Bab 7. Maaf Boss

2068 Kata
Pria itu memposisikan dirinya, Sunsein yang sejak tadi menantikan tersenyum senang. Tanpa sadar Sunsein mengingat momen beberapa tahun yang lalu dimana Nickwa menghisap asset miliknya di depan orang banyak.dia terlihat sangat bodoh dan terus terbengong tapi rasanya nikmat sekali. “Aku menghisap sekarang, katakan padaku jika kau sudah merasa lebih baik.” Sunsein mengangguk, “Oh… lebih kuat Nickwa, hisap lebih kuat! Aku sangat-” Sunsein terbata-bata saat Nickwa mulai menghisap puncak asset miliknya secara perlahan. “Nickwa, Akh! Jangan lepaskan sayang!” Sunsein terus berteriak. Sedangkan Nickwa dia mengatur seluruh tenaga dalamnya agar tak berakhir melakukan seks bersama Sunsein. Pagi ini semua orang bersiap menuju ke perusahaan. Sesuai janji Nickwa dia akan memperkenalkan Sunsein pada semua dewan direksi. Nickwa akan angkat kaki secepatnya setelah semua selesai. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan di perusahaan itu, dan Sunsein sangat berhak memilikinya. “Apa aku sudah cantik?” Sunsein dengan setelan kemeja pastel dengan rambut yang terurai lurus. Membuatnya terlihat sungguh indah, apalagi rok merah yang dia gunakan sangat menyatu dengan kulitnya. Dia masih memasang wajah datar. “Cantik.” Jawab Nickwa dingin pada Sunsein. Sunsein menatap Nickwa yang super cuek padanya padahal malam tadi mereka tidur bersama sampai pagi ini. Rasanya sangat menyenangkan ketika kau memelukku seperti itu. Aku suka sekali, aku yakin padamu. Jadi walaupun kau tidak berkata apapun aku tetap akan mengejarmu sampai mengakui hubungan kita. Sunsein menyunggingkan senyum lalu berlalu dari hadapan Nickwa. “Huft.” Nickwa menghela napas karena jantungnya kini berdebar tidak menantu. Malam tadi dia tak tidur sama sekali dan semua itu adalah ulah Sunsein. Dia tanpa sadar sudah membangkitkan gairah yang sudah lama bertapa di lubuk hati Nickwa yang paling dalam. “Evies sudah siap dari tadi ternyata.” “Kak, aku sudah dewasa jangan buat diri ini seolah masih kecil. Kakak tidak boleh melakukannya lagi! Ingat kita ada rapat hari ini dan aku memiliki perusahaan sendiri. Berdiri sebagai perusahaan mitra untuk perusahaan Kakak, jadi-” Nickwa mencoba menghentikan adik sepupunya. “Evies…” Gadis ini mengulum bibirnya tak lagi ingin bicara. Dia baru sadar bahwa kini tak hanya mereka berdua yang duduk di atas meja makan itu. Di sana ada Sunsein yang sejak tadi seolah tak peduli dengan yang mereka bicara saat ini. “Maaf Kak, aku lupa kalau Kakak sudah menikah dengan wanita yang kabur di malam pertama kalian bersama pria lain. Sungguh menyebalkan dan aku tak percaya dia sekarang bisa makan bersama dengan kita seolah tanpa dosa sama sekali. Sungguh menyebalkan.” “Evies.” Lagi-lagi dia terdiam ketika Nickwa memanggil namanya seperti itu. Dia takut Kakaknya marah jika dia seolah tak bisa di peringatkan. Tapi Evies tak bisa membohongi dirinya, dia benci ketika melihat Sunsein yang sangat cuek tanpa dosa. “Aku sudah siap, jadi mari kita berangkat sekarang.” Nickwa meletakkan sendok di samping piringnya dan ikut berdiri. Evies yang melihat itu semakin kesal saja pada Sunsein yang tak mengerti sopan santun sama sekali. “Apa kau tak belajar sopan santun? Apa kau tak melihat Kakak sedang makan dan belum siap?!” Sunsein membelalakkan matanya menatap piring nasi Nickwa yang masih ada setengah. “Ah, maafkan aku.” “Jelas sekali kau hanya mementingkan dirimu saja, apa kau tak pernah berpikir perasaan orang lain yang kau sakiti? Lucu sekali! Aku yang menganjurkan Kakak menikah denganmu dan sejak tadi malam aku mulai menyesal.” Evies berdiri, dia berlalu meninggalkan mereka begitu saja. Tak ada lagi yang perlu Evies bicara pada wanita sombong yang tidak tahu diri ini. “Maafkan Evies, ayo pergi.” “Nickwa, aku yang minta maaf!” Sunsein menahan tangan pria yang menggunakan meja slim dengan warna biru laut. Dia begitu tampan saat wajah dingin miliknya bertengger di sana. “Sudahlah, ayo pergi.” Dia melepaskan diri dari Sunsein dan tak ingin bicara apapun lagi. Rasanya sangat mengesalkan jika pagi-pagi harus memulai pertengkaran seperti ini. Jujur saja Nickwa dan Evies tak pernah bertengkar dan ini kali pertama ada keributan di meja makan. Selama di dalam mobil tidak ada yang bicara sama sekali. Mereka berdua yang duduk berdampingan pun seperti orang lain. “Bos, ketika sampai di perusahaan saya mohon anda dan Nyonya mengatur sikap. Jangan sampai orang lain mendapatkan sela untuk menyakiti anda dan nyonya. Kita sama-sama tahu siapa saja orang yang ada di dalamnya.” “Aku tidak tahu siapa mereka, memangnya aku harus bagaimana? katakan padaku. Aku tak ingin di rundung di perusahaan milik sendiri.” Adam yang sejak tadi menyetir dengan santai langsung melihat wajah Bos-nya, Nickwa. Pria itu juga menatap Adam tanpa tersenyum sama sekali. Mereka berkata dalam hati masing-masing. “Setidaknya Nyonya dan Tuan harus bersikap seperti suami istri yang menikah karena cinta, jangan sampai ada yang tahu jika Tuan dan Nyonya sering tidak akur.” “Aku memang mencintainya, dia yang tak mencintai aku.” Nickwa mengepalkan tinjunya, memalingkan wajah menatap ke arah lain. Sedangkan Adam berusaha menahan senyum melihat sikap si Bos yang berusaha tak peduli sama sekali. “Tapi saya dengar anda kabur pada malam pertama.” Sunsein mengulum bibirnya kembali, “Oh kalau itu karena aku kesal! Ada orang yang pura-pura tidak mengenaliku dan rasanya ingin meledak saja. Aku ini Sunsein, ingatanku sangat kuat walaupun saat itu aku dalam pengaruh obat. Aku sadar dengan apa yang aku lakukan.” Nickwa lagi-lagi memalingkan wajah, dia tak ingin menatap wanita yang masih mengoceh di sampingnya. Adam lagi-lagi berusaha menahan senyum. Dia dan Nickwa bukan sekedar dekat sebagai Bos dan bawahan. Hubungan mereka lebih dari semua hal yang tampak dari luar. “Oh, apa anda marah pada seseorang?!” Nickwa menatap Adam dari kaca mobil. Rasanya ingin sekali dia membungkam mulut Adam yang sejak tadi mengajak Sunsein untuk mengatakan semua isi hatinya. “Iya, aku sangat marah karena selama ini, aku selalu mencarinya. Tapi dia malah pura-pura tidak tahu, bersikap dingin padahal jelas malam itu masih terasa di sekujur tubuhku.” Sunsein memeluk tubuhnya sendiri, mengusap pelan. Dia sengaja melakukan itu agar Nickwa tahu bahwa dia tak bisa di bohongi sama sekali. Dia tahu, dan Nickwa terus menolaknya. “Oh begitu.” Adam mengangguk. Tidak lama ponsel Sunsein berdering dana ada nama Edrigo di sana. Nickwa dapat melihat sepintas dan wajahnya langsung berubah menjadi lebih dingin. “Uh, apa udara di sini tiba-tiba berubah jadi dingin?” Lagi-lagi Adam mencari perkara. Dia sedang mengejek Nickwa yang berusaha menahan diri sejak tadi. Mata mereka berdua bertemu dan Nickwa mencolok mata Adam jika mereka hanya berdua saja nanti. “Edrigo, aku akan ke sana setelah pertemuan di perusahaan. Aku juga sangat merindukan dirimu jadi jangan marah sayang, please.” “Aku akan menunggumu di apartemen, ada makanan enak di sini karena aku sudah memasak untukmu! Jangan terlambat sayang dan jaga kesehatanmu.” Nickwa meremas tangannya, mengepalkan tinju. Napasnya juga berulang kali tertarik sangat dalam. Adam yang melihat itu hanya bisa melirik saja karena tak ingin ikut campur dalam keadaan apapun saat ini. Panggilan tersebut selesai bertepatan dengan mobil yang berhenti di parkiran. Adam masih menatap ke arah Nickwa yang terlihat diam dan menerawang jauh. “Bos, kita sudah sampai.” Nickwa tersadar, matanya berkedip pelan dan keluar dari mobil tersebut tanpa mengajak Sunsein sama sekali. “Nickwa, bukannya kita harus jadi pasangan serasi? Aku ingin kau gandeng biar kita terlihat mesra. Seperti pengantin baru, mereka selalu membuat dunia seakan milik berdua.” Dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sunsein. “Ayo,” dia memberikan tangan kanannya. Wajah Sunsein memerah, dia sangat senang. Tanpa sungkan wanita itu menyambut tangan Nickwa, meremas dengan kuat hingga Nickwa memalingkan wajahnya ke arah lain. Pria itu menggigit bibirnya sendiri. Dia tak ingin terhanyut atas apapun dan memohon dalam hati agar tak tergoda dengan istrinya. Aku bisa mengendalikan diriku, ayolah kau harus kuat wahai hati dan pikiran. Ucapnya dalam hati bak sebuah mantra. “Nickwa, apa aku boleh menggandeng tanganmu seperti ini terus. Sepertinya jari-jari kita sangat pas ketika menyatu.” Sunsein tersenyum tanpa dosa seolah apa yang dia lakukan beberapa menit yang lalu bukanlah masalah besar. Padahal hati Nickwa benar-benar hancur karenanya. Bahkan pria itu tak ingin menatap wajah Sunsein saat ini. “Kita sebentar lagi akan masuk perusahaan setelah keluar dari lift ini. Tolong bersikap normal dan balik menyapa karyawan yang menyapa dirimu karena statusmu adalah istri direktur utama perusahaan ini dan pada rapat aku akan mengumumkan bahwa kau lah pemilik SAH perusahaan.” “Nickwa, aku tak mengerti apa yang kau maksud. Tapi aku akan senang saat memiliki perusahaan ini. Aku akan hidup tenang tanpa memikirkan uang lagi. Bagaimana menurutmu?!” “Tentu saja, kau memang harus seperti itu.” Nickwa sesaat melihat wajah Sunsein, dia terlihat tak percaya diri. “Apa yang kau pikirkan, ayo masuk.” Sunsein dan Nickwa pun masuk ke dalam pintu besar yang sejak tadi sudah di buka oleh Adam. Nickwa meraih tangan Sunsein, meremas dengan sangat kuat hingga membuat wanita itu tersipu malu. Dia tak berkonsentrasi sama sekali saat semua orang berdiri menyambut dirinya dan Nickwa. Memang awalnya Sunsein murka melihat sikap Nickwa yang seolah tak kenal dengannya. Dia pun sedikit ragu pada awalnya bahwa Nickwa adalah pria di malam itu. Tapi sekarang berbeda, dalam hitungan jam Sunsein dapat memastikan bahwa dia adalah pria yang dia kenali. Walaupun sampai saat ini Nickwa pun tak ingin membahasnya. “Selamat pagi menjelang siang semuanya, terimakasih karena sudah hadir di sini. Tadi Adam sudah menjelaskan segalanya. Jadi ini Sunsein yang merupakan istri saya dan anak Tuan Eroze. Dalam beberapa waktu ke depan saya akan menyerahkan perusahaan ini pada Sunsein dan mohon semua Dewan membantu.” “Saya tidak setuju!” ucap salah satu dewan bertubuh besar nan berisi. “Bagaimana bisa kami percaya dengan wanita yang tak pernah bekerja di bidang ini. Lagipula aku tahu siapa Eroze, kami berteman sejak lama. Dan aku tahu jika dia anak dari w************n yang bekerja di klub malam.” pria itu menunjuk Sunsein yang seketika membatu. Nickwa tak suka ini, dia pun langsung berdiri menatapnya. “Tuan Yogie, saya tahu anda sangat dekat dengan Tuan Eroze. Tapi kita tak bisa memungkiri statusnya.” “Kami tidak bisa mempercayakan perusahaan dengannya, jangan bermimpi Nickwa. Selama ini kami selalu mendukungmu dan kau yang membuat perusahaan ini semaju sekarang. Bagaimana bisa kau meninggalkannya seperti ini.” “Saya tidak meninggalkannya begitu saja. Sunsein adalah istri saya, tentu saya juga akan turun campur dalam setiap penyelesaian masalah. Dan ini juga tak akan di lakukan secara mendadak. Selama satu tahun ini Sunsein akan mengikuti kemanapun saya pergi. Jadi dia bisa melihat dan mengukur perusahaan kita. Beri Sunsein kesempatan, dan saya akan sangat senang membantu dari awal.” Mereka saling berbisik, sampai seseorang mengatakan hal yang tak menyenangkan. “Bukankah dia penari striptis di Bar Net?!” Nickwa menatap tajam ke arah pria bernama Zen, dia baru saja menggantikan sang ayah menjadi direktur yang merupakan mitra perusahaan ini dan dia juga memiliki saham 10% di sini. Nilai yang cukup besar untuk sebuah perusahaan tunggal. “Apa anda berbicara pada saya?” entah kenapa Nickwa menjadi sinis dan sangat kesal. Sedangkan Sunsein seolah tak berdaya karena itu memang pekerjaannya. “Katakan sekali lagi apa yang anda katakan barusan.” Zen terdiam dengan intimidasi yang di berikan oleh Nickwa. “Maafkan saya, Tuan. Saya hanya merasa mengenal istri anda. Bahkan saya merasa pernah membookingnya.” Deg, jantung Nickwa terbakar. Dia menatap Zen semakin sinis. “Apapun yang terjadi jangan pernah bicara tak sopan karena Sunsein adalah istri sah saya. Ketika anda membicara hal tak baik maka saya merasa ikut di rendahkan.” Zen tak enak sekali karena semua orang kini menatapnya. Tapi saat melihat wajah Sunsein yang pucat pria itu menarik sudut bibirnya. “Maafkan saya Tuan.” ucapnya sekali lagi. Semua orang terdiam, Sunsein yang kini enggan berpisah jauh dari Nickwa pun berdiri. “Ehm, saya juga tak berminat mengambil alih perusahaan ini. Saya dan suami akan terus saling menyokong dan membangun perusahaan ini semampu kami.” ucapnya sembari tersenyum. “Lalu tentang masa lalu saya, tidak ada yang saya hindari sama sekali. Tapi saat ini status seorang istri dan anak pemilik perusahaan, apa salahnya kalau saya memperbaiki diri. Tak sedikit orang yang melakukan seks di luar nikah.” Nickwa menghela, dia tahu Sunsein tidak akan bisa menahan dirinya. Tapi dia tak perlu melakukan ini semua karena penolakan selalu saja datang di awal. “Sunsein, aku mohon tenangkan dirimu. Jangan membuat onar di sini, lagipula bukankah kita sepakat!” Dia mendekatkan wajahnya pada Nickwa, “aku sudah berubah pikiran. Bagaimana kalau aku bersamamu saja sampai kita tua nanti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN