Bab 9. Calon Istri

2035 Kata
Nickwa langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia begitu lelah, dan tak ingin bertengkar dengan siapapun saat ini. “Darimana saja? Kenapa baru pulang?" Nickwa tak menjawab, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. "Aku lelah, tolong lepaskan." Nickwa bersikap dingin saat Sunsein dengan keras kepala menahan tangannya. "Kita tidak bisa lagi seperti ini, aku sungguh jatuh cinta padamu. Bahkan hari ini aku menolak untuk melakukan seks walaupun di bayar dengan 1 apartemen di kawasan elit. Tapi kau tahu sendiri, Nickwa! Aku seorang maniak, jadi apa bisa aku melakukannya denganmu?!" Nickwa melangkah mundur, bagaimana bisa seorang gadis muda berkata dengan selugas itu tanpa malu sedikit pun. Dia memicingkan matanya, "Apa kau tak malu mengatakan hal seperti itu padaku? Kita tidak akrab jadi jangan mencoba untuk mengharapkan lebih yang aku pikirkan." "Nickwa... Please! Kepala ini mau pecah dan aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Tolonglah aku, jangan bersikap dingin seperti ini. Kita sama-sama tahu kalau kau pria yang bisa melakukannya. Aku hanya menginginkan dirimu sekatang, kenapa menolakku? kau ingin aku berubah, bukan?!" Mata Nickwa kembali membulat, dia dengan cepat menutup pintu kamar mandi. Air hangat yang turun dari shower membasahi kepala Nickwa, dia berharap Sunsein sudah tertidur ketika dirinya keluar dari kamar mandi ini. Karena merasa dia mandi sudah cukup lama, Nickwa keluar dan ternyata Sunsein masih berada di atas ranjang dengan pose menggoda. Nickwa memamg dingin terhadap Sunsein, tapi dirinya pria sejati. "Sunsein, tidurlah! Apa yang kau lakukan?!" "Yang aku lakukan adalah menunggu suami dan meminta jatah batin." "Jangan mengada-ada, Sunsein! Pernikahan kita, bukan seperti orang lain. Aku tidak bisa tidur denganmu seperti suami istri." Sunsein memeluk Nickwa dengan erat. "Kenapa? Apa masalahnya? Kita sah di mata agama dan pemerintah! Dimana lagi salahnya, Nickwa!" Pria itu membuang wajahnya, dia tidak ingin melihat Sunsein yang sejak tadi merengek. Ada perasaan lelah mengikuti kelakuan Sunsein yang tidak berkesudahan. "Salahnya? Tidak ada yang salah, Sunsein! Aku hanya ingin. Tidur saat ini. Aku tahu semua sangat melelahkan dan berhenti merengek." Sunsein menghela, dia menegakkan lehernya. "Baiklah, jika kau menginginkan itu. Aku akan keluar dan mencari pria yang bisa memenuhi hasrat ini. Biar kau puas, aku benar-benar tak suka pernikahan ini." Sunsein menutup wajahnya dengan tangan. "Kau tahu? Aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksa diriku, aku harus yakin diri bersih sebelum kau tidur denganku. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau benar-benar menolakku dengan tegas." "Sunsein." Nickwa menahan tangan wanita yang kini sudah berurai air mata. Nickwa tak bisa melihat seorang wanita menangis. "Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicara, jadi untuk apa lagi aku di sini." "Maafkan aku." Nickwa mengatakannya tulus dari dalam hati, tapi sayang sekali hal ini di manfaatkan oleh Sunsein. Dia mendekatkan tubuhnya pada Nickwa, memeluk Pria itu sangat erat. "Aku tidak berbohong padamu, kau tahu sendiri aku seorang maniak, jadi aku mohon." Sunsein menjinjitkan kakinya. Bibir wanita itu menempel pada Nickwa, dan dia melakukannya berkali-kali. Nickwa masih membatu di tempatnya, kali ini mungkin dia tak akan bisa