Elfira yang kepalanya yang masih pusing karena masih merasa mengantuk ditambah saat tadi bertabrakan dengan seseorang, membuat kepalanya semakin sakit karena terjatuh. Dia duduk dengan bersandar sembari menutup matanya di kursi kerjanya. Elma--sahabatnya menatap heran Elfira.
"Ada apa?" tanya Elma pada Elfira.
"Nggak ada apa-apa," sahut Elfira tanpa membuka mata atau sekedar melirik Elma
sebentar.
"Lalu?" tanya Elma lagi merasa sangat penasaran, dan seperti wajib untuk Elfira jawab
karena dia sangat ingin tahu.
Elfira membuka matanya menegakkan lehernya menatap Elma dengan tajam. "Bisa
berhenti bertanya dulu, Ma!? Gua sedang tidak ingin menjawab apa pun,"
pinta Elfira kesal.
Elma mendengus tidak suka dengan nada bicara Elfira yang sangat sinis. Bukankah, dia
bertanya baik-baik, lalu kenapa Elfira begitu ketus dan sinis padanya? Ada apa
dengan gadis itu pikir Elfira. Elma masih tetap memperhatikan Elfira yang kini
sudah kembali menutup matanya dan menyadarkan kepalanya. Padahal, sekarang
sudah jam kerja, tetapi sahabatnya yang satu itu masih terlihat santai-santai
saja.
Elma yang tidak ingin di tatap sinis oleh gadis di sampingnya itu, memilih untuk
melanjutkan pekerjaannya yang lebih penting daripada mewawancarai Elfira yang
akhirnya kesal padanya. Sepertinya, suasana hati sahabatnya itu sedang tidak
baik. Biarlah dulu begitu, nanti saja Elma akan bertanya saat suasananya
kembali membaik.
Namun, baru saja Elma akan mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba saja. Andra--asisten
Kendra-- CEO perusahaan tersebut datang dan menyerukan nama Elfira, membuat dua manusia.
Bukan, bukan hanya dua manusia itu yang tersentak kaget. Tetapi semuanya. Semua
warga divisi itu terkejut mendengar nama Elfira disebut oleh Andra.
Sontak membuka mata dan bangkit berdiri dengan raut wajah yang tidak karuan.
Jantungnya berdebar kencang sekali. Semua itu karena dia terkejut. Namanya
tiba-tiba disebut oleh seseorang.
"Kamu Elfira, 'kan?" tanya Andra memastikan pada Elfira.
Elfira yang ditanya begitu hanya mampu mengangguk lemah karena masih merasa lemas dan
terkejut. Semua mata tertuju pada Elfira dan Andra. Begitu pun, Elma yang
merasa heran. Baru pertama kalinya, Elfira dipanggil di seperti itu dengan
Andra. Ada apa?
"Iya, Pak. Saya sendiri, ada apa, ya?"
"Kau, ikutlah aku. CEO memanggilmu," ujar Andra.
Elfira terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Andra padanya. Untuk pertama
kalinya, dia dipanggil oleh CEO Perusahaan tempat dia bekerja.
"Fi, lo dipanggil, Pak Ceo."
"Ck, gua dengar, kok, Ma." Elfira mendengus sebal.
"Ayo, kamu sudah ditunggu sejak tadi," kata Andra seraya berbalik hendak pergi,
tetapi Elfira memanggilnya. Alhasil, Andra kembali berbalik dan menatap Elfira
dengan kening mengerut. "Ada apa lagi?"
"Kalau boleh tahu, ada apa, ya?! Kenapa saya dipanggil?"
"Untuk masalah itu, biarkan Pak Kendra saja yang menjelaskan," ujar Andra.
"Mending sekarang kamu temui dia. Soalnya, dia reseh kalau menunggu
terlalu lama," goda Andra dengan menahan senyumnya saat melihat wajah Elfira
yang ketakutan.
Tidak ingin apa yang dikatakan Andra terjadi dengan dirinya, sehingga dia dengan
buru-buru ikut bersama Andra menuju ruangan CEO. Dengan perasaan gelisah, Efira
berjalan di belakang Andra. di dalam kepalanya banyak sekali
pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan, yang ingin segera dapat jawabannya.
