Dia merasa terintimidasi jika keadaan sama sekali tidak berpihak.
“Presdir, saya mohon pada anda. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, saya sangat memerlukan uang. Keluarga saya berada di bawah garis kemiskinan, tolong saya Presdir.” dia mengantupkan kedua tangan, lalu memohon pada Marco Bie agar tidak di pecat. Saya sangat suling mengatur keuangan, rumah saya penyok dan mungkin akan rubuh beberapa tahun lagi. Saya mohon jangan pecat saya Tuan.” Marco Bie mengerjapkan matanya, dia berdiri untuk pergi ke toilet karena tak sanggup menahan tawanya. “Tuan, saya makan apa jika anda pecat? Uang kuliah saya saja belum selesai di cicil.” dia kembali merengek.
Marco Bie tetap melangkahkan kakinya, sampai di toilet dia melihat cermin dan terkekeh geli. “Ada-ada saja gadis kecil itu, apa sebaiknya aku memanfaatkan situasi? Ayolah Marco, dia tak memiliki uang dan keluarganya di bawah garis kemiskinan.” dia berkata sendiri, lalu terkekeh sendiri menatap cermin. “Ayo kita hadapi dia lagi Marco Bie!” Dia pun keluar dari Toilet dengan sedikit berdehem, “maaf Sunsein, aku tidak akan tahu kau datang hari ini.”
Bianca menjadi kikuk, dia tidak tahu harus berbuat apa saat Predir memiliki tamu yang terlihat cukup penting. “Maaf saya akan keluar terlebih dahulu.”
Marco Bie tidak ingin kehilangan kesempatan, mungkin Bianca tidak akan berani lagi bicara dengannya nanti. “Buatkan Kopi untuk kami,” Bianca yang mendengarnya langsung terkejut, dia awalnya gugup lalu bereaksi berlebihan. “Bianca, apa kau mendengarkan yang aku katakan?!”
“E, e… saya mengerti Tuan, saya akan siapkan kopi.” Bianca dengan cekatan melakukannya, setelah itu dengan cepat kopi siap untuk di minum. “Silahkan Presdir, silahkan Nyonya.” Bianca mempersilahkan mereka.
Marco Bie melihat wajah Sunsein sedikit bingung, mungkin dia tidak pernah melihat Marco Bie seperti ini. “Dia Asisten pribadiku,” ucapnya mencoba untuk menjelaskan. “Namanya Bianca Alexandria.”
Mata Sunsein sedikit membulat, dia melihat ke arah Marco Bie dan pria itu mengangguk. “Cantik sekali…” komentarnya membuat Bianca tersipu malu.
Hari ini sangat melelahkan, Bianca masuk ke dalam bathtub yang di penuhi dengan busa. Setidaknya dia bisa melepaskan penat dan kekesalan setelah menyegarkan diri. Bianca mencoba memejamkan matanya, air hangat yang mengalir ke dalam kulit terasa begitu nikmat. Dia teringat kembali wajah menyebalkan Marco Bie dan betapa cantik wanita yang bertamu hari ini. Dia sangat ramah padahal mereka baru beberapa kali bertemu.
Rasanya Bianca sangat ingin memiliki kakak perempuan yang cantik, elegan, mandiri dan memiliki karisma yang kuat seperti itu. Tapi sayang kakak laki-laki di rumahnya belum ada yang menikah dan itu cukup mengesalkan. Bagaimana pun Nickwa sudah berumur 39 tahun dan sebentar lagi akan menginjak kepala empat, Kimza berumur 28 Tahun, sedangkan Eczo berumur 24 Tahun. Rasanya Bianca tak salah jika menuntut mereka untuk menikah.
Gadis itu mulai memejamkan matanya, dia berkhayal bagaimana jika memiliki para ipar yang cantik dan baik padanya. Mereka akan jalan-jalan bersama, mengobrol dan saling bertukar kosmetik. Hari-hari Bianca akan semakin berwarna dan menyenangkan, walaupun bersama kakak-kakaknya yang saat ini juga sangat menyenangkan tetap saja itu berbeda.
