkan."
"Ingat, di Shanghai semua adalah musuhmu. Kau tidak boleh percaya dengan siapapun. Keluarga Bie Joseph sudah berambut segalanya darimu, kau tidak boleh lengah sama sekali. Seandainya mereka tidak meniru hasil dari penelitian perusahaan kita selama bertahun-tahun, mungkin Paman tidak akan semarah ini."
Alen Lim mengusap wajahnya, "maafkan aku paman, aku tidak bermaksud seperti itu! Aku akan mengenyampingkan segalanya agar misi kita berjalan lancar. Aku pernah merasa kacau, dan paman yang berada di sisiku saat itu. Aku akan mendengarkan apapun saran yang Paman berikan, aku yakin paman 100% mendukungku."
Paman Jies adalah adik kandung dari ayah Alen Lim, mereka bersama-sama mendirikan perusahaan hingga menjadi besar. Beberapa kali perusahaan mengalami kemunduran karena gejolak perekonomian dunia.
Meskipun keluarga besar Alen Lim sempat menjadi anggota dari 9 negara di Asia, tetap saja itu tak menjamin apapun saat mereka melakukan kerugian besar.
Perusahaan Lim di depak dari lingkungan bisnisnya karena hasil penelitian kelompok mereka di tiru oleh pihak lain yaitu perusahaan Bie Joseph. Luka itu pun bertambah parah ketika Ayah Alen Lim jatuh sakit dan ibunya meninggal dunia.
Alen Lim ditinggalkan oleh investor. Perusahaan keluarganya hancur seketika, dan di saat terberat sang paman yang membantunya untuk bangkit. Di sinilah titik balik bagi Alen Lim, dia tidak mungkin melawan paman yang sudah membantu dirinya selama ini.
Dan untuk dendam ini sepertinya memang tidak bisa lupakan dengan mudah. Alen Lim tidak bisa tenang mengatur hidupnya sebelum penderitaan keluarga yang pernah dia rasakan terbalas.
"Alen Lim, Aku tidak akan pernah melarangmu melakukan apapun lagi. Ini adalah yang terakhir kalinya aku memperingatkanmu, terserah kau ingin melakukan apa. Paman hanya bisa mengontrol dari jauh, jangan sampai seorang wanita malah menghancurkanmu."
Dia mengangguk, "Aku akan mengingat kata-kata paman. Aku bisa mengontrol perasaan ini, lagi pula belum waktunya aku mendapatkan seseorang. Suatu saat Bianca akan jadi milikku jika semua masalah ini telah selesai, aku akan mengabari paman secepatnya apa yang terjadi di perusahaan tersebut.”
Paman menghela, "kau akan segera aku jodohkan dengan anak salah satu pembisnis ulung yang melakoni berbagai macam start up. Aku lakukan ini hanya untuk meningkatkan keinginan investor untuk menggait kita. Setelah mengatakan hal tersebut Paman Jies langsung berdiri dari kursinya dan bersiap untuk meninggalkan Alen Lim. "Aku memiliki banyak pekerjaan, untuk hari ini cukup sampai disini."
“Paman, bagaimana kalau kita menemui Tuan Loise. Aku ingin meminta batuan padanya masalah ekspor bakau yang baru-baru ini mengalami kemacetan. Aku ingin patner yang tepat, hanya Paman yang bisa membantu diriku untuk menyambung mulut dengannya. Aku tahu Paman dan Tuan Loise berteman baik.”
Dia berbalik menatap keponakannya yang saat ini berharap. “Seberapa baik aku berteman dengannya tidak ada yang tahu, Alen Lim, kau tidak bisa menilai seseorang hanya dalam pandangan dirimu saja, Paman mengingatkan ini agar kau masuk dalam kewarasan yang sebenarnya.”
“Paman tak berteman baik dengannya?!”
Paman Jies menghela, “bukan tak berteman, tapi sudah tidak berteman lagi karena mereka hanya memanfaatkan kita. Aku tidak ingin salah kaprah dalam menghadapi hidup Alen, dan aku harap kau juga waspada. Tak ada pertemanan yang layak di saat kita mengalami kesulitan, aku sudah menjalaninya.”
Alen terdiam, dia kembali duduk di saat Paman Jies benar-benar keluar dari ruangan tersebut. Alen tahu jika Paman mengalami banyak kesakitan saat perusahaan runtuh. Alen Lim mengusap wajahnya berulang kali. “Aku tidak boleh gagal dalam misi ini, Bianca akan tetap menjadi milikku nantinya.”
Alen Lim kembali ke Apartemen, dia menatap pintu kamar Bianca yang kini berhadapan. Ada rasa kecewa dalam hati Alen Lim pada gadis itu, tapi dia tak boleh berbuat Misi perusahaan gagal. Alen Lim juga tidak ingin Bianca masuk ke dalam pusaran yang mematikan ini.
“Alen Lim, kamu baru kembali?!”
Dia terkejut saat melihat Bianca berada di ujung lorong. Mata pria itu fokus pada titik darah di pakaian Bianca, “apa yang terjadi padamu?” dia mendekat dan mencoba untuk menghapus sisa cairan merah yang ada di pakaiannya. “Bianca.” belum menjawab gadis itu sudah pingsan terlebih dahulu.
Alen Lim mencoba mencari kartu akses masuk ke dalam Apartemen Bianca, dia cukup tergopoh agar gadis itu bisa masuk ke dalam kamarnya. Alen benar-benar merasa sesak, dia bingung karena tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. “Alen..” panggil Bianca yang setengah sadar.
Dengan memegang kedua pipinya dia bertanya dengan suara agak gugup. “Kau tidak apa-apa?” dia bertanya sembari menggendong Bianca ke atas ranjang. “Aku sangat mengkhawatirkan kamu, Bianca.”
Karena tidak ingin Alen Lim tahu jika dirinya di kerjai oleh Noni dan kawam-kawan, Bianca pun menjawab. “Hm, aku kelelahan. Begitu banyak pekerjaan yang ada di perusahaan, belum lagi proyek baru kita banyak melibatkan Presdir.”
Wajah Alen langsung membeku, dia sedang menahan amarah yang kini kian memuncak. Rasanya dia mencabik-cabik wajah Marco Bie yang sudah membuat Bianca sampai mengeluarkan cairan merah.
Hari ini rasanya Bianca sial sekali, berulang kali dia mengecek berkas yang ada di meja karena merasa ganjal. Beberapa dokumen tidak ada di sana, walaupun tidak terlalu penting tapi kertas tersebut sudah dibubuhi tanda tangan Presdir.
Rasanya Bianca stres kali dan ingin mengacak-ngacak rambut karena terlalu kesal. Bibirnya bergerak seolah sedang mengomeli sesuatu. Bianca juga berulangkali menghela, pekerjaan yang kali ini sangat merepotkan. Walaupun presdir tidak mengatakan dirinya berhenti, tetap saja pekerjaan ini seolah sedang melakukan penyiksaan.
"Permisi Noni, apakah melihat berkas yang ada di atas meja ini?! Tuan Marco Bie 1 jam lalu menandatanganinya, aku hanya sebentar pergi ke toilet dan benda itu kini menghilang. Dokumen yang tidak terlalu penting tapi cukup menyulitkan Aku karena disana ada tandatangan presdir. Aku harus segera mengirimkan berkas ini kepada mitra perusahaan kita."
Noni dengan wajah kesal menjawab pertanyaan Bianca. "Hah, kau seperti orang yang baru selesai mati suri! Sulit sekali rasanya bekerjasama denganmu. Maaf Bianca, silakan kau cari sendiri karena aku tidak ingin berusaha dengan pekerjaan yang kau lakoni saat ini."
"Waw, kau sepertinya sangat kesal denganku!"
Dia mengibaskan tangannya, "di luar sana ada 3 sekretaris lagi selain aku, dan yang dipilih menjadi asisten pribadi adalah kau! Padahal tak ada basic sama sekali, entah apa yang kau berikan pada Presdir agar mendepatkan posisi ini."
Bianca terdiam, dia juga tak ingin posisi ini. Bagaimana pun juga dia terpaksa, tapi tak bisa mengatakannya pada siapapun. Bianca tidak ingin terkena masalah lain dan mengakibatkan dirinya di pecat untuk kedua kalinya. Ada beberapa hal yang membuat dirinya merasa pantas untuk di pecat, Bianca sadar tak selamanya dia berbuat semau dirinya. Dunia kerja sangat berbeda dengan rumah, tempat dia biasa bermain.
***
POV Bianca
Sekarang aku tahu kenapa Kakak ragu atas diriku yang ingin melihat dunia luar Karena merasa selalu tertekan. Dunia ini terlalu kejam, bahkan aku yang merasa sangat baik pada orang lain sekarang merasa sangat buruk. Aku merasa yang mereka katakan tentangku itu tidak benar, tapi sayang aku sama sekali tidak bisa menghentikan.
Kali ini aku berhadapan dengan para sekretaris yang merasa terebut posisinya. Aku merasa ini wajar tapi nyatanya tidak bagi mereka. Posisi yang aku pikir sangat sialan ini rupanya sangat bagus Dimata orang lain.
Lagi aku berakhir tidak memiliki siapapun sisiku, hatiku yang sombong seolah akan mendapatkan segalanya kini mulai runtuh. Aku menjawab sendiri semua pikiran yang terlintas di kepala, dan nyatanya menyadari sesuatu perbuatan itu sangat sakit.
Apalagi saat melihat mata-mata yang menantap dengan sinis, Aku merasa seperti pendosa barat yang tidak bisa diampuni. Padahal aku tak melakukan apapun yang melukai mereka menurutku, tapi tidak menurut mereka.
"Hey Bianca, apa yang membuatmu termenung sepagi ini. Aku dengar kau benar-benar kau dimusuhi, tapi itu tak masalah karena kau sama sekali tak menyakiti orang lain. Ini hanyalah sebuah persaingan pekerjaan, jadi jangan sampai tidak fokus karena hal sepele. Dulu aku juga pernah berada di posisi itu, kita memiliki power yang dilihat orang lain. Itu adalah jawaban kenapa kita berada di posisi ini."
***
Hiruk pikuk suasana perusahaan kelas atas membuat Bianca sedikit mual, hari ini rasanya sangat tidak baik, suhu tubuh Bianca cukup tinggi. Namun dia tetap memaksakan diri untuk pergi ke perusahaan. Di perusahaan sendiri terlihat beberapa orang bertubuh tinggi besar yang keluar masuk pintu utama. Bianca sama sekali tidak menghiraukannya, gadis itu tidak ingin ikut campur karena bukan pekerjaan miliknya. Tapi yang menarik di sini dia bertemu lagi dengan Nyonya Cantik bertubuh seksi, dia Sunsein. Entah kenapa Bianca langsung ingin menyapa dan berlari ke arahnya. Marco Bie yang berada di samping Sunsein terkejut dengan pola tingkah Bianca yang tidak biasa. Dia seperti ingin bermanja dengan wanita yang baru bertemu satu kali dengannya. "Nyonya, kenapa tidak bilang jika ingin ke perusahaan?! Saya bisa mengajak Nyonya pergi ke kantin, makanan di perusahaan ini cukup enak karena pemimpinan sangat memperhatikan karyawannya."
Sunsein tersenyum, dia seolah sedang de javu. Bibirnya mengulas senyum manis, Sunsein berkata. "Bagaimana kalau kita makan di ruangan presdir saja. Aku akan memasak sedikit makanan untuk untukmu," Bianca terkejut, lalu mengibaskan tangannya berulang kali. "Tidak, jangan seperti ini!"
Sunsein menarik Bianca, namun saat tangannya menyentuh tubuh gadis itu. Aura panas tubuh Bianca terasa begitu kental. "Kau demam Bianca!"
Marco Bie yang ada disana langsung menyentu kening Bianca. "Kenapa mesti datang ke kantor?! Ingin mendapatkan kompensasi dari keadaan ini?!"
Marco Bie cemas sekali, dia tahu perkataannya mungkin salah dan menyakiti hati Bianca, tapi dia memang tidak bermaksud seperti itu. Dia kesal karena Bianca memaksakan diri untuk pergi ke perusahaan dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Rasanya aneh sekali kecuali Bianca menginginkan perhatian dari dirinya.
Marco Bie mengusap wajahnya berulang kali, dia menatap wajah Bianca yang pucat. "Bianca, bangun!" Ucapnya pelan. "Kau ingin aku memperhatikan dirimu? Janga. Sungkan untuk mengatakannya, aku akan memberikan segalanya yang aku bisa." Dia percaya dengan penuh ketampanan luar biasa seolah yang di katakan dirinya itu adalah keinginan Bianca.
Samar-samar gadis yang kini terbaring di rumah sakit itu mendengar ucapan Marco Bie dan menjawab. "Anda terlalu percaya diri Tuan, dimana anda mendapatkan kepercayaan seperti itu?!! Saya ingin tertawa tapi tidak enak hati.” dia ingin memejamkan mata tapi masih ingin membantah perkataan sang Presdir. “Saya tidak memaksakan diri.”
"Oh Bianca, kau sudah bangun?!" Dia memeluknya sangat erat. "Aku khawatir sekali, kenapa pergi ke perusahaan di saat sakit." Dia mengusap wajahnya, “jangan banyak bicara kau juga tidak perlu menghindar, aku bisa mengerti jika kamu ingin melihat diriku terus Bianca. Maaf kalau beberapa hari ini aku sangat sibuk hingga tak sempat menyapa!” dia berkata sedih, tapi wajahnya sangat kaku.
Bianca ingin murka atas kepercayaan diri pria di hadapannya. "Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur ini dan memukul kepala anda. Saya benar-benar tidak bisa Tuan." Dia menghela, “saya tidak ingin memaksakan diri untuk hal yang tidak penting, jadi jangan katakan apapun. Anda tidak perlu salah paham untuk saya.”
Marco Bie yang bingung mengerjapkan matanya, "kenapa ingin memukul?! Aku menjagamu sejak kemarin dak dengan tega kau bersiap untuk membaku hantam kepalaku."
Bianca berusaha sabar, dia mengurut dadanya yang kini mulai kesal. "Presdir, saya datang bekerja bukan untuk mencari perhatian anda."
Sudah dua hari Bianca berada di rumah Tuan Marco Bie, dia ingin pulang tapi tidak enak karena pria itu menentang dan melawan dirinya habis-habisan. Karena tidak ingin bertengkar dan di pecat Bianca pun hanya bisa pasrah menerima keadaan.
Setiap pagi Marco Bie aja datang dengan sarapannya, entah Bianca yang kurang perasaan, ataukah Marco Bie yang kurang memiliki ekspresi. Tak ada terlihat jalinan komunikasi atau perasaan yang bagus di saat-saat seperti ini. Padahal seharusnya mereka sudah saling ber empati, bagaimana bisa berada dalam suatu ruangan dan tempat yang sama, tapi tidak memiliki pembicaraan yang intens.
Seperti saat ini, setelah meletakkan sarapan pagi. Marco Bie bersiap menyuapi Bianca, setelah itu dia duduk di sofa dekat ranjang dengan korannya. Sedangkan Bianca yang merasa tertekan tak bisa bernapas sama sekali.
Dia terus melirik Presdir yang terlihat fokus, dia tak menatap ke arah manapun kecuali korannya. "Tuan Marco Bie, saya ingin pulang." Dia tidak merespon sama sekali. "Tuan Marco Bie, anda pasti mendengar perkataan saya. Kenapa anda menjadi keras kepala seperti ini?! Saya sudah pulih dan bisa bekerja lagi."