lolos dari Sunsein. Tapi jika dia menolak maka gadis ini akan kembali menangis dan hal itu sangat memusingkan dirinya. Tangan Sunsein menelusup pintar di balik handuk yang melilit pinggang Nickwa. Tanpa permisi dia memposisikan diri dan melumat milik Nickwa yang kini sangat menegang. Dalam hati Sunsein mengoceh, bahkan di detik terakhir pria ini masih menolak dirinya secara langsung sejak tadi. Tapi lihatlah apa yang terjadi, bahkan miliknya lebih keras dari batu. "Sunsein" Nickwa memanggil nama itu terbata saat lidah Sunsein mengoreksi dengan lembut. Nickwa menahan tubuhnya dengan satu tangan bersandar di dinding dan satunya meremas rambut panjang Sunsein. Bunyi ecapan Sunsein terdengar jelas di telinga Nickwa, pria itu memejamkan matanya. Jika masalah bercinta Sunsein sangat ahli. "Jangan mengerang seperti itu, aku seperti sedang menindasmu." Bisik Sunsein dan itu tentu saja membuat bulu kuduk Nickwa berdiri. "Aku akan mengingatkan dirimu tentang malam itu." "Sunsein..." "Iya ini aku." Nickwa yang masih bediri di depan pintu kamar mandi semakin panas saat Sunsein menggigit kecil setiap Senti tubunya. Perut kotak-kotak dengan bidang luas sungguh luar biasa. Bahkan Sunsein tidak tahan, dan ingin selalu menyentuh tanpa ada habisnya. Nickwa menggendong tubuh Sunsein dengan sangat mudah. Menindih wanita itu di atas ranjang, hingga Sunsein semakin panas. Bibir wanita itu mengulas senyum, dia sangat suka saat asset miliknya menyentuh tubuh Nickwa. Putingnya yang menegang sungguh terasa nikmat berbalut kulit Nickwa yang panas. Sunsein tersenyum, "apa kita tidak melanjutkannya?!" Dia memiringkan wajahnya, pria itu langsung melumat bibir Sunsein, lidahnya mengoreksi rongga mulut gadis itu. Sunsein mengerang, dia sungguh menikmati hingga tak bisa bernapas dengan benar.Saat tangan besar Nickwa menyentuh asset istrinya, Sunsein kembali mengerang. Dia tidak bisa menahan dirinya walaupun Nickwa berbisik untuk tidak berteriak. “Hey, jangan mengeraskan suaramu. Kau tahu di rumah ini juga ada Evies, bukan hanya kita berdua.” Sunsein mengangguk, “Baiklah, aku tidak akan bersuara. Maafkan aku, sayang!” Tangan Sunsein menyentuh wajah Nickwa, dan kini tubuhnya menggeliat di bawah pria tersebut. Sunsein sangat suka saat Nickwa dengan sangat sadar menyentuh tubuhnya. Berkali-kali Sunsein mencium bibirnya, tapi pria itu belum juga memasukkan miliknya. “Jangan bersikap seperti itu, kita bisa melakukannya perlahan! Lagipula aku tak ingin terburu-buru saat bersama denganmu.” Sunsein langsung menatap wajah Nickwa yang kini terdengar tengah menggoda dirinya. “Kau sedang menggoda? Tapi kenapa terdengar seperti mengancam! Aku suka sekali posisi kita saat ini. Semakin lama, kau semakin seksi, Nickwa. Bisakah aku memiliki dirimu selamanya?” “Sunsein, aku mohon jangan banyak bicara.” Dia mengerang, tapi dengan cepat Nickwa menutup mulutnya. “Sunsein, pelankan suaramu.” “Kau menyiksa diriku, sayang!” Dia mendorong tubuh Nickwa hingga posisi mereka kini berbalik. Tanpa bertanya dan meminta, Sunsein langsung mengangkat pinggul. Pria itu tidak bisa menghindar lagi, dia terengah saat Sunsein menghentak tubuhnya berulang kali. Mereka saling mengerang, Nickwa melengkungkan tubuhnya berulang kali untuk menggapai Sunsein. Tapi wanita ini sungguh ahli dan sangat liar. Dia membuat Nickwa tidak bisa menghindar sama sekali. Padahal tubuhnya lebih besar dari Sunsein. “Sunsein.” “Kau keluar?!” Nickwa memejamkan matanya, tangan pria itu langsung meraih b****g Sunsein dan mengaturnya agar bergerak seperti yang pria itu inginkan. Sunsein berteriak dan memeluk tubuh Nickwa dengan kuat. Mereka berdua sama-sama melepaskan gairah dan kini berbaring di ranjang dengan tubuh penuh keringat. “Aku lelah sekali.” Nickwa menutup mata dengan tangan kanan. Sunsein yang melihat itu langsung menarik tubuh Nickwa masuk ke dalam kamar mandi. “Kita harus membersihkan semua ini, kau tidak ingin jadi pria jorok ‘kan, Tuan. Sekali pun kau malu denganku, tapi menjaga kebersihan tetap nomor satu.” Sunsein mengisi air di bathtub. Dia menarik tangan Nickwa hingga terbaring di sana. Sunsein pun mengulas senyum, dia dengan cepat turut masuk di dalamnya dan melakukan sekali lagi yang mereka inginkan. Pagi menjelang, Nickwa beberapa kali mengerjapkan mata. Pria itu kembali bersikap dingin saat Nickwa yang sudah cantik tersenyum dengan sangat mempesona. “Kau akan pergi ke perusahaan?!” Sunsein mengangguk, “Bersiaplah, aku akan menunggumu di bawah. Aku juga sudah menyiapkan sarapan khusus untukmu.” “Hari ini aku tidak ke perusahaan, jadi pergilah bersama Adam. Nanti dia juga yang akan mengantar dirimu kembali ke sini. Aku sangat sibuk hari ini, dan mungkin tidak pulang.” Jantung Sunsein terasa sakit, bagaimana bisa dia melakukan ini saat mereka berdua baru saja melakukan malam panas yang sangat indah. “Kenapa aku tidak di ajak pergi? Kita baru saja menikah dan belum pergi bulan madu denganmu. Ingat Tuan, aku sudah jatuh cinta padamu dan semua yang aku lakukan tak bisa tanpa dirimu.” Nickwa menghela napas, dia tidak mau berpikir tentang hubungan mereka. “Aku tidak bisa membawa dirimu saat ini. Aku melakukan perjalanan yang cukup jauh, dan kau harus mengurus perusahaan. Aku mohon jangan membantah lagi. Ini semua kita lakukan agar kau memiliki apa yang seharusnya ada di tanganmu.” “Jangan seperti itu. Aku tidak bisa jika kau pergi jauh.” Nickwa berdiri, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu tak bicara sama sekali walaupun dari balik pintu sang istri terus saja merengek untuk ikut. “Sunsein, kau harus belajar di sini! Jadi aku mohon dengarkan juga apa yang aku katakan. Bukankah malam tadi sangat indah? Aku berharap bisa merasakannya lagi. Jadi aku mohon tetaplah berada di sini untuk belajar lebih baik.” Wajah Sunsein menjadi sendu, tapi dia sangat menginginkan kepercayaan Nickwa. Pria itu bilang ingin melakukan malam panas lagi bersamanya. Itu sudah sangat cukup bagi Sunsein. Dia mencintai pria ini! Dia percaya Nickwa adalah pria yang selama ini dirinya cari. Pria yang merasakan dirinya untuk pertama kali. Walaupun terasa samar-samar, aroma tubuh Nickwa membuat dirinya sangat sadar. Wangi tubuh Nickwa tak sama dengan pria lain yang di tutupi oleh parfum. Tubuh mengeluarkan wangi yang Sunsein rindukan. “Apa kita akan terus begini? Pergilah ke perusahaan dan aku akan mengabarimu ketika sudah sampai nanti.” Sunsein terdiam sejenak. “Apa kau mendengarkan aku?!” “Iya, aku mendengarkan! Kalau begitu aku permisi, semoga perjalanan dirimu menyenangkan.” “Terimakasih Sunsein.” Bagi Nickwa tidak ada waktu untuk menunda sesuatu. Dia harus yakin posisi Sunsein di perusahaan aman dan dirinya tak ingin ada kalimat melecehkan lagi. Secepatnya Nickwa akan menemui semua pemilik saham perusahaan tersebut satu persatu. Selama di perusahaan perasaan Sunsein sangat kacau. Berulang kali dia mengumpat kesal jika mengingat Nickwa yang akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Padahal dirinya baru saja berpikir hubungan mereka kini membaik, tapi apa ini? Sunsein merasa dirinya kembali di titik awal. Nickwa meninggalkan dirinya begitu saja saat mereka belum satu minggu menikah. “Nyonya, apa yang anda pikirkan? Kenapa terus termenung seperti itu? Ini tidak baik untuk anda.” Sunsein mengangkat kepala menatap Adam yang berada di hadapannya kini. “Apa aku begitu tidak pantas untuk menjadi istrinya? Padahal dia pria yang aku cari selama ini. Kau juga tahu tentang itu, Adam. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?!” “Anda tidak perlu melakukan apapun Nyonya.”Adam tersenyum menatap Sunsein. “Anda harus banyak belajar karena Tuan tidak akan suka jika anda bermalas-malasan. Di ruangan ini penuh dengan CCTV yang langsung terhubung dengan Tuan, jadi beliau memantau anda terus.” Mata Sunsein membulat. “Kau serius?!” “Untuk apa saya berbohong, Nyonya! Anda bisa memeriksa sendiri. Jadi semangatlah karena Tuan akan sangat suka saat anda berada di sini dan belajar dengan tekun.” “Terimakasih Adam, aku akan melakukan yang terbaik. Tapi aku sangat merindukan dirinya, rasanya aku tidak lagi bisa menahan perasaan ini. Bisakah aku tahu kabarnya saja? apa dia sudah makan, atau sedang melakukan apa?!" "Nyonya, anda tidak boleh seperti ini." Sunsein pergi karena Adam sungguh melarang dirinya bertemu dengan Nickwa, dan tak lama kemudian dia melajukan mobilnya sangat kencang. “Adam aku akan mencari kesenanganku sendiri jika Nickwa tidak menginginkan aku.” Tanpa sadar laju mobil Sunsein malah sampai di sebuah Villa milik Edrigo. “Kau di sana?! aku membutuhkan dirimu saat ini. Dia membuat aku marah saja, dia tidak ingin bertemu denganku padahal kami sudah sama-sama saling menikmati momen. Tolong aku Edrigo, aku ingin happy malam ini. Kau tahu aku sangat menyukai setiap sentuhan yang kau berikan, aku benar-benar sudah tergila-gila. Walaupun aku mencintainya, tapi aku ingin tetap memiliki dirimu.” “Aku melihatmu, masuklah! Jangan berkata apapun lagi. Setiap sentuhan yang kau berikan juga selalu teringat jelas di dalam pikiranku. Bawa mobilmu masuk, semua akan baik-baik saja.” Mereka berdua memadu kasih, Nickwa yang mengetahui tentang itu sangat kacau selama di perjalanan, dia tak bisa fokus sedikut pun. Sunsien tidak sadar bahwa Nickwa mengawasinya dimanampun berada. Sepertinya kau tidak akan berubah Sunsien, jadi jangan harap aku bisa bersama denganmu lagi. Aku tidak akan pernah kembali, nikmati saja semua yang kau miliki saat ini, pria ini bergumam di dalam hatinya. Bagi Nickwa saat ini menjadikan Sunsien pemilik sah perusahaan Tuan Eroze adalah pilihan utama. Nickwa berniat mengirimkan berkas perceraian mereka satu tahun setelah ini. Dia tak peduli dengan perasaan Sunsien, toh wanita itu juga bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan pada pria lain. Kisah cinta Nickwa yang kacau, dia bahkan tak bisa dekat dan percaya pada wanita manapun setelah ini. Nickwa memilih sendiri, walaupun Eczo dan Bianca tidak mengetahui alasanya. Dia menyimpan rapat-rapat rahasia pernikahan ini. Beda dengan Nickwa, Kimza pun memiliki kisahnya sendiri. Bukan tidak ingin menikah, hanya saja Kimza memiliki rahasia yang tak bisa dia katakan pada siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN