Bab 4. Tragedi kopi

2034 Kata
Rasa lelah sungguh menusuk, Bianca yang tak bisa lagi mengerjakan apapun langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia bersiap untuk membersihkan tubuhnya dari segala kotoran dan minyak yang lengket. Tapi rencana yang baru saja di cerna dalam otaknya tersebut tiba-tiba hilang karena sebuah panggilan telepon di ponselnya. Dia melihat nama Presdir di sana, napas Bianca terasa panas menyapu ponsel itu. Dia malas untuk mengangkatnya tapi takut di pecat karena masalah sepele. “Aku angkat atau tidak ya? Padahal aku baru saja kembali ke Apartemen ini. Bagaimana bisa dia memperbudakku sampai 1x24 jam seperti ini.” Dia mengoceh sendiri. Akhirnya panggilan itu mati, Bianca tersenyum sambil meletakkan ponselnya. Dia tidak ingin di ganggu karena ingin istirahat penuh di dalam kamar mandi sambil berendam. Pada dasarnya Bianca memang suka melakukan semua hal dalam keadaan sunyi. Sayang hari-harinya tak seindah menjadi anak bungsu dari empat bersaudara selama beberapa bulan ini. Bayangan Nickwa yang tidak menyapanya saat bertemu kembali mencemari pikiran. “Entah kenapa aku merasa kecewa saat dia tak menyapa sama sekali. Padahal semua itu adalah keinginanku, tak ada yang salah dari kakak. Sepertinya aku hanya sedih karena dia tak pernah seperti itu, mungkin aku memang salah.” Langit sangat cerah, Minggu ini seorang wanita cantik berharap semua akan baik-baik saja. Beberapa hari ini cukup melelahkan baginya, masalah di perusahaan terus menghantui hingga membuatnya lelah. Ada beberapa hal yang tak bisa Bianca mengerti, dia terus terseret oleh arus sang presdir. Bahkan Bianca mulai memainkan peran yang tak pernah terpikirkan olehnya. Bisa-bisanya di negara seluas ini, dia harus bertemu dengan Bibi Presdir. Terpaksa dia harus menjadi tunangan yang baik. Perbincangan yang cukup alot hampir saja mencelakai Bianca, dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan sang Bibi. Beliau menanyakan kapan mereka akan menikah, karena pesta pertunangan harus sama mewahnya dengan pesta pernikahan. "Bi, Presdir sangat sibuk. Kami sama sekali belum menentukan jadwal pertunangan. Bukan ingin mengulur waktu, hanya saja jadwal yang ditentukan tidak bisa dirubah lagi." "Aduh, padahal dia seorang presdir tapi tak bisa mengatur pesta pertunangan yang sendiri. Apa Bibi harus turun tangan untuk membantumu?! Beberapa hari ini banyak pekerjaannya membuat Bibi lelah, jalan-jalan ke luar negeri tentu saja belum bisa. Jadi Bibi berharap kalian bisa melaksanakan pesta yang luar biasa." Bianca tersenyum kecut, "pasti kami akan mengabari secepat mungkin jika waktu yang telah di tentukan di sepakati." Dia berdiri dari tempat duduknya, "baiklah kalau begitu, karena Bibi harus pergi ke lanjutkan saja makanannya sendiri." Marco Bie sejak tadi mulai kesal karena Bianca tak juga datang, dia samar-samar mendengar jika gadis itu akan pergi menonton bioskop bersama Alen lim, dan itu benar-benar Marco Bie menjadi tidak nyaman. Sejak tadi dia hanya memandangi berkas yang harusnya di kirimkan sejak tadi, walaupun sebenarnya dia bisa meminta bantuan Noni, tapi semua itu percuma karena yang di inginkan Marco Bie adalah Bianca. Dia ingin melihat wajah wanita itu saat ini, suka tidak suka seharusnya Bianca lebih mendengarkan perkataan yang di lontarkan. Sekarang sudah pukul delapan malam, Marco Bie yang masih di kantor akhirnya beranjak keluar dari ruangan. Dia sudah tahu harus berbuat apa asisten yang sama sekali tidak tepat waktu. “Presdir, apa ingin pulang sekarang?!” “Sepertinya kita memang harus pulang sekarang, lebih banyak istirahat mungkin akan membuat diriku lebih segar nantinya. Satu orang sangat tidak penting bagiku,” kalimat tersebut begitu sinis, “ ayo, sekalian bawa semua yang ada di atas meja. Lalu buatkan aku Note untuk memecat Bianca Alexandria, aku tidak akan membiarkan orang seperti itu lebih lama berada di sisiku.” “Tapi Tuan…” “Elfoy, ini bukan ranahmu untuk bicara. Aku selama ini selalu meminta pendapatmu, tapi tidak kali ini. Aku juga tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk kehidupanku ke depannya. Kau pikir aku menyukai wanita seperti itu?!” Beginilah Marco Bie jika bersama orang terdekatnya, dia akan lebih banyak bicara dan berinteraksi, tidak seperti saat bersama yang lain. “Aku tahu, aku mengerti Marco Bie, tapi dengarkan lebih dulu alasan darinya kenapa tidak bisa datang mengurus pekerjaan perusahaan. Jangan karena permasalahan ini kau pun memutuskan hubungan pertunangan kalian. Tenang dan bersabar Marco Bie, aku tak pernah melihat dirimu segila ini.” “Dia sibuk menonton Bioskop, aku tidak bisa menerima itu karena dia tak melihat ponselnya sama sekali padahal aku sudah mengingatkan hari ini kita akan lembur.” Elfoy yang merupakan teman masa kecil Marco Bie dan orang yang paling dirinya percaya, adalah sopir pribadi sekaligus kepala pelayan. Selama ini dia tidak ingin ikut campur tentang apa yang terjadi dalam hubungan percintaan sang sahabat, tapi melihat dirinya yang kalut Elfoy turut bingung. “Aku rasa kau cemburu.” Marco Bie langsung membuka pintu mobil dan membantingnya. “Aku tidak mau tahu, besok pecat dia! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi, jangan harap dia bisa mengemis denganku.” Elfoy tersenyum kecut, dia tidak ingin berdebat dengan Marco Bie yang masih dalam mode kesal dan tidak senang. Dia tidak ingin terbawa emosi sang sahabat karena ini baginya hanya salah paham saja. “Baiklah, aku akan memberitahukan sekretaris perusahaan untuk memecat Bianca.” dia hanya mengangguk, tidak menjawab sama sekali. Bianca memang sedang sibuk menonton Bioskop dengan Alen Lim karena sudah beberapa kali membatalkan janji temu dengannya. Bianca sama sekali tidak melihat ponsel karena sejak tadi Alen mengajak dirinya berkeliling Shanghai, mereka bahkan bermain ke tempat wisata yang terkenal di tempat tersebut. Bianca akui sejak dirinya tiba di sini belum pernah pergi berlibur seperti jalan-jalan dan membebaskan diri untuk menghilangkan kepenatan. “Bianca, ponselmu bergetar sejak tadi!” Gadis itu mengibaskan tangannya, “sudahlah biarkan saja, Jenifer selalu menghubungiku saat malam seperti ini hanya sekadar untuk curhat tentang percintaannya. Dia sangat rapuh jika di malam hari, padahal sudah banyak lelaki yang masuk dalam jeretannya, tapi ujung-ujungnya tetap dia yang menangis, lucu sekali.” “Lalu, apa kau juga akan mengikutinya? Menjadi buaya betina dan mempermainkan hati pria? Kau begitu dekat dengannya, jadi virus buaya betina itu akan mudah masuk ke dalam tubuhmu.” Bianca memicingkan mata, “apa aku memiliki modal untuk melakukan hal itu? Jenifer sangat cantik dan seksi, berbeda jauh dengan diriku yang terlihat seperti serpihan