Jika memiliki kakak perempuan dia akan berpesta piama bersama. Pasalnya Bianca yang introvert dan jelek semasa sekolah tidak memiliki teman sama sekali, menyedihkan untuk masa-masa remaja yang seharusnya sangat menyenangkan.
POV NICKWA
Semua berawal dari sebuah wasiat yang mengharuskan diriku menikah dengan seorang gadis bernama Sunsein. Awalnya aku ragu, tapi waktu seolah terus mendorong kami untuk bersama. Hari ini aku datang ke sekolah Sunsein, anak dari Tuan Eroze yang menyelamatkan hidupku.
"Anak-anak perkenalkan ini Nickwa Alexander mulai hari ini dia akan belajar di kelas kita. Tiga bulan lagi kalian akan lulus jadi Ibu harap belajarnya sama-sama ya Nak!"
Semua orang berbisik. Kelas menjadi riuh tapi hanya satu yang aku pandang, siapa lagi kalau bukan Sunsein gadis manis berkulit putih, berambut panjang yang duduk di bangku paling akhir pada sudut ruangan kelas.
Jika aku tidak membaca dan melihat biodata gadis tersebut, aku pikir Sunsein adalah gadis yang lugu karena raut wajah tak menampilkan kenakalan sama sekali.
Gadis itu sangat cuek hingga akhir pelajaran bel pun berbunyi, terdengar suara bisikkan tak jauh dari duduknya diriku. "Sunsein kamu berani enggak sama anak baru itu? Tampan tuh, cool lagi!"
Sunsein memukul meja PLAK dia berjalan dengan angkuhnya sambil membuka kedua kancing seragam bagian atas. Wanita itu pun duduk di meja tepat di hadapan diriku.
Sunsein mengangkat dagu ini dan tiba-tiba lidahnya sudah memasuki rongga mulutku. Dia menyesap dengan nikmat, kedua tangannya sudah meremat rambutku.
Dengan cepat tubuhnya duduk diatas pangkuan ini, dengan kedua kaki yang terbuka lebar. Suara ecapan kami terdengar mengisi ruang kelas. Tak ada suara yang lain, mataku terbuka dan melirik semua siswa dan siswi terbengong melihat kelakuan Sunsein.
Dia melepaskan rematan tangannya di kepalaku, mengangkat tubuhnya dan agak berdiri hingga asset itu berada tepat di mulutku. Aku terbengong dan terkejut dengan aksi ini, berada di dunia hitam sejak kecil dan menjadi ketua geng terbesar di kota sejak muda ternyata tak membawa aku ke dalam fantasi luar biasa yang seperti baru saja terjadi.
Aku terkejut saat aset milik Sunsein penuh di mulutku dia menyumbat tanpa permisi dan sontak semua bertepuk tangan.
Aku normal! Bohong kalau aku bilang benda di bawah ini tak bergetar. Akibat terlalu menegang, ujungnya nyeri saat ini. Tapi... saat aku mulai menikmati, bisa-bisanya dia berdiri memasukkan assetnya dan mengancing seragam kembali, dengan wajah tak berdosa dia pergi begitu saja SIAL!
Dia sangat berani melakukan ini, tak pernah berpikir panjang lagi Sunsein tetap menjadikan dirinya yang sangat berani! melakukan hal apapun sesuka hatinya.
Setelah Sunsein melakukan hal tersebut, aku hanya bisa terdiam menahan hasrat ini. Aku merutuk di dalam hati karena hasrat ingin menikmatinya tiba-tiba sirna begitu saja, Sunsein hanya mempermainkan aku seperti orang gila.
Semua orang bersorak melihat Sunsein sangat berani memperlakukan seorang anak baru seperti ini, salah satu orang di dalam kelas berkata "Bagaimana rasanya? Tidak sia-sia kau bisa menikmati pemberian Sunsein, bukan? Tentu kau tidak bisa melupakannya, dia memang menjadi primadona di sekolah ini, dia salah satu perempuan yang tidak pernah takut untuk melakukan hal yang baru, tetapi apa yang telah terjadi kalau kau menolaknya tadi?"
Aku yang sekarang kebingungan saat semua teman di kelas sangat mendukung apa yang telah di lakukan Sunsein, merasa terbodohi dengan keadaan ini.
Saat aku masih berada dalam kebingungan, tiba-tiba suara bel berbunyi. Tring... semua siswa dan siswa pergi untuk beristirahat menuju kantin. Aku pun dengan santai berjalan ke kantin juga, dan melihat Sunsein berserta geng sedang duduk. Ada yang membuat aku terheran melihat tingkah laku Sunsein yang sangat brutal. Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan seberani ini, sampai aku tidak tahu lagi berkata-kata.
Sunsein memang perempuan cantik, tetapi tingkah yang dia miliki sangat berbeda dengan perempuan banyak yang aku temui. Dia tidak sengaja memandangi wajahku yang sedang duduk di sudut meja kantin, dengan tatapan sinis dan senyuman miring, aku berpura-pura tidak melihatnya, tetapi dia masih saja memandangku dengan tatapan menggoda.
Kilatan wajah Sunsein sungguh memancing orang lain berpikiran nakal, wajar saja semua orang tidak heran dengan tingkahnya yang sedikit brutal.
Sunsein terkenal menjadi satu-satunya perempuan pembully. Entah karena sudah gila ataukah memang aku yang sudah mulai tergoda, aku sempat memikirkan bagaimana jika dia mendekati dan menyodorkan kedua asset lagi? Benda yang begitu besar dan kenyal... aku bertanya pada diriku sendiri... untuk kedua kali aku rasakan perasaan yang bergejolak ingin meremat kedua buah d**a milik Sunsein, Yeah, aku ingin membalasnya dan nyatanya semuanya itu hanya halusinasi saja.
Pertemuan pertama ini sudah membuat aku gila, aku kembali memikirkan semua yang Sunsein lakukan kepadaku beberapa jam lalu. Sunsein hidup seperti orang yang tak memiliki arti, semuanya yang dia lakukan adalah hal biasa baginya.
Bukan dengan aku saja dia melakukannya, tetapi juga dengan banyak laki-laki! menurut dia hal itu biasa saja dan harus dia lakukan jika dia sedang ingin. "Hey kenapa melihatku seperti itu? Apa kau jatuh cinta padaku, hm? Jangan bilang ini cinta pada pandangan pertama."
Dia menggoda seperti aku ini bukanlah pria yang bisa mendapatkan gadis lebih dari dirinya. "Hey! Jangan lihat aku seperti ini..." teriaknya lagi saat berada di ujung pintu kantin.
"Jadi kau yang baru saja di perkosa Sunsein?" Kekehan tersebut terdengar sangat menjijikkan. "Apa rasanya? Enak? Tapi kita semua sudah merasakan itu. Hanya satu yang belum kita rasakan!" bisiknya pelan padaku. "Kau mau tahu? Sunsein masih perawan! Yang bisa buat dia enggak lagi perawan akan aku hadiahkan mobil mewah, mau? Berusaha lebih keras!"
Dia menepuk pundakku lalu pergi begitu saja meninggalkan diriku yang masih terbengong. Ah, aku tidak akan ambil pusing dengan semua ini. Permintaan Tuan Eroze yang harus aku tepati! Tidak ada yang bisa aku tolak atas permintaan yang bisa aku sanggupi ini, tapi bagaimana caranya agar bisa mendapatkan hati gadis itu?
Aku sudah cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan beberapa jam yang lalu. Aku berkata pada diriku sendiri!
Belum selesai dengan segala pemikiran tiba-tiba suara teriakan terdengar kuat dari arah belakang kantin. Aku segera berlari saat melihat kerumunan orang ke arah tersebut.
Mataku membulat saat melihat apa yang terjadi! Sunsein, dia sedang mengeroyok salah satu siswa yang merupakan siswa kelas populer dan mantan ketua organisasi sekolah. "Balikan uang anak-anak atau hari ini kamu mati!" Sunsein berteriak kuat.
Aku hanya bisa menutup wajah dengan malu karena tingkahnya sangat di luar kendali. Kenapa aku di sini? Kenapa aku harus repot pura-pura menjadi anak sekolah saat umurku sudah menginjak dua puluh satu tahun? Akh yang benar saja! kenapa semua ini terjadi padaku? aku pikir dia wanita baik-baik yang akan membuat diriku bahagia seperti Tuan Eroze.
Bel pulang berbunyi! aku yang malas selama pelajaran berlangsung berakhir dengan tidak tahu apapun ketika semua orang membahas tentang tugas rumah. "Nickwa, kau kerjakan bagian ini ya!" ucap teman sebangku.
"Aku? kenapa aku?"
"Jangan bilang selama pelajaran kamu tidur... oh Tuhan Nickwa!"
"Maafkan aku! Aku sedang banyak pikiran jadi tak konsentrasi sama sekali. Maaf ya."
Ya, hanya itu yang bisa aku katakan saat ini karena ini bukan jalurku. "Begini saja! kasih aku uang, maka aku dengan sabar mengerjakan ini, kenalkan aku Reza! Kamu kaya, kan?"
Nickwa hanya tersenyum simpul. "Baiklah Reza kamu yang kerjakan karena aku sangat sibuk." Aku langsung berdiri dan pergi mengikuti Sunsein yang sudah berganti pakaian dengan pakaian supermini.
Bisik-bisik teman Sunsien berkata, "Oy... dia ngikuti kita!" teriak salah satu dari mereka pada Nickwa.
Sunsein berbalik menatap Nickwa! "Apa kau mau ini?" ucapnya sambil membuka dua kancing pakaiannya hingga memperlihatkan buah d**a wanita tersebut. "Ayooo hisap"
Astaga! dalam benakku ini adalah kegilaan yang sudah sangat fatal! wanita ini gila dan tidak bisa di toleransi lagi. Oh Tuan Eroze apa aku harus menikahi anakmu? aku bisa gila karenanya"
"Kau mau aku bagaimana? meremas Assetmu seperti ini?" aku meremat-remat tanganku, "atau menghisapnya seperti ini?" aku memoyongkan bibir ini.
Wajah Sunsein terlihat mengeras dan aku tahu dia merasa kesal dan di tantang! haruskah aku menciumnya saja? Hahahaaa, aku gila. Dia berjalan mendekat padaku lalu mengeluarkan buah dadanya. Meminta aku menghisapnya dengan nikmat.
Aku ini Nickwa Alexander! Bagaimana mungkin aku membiarkan dia meremehkan aku! Aha, aku juga teringat gigi taring yang sudah lama tidak di asah. Aku mengembangkan senyum menatap Sunsein! Dia mendorongku ke lorong dan menyusui diri ini seperti wanita yang penuh dengan asi.
Apa yang aku lakukan? Hahaaa, tentu saja aku menghisapnya dengan penuh percaya diri.
Sunsein meremat tangannya saat aku dengan sengaja mengasah gigi taringku di sana! Dia akan menikmati apa yang aku lakukan atau tidak itu bukan urusanku! "Akh…" teriak Sunsein sambil melepaskan buah dadanya. "Kau gila! Ujung buah dadaku mau pecah rasanya." Sunsein memekik diriku di depan teman-temannya.
"Kau kalah, Sunsein." ucap mereka menepuk bahu wanita tersebut. "Sabar ya... hahaaaa" mereka tak tahan melihat wajah yang kesal terhadapku.
Aku mengerang pada Sunsein. Dia seperti ingin meremasku dan dengan cepat aku pergi! Hahaaaa... aku berhasil mengalahkan dirinya kali ini. "Awas kau ya." umpatnya padaku.
Hah.... ada-ada saja hari ini! Aku tak menyangka bisa terperangkap dengannya. Aku tahu Tuan Eroze adalah pria yang baik! Pasti hatinya sangat sesak memiliki anak seperti ini.
Aku pun tidak mungkin menolak permintaan pria yang telah menyelamatkan aku dan adikku! Aku sangat tak bisa menolak semua wasiatnya.
Saat sedang asyik berpikir ponselku berdering! Siapa lagi kalau bukan Bonang. Dia yang memegang kendali untuk penjualan beberapa barang dari perusahaan. Tapi jangan salah paham! Ini bukan narkoba. Lebih seperti alat-alat yang terbuat dari rotan!