Namun, memangnya siapa yang akan menjawab pertanyaan Elfira itu. Elfira menarik
napasnya saat sudah berada di depan ruangan CEO. Andra yang hendak memutar
kenop pintu ruangan Kendra, tetapi melihat Elfira yang tengah ketakutan dan seperti
berat untuk masuk membuat dirinya mengurungkan niatnya, dia pun menghampiri
Elfira dan tersenyum tipis.
"Ada apa?" tanya Andra.
"Eh, tidak apa-apa, kok, Pak."
terlihat Elfira sangat gugup, sehingga Andra yang melihatnya merasa sangat lucu.
Elfira yang kepalanya yang masih pusing karena masih merasa mengantuk ditambah saat tadi bertabrakan dengan seseorang, membuat kepalanya semakin sakit karena terjatuh. Dia duduk dengan bersandar sembari menutup matanya di kursi kerjanya. Elma--sahabatnya menatap heran Elfira.
"Ada apa?" tanya Elma pada Elfira.
"Nggak ada apa-apa," sahut Elfira tanpa membuka mata atau sekedar melirik Elma
sebentar.
"Lalu?" tanya Elma lagi merasa sangat penasaran, dan seperti wajib untuk Elfira jawab karena dia sangat ingin tahu.
Elfira membuka matanya menegakkan lehernya menatap Elma dengan tajam. "Bisa
berhenti bertanya dulu, Ma!? Gua sedang tidak ingin menjawab apa pun,"
pinta Elfira kesal.
Elma mendengus tidak suka dengan nada bicara Elfira yang sangat sinis. Bukankah, dia
bertanya baik-baik, lalu kenapa Elfira begitu ketus dan sinis padanya? Ada apa
dengan gadis itu pikir Elfira. Elma masih tetap memperhatikan Elfira yang kini
sudah kembali menutup matanya dan menyadarkan kepalanya. Padahal, sekarang
sudah jam kerja, tetapi sahabatnya yang satu itu masih terlihat santai-santai
saja.
Elma yang tidak ingin di tatap sinis oleh gadis di sampingnya itu, memilih untuk
melanjutkan pekerjaannya yang lebih penting daripada mewawancarai Elfira yang
akhirnya kesal padanya. Sepertinya, suasana hati sahabatnya itu sedang tidak
baik. Biarlah dulu begitu, nanti saja Elma akan bertanya saat suasananya
kembali membaik.
Namun, baru saja Elma akan mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba saja. Andra--asisten
Kendra--Ceo perusahaan tersebut datang dan menyerukan nama Elfira, membuat dua manusia.
Bukan, bukan hanya dua manusia itu yang tersentak kaget. Tetapi semuanya. Semua
warga divisi itu terkejut mendengar nama Elfira disebut oleh Andra.
Sontak membuka mata dan bangkit berdiri dengan raut wajah yang tidak karuan.
Jantungnya berdebar kencang sekali. Semua itu karena dia terkejut. Namanya
tiba-tiba disebut oleh seseorang.
"Kamu Elfira, 'kan?" tanya Andra memastikan pada Elfira.
Elfira yang ditanya begitu hanya mampu mengangguk lemah karena masih merasa lemas dan
terkejut. Semua mata tertuju pada Elfira dan Andra. Begitu pun, Elma yang
merasa heran. Baru pertama kalinya, Elfira dipanggil di seperti itu dengan
Andra. Ada apa?
"Iya, Pak. Saya sendiri, ada apa, ya?"
"Kau, ikutlah aku. CEO memanggilmu," ujar Andra.
Elfira terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Andra padanya. Untuk pertama
kalinya, dia dipanggil oleh CEO Perusahaan tempat dia bekerja.
"Fi, lo dipanggil, Pak Ceo."
"Ck, gua dengar, kok, Ma." Elfira mendengus sebal.
"Ayo, kamu sudah ditunggu sejak tadi," kata Andra seraya berbalik hendak pergi,
tetapi Elfira memanggilnya. Alhasil, Andra kembali berbalik dan menatap Elfira
dengan kening mengerut. "Ada apa lagi?"
"Kalau boleh tahu, ada apa, ya?! Kenapa saya dipanggil?"
"Untuk masalah itu, biarkan Pak Kendra saja yang menjelaskan," ujar Andra.
"Mending sekarang kamu temui dia. Soalnya, dia rese kalau menunggu
terlalu lama," goda Andra dengan menahan senyumnya saat melihat wajah Elfira
yang ketakutan.
Tidak ingin apa yang dikatakan Andra terjadi dengan dirinya, sehingga dia dengan
buru-buru ikut bersama Andra menuju ruangan Ceo. Dengan perasaan gelisah, Elfira
berjalan di belakang Andra. di dalam kepalanya banyak sekali
pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan, yang ingin segera dapat jawabannya.
Namun, memangnya siapa yang akan menjawab pertanyaan Elfira itu. Elfira menarik
napasnya saat sudah berada di depan ruangan CEO. Andra yang hendak memutar
kenop pintu ruangan Kendra, tetapi melihat Elfira yang tengah ketakutan dan
seperti berat untuk masuk membuat dirinya mengurungkan niatnya, dia pun
menghampiri Elfira dan tersenyum tipis.
"Ada apa?" tanya Andra.
"Eh, tidak apa-apa, kok, Pak."
Elfira sangat gugup, sehingga Andra yang melihatnya merasa sangat lucu. sehingga membuat ANdra sangat ingin tertawa terbahak-bahak karena raut wajah Elfira. Elfira terlihat sangat manis, dai baru memperhatikan Elfira dan baru juga menyadari kalau trnyata Elfira sangat cantik.
"Ayo, masuk. tidak akan terjadi apa-apa denganmu. percaya padaku," pinta Andra.
Elfira kemudian mengangguk, dan mengikuti Andra masuk ke dalam ruang itu. Kepala Elfiraditundukkan tidak berani melihat bagaimana wajah Ceonya. selama sudah hampir tiga tahun bekerja di sana, Elfira memang tidak pernah tahu bagaimana rupa ceo dia.
"Pak, ini Elfira sudah ada," ujar Andra pada Kendra yang mengamati Elfira yang terlihat takut dengan kepala yang menunduk, padahal pagi tadi dia terlihat sangat berani dan sombong.
"Kau bisa pergi sekarang, Ndra."
Andra membulatkan matanya, dia tidak mengerti maksud Kendra. kemudian, Kendra melambaikan tangannya kearah Andra memberi kode pada pria itu untuk segera meninggalkan ruangan Kendra. Tidak ingin Kendra benar-benar memecat dirinya, dan di kehilangan pekerjaannya. Andra kemudian pergi meninggalkan Elfira dan Kendra di ruangan itu berdua saja.
Sebelum benar-benar pergi, Andra menggoda Elfira membuat gadis itu semakin tidak karuan saja kalau harus ditinggal berdua di ruangan tersebut.
"Hati-hati, dia sanga agresif kalau dalam keadaan seperti ini," ujar Andra.
"He'em .. Andra kau bisa pergi sekarang sebelum aku benar-benar memecatmu."
Ternyata, Kendra mendnegarnya, membuat Andra berdehem dan segera pergi,. yang benar-benar pergi meninggalkan Elfira yang ketakutan. terlebih Elfira seperti mengenali suara pria di depannya itu, tetapi Elfira Masih belum benari untuk mendongak dan melihat siapa orang tersebut, dan mengetahui alasan dirinya di panggil ke ruangan tersebut.
"Kenapa kau menunduk?" tanya Kendra dingin. "Bukankah, tadi kau terlihat begitu angkuh dan ,menjengkelkan?1"
Elfira seperti benar-bear mengenali suara itu. Dengan segala keberanian, Elfira mendongak dan melihat siapa orang yang duduk di depannya. menatapnya dengan sangat sinis.
bersambung