debu. Aku rasa diri ini sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut.” Alen Lim terkekeh, “kau lucu sekali, Bianca!” “Kau yang lucu Alen Lim, padahal jelas-jelas kau hanya sibuk dengan dirimu sendiri beberapa hari ini dan sangat cuek denganku. Tapi sekarang lihatlah dirimu, kau seperti manusia paling santai sedunia.” “Seandainya kau tahu kalau aku sangat cemburu atas dirimu yang lebih sibuk dengan pria Arrogant itu, jika aku mengatakan jati diriku, apa kamu bisa menerimaku, Bianca?! aku selalu bertanya di dalam hati ini. “Aku hanya mencoba untuk bersikap dewasa dan menerima kebohonganmu.” Wajah Bianca awalnya langsung mengejang, dan tak lama setelah itu dia memukul Alen Lim yang sudah menggoda dirinya. “Sudahlah, kita harus kembali sekarang.” Hari yang cerah, dengan matahari yang menyengat tidak membuat hari Bianca sedikit bahagia. Dia ingin memukul kepalanya sendiri saat melihat surat pemecatan berada di atas meja Alen, Jenifer dan Nyonya Erein juga terkejut dengan keberadaan benda tersebut. Bianca yang masih mematung terduduk lemas, dia tidak tahu harus bagaimana karena air matanya lebih cepat turun di bandingkan pemikiran otak. Nyonya Erein yang berada di sana mendekat, dia mencoba menenangkan gadis yang sudah menutup wajahnya tersebut dengan kedua tangan. “Bianca, ayo tarik napas! Kau harus bisa lebih tenang dari ini, jika kau menyerah maka tidak akan pernah ada kesempatan untuk kembali.” Alen lim menggelengkan kepala, “jangan Bianca, kau bisa mendapatkan perusahaan yang lebih baik dari ini. Aku akan merekomdasikan padamu perusahaan lain yang sama besarnya.” Alen menahan tangan Bianca yang sudah berdiri, “Jika kau memohon padanya, maka pria itu akan besar kepala. Dia tidak akan memaafkan dirimu dengan mudah Bianca, kita semua tahu bagaimana watak Presdir.” Bianca ragu, tapi dia tak bisa menerima ini. Perusahaan milik Marco Bie adalah pilihan saudara laki-lakinya, jika dia pindah dari sini itu berarti Bianca telah gagal dan kalah dalam menjalankan tugasnya. Sesuai perjanjian dirinya akan di nikahkan dan mengikuti apapun yang mereka inginkan. Bianca mengusap wajahnya, dia tidak ingin hal itu terjadi. “Aku tidak bisa tinggal diam Alen, jika aku harus memohon maka akan aku lakukan dengan benar, aku sungguh-sungguh untuk ini.” Alen tidak bisa berkata apapun lagi, dia melepaskan genggaman tangannya di lengan Bianca. Jenifer yang sejak tadi memperhatikan Bianca mengulas senyum kecut, sedangkan Nyonya Erein yang sejak tadi sangat sedih dan bingung pun ingin turut handil dalam membantu Bianca. “Jangan lakukan itu, Bu… Bianca bisa kehilangan harga diri jika anda maju ke depan. Biarkan dia menyelesaikan permasalahan sendiri. Saya yakin dia sudah cukup dewasa untuk ini, dan jika memang tak terbukti bersalah maka Presdir harus siap memakan peraturannya sendiri.” Jenifer terlihat sangat penasaran akan itu. “Sebelum kita masuk ke dalam perusahaan, di luar tertulis sangat jelas kalau keadilan adalah segalanya. Jika dia tak menjalankan itu sama dengan menjilat ludah sendiri!” Nyonya Erein setuju, “betul yang kau katakan Jenifer, jika Presdir memecat dengan alasan yang tidak sebanding berarti dia sudah memakan ludahnya sendiri.” “Tok, tok, permisi Tuan, ini saya Bianca.” Marco Bie yang ada di dalam sana tidak bereaksi sama sekali, dia pun mengetuk kembali pintu karena Presdir tidak menjawab sama sekali. “Tuan, saya harus bicara pada anda!” dia berkata dengan pelan. Suasana sangat sunyi, sampai suara yang dingin berkata. “Masuklah.” Bianca menggigit bibirnya, dia gugup sekali dan tak lama wajah sang Presdir ada di hadapan dirinya. “Selamat pagi Pak, saya datang kemari karena ingin mempertanyakan masalah pemecatan saya, kenapa anda melakukannya kepada saya?! bisakah anda memberikan jawaban yang tepat agar hati ini menjadi tenang?!” Marco Bie mengangkat wajahnya, “memangnya siapa dirimu sampai perlu penjelasan dariku?!” Bianca yang terintimidasi gini mulai gugup, “Sa-saya ke sini karena ingin berbicara pada Presdir, saya adalah karyawan anda jadi wajar saja pertanyaan atas pemberhentian saya.” Wajah Marco Bie terlihat datar, tapi siapa yang tahu isi hatinya saat ini. Pria itu tak terhitung entah berapa kali mengumpat karena Bianca yang lebih memilih pergi menonton bioskop daripada menyelesaikan pekerjaannya. Walaupun hati Marco Bie sudah sangat tenang, dia tetap tak bisa membiarkan Bianca terus berada di samping pria yang tak dirinya sukai. Sungguh dia benci di saat menimbang segalanya, meskipun jadi tidak enak dengan keluarga besar tersebut tetap saja Marco Bie lebih memilih untuk menyelamatkan kesehatan mentalnya sendiri. Bianca mulai menangis, Marco Bie enggan melihat mata gadis itu. Dia yakin sudah menentukan pilihan yang benar, Bianca sudah tidak bisa menghargai dirinya sama sekali. “Apa tugasmu di sini? Jawab saja dalam hati Bianca. Lalu apa kau tidak melihat ponselmu? Atau kau memang sengaja mengabaikannya? Sekretaris pribadi harus 1 X24 Jam siap di hubungi. Jangan bilang kalau kau tidak mengetahui tentang itu. Karena dirimu 1proyek perusahaan ini lenyap, apa aku harus menceritakannya bagaikan dongeng? Aku bukan pendongeng yang handal Bianca sepertinya kau tidak siap masuk dalam dunia kerja, sebaiknya kau pikirkan perkataanku. Tidak ada maksud untuk menggurui, aku juga tidak menerima pembenaran. Yang kau lakukan salah menurutku dan menurut aturan, tapi sepertinya tidak bagimu. Kau terlalu percaya diri, dan aku tetap memecat dirimu dari perusahaan ini.” Bianca lemas sekali, dia sampai terduduk di lantai. Gadis itu memeriksa ponselnya lagi, tak ada panggilan dan pesan di sana. Bianca pun baru ingat jika dia menyaring panggilan Presdir tersebut hingga tak tampil di layar ponsel. Seketika tangisnya pecah, dia sangat sedih dan tak bisa di bendung lagi. Marco Bie yang melihat itu langsung menutup pintu, untunglah ruangan ini kedap suara. Dia pun langsung menghampiri Bianca. “Jangan menangis di sini, pulanglah.” gadis itu menggeleng, suara teriakan dan isak tangis semakin mengudara. “Aku tidak ingin ada salah paham di perusahaan ini, kau harus cepat kembali Bianca.” Marco Bie memaksa tubuh gadis itu berdiri. Kini Bianca dan Marco Bie saling berhadapan, mereka tak saling menatap karena sibuk dengan diri masing-masing. Bianca yang sejak tadi menghapus air matanya berusaha menenangkan diri dan ingin melakukan penawaran dengan sang Presdir yang ternyata benar-benar sangat dingin. Bianca pikir dia akan iba setelah dirinya memohon, bahkan mengemis pekerjaan ini, tapi semua itu nyatanya tidak terjadi. Bahkan dia hanya memberikan Bianca segelas air putih tanpa bicara apapun. Dunia kerja begitu keras, Bianca mulai merasakan kepahitannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN