Bab 6.Terkutuklah

2066 Kata
Selain itu Tuan Eroze juga memiliki perusahaan yang menyewakan orang-orang terlatih untuk menjaga orang-orang penting. Di dunia hitam yang dia jalani sudah hilang ketika beliau mulai sakit, dan semua ini di berikan kepadaku, karena beliau pikir itu tadi! Tak punya anak. Haruskah aku memberikan semua pada Sunsein dan kabur saja? Ayahku pasti akan membela apapun yang terjadi, walaupun Tuan Eroze adalah teman baiknya, hm aku bingung sekali. Dulu saat aku baru memimpin perusahaan Tuan Eroze adalah salah satu pemilik saham yang memberikan aku peluang di saat yang lain sama sekali tidak peduli. Dia bahkan memberikan perusahaannya padaku karena tidak mengetahui jika memiliki anak. Tuan Eroze tahu dia memiliki anak menjelang kematiannya, dan menitipkan anaknya pada Nickwa. Mau tidak mau dia harus menjalankan mandat tersebut. Tuan Eroze sudah seperti orangtua baginya, dan Sunsien adalah anaknya. Susah sekali bagi Nickwa untuk bisa mengerti posisi ini, untunglah ada Evies sang sepupu yang terus membantu dirinya. Di saat yang sangat sulit, Evies dan adam adalah orang-orang penting bagi Nickwa. Mereka selalu berada di sisi pria tersebut bagaimana pun rumitnya persoalan yang mereka hadapai. Aku sangat percaya pada mereka dan tak akan ada pengkhianatan. Setelah beberapa perdebatan, dan beberapa bulan akhirnya Nickwa menemui Ibu Sunsein dan anaknya. Dia menceritakan semua yang terjadi pada keluarga tersebut. Walaupun Sunsein menolak menikah dengan Nickwa kala itu, tapi sebuah kesempatan membuka jalan untuknya. Bianca yang masih kecil tidak tahu tentang permasalahan ini, hanya Evies, Adam dan Kimza karena Eczo pun masih terlalu kecil. Evies menelan saliva ingin memberontak dan menyumpahi Sunsein karena ketidaksopanan ini. “Seharusnya kau berterimakasih pada kami, kami memberi kesempatan padamu untuk hidup normal. Lalu kenapa kau masih membuang dirimu ke tempat sampah?! aku dan kau masih seumuran, jadi aku tak habis pikir dengan apa yang kau lakukan saat ini.” Sunsein maju perlahan, tangan wanita itu mencengkram rahang Evies sangat kuat. “Hey anak manja! Apa kau tahu hidup itu apa? Jangan sembarangan bicara padaku tentang apapun di dunia ini karena kita tak selevel. Hidupmu tak seberat hidupku.” Evies tersenyum, “Tidak ada manusia yang tak menderita. Tapi kami tak seperti dirimu, kami tak suka mengumbar sakit kami pada orang lain. Tapi semua itu tergantung cara menyikapi. Apa kau masih terus ingin menjadi sampah, atau mau melakukan perubahan.” “Cih, jangan sampai aku melempar dirimu ke jalanan.” Wanita ini tersenyum miring, “Aku rasa kau tak akan tahu bagaimana nasib perusahaan milik Tuan Eroze jika tak ada kami. Dan mohon maaf kakak ipar, aku dan Kakak memiliki perusahaan lain. Tak hanya milik Tuan Eroze yang kami kelola.” Sunsein mengerang, “Kau!” “HENTIKAN.” suara Nickwa terdengar lembut tapi penuh penekanan. “Ini sudah malam, jangan bertengkar. Evies masuk kamar, Kakak ingin bicara denganmu.” Tanpa membantah, Evies pun masuk ke dalam kamarnya. Nickwa langsung mengikuti lagi belakang namun sempat bicara pada Sunsein. “Jika kau berbuat semena-mena maka yang rugi adalah dirimu sendiri.” dia melanjutkan langkahnya tanpa permisi. “Ayh, pria b******k ini beraninya bicara padaku seperti itu. Hoy kau! Jangan menjadi b******k seperti ini. Aku tak suka gayamu, kau hanya seekor rayap.” umpatnya sembari berteriak kuat. Nickwa tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Sunsein. Pria itu terus melanjutkan langkahnya menemui Evies yang masih duduk termenung karena tak suka dengan tingkah Sunsein. “Evies, jangan seperti itu. Biarkan saja dia melakukan apa saja yang di inginkan. Pernikahan ini juga tak berarti untukku. Ini sudah berapa tahun sejak aku menemui dirinya pertama kali. Tak ada perubahan dalam hidupnya, Sunsein masih sama dan aku tak berminat menjadi bagian dari dirinya.” “Tapi Kak, aku berharap Sunsein bisa menjadi istri yang baik buat Kakak. Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa Kakak sama sekali tidak berminat menjalin sebuah hubungan.” “Kakak berniat Evies, tapi tidak dengan Sunsein. Biarkan pernikahan ini menjadi perantara untuknya agar bisa memiliki perusahaan. Karena dewan direksi tidak akan menginginkan pemimpin yang tidak handal. Kau tahu mereka sangat kritis.” “Kalau aku tahu Kakak hanya setuju menikah dengannya karena hal ini, maka aku tak akan meminta Kakak untuk melakukannya. Pernikahan ini bertujuan agar Kakak bahagia. Tapi apa yang Sunsein lakukan malah sebaliknya. Aku benci mengakui semua ini karena ulahku yang memaksa kalian menikah.” “Tak ada yang di salahkan atas segalanya. Kakak setuju karena ini adalah yang terakhir. Kakak ingin lepas dari belenggu balas budi ini. Kita bisa mulai dari awal karena Kakak tak ingin kita berada di sini lebih lama. Bayangkan Evies, betapa sedihnya Tuan Eroze ketika dia memikirkan anak satu-satunya. Sunsein tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik jika tak kita iringi langkahnya.” “Tapi aku sangat tidak setuju Kak.” “Jangan tarik kalimat yang sudah kau katakan. Persetujuan datang darimu.” Nickwa mengusap rambut adiknya sebelum berlalu pergi. Tak ada niat di hati Nickwa untuk menyakiti Sunsein, semoga wanita itu pun dapat hidup yang layak setelah mewarisi harta sang ayah. Pintu terbuka dan di sana Sunsein baru saja selesai mandi. “Apa kau menginginkan aku sekarang?!” Nickwa tak berminat, dia lebih memilih langsung berjalan menuju ranjang dan memejamkan mata. “Tidurlah.” “Apa kau tak menginginkan Hak-mu?! aku tak bisa menawari orang dua kali. Jadi jika kau menginginkannya maka katakan saja, aku akan melayanimu sebagai istri yang baik.” Nickwa menulikan telinganya, tak ada yang perlu di dengar saat ini. Sudah cukup baginya menjadikan Sunsein pemilik segala aset Tuan Eroze. Nickwa tidak akan membiarkan wanita ini juga memiliki tubuhnya. “Aku sudah katakan padamu untuk tak terlalu memikirkan pernikahan ini. Silahkan layani saja kekasihmu! Aku hanya ingin kau belajar lebih cepat agar aku juga bisa terbebas.” “Sombong sekali! Yakin tak jatuh cinta padaku? Yakin tak ingin tubuhku? Bukannya kau sudah pernah menyicipi tubuh ini?!” Sunsein dengan tubuh polos memeluk Nickwa dari belakang. Dia menggesekkan asset miliknya sangat pelan hingga wanita itu mendesah sendiri. “Tak cukupkah bagimu satu pria saja?! jangan pernah main-main dengan harga dirimu, Sunsein. Saat ini aku masih sangat menghargai dirimu. Jadi tolong jangan membuat aku memalingkan wajah.” “Kau terganggu denganku? Apa kau penyuka sesama jenis? Atau kau sering melakukannya dengan asistenmu si Abraham?!” Nickwa kembali menulikan telinga. “Apa kau tak ingin tidur?! aku sangat lelah, jangan memancingku. Aku tetap pria normal yang menegang ketika kau merayu seperti ini. Tolong pahami tak semua orang butuh seks. Banyak manusia yang juga menginginkan ketenangan dalam hidupnya. Kita masing-masing punya tuEroze hidup. Besok kau harus ke perusahaan. Maka tidurlah agar mata itu tak terlihat jelek.” Sunsein menghela napas, pria sok suci yang tak ingin kelihatan belangnya. Hanya bisa berkata tapi tak bisa menujukkan apapun. Memangnya pria mana yang bisa menahan pesonaku seperti ini, ah sial sekali. Kenapa aku harus berurusan dengannya. Selain tampan dia juga sangat seksi. Sungguh aku tergoda, sayang sekali dia tak menginginkan diriku. Nickwa terdiam di tempat saat tubuh Sunsein bergerak pelan di tubuhnya. Pelan Nickwa berbisik dengan lembut pada istrinya. “Aku tak suka bekas pria lain. Jelas saja bau s****a masih tercium sangat kental di tubuhmu.” Merasa terhina Sunsein langsung mengangkat tubuhnya dari atas roti sobek yang dirinya kagumi sejak tadi. Dia tak menyangka Nickwa sama sekali tak tergoda olehnya. Dan sebagai pengganti rasa malu, Sunsein pun mulai bermain kata. “Kenapa baru sekarang kau tidak menginginkannya. Padahal kau salah satu pria yang menikmati aku sewaktu di sekolah. Bahkan kau pernah menyamar jadi siswa di sekolah kami demi mendapatkan aku.” Nickwa tak menjawab, dia hanya teralihkan sedikit ke arah Sunsein. Sedikit berdehem Nickwa hanya berkata, “Lebih baik kau tidur sekarang, aku tak ingin merusak hari pertama dirimu hanya untuk sebuah kelalaian.” “Uuh, kau dingin sekali.” Sunsein meremas kedua bahunya. “Awas saja kalau kau tiba-tiba menginginkan aku! Jujur saja aku katakan padamu, saat kau meminta maka aku tidak akan mau.” “Sunsein, aku hanya ingin kau tidur.” “Aku tak bisa tidur. Hidupku terlalu keras denganmu. Bisakah sedetik saja membuat aku bahagia?! dari ibuku sampai kau semua sama saja.” “Jangan berkata seperti itu. Kau sendiri yang bilang jika kebahagiaan dirimu sudah ada bersama pria lain yang di cintai sepenuh hati. Jadi kenapa harus menuntut yang lain juga?! kita memang tak memiliki perjanjian nikah. Tapi jika kau bisa menunjukkan dirimu dengan cepat di seluruh pemilik saham. Maka aku akan lebih cepat menceraikan dirimu. Tujuan akhirnya hanya ingin kau mengendalikan perusahaan ini darimu dan untukmu.” “Wah, kau egois sekali. Tak membiarkan aku hidup tenang dan tak memikirkan perusahaan. Kau seperti pria yang lari tanggungjawab. Kau memberikan perusahaan ayahku di saat pandemi seperti ini. Kau pikir bagaimana cara mengembangkannya.” “Aku tak berpikir sejauh itu!” jawabnya pelan. “Aku hanya ingin kau puas setelah memiliki segalanya. Pekerjaan yang dapat menghasilkan banyak uang seperti apa?! itulah yang harus kau pelajari dengan benar jangan terus menerima dari orang lain yang tak memiliki hubungan darah denganmu. Ini sangat tak baik, aku harap kau bisa mengerti.” “Lancang sekali cara bicara itu! Kau terdengar sangat mengerikan. Aku tak ingin menghina dirimu terlalu jauh, tapi kau menghina aku sesuka hatimu. Apa kau tak punya perasaan sama sekali?! aku benci mengakui ini tapi kau sangat salah besar sekarang. Aku akan buktikan padamu bertapa aku pantas mengambil hak yang selama ini kau nikmati.” “Sudahlah Sunsein, lebih baik kau tidur karena aku sangat lelah dan tak ingin membahas apapun saat ini. Aku juga harus menghadapi orang-orang demi dirimu. Jadi mohon pengertiannya untuk tidak membuat masalah di tengah malam begini.” Nickwa membuka pakaiannya yang sudah kotor karena lipstik milik Sunsein. Deg deg, jantung wanita itu hampir lepas karena melihat tubuh maskulin dengan garis otot berjajar rapi. “Apa kau harus berteriak?!” Nickwa yang sudah merebahkan kepalanya kembali terduduk, “Apa lagi?!” “Ini, pakai bajumu aku tak ingin tidur dengan orang mesum.” Nickwa terbengong karena perkataan itu pantas sekali buat siapa?! Nickwa menggeleng berulang kali, dia bingung menghadapi Sunsein. Gadis ini tak berubah sama sekali. “Uh… sakit.” “Kenapa lagi?!” tanya Nickwa yang tidur membelakangi Sunsein, dia malas berdebat dengan wanita ini. Sekarang sudah pukul 03 subuh. “Kenapa Sunsein.” “Asset ini sakit sekali. Aku rasa karena terlalu ketat menggunakan pakaian dalam. Apa kau bisa membantu? Aku sangat butuh bantuan dirimu, Nickwa. Akh, sakit sekali aku tak tahan.” Nickwa memejamkan mata, dia tak ingin membantu Sunsein sama sekali. Dia hanya ingin tidur dengan tenang tanpa gangguan. “Tidurlah Sunsein, aku malas kau kerjai.” “Aku tak mengerjai dirimu, Nickwa. Kata orang sakit pada asset bisa bertanda kanker. Aku mohon bantu aku,ini sakit sekali.” Nickwa berbalik, dia sedikit cemas mendengarnya karena tingkat kanker pada wanita memang cukup besar. “Apa yang bisa aku bantu?!” Sunsein tersenyum karena dia sudah mendapatkan Nikcwa dengan dramanya. Uh, kau pikir bisa lari dariku dengan begitu mudah? Tidak mudah sayang, aku ini manusia yang penuh dengan tekad. “Tolong pijatkan asset ini, aku ingin lebih nyaman jika kau melakukannya. Pijat begini!” Sunsein mengambil tangan Nickwa dan meletakkan pada asset sintal miliknya. Dengan arahan Sunsein tangan Nickwa memutar dan meremas pelan. “Apa sudah cukup?!” Sunsein menggeleng. “Aku tak berbohong padamu 5 dari 10 wanita Indonesia mengalami kanker asset dan ini adalah cara alami menghindarinya. Pijat sebelum dan sesudah tidur. Jika bisa di hisap seperti bayi yang sedang menyusui.” Nickwa menelan saliva dalam hati, Dia normal. Malah sangat normal! Mana bisa Nickwa tak menegang melihat Sunsein dengan tubuh molek nan indah. Tapi dia harus tetap kuat dan tak goyang dengan daya tarik Sunsein, demi harga diri dan memberi Sunsein pelajaran. Uh, si milikku sudah tegang sekali. Ya Tuhan aku mohon cepat akhiri ini. Aku tak sanggup lagi menahan nyeri di ujung milikku ini. Dia berdenyut sangat kuat hingga membuat aku kesakitan. Tolonglah Tuhan, aku tak kuat lagi. Nickwa memejamkan mata sembari meracau sejak tadi di dalam hatinya. “Sunsein, apa ini sudah cukup.” Nickwa membuang wajahnya ketika kedua tangan pria itu kini sudah meremas kedua asset Sunsein dengan bantuan sang istri sendiri. “Sunsein.” panggilnya lagi. “Ini akan memakan waktu cukup lama.” Sunsein membuka mata. “Di bagian sini yang sakit, bisa kau menghisap pelan?! di bagian lingkaran merah ini.” dia menunjuk pada Nickwa agar pria itu mengerti. Entah bohong atau tidak sungguh Nickwa tak mengerti apa yang terjadi pada Sunsein sesungguhnya. Entah benar atau tidak dia tak mengerti sama sekali. Nickwa hanya ingin cepat selesai dan berakhir dengan mengalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN