Bab 8.Pengumuman

2156 Kata
Nickwa membuka mulutnya karena terlalu terkejut dengan apa yang Sunsein katakan. “Hey, jangan seperti ini! Kita di lihat banyak orang jadi jaga sikapmu karena aku tak tak suka.” “Aku berusaha menjaga sikap, tapi mereka mengatakan hal yang tak pantas. Sekarang aku adalah istrimu seharusnya mereka lebih menghormati. Lagipula ini adalah perusahaan ayahku, kenapa harus mengalah?!” Nickwa mengusap wajahnya karena Sunsein belum tahu konsep perusahaan ini. Dia tak paham jika saham perusahaan ini di miliki oleh beberapa orang. Suasana pun semakin riuh. Nickwa rasa semua ini tidak akan berjalan dengan lancar. Pria itu pun meminta Adam membawa Sunsein keluar dari ruangan. “Keluarlah bersama Adam, tunggu aku di ruangan karena kita harus bicara lebih lanjut.” Wajah Sunsein berubah kesal. “Kenapa harus keluar? Aku tak mau melakukannya, aku mau di sini bersama denganmu. Apa hak mereka? Bukankah perusahaan ini milikku.” Nickwa tak bisa lagi bicara pada Sunsein karena semakin lama, kalimat yang Sunsein keluarkan semakin brutal. Dia tak memikirkan sebab akibat hanya terus meluapkan apapun yang ada di kepalanya. Adam yang mengantar Sunsein ke ruangan permisi pada istri Bos-nya itu karena harus kembali mendampingi Nickwa di sana. “Saya permisi Nyonya.” Sunsein kesal, dia hanya menekuk wajahnya karena semakin tak sabar ingin bertemu dengan Nickwa. “Katakan padanya aku menunggu jadi jangan sampai terlalu lama.” “Baiklah, Nyonya!” jawab Adam. Hampir satu jam lebih Sunsein menunggu Nickwa yang belum juga keluar dari ruang rapat. Dia sudah gelisah dan sangat lapar, apalagi dia mengingat Edrigo yang sudah memasak makanan enak untuknya. Tanpa berpikir panjang Sunsein pun keluar dari ruangan tersebut menuju apartemen milik Edrigo. Di sini terlalu sumpek baginya, apalagi jika mengingat betapa marahnya Nickwa. Sunsein merapikan pakaiannya, dia tersenyum mengingat apa yang di makan bersama Edrigo di apartemen nanti. Saat membuka pintu,di saat itu juga wajah Nickwa berhadapan dengannya. “Mau kemana?” Sunsein melipat tangannya. “Mau kemana lagi? Jelas saja ke tempat Edrigo. Ini sudah jam makan siang dan kau masih berada di dalam. Aku tak punya waktu menunggu dirimu lebih lama dari ini.” Nickwa menahan tangan Sunsein, jantung gadis itu berdebar kencang dan dadanya mulai menggelitik. “Jangan pergi karena kita harus bicara.” Sunsein mundur satu langkah, pintu ruangan kerja Nickwa di tutup oleh Sunsein dengan cepat. Tangannya pun melingkar di leher Nickwa, gadis itu tersenyum penuh minat. “Aku ingin mencium dirimu, Cup!” tanpa kata setuju bibirnya sudah mendarat dengan indah di bibir Nickwa. “Sunsein.” Tangannya dengan cepat mendorong tubuh sang istri hingga menjauh. Nickwa mengusap bibir Sunsein dengan cepat sembari mengumpat kesal. “Maaf, aku tak sengaja menggigit bibirmu. Apa sakit?! untung saja tak berdarah aku buat. Lain kali jangan buat aku menunggu lama, dan jangan harap aku bisa diam saat di hina seperti tadi.” Nickwa kembali duduk di kursinya. “Apa kau tak bisa bersikap lebih biasa. Aku bisa memberi mereka peringatan ataupun membunuh mereka di hadapanmu. Bersikaplah yang wajar biar aku yang bergerak dan menekan mereka. Jika sikapmu seperti tadi, maka mereka akan selalu merendahkan dirimu.” Sunsein terdiam, dia tak menyangka bahwa Nickwa mengatakan kalimat itu dengan sangat santai. “Apa aku melewatkan sesuatu? Aku ingin sekali melihat siapa dirimu sebenarnya, jadi bagaimana kalau kita berdua lebih sering bersama?!” Nickwa menggeser tubuhnya saat Sunsein memeluk dari atas pangkuannya. “Tolong jangan bersikap seperti ini?!” Sunsein tersenyum dan lagi-lagi mencium pipi pria itu, dia bersandar dalam pelukan Nickwa seolah tak ada tempat yang lebih nyaman darinya. “Aku harus bersikap seperti apa padamu? Apa kau ingin aku marah-marah dan kabur ke tempat pria lain? Aku ingin kau peluk dan manja seperti ini? Aku menjawab, hanya saja jari telunjuk miliknya berjalan ke atas meja dan mengunci pintu ruangan tersebut secara otomatis. Adam yang masih ada di balik pintu menyadari itu. Dia hanya tersenyum dan pergi dari pintu ruangan milik sang Bos. “Sunsein, kendalikan dirimu jika berada di tempat seperti itu. Jangan sampai orang-orang leluasa menghina dirimu. Kau harus paham jika tak ingin selamanya menjadi bebanku.” Dia menggeleng. “Aku ingin selalu jadi bebanmu, aku tak jadi ingin perusahaan ini. Dan aku juga tak ingin bercerai darimu. Bolehkan aku selalu di sini bersama denganmu? Rasanya buruk sekali jika kau marah seperti itu.” Nickwa tak bisa menjawab, dia hanya menghela napasnya saja karena malas berdebat lagi dengan Sunsein. “Kita di sini untuk belajar, aku akan mengajarimu segalanya tentang perusahaan ini. Dan kau harus bisa menunjukkan dedikasi yang tinggi. “Aku tidak mau, aku ingin menjadi bebanmu.” jawabnya lagi sembari mengelus lembut d**a pria tersebut. “Apa kau mau makan siang bersamaku.” Nickwa menatap ke arah lain saat Sunsein mendongak dan mengajak dirinya berbicara. Mata Nickwa seolah menunjukkan kebingungan, dia tak bisa berkata apapun seolah lidahnya kelu. “Sunsein, bisa berdiri?! aku merasa kau cukup berat sekarang.” “Apa maksudmu? Kau mengatakan betapa beratnya aku? Padahal aku sangat sedikit makan. Tega sekali kau mengatakan ini.” umpatnya kesal. “Sunsein, maksudnya bukan begitu. Hanya saja kau terasa sangat berat sekarang.” Dia semakin kesal tapi tak ingin melepaskan Nckwa. “Ah, kau memang tak bisa berbasa-basi.” Sunsein malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Nickwa. “Bagaimana kalau sekarang? Apa masih terasa berat?” Sunsein memeluk tubuh Nickwa sangat dekat dan kuat. Wajah Nickwa memerah, dia menelan saliva karena hawa panas kembali menyeruap. Sedangkan Sunsein dia sangat nyaman saat berada dalam pelukan pria itu. “Sunsein?!” “Hm…” Dia sedikit bergeser. “Lepaskan aku.” “Kenapa aku harus melakukannya?!” “Karena ini terasa sesak dan setidaknya kita harus pergi makan siang. Apa yang ingin kau makan hari ini?!” Dia menggeleng, “Aku akan makan bersama Edrigo. Aku juga akan pulang sendiri nantinya jadi tak perlu menjemput atau mengantar.” Nickwa terdiam, dia mengangguk pelan. “Baiklah.” jawabnya sembari berdiri dari hadapan Sunsein. “Aku akan pergi makan siang.” “Oke, sampai jumpa di rumah nanti malam.” Sunsein melambaikan tangannya tapi Nickwa tak peduli sama sekali. Dirinya cukup malas untuk bertengkar dengannya lagi. “Apa anda ingin makan siang bersama Nyonya?” tanya Adam ketika melihat wajah Nickwa membuka pintu. “Ayo kita makan siang bersama saja, ada banyak yang perlu kita bicara.” Adam setuju, dia membuka ponsel dan memesan meja untuk mereka berdua. “Apa kalian tidak ingin mengajak seseorang lagi? Kalau boleh aku juga ingin makan bersama kalian. Selain gratis, aku sangat ingin tahu apa yang ingin kalian berdua bicara.” Nickwa berjalan maju terlebih dahulu karena dirinya tak ingin mengganggu Evies dan Adam yang sedang berusaha sama-sama membuka diri. Nickwa bukan bodoh, dia hanya pura-pura tak tahu saja bahwa sang adik sepupu sedang menjalin hubungan bersama asisten sekaligus sahabat terbaiknya. Hanya saja Evies belum ingin semua ini di ketahui siapapun karena dirinya ingin melihat Nickwa bahagia lebih dulu. Namun sayang sekali harapan tersebut seperti kosong saja karena menikahi Sunsein seperti hal yang paling sial menurut Evies. “Cepatlah masuk, apa yang kalian lakukan.” Evies langsung menyusul Nickwa, begitu juga dengan Adam. Tak ada yang menginginkan ini semua, Nickwa tak pernah melarang sang adik untuk bahagia. Tapi menjaga privasinya adalah hal terbaik. Terserah Evies kapan akan membicara segalanya. “Kak, aku akan pergi berlibur.” Nickwa mengangguk, “Biarkan Adam menemani dirimu. Kakak tak masalah jika dia pergi bersamamu, bagaimana pun sudah lama dia tak pergi menenangkan diri.” “Saya? Kenapa saya harus menenangkan diri? Bekerja bersama anda sangat menyenangkan Tuan. Jadi saya tak merasa terbebani sama sekali.” “Aku bisa mengatasinya, jadi pergilah bersama Evies. Bagiku dia lebih penting dari perusahaan ini, dan sama pentingnya dengan adik-adikku yang masih kecil. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya bagaimana aku bisa menjaga mereka tanpa Evies.” Adam tak bisa menolak dan Evies hanya bisa bahagia di dalam hatinya. Sudah lama sekali dia tak bertemu dengan Adam secara pribadi. Mereka terakhir bertengkar hebat karena Evies yang tak ingin Adam mengakui hubungannya pada Nickwa. “Baiklah Bos, saya akan menemani Nona muda ini.” Kalimat sinis itu membuat Evies paham kalau Adam tak sesenang dirinya saat melakukan ini. Dia terpaksa dan mungkin juga Adam tak terlaliu menginginkan waktu bersama dirinya. “Jika Tuan Adam keberatan saya akan pergi sendiri.” “Kalian bertengkar? Katakan padaku apa yang terjadi.” tanya Nickwa santai. “Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu padaku?!” Evies dan Adam terdiam, dia tak bisa mengatakan apapun saat ini karena Evies tak menginginkannya. Adam menatap wajah Evies yang dingin! Seolah ingin menunjukkan kalau dia tak suka dengan sikapnya. “Saya akan menemani Nona Evies, Tuan.” “Terimakasih Adam.” jawabnya. Di tempat lain Sunsein yang baru saja sampai di apartemen Edrigo langsung ceria saat melihat semua masakan yang ada di atas meja. Senyum itu tak pudar dari bibirnya dan Edrigo sangat berbahagia. “Bagaimana pekerjaan pertamamu di perusahaan?!” “Biasa saja, tak ada yang istimewa. Aku bahkan berdebat dengan mereka karena ada beberapa orang yang pernah menjadi tamuku.” Edrigo terdiam, “Aku tak menyangka hal itu terjadi padamu, padahal Negara ini cukup besar.” “Mereka menghina dan mengatakan hal buruk. Aku dengan santainya membantah semua yang mereka lakukan, aku cukup benci untuk mengakui segalanya tapi mereka terlalu menyudutkan aku.” Edrigo menarik tangan Sunsein agar duduk di pangkuannya. “Makanya aku mengambil setiap hari kerjamu. Aku menggantikan posisi mereka, dan aku tak akan pernah membuat kau tersudut.” “Yap, kau juga membayarku dengan jumlah yang lebih tinggi dari mereka.” jawab Sunsein sembari memilih semua makanan yang ada di atas meja. “Aku senang saat bersamamu dan seks yang kau lakukan juga tak aneh-aneh. Intinya kau juga bisa mengimbangi diriku.” Wajah Edrigo berubah murung, dia bahkan meninggalkan segala aktivitas agar bisa selalu bersama Sunsein. Entah bagaimana bisa di hanya menganggap dirinya sebagai patner berhubungan saja. “Apa kau tak merindukan aku?” Edrigo meletakkan wajahnya di pundak Sunsein, “Padahal aku sangat merindukan dirimu. Entah bagaimana ini, tapi aku sangat tak bisa melihatmu jauh.” “Edrigo, aku berada di sini. Kenapa kau berkata seperti itu, lagipula waktuku memang lebih banyak habis denganmu. Jadi jangan bersedih lagi karena kita adalah patner yang sangat baik.” “Kalau aku ingin lebih bagaimana?!” dia memeluk Sunsein erat. Gadis itu pun melepaskan pelukan Edrigo, “Hey, bukankah kita sudah membicara ini berulang kali? Jangan melakukan apapun, jangan berpikir yang tidak-tidak karena aku selalu saja di sini sebagai patner. Tapi tidak lebih dari itu, oke! Dari awal kita sudah membicaranya, bukan? Tak ada yang di kekang saat ini.” Dia sedikit menolak, “Sunsein tapi kita sudah sangat lama bersama.” “Apa kau ingin aku pulang dan berhenti sampai di sini? Selera makanku berubah karena dirimu. Ini sangat mengesalkan karena aku tak suka caramu ini.” “Jangan Sunsein, makanlah dan kita akan makan mandi bersama setelah ini.” Karena enggan berdebat lagi dia pun berusaha untuk santai, sedangkan Edrigo sangat mengganjal di dalam hatinya. Pria itu menginginkan Sunsein lebih dari apapun tapi dia tak pernah memberikan kesempatan. Awal mereka berdua bertemu saat Sunsein di pukuli oleh salah satu pelanggannya. Dia terpaksa menjajakkan diri karena sang ibu tak pernah cukup akan uang. Sunsein merupakan gadis tercantik di Kasino kala itu. Dan semua berubah saat Edrigo mulai ingin memiliki Sunsein sebagai satu-satunya yang dia layani. Tapi sayang Sunsein tak menginginkan kontrak, dia hanya ingin di bayar setiap melakukan seks tanpa perjanjian apapun hingga Edrigo merasa posisinya tak aman. "Aku mencoba memperingatkan kembali,ada hal yang perlu kau bicara, dan ada juga yang tidak! Kau sudah terlalu tidak sopan pada istriku. "Bos ampun, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sungguh berjanji padamu. Aku mohon, setelah ini aku akan mendukung Nyonya menjadi pimpinan perusahaan. Saya yakin jika suara perusahaan saya di gunakan, maka akan banyak yang mengikuti ucapan ini." Wajah Nickwa yang dingin menatap tajam ke arahnya. "Urus dia Adam, jangan sampai dia mengingkari apa yang sudah di ucapkan. Dan ikuti gerak-geriknya, kalau dia membuat ulah maka bunuh saja." "Baiklah Tuan, saya akan membereskannya." Jawab Adam pada Nickwa yang sudah keluar dari ruangan. Di dalam mobilnya Nickwa masih saja termenung, dia mengingat wajah Sunsein yang mencoba untuk kuat menghadapi orang-orang yang ada di ruang tersebut. Dia sangat tangguh menghadapi keadaan, sayang ibunya tidak pernah bersyukur dan tak pernah lepas dari judi. "Kak, darimana saja? Kenapa terlambat pulang?! Ini sudah slangat larut." "Evies, Kakak baik-baik saja! Kakak ini punya banyak urusan lain kali lekas tidur jika Kakak terlambat pulang." "Jika aku bisa melakukannya sudah di lakukan sejak tadi. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku sendiri. Aku rasa sudah sangat lama Kakak tidak pulang larut dan ini sangat mencurigakan." "Kakak akan masuk, kau istirahatlah. Jangan khawatir seperti ini lagi.Ingat Evies, kamu harus tetap memikirkan dirimu sendiri karena Kakak saat ini lebih khawatir padamu." "Aku mengerti, jadi Kakak masuklah. Dia baru saja kembali dalam keadaan mabuk, keadaannya sungguh kacau. Aku tidak percaya wanita berwajah malaikat seperti dia memiliki kelakuan seperti iblis." "Evies, please!" "Terserah pada Kakak jika tidak ingin aku bicara lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN