Untuk masalah percintaan sebenarnya Eczo tak ingin mengatakan bahwa dirinya buaya, tapi pria ini cukup banyak menggantungkan perasaan dan hati seorang wanita. Contohnya saat ini dia tahu jika hatinya tak memiliki perasaan sama sekali pada Senorita, tapi dia sangat senang berada di sisi gadis itu karena dia tahu bahwa cinta Senorita padanya tidak akan mudah hilang.
Di tambah dia sudah mengetahui jika Bianca dan Senorita sudah mengerjai dirinya. Gadis itu melepaskan hal yang paling indah bagi semua wanita hanya untuk mengerjai dirinya saja. Benar-benar aneh dan tidak masuk akal. "Ayo kita pergi, sudah di tunggu tuh.” perintah Senorita sambil tersenyum melihat Eczo.
Eczo mengikuti mobil Kimza. "Hebat nih Senorita!” dalam benak Eczo yang mengira kalau Senorita menggantungkan hasratnya. “Dia gadis nakal yang manis!” gumamnya lagi. Eczo menahan dan menggelengkan kepala tidak tahan kalau miliknya memberontak. “Ide apa yang ada di otak Senorita?! jika bukan karena kau anak paman, mungkin sudah aku lucuti saat ini juga!” gumamnya dalam hati.
“Hahaha…” tawa Senorita yang menggelegar membuat konsentrasi Eczo buyar seketika dan mobil pun melambat. “Aduh lucu sekali hari ini.”
Keningnya mengerut. " Kenapa?!” dengan nada keras karena terkejut.
Dia berusaha menahan senyum. "Lucu saja!” jawab Senorita masih dengan tawanya.
Eczo dengan nada kesal melihat tawa Senorita pun langsung berkata dengan sinis, “kau terlihat aneh jika seperti itu! Jangan lakukan lagi, bersikap biasa saja karena kau seolah sedang mengolokku.”
Senorita menggosok d**a Eczo. “sabar ya! nanti di ulang yang lebih panas lagi, kakak terlalu terburu-buru dan itu membuatku kebingungan. Santai saja karena aku tidak mungkin pergi jauh darimu, kak!" suara lembut di telinga Eczo.
Eczo mendengar sinyal gairah dari Senorita, perhatian Eczo pada bibir basah Senorita yang menyampaikan sinyal tadi membuat gairah Eczo yang belum terselesaikan membangkitkan milik Eczo dari tidurnya. “Akh, nakal sekali.” geram kesal Eczo dalam hati.
Senorita dengan santainya menari dalam lantunan musik dalam mobil yang mereka kendarai. Melihat goyangan centilnya kepala Eczo menjadi pusing menahan gairahnya sendiri. "Mungkin Senorita sengaja memancingku, kalau tidak dalam keadaan terjepit selesai kamu Senorita!tak kasih kendor baru tau rasa”. gumam Eczo super kesal.
Bagaimana tidak, dia memang sengaja memberitahukan apa yang terjadi malam itu agar gairah Eczo menggila dan miliknya mengeras seperti batu. Logikanya saja, jika perempuan lain mungkin akan malu saat mengatakan terang-terangan, tapi tidak dengan Senorita karena dia sangat menginginkan Eczo menjadi suaminya. Eczo tetap diam walaupun dalam hatinya berkata agar Senorita lebih penasaran. Dia merasa sinyal yang di berikan tadi tidak berpengaruh terhadap Eczo. “Apa Kakak tidak tergoda?! padahal kau sudah berusaha se nakal mungkin di hadapan kakak, “aku jamin ketika menikah denganku kakak tidak akan pernah menyesal! Aku sangat cakap dalam hal memuaskan di ranjang, aku juga pandai membuat kakak b*******h, kakak tidak akan pernah bisa melupakan setiap sentuhan yang aku berikan.” dia sangat percaya diri, walaupun dia masih muda tapi terlihat sangat pandai. “Aku banyak belajar dari film-film bokep!” kekehnya geli, “aku melakukan itu hanya untuk kakak.”
Kini giliran Eczo yang terkekeh geli dengan pertanyaan itu, jelas saja dia tergoda apalagi Senorita sangat jelas menggoda dirinya. Untuk apa Eczo membuang waktu jika tak ada hasilnya. “Aku laki-laki Senorita!”
Dia sedikit cemberut karena kekehan Eczo seperti mengejek dirinya. “Tapi kakak tak bilang aku cantik di saat semua pria bilang begitu.”
Eczo menghela, “mereka hanya memanfaatkan dirimu saja! Kau itu memang tidak cantik, jadi jangan sampai terpengaruh oleh mereka, ingat itu!”
“Benarkah? Tapi aku tidak termakan dengan apa yang mereka katakan. Aku hanya termakan oleh pria yang mengatakan Jangan pergi!” Senorita lagi-lagi menggoda Eczo. “Bukannya hanya kakak yang seperti itu? Wajah kakak lucu sekali saat menghindar dari kalimat yang aku lontarkan.”
Eczo kesal sekali, dia ingin menelanjangi tubuh Senorita yang nakal ini. “Sampai kapan kau akan menggodaku seperti itu, hah?!”
Dia terkekeh, “sampai kakak mau menikah denganku. Toh itu adalah salah satu syarat jika kakak ingin Bianca menikah, bukan? Aku benar-benar tidak ingin melihat kakak menikah dengan wanita lain. Jangan bermimpi kak, aku akan mencabik semua wanita yang mendekati dirimu. Aku tidak akan pernah tinggal diam, kakak adalah orang yang wajib menjadi pasanganku!”
Eczo mengusap wajah Senorita. “Sudahlah, kau mengganggu sekali, sekarang lebih baik diam! Atau akan akan memaksamu melakukannya denganku.”
Senorita tersenyum malu, “aku mau!”
Dia terkejut mendengarnya, “kau benar-benar nakal, Senorita!” teriak Eczo terkekeh. “Kau harus menjaga dirimu, jangan sampai ada orang yang berani melecehkan dirimu. Aku tidak ingin hal itu terjadi Senorita, apa kau tak percaya dengan kesungguhan hatiku?!”
“Kakak membicarakan diri sendiri? Hanya kakak yang suka melecehkan aku, jadi pukul saja diri sendiri. Kenapa harus menunggu pria lain melakukannya? Ini lucu sekali.”
“Aku berbeda Senorita, kau tidak akan mengerti dengan apa yang aku lakukan. Lagipula kau sudah aku anggap seperti adik sendiri?!”
Senorita menggeleng, “saat kakak menyentuhku? Aku juga tak ingin jadi adik, aku ingin menjadi istrimu, apa kau tidak paham kak?!” dia geram sekali, ingin rasanya mencongkel mata Eczp yang bodoh ini. “Aku tidak berharap banyak, toh keluargaku cukup kaya. Kakak hanya perlu menikah denganku, kita punya anak yang banyak, jalan-jalan keluar negeri dan hidup bahagia selamanya, apa itu terdengar menyenangkan?!”
Eczo menghela, “aku tidak ingin terikat pada siapapun, dan gadis manapun. Aku harap kau bisa mengerti, jika kau merasa merugi lebih baik jauh dariku.” dia berkata dengan penuh beban.
Panasnya pagi menyengat karena sang Bibi sudah membuka jendela kamar Senorita yang di kelilingi kaca besar. Dia sangat lelah setelah seharian mengikuti langkah Eczo, mereka pergi kebanyak acara dan Senorita senang karena merasa sebagai pasangan pria itu.
“Bi, terimakasih karena sudah membuka jendela. Setidaknya aku tak perlu berjemur di luar.” dia terkekeh sebelum melanjutkan kalimatnya. “Apa sarapan pagi ini?! aku ingin bubur ayam, Bi!”
“Tidak bisa Nona, jadwal anda hari ini harus penuh dengan protein tinggi. Bibi sudah menyiapkan segalanya untuk Nona, jangan sampai tidak makan. Nona tahu sendiri apa yang akan Bibi lakukan kalau makanan ini tidak habis.”
“Ya, Bibi akan memakannya karena sayang dan aku tidak suka itu. Bibi sudah aku anggap seperti orang tua sendiri, dan bekas makananku adalah sampah, aku tidak ingin Bibi makan sampah.” dia bicara dengan sangat lancar hingga Bibi yang ada di sana terkekeh, “aku tidak ingin minum obat hari ini.” tambahnya berceloteh.
Bibi yang mendengar itu kembali tersenyum, “memangnya boleh seperti itu? Nanti sesak napas terus nangis. Bibi tidak bisa menolong dan selama dokter di perjalanan Nona akan sangat kesakitan.”
Mata Senorita melirik ke arah Bibi pengasuhnya. “Pengancaman!” ucapnya kesal. “Ayo duduk sini, Bi!” dia menepuk kasur yang masih berantakan, lalu tidur di pangkuan sang Bibi. “Bagaimana kalau aku ikut Bibi saja ke kampung? Ayah dan Ibu juga sibuk di luar Negeri, aku ingin berlibur dan menikmati indahnya kota kelahiran Bibi.”
Bibi mengusap rambut Senorita, “tidak terasa sudah 15 tahun ya Non, saya bertemu Nona saat berumur 5 tahun. Rasanya baru kemarin kita berkenalan, waktu terasa sangat singkat. Tapi semua ini pasti sangat berat untuk anak-anak Bibi yang ada di kampung, jadi Bibi harus pulang Nona.”
Senorita setuju, “bolehkan aku datang ke Bali untuk bertemu mereka? Pasti sangat menyenangkan saat bertemu mereka! Bibi sudah punya rumah yang mewah, pasti nyaman untuk aku tinggali.”
Bibi tersipu malu, “rumah itu juga hadiah dari keluarga Nona, tentu saja akan terbuka untuk Nona dan keluarga. Kami akan siap melayani Nona di sana, jadi kabari saja jika ada waktu untuk menemui Bibi.”
“Satu bulan lagi ya Bi…”
Bibi meneteskan air mata, dia sudah menganggap Senorita seperti anak sendiri. Di kampung semua anaknya laki-laki, dan Senorita juga sangat manja padanya. Rasanya sangat berat jika harus pulang kampung, dan meninggalkan Nona muda ini di rumah sebesar Istana tanpa dirinya. “Iya Nona, satu bulan lagi!”
Mereka saling berbincang, dan tak lama ponsel Senorita kembali berbunyi. Dia langsung mengangkatnya karena ada nama Eczo di sana. “Kak…”
Bibi yang melihat itu memilih permisi dari kamar sang Nona, “Bibi keluar ya Non.” Senorita mengangguk, dan memainkan matanya tanda setuju. “Jangan lupa minum obatnya atau Bibi tak izinkan Nona keluar rumah hari ini.”
Dia mengangguk, dan memejamkan matanya. Senorita tidak ingin siapapun mengetahui penyakit bawaannya ini. “Kak, maaf tadi sedang bicara dengan Bibi. Kakak mengajakku pergi ke acara Reuni?!”
“Apa kau bisa? Aku tidak memiliki pasangan dan hanya dirimu yang terpintas. Jika setuju aku akan menjemput dirimu pukul 7 malam.” Karena sangat senang dia pun setuju.
Sampai di lokasi Senorita mulai kesal dengan Eczo yang tidak mengapikkan dirinya, padahal pria itu yang menghubungi Senorita dan mengajak untuk pergi ke sebuah reuni. Tak sangka Eczo malah mengobrol dengan kumpulannya tanpa peduli dengan gadis yang berpenampilan super seksi ini. Dia menggunakan gaun silver dengan motif sederhana, menyatu dengan tubuhnya hingga membentuk dengan indah. Senorita ingin terlihat dewasa, walaupun umurnya kini masih 20 tahun tetap saja dia adalah lulusan terbaik di universitas ternama Amerika dengan nilai sangat memuaskan. Pola pikir Senorita sebenarnya sangat dewasa, tapi karena dia memiliki sifat manja maka terlihat masih seperti anak-anak. Senorita adalah anak tunggal dari keluarga kaya raya nomor lima di Berlin.
Kini dia merasa sendiri, hatinya sedih walaupun senyum ramahnya selalu di tampilkan untuk menyapa. Matanya menatap ke arah Eczo yang masih tertawa lepas dengan para sahabat, karena tidak ingin menjadi sampah Senorita pun berusaha untuk menyingkir.
Di meja yang cukup jauh dari Eczo, gadis ini mencoba menggali perasaannya sendiri. Senorita meremas jari-jarinya, untuk pertama kali dia merasa lelah menghadapi Eczo. Cinta yang dia inginkan, yang dia idamkan hanya sebuah mimpi yang berujung. Mungkin selamanya perasaan ini akan bertepuk sebelah tangan, dan Senorita tidak ingin masa mudanya habis untuk menjadi Bie Josephggok sampah.
Senyum tipis kini bertandang di bibirnya, sebuah tanda yang hanya Senorita yang tahu. Dia kalah, mungkin malam ini adalah akhir dari perjuangan cintanya. 10 tahun lebih dia mencintai pria yang tak akan pernah melirik dirinya. Walaupun Senorita sudah mengikuti gairah, gejolak, bahkan meladeni kegilaan tubuhnya.
“Oh Eczo, selamat tinggal!”
Seperti tidak ada beban Senorita mengulas senyum, langkah kakinya berjalan tanpa beban. Dia yakin hidupnya lebih berharga dari pada saat ini. Senorita tidak menyesal telah menyerahkan segalanya pada Eczo walaupun pria tersebut tidak mengetahuinya.
“Rasanya sangat lega, hatiku sedikit tenang setelah melepaskan dirinya. 10 tahun berlalu, tapi cinta ini tak memiliki kesan sedikit pun padanya. Aku pikir ini adalah hal yang paling membuat lega dalam beberapa tahun ini.” Senorita membuka jendela mobil, dia menghirup udara segar dengan seulas senyum. “Selamat tinggal Eczo!”
Sejak tadi sang sopir memperhatikan Senorita. “Nona malam ini sangat dingin, anda bisa sakit jika seperti itu.”
Dia tersenyum, karena malam yang menyedihkan ini seorang sopir malah lebih mengkhawatirkan dirinya. “Anda perhatian sekali, Tuan!”
Sopir panggilan itu tersenyum lebar, “anda sedang patah hati? Apa ingin melihat sesuatu yang bisa membuat jiwa anda tenang?”
Senorita menggeleng, “saya tidak ingin melihat sesuatu yang indah ataupun melupakan sakit ini. Semua saya lakukan agar tak kembali ke masalalu.”
“Anda bijak sekali Nona, kadang hanya rasa sakit yang bisa membatasi diri kita dari sesuatu yang menyiksa. Saya yakin anda sangat menderita malam ini, jadi silahkan istirahat karena tujuan kita cukup jauh.”
Senorita tidak menjawab, dia memejamkan matanya bukan karena ingin tidur tapi karena rasa lelah yang membumbung tinggi. Namun tak lama ponselnya bergetar, tapi dia tak peduli sama sekali. Senorita memilih memejamkan matanya. “Nona, apa anda tidak ingin mengangkat panggilan itu?!”
“Biarkan saja, aku sedang tidak ingin bermain dan bercanda dengan siapapun. Ada waktunya kita untuk sendiri, bukankah begitu? Saya ingin istirahat dan katakan saja jika kita sudah sampai
Alen Lim tak bisa mengendalikan dirinya karena terlalu kesal menghadapi lawan bicaranya saat ini. Walaupun terkadang dia pikir segalanya tidak akan mudah, tetap saja masih banyak yang merasa pekerjaan Alen sekarang sangat sepele.
Suara geprakan tak membuat orang di hadapannya takut, "Paman pikir semudah itu berhadapan dengannya? Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi memasuki perusahaan tidak semudah yang kau pikirkan. Sistem yang mereka gunakan sangat canggih, aku sudah berulang kali berusaha untuk menyusup."
Pria bertubuh tegap, dan berumur sekitar 50 tahun yang ada di hadapan Alen Lim memutar gelasnya. "Begitu ya?! Berdasarkan laporan yang aku terima, kau sedang asik-asiknya memadu kasih." Dia memajukan wajahnya, lalu dengan sedikit berbisik berkata. "Aku rasa kau sedang ingin bersenang-senang, namun jangan melupakan pekerjaanmu! Aku bisa menghabisi siapa saja yang mengganggu proses ini. Kau pikir perusahaan yang kita miliki bisa berkembang jika mereka masih ada?! Perusahaan milik Marco Bie suda membuat jalurnya sendiri dan itu membunuh kita."