Bab 10. Cleo Im

2094 Kata
Percintaannya sama sekali tidak mulus. Kimza menatap Lauren lamat. “Jangan-jangan kamu tidak menyadari juga saat aku keluar pergi rapat dengan Staf!” Lauren mendongak, “Apa?” Kimza mengusap kepala Lauren, sedikit mendekat pada wanita yang berada dalam kebingungan itu. “Sudahlah, tidak apa! Aku tahu kamu terlalu fokus!” ucap Kimza yang semakin membuat Lauren tidak enak hati. Lauren dan Kimza akhirnya berjalan keluar dari ruangan mereka. Pintu lift terbuka. “Rabbit Corp meminta untuk di undur karena kita di bawah mereka, dalam arti kita yang memerlukan mereka, jadi lebih baik untuk menurut saja.” “Lalu dengan Yellow Group?” “Untuk mereka kita yang menekan untuk mengikuti,” Lauren mengangguk mengerti. Dalam perjalanan mereka berdua membeli makanan cepat saji. Kimza sengaja tidak menggunakan jasa sopir karena ingin berduaan dengan Lauren. Jika ada sopir, maka dia tidak akan bebas. “Ini hari pertama kita,” Lauren samar-samar mendengar tapi tidak yakin. “Apa dia menggodaku?” Lauren menggelengkan kepalanya. Kimza mengeryitkan keningnya sambil tersenyum. Dia sengaja mengeluarkan kalimat ambigu agar Lauren tersipu seperti ini. “Kita bisa sakit kalau terus begini Lauren. Melewati jam makan siang bukan lah yang baik.” Oh karena hal itu, “Maaf,” jawab Lauren menunduk. “Tidak apa, Lagi-lagi Kimza mengusap rambut Lauren. Masuk dalam basement perusahaan Rabbit Corp, Lauren dan Kimza akhirnya membagi waktu karena mereka terkena perjalanan padat jadi tidak akan cukup bila melakukannya bersama. Kimza mengatakan dia akan mengurus Rabbit Corp group sedangkan Lauren mengambil tanda tangan pimpinan Yellow Group. Tanpa banyak pembicaraan, mereka berdua terpisah arah. Dari jauh Emelie yang merupakan pimpinan Yellow Group tidak sengaja melihat Lauren yang berlari ke arah ruangannya. “Oh, jadi kamu sekarang asisten Tuan Kimza, Lauren,” Emelie menatap sambil menyunggikan senyumnya, dia siap mengerjai wanita ini. Dengan sengaja Emelie mempertontonkan dirinya dan kekasih Lauren yang bernama Andreas saat bercinta. Tubuh Lauren lunglai, kakinya melemas. Melihat itu Andreas langsung dengan cepat ingin membantunya. Tapi dengan cepat pula Emelie menahan tangan Andreas dan menunjuk miliknya yang kini masih dalam keadaan kacau. “Kamu tunggu di ruangan saya,” perintah Emelie pada Lauren dengan senyum kemenangan. Lauren mengangguk, dia harus profesional. Dia tidak bisa kacau di saat seperti ini. Tuan Kimza tidak boleh mengetahuinya, ini tidak baik. Lauren berjalan gontai, tapi dia berusaha tetap tenang, “Lauren,” Oh itu suara Tuan Kimza, hati Lauren menjadi tenang. “Aku tidak enak badan, mungkin karena telat makan.” “Tidak apa-apa! Hal ini biar aku yang urus,” “Aku bisa, tunggu sebentar,” jawab Lauren yang melihat Emelie sudah masuk ke dalam ruangannya. Lauren menatap Tuan Kimza. “Temani aku meminta ini,” Lauren ingin menyerah. Huft, “Baiklah, santai saja,” ucap Tuan Kimza yang tidak tahu apa yang terjadi. Di dalam ruangannya, Andreas kacau! Dia masih mondar-mandir tidak jelas karena rasa terkejutnya. Kenapa kamu di sini Lauren? Aku sial sekali, Andreas meracau tidak jelas saat ini. Rambut Andreas sudah acak-acakan, belum lagi pakaiannya yang nampak kumuh saat tersemprot air tadi. Apa yang harus aku lakukan, Lauren sudah mengetahuinya, bagaimana ini! apa aku harus menemuinya dan meminta maaf? apa dia akan memaafkannya? Andreas tidak bisa berpikir jernih saat ini karena hatinya menggila. Di Ruangan. Tuan Kimza mencoba fokus pada apa yang Emelie sampaikan. “Anda dan Saya sudah saling kenal, bukan!” Tuan Kimza mengangguk. "Semua berkas untuk rapat di pill sudah beres, kan?" Tanya Tuan Kimza pada Emelie. "Ya, tentu saja! Kita tidak harus memikirkan ini karena semua sub bekerja dengan baik." Tuan Kimza hanya tersenyum singkat karena rasa tidak nyaman. Kemudian Emelie memanggil seseorang. Andreas yang sudah rapi, masuk ke dalam ruangan. Lauren menunduk, tidak ingin menatap Andreas yang kini menatapnya lamat. “Ini Asisten pribadi saya, namanya Andreas.” Tuan Kimza yang mendengar itu mengangkat kepalanya, “Selama sore, Tuan!” sapa Andreas pada Tuan Kimza. Pria yang berstatus pimpinan Perusahaan itu langsung mengangguk, mencoba bersikap profesional. Padahal hatinya sedang penuh tanda tanya. Tuan Kimza bukan pria bodoh, Lauren tidak mungkin bergetar seperti saat ini jika tidak terjadi apa-apa. Belum lagi Lauren yang terus membuang wajahnya, tidak ingin menatap Andreas. Apa yang terjadi? Tuan Kimza mencoba kembali berpikir. Emelie berdiri mengambil berkas yang sudah di siapkan. Walaupun dia yang seharusnya menemui Perusahaan Alex Company, tapi karena Perusahaannya di bawah naungan Rabbit Crop. Tidak sedikit keuntungan yang Emelie dapatkan, salah satunya saat seperti ini. Tuan Kimza menyunggingkan senyumnya, sekarang dia mengerti dari mana wangi yang tidak asyik itu datang. Bercak gumpalan masih tercap di rok span milik Emelie yang bermotif abu-abu tulip. Andreas yang melihat arah pandang Tuan Kimza, langsung menutupnya dengan berdiri di hadapan Tuan Kimza. Dia berdiri, lalu dia berbisik pada Andreas. “DIA sangat menggangguku! Jadi aku harap kamu antarkan berkas itu pagi besok sebelum jam sepuluh pagi. Aku bukanlah orang yang sabar menunggu.” bisik Tuan Kimza yang kemudian menarik tangan Lauren yang masih bergetar. “Maaf, anda mau kemana?” Tanya Emelie yang baru saja selesai mengumpulkan berkasnya. Tuan Kimza tidak menjawab, karena di lebih memilih berlalu pergi dari hadapan kedua sijoli itu. Di belakang Tuan Kimza, Andreas berusaha menahan Emelie yang ingin mengejar mereka. Bagaimana pun Emelie tidak pernah bersikap tidak profesional pada bisnisnya. Ini adalah hal pertama yang membuatnya merasa di acuhkan. Tuan Kimza berjalan dengan cepat, tidak menghiraukan Emelie yang terus memanggilnya. Sedangkan Lauren masih dalam pemikirannya. Wanita itu yang ia temui dua kali, baik di Restoran maupun paviliun Andreas. Bisa-bisanya mereka berdua melakukan itu di saat Andreas dan dia dalam posisi sadar. Napas Lauren terasa tercekat. Bohong jika dia mengatakan baik-baik saja! Tidak mungkin juga dia mengatakan tidak patah hati. Sedikit banyak, walaupun cintanya pada Andreas tidak sebesar pada Tuan Kimza. Tetap saja, mereka sudah punya satu tujuan. Rasanya setiap lembaran kini sudah terbuka lebar. Bagaimana mungkin, seseorang yang hanya memiliki pendidikan Sarjana, bekerja dengan kurun waktu delapan tahun. Bisa membeli paviliun mewah di tengah kota dengan harga milyaran. Membeli mobil yang nilainya hampir sama dengan lima mobil seribu umat. Lauren tidak tahu harus bagaimana, dia hanya berusaha untuk tidak berhenti bernapas. Sesekali dia mendongak menahan sesak di dadanya. Lauren tidak sadar, bahwa Tuan Kimza telah menggiring dirinya masuk ke dalam mobil, memasang seat belt, merebahkan sedikit sandaran kursinya. Lauren memejamkan matanya, Saat dia masuk. Andreas dan Emelie masih dalam posisinya. miliknya Andreas belum terlepas dari milik Emelie. Wajah itu, tampak sangat menikmati. Andreas, apa yang kamu lakukan sebenarnya. Lalu apa hubungan kita berakhir? Apa aku harus mendengar penjelasan yang jelas akan membuatku sakit hati. Suara Klakson mobil Tuan Kimza menyadarkan dirinya. Lauren mengerjapkan matanya menatap sekeliling. “Berbaringlah seperti tadi,” pinta Tuan Kimza padanya. Setelah selesai makan Kimza dan Lauren sampai di Perusahaan, Lauren langsung menyiapkan makanan kecil dan s**u hangat kesukaan Tuan Kimza. Pria itu tersenyum menatap sang pujaan hati. “Aku keren, kan?” Tanya Tuan Kimza di telinga Lauren. Lalu pria itu mundur beberapa langkah agar Lauren dapat dengan jelas melihatnya. Lauren menelan saliva sebelum beranjak ke meja. “Lauren kamu mau kemana? Aku keren, kan?” Lauren tidak menjawab, dia langsung duduk di kursinya. Mengambil Ipad dan menunjukannya pada Tuan Kimza. “Jadi ini jadwal anda hari ini, Tuan!” Tuan Kimza menggigit bibirnya sambil menerima kertas itu. “Oke!” Tidak lama panggilan pun berbunyi. “Tuan, ada panggilan dari Tuan Eczo!” ucapnya. Kimza memberikan telinganya agar Lauren tetap memegang panggilan itu. “Hallo, selamat pagi, Eczo!” “Bacot!” jawab Eczo yang ternyata berada di seberang panggilan. “Hahahaa, Sudah masuk kamu?” “Bosnya masuk, masak aku libur,” jawab Eczo. “Jadi aku ulang ya! Selamat pagi Tuan Kimza, kami dari A- Company akan menanyakan jadwal kosong Tuan!” “Hm, buat ke Club malam atau menyaksikan film liar?” cicit Kimza yang membuat Lauren jengah. Beginilah kalau saudara menjadi mitra Perusahaan. Mereka akan sanggup berjam-jam dalam panggilan hanya untuk menggosipkan Perusahaan lain. Seperti sekarang, ini sudah hampir satu jam Lauren memegangi panggilan ini. Lauren memutar bola matanya jengah saat Tuan Kimza terbahak-bahak dalam panggilan itu. Saat Lauren lengah tiba-tiba Tuan Kimza menarik tangannya untuk duduk di pangkuan pria itu. Huft, Lauren mendongak sambil menarik napasnya. “Pegang sendiri,” rutuk Lauren yang berdiri dari pangkuan Tuan Kimza. Kimza menarik tangan Lauren sebelum wanitanya itu berlalu, kemudian Tuan Kimza mengecup tangan Lauren yang memegang panggilan tadi singkat. “Maaf,” bisik Tuan Kimza. Lauren tersipu, dia berusaha hanya tersenyum saja menutupi gugupnya. “Lauren, apa jadwalku selanjutnya?” “Rapat dengan direksi, Tuan!” Di ruang rapat Tuan Kimza menatap penuh pada layar yang di jelaskan oleh bagian kelompok perencanaan. Kurva yang di tunjukkan cukup stabil, sehingga dia tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup dengan mengikuti alur yang sudah ada, berhubung dia masih dalam status baru. “Jadi bagaimana menurut Tuan?” Tanya Kepala Bagian perencanaan. “Saya oke, hanya saja ada beberapa sub dari naungan Nyonya Verli! Coba di perhatikan lagi.” ucap Tuan Kimza tanpa ada maksud apapun. Semua orang mengangguk setuju, tapi Ibu Nyonya Verli yang ada di sana ingin sekali menghampiri Kimza dan mencakarnya habis-habisan. Baru pertama kali orang memprotes apa yang dia buat. Walaupun mereka tahu banyak hal yang tidak sesuai dengan yang Nyonya Verli buat. Tapi tetap saja mereka tetap diam saja. Menjadi pemimpin Perusahaan keluarga di bawah Rabbit Company tetap saja membuat Nyonya Verli tampak istimewa di bandingkan yang lain. Selain Nyonya Verli punya visual yang bagus, Nyonya Verli juga pintar. Tidak jarang sebuah tender besar jatuh ke tangannya. Jadi siapa yang akan mengganggunya. “Bisa-bisanya pemimpin baru alias mantan kekasihmu itu melakukan ini padamu!” seru salah satu anggota direksi yang lain menggoda Nyonya Verli. Nyonya Verli menggigit ujung kukunya kesal, sebuah senyum nakal terbit lagi di bibirnya. “Jadi apa kamu akan pergi bermain?” Tanya Lauren pada Tuan Kimza yang terus mengusap tengkuknya. “Entahlah, aku sungguh tidak enak badan.” Jawab Kimza. Lauren mengangguk mendengar percakapan itu, dia berusaha bersikap profesional dengan lebih memperhatikan Tuan Kimza yang sekarang menjadi atasannya. Di tempat lain ada Eczo yang masih dalam keadaan kacau. Suara pintu terbuka sama sekali tidak mengganggu tidur dirinya. Seorang wanita mulai memanjat naik ke kasurnya saat merasa pintu kamar tersebut sudah terkunci. Perlahan dia membuka selimut pria itu, dia menatap miliknya Eczo. “Kamu harus tahu sayang, tanpa di suruh Bianca! Aku juga rela melakukan ini padamu. Aku akan menyiksamu dengan semua kenikmatan setiap malam, hingga kamu akan datang ke rapat perusahaan dengan kacau!" Cairan penambah gairah yang di masukkan wanita ini pada Eczo akan membuat seseorang seperti bermimpi dalam gairahnya. Wanita itu mulai menunduk, menggigit setiap jari kaki Eczo. Pria itu tampak beraksi, tubuhnya meliuk geli, sang wanita mulai tersenyum lagi! Bibirnya kini mulai melumat lembut setiap sudut tubuh Eczo. Dia mengingat pesan perintahnya untuk membuat pria di hadapannya penuh kantung mata. "Hmm," Keesokan paginya semua terlihat normal, Senorita yang selama ini cintaya bertepuk sebelah tangan merasa cukup puas. “Ayo, kak! Kita sudah terlambat,” panggil Senorita yang sudah rapi di lantai bawah. Ya, walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan mereka tetap sepupu, dan Bianca sangat paham betapa Senorita menginginkan sang kakak. Eczo pun berjalan dengan cepat. “Aku lapar, aku sarapan sebentar ya,” Dia menggeleng sambil menunjukkan tempat makanan yang dia pegang. “Hari ini kita akan di antar sopir, jadi kakak bisa makan di belakang.” Eczo mengangguk pasrah, karena ini hari kedua dia masuk ruang bisnis. Eczo tidak ingin menjadi orang yang terlambat. Senorita dan Eczo bergegas masuk ke dalam mobil, di dalam mobil seperti biasa Senorita menjalankan aktifitasnya. Dia memasangkan dasi Eczo, dia sangat handal karena sudah belajar tadi malam berkali-kali karena pria itu tidak kunjung datang. Eczo sendiri menyantap sarapannya seperti anak kecil. “Jangan buru-buru, nanti kamu tersedak, kak!” ucap Senorita. Dia tidak menjawab karena mulutnya penuh dengan nasi goreng yang Senorita buat. Dia kemudian, mengeluarkan sisir, serta pomade. Dengan cekatan dia mengatur rambut Eczo. Dia pun berhenti mengunyah saat jantungnya kembali tidak beres. “Ayo di makan, jangan melamun,” suara Senorita membuat Eczo kembali fokus. Dia ingin bicara, tapi sedikit ragu. “Tadi malam aku ketiduran,” lirihnya. “Tidak apa-apa! Aku masih bisa mengatasinya dengan belajar menggunakan dasi untukmu, kak!” Senorita sangat takut akan petir, gadis yang di selama ini tinggal di rumah keluarga besar Eczo pun biasanya di temani oleh Bianca. “Jadi, bagaimana kalau aku tebus malam ini?” Senorita tidak menjawab, dia cukup lama terdiam lalu berkata. “Tidak, aku tidak butuh kakak lagi!” Eczo mendengar ada sesuatu yang patah dalam dirinya. Aku akan mencari tempat yang lebih dekat ke perusahaan, aku tidak ingin terlambat. Semoga Tuhan benar-benar mendengar doaku. Aku tidak ingin menikah muda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN