Bertemu Setan

1294 Kata
POV ELFIRA “Kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” tanya Pak Kendra—CEO di perusahaan ini. Sekaligus pemilik perusahaan tersebut. Pria yang sama sekali tidak pernah kulihat, dan tidak sengaja kutabrak juga kumarah-marahi pagi tadi. Padahal yang salah itu aku, tetapi karena kesal aku malah melimpahkannya pada Pak Kendra yang ternyata Bosku. Lalu, sekarang aku berada dalam masalah. Kutundukkan pandangku tidak berani menatapnya saat dia menatapku dengan sangat tajam. Perasaan tadi dia sangat lembut, meski sia terlihat cuek dan dingin. Namun tatapannya tidak juga setajam itu. Sial, umpatku dalam hati. Ini semua karena aku terlalu ceroboh sehingga membawaku ke dalam masalah sekarang. Sepertinya, Pak Kendra akan balas dendam padaku karena tadi tidak sengaja memakinya. Entahlah, apakah aku tidak sengaja atau sengaja, aku tidak tahu. “Kenapa diam saja?” Pak Kendra bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku. “Perasaan aku tidak salah mengingat. Kau gadis yang tadi bertemu aku di koridor kantor. Yang dengan sangat tidak tahu malu. Menyalahkan seseorang atas kesalahanmu sendiri.” Aku memejamkan mataku seraya menggigit bibir dalamku. Aku sudah menduga dia akan mengatakan hal-hal yang akan membuatku malu dan merasa tidak enak. Ingin rasanya aku membalas ucapannya, tapi kurungkan. Mau bagaimana pun, dia Bosku. Pak Kendra akan memecatku andai saja aku membalas ucapannya, dan aku akan berakhir tidak memiliki pekerjaan, dan Ayah akan memaksaku untuk mengambil alih perusahaan. Hal yang selama ini aku hindari, dan lebih memilih menjadi babu di sini. Di banding harus bekerja bersama Ayah, yang akan terus mengawasiku dan membuatku tidak nyaman. “Apa kau tiba-tiba bisu, Elfira Agnes Zalia?” Pak kendra menyebut namaku dengan lengkap, membuatku ternganga dibuatnya. Ad apa dengan pria yang terlihat dingin di depanku ini? Kenapa dia begitu menyebalkan sekarang? Kenapa juga aku harus berurusan dengannya. “Tidak, Pak,” kataku dengan gagap. “Lalu? Kenapa sejak tadi saya bertanya kamu hanya diam saja?” “Memang apa yang Anda tanyakan?” Pak Kendra mendengus sebal. “Selain kamu tidak tahu malu, kamu juga bego dan tuli,” ejeknya padaku. aku memutar bola mataku tidak suka mendengarnya. Untuk pertama kalinya ada yang berani menyebutku dan mengejekku seperti itu. “Apa kau tahu ada apa saya memanggilmu?” ulangnya. “Tidak Pak,” jawabku sembari menggeleng. “Memang ada apa, Pak?” aku berusaha tenang agar tidak terlalu gugup. “Oh iya, Pak. Untuk masalah tadi, saya minta maaf. Saya tidak tahu kalau—“ “Jadi kalau kau tahu saya Bos kamu, kamu akan bersikap baik. Begitu?!” Aku terdiam, kenapa aku merasa serba salah? Huh, dasar es balok. Suka sekali membuat orang terintimidasi oleh sikap dan tatapannya. ingin rasanya aku mengacak-acka wajah datar dan tatapan singa mematikannya itu. “Bukan begitu, Pak. Cuman tadi juga saya tidak sepenuhnya salah,” kataku membela diri. Alis Pak Kendra terangkat sebelah, membuakku was-was dibuatnya. Dia melangkah maju mendekat, sehingga aku mundur selangkah menghindari kedatangannya. Dia berhenti menyadari pergerakanku. “Sepertinya sudah cukup basa-basinya.” Pak Kendra berbalik dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia menatapku semakin tajam. “Kalau begitu, kita langsung saja.” Aku menunggu apa yang pria ini akan lakukan denganku, apakah begitu fatal kesalahanku sehingga membuatnya harus menawanku di sini? Hah, dasar menyebalkan. “Silahkan kamu pilih sendiri hukuman apa yang pantas untukmu,” katanya membuat raksiku berlebihan. Bagaimana mungkin dia menyuruhku memilih hukuman untuk diriku sendiri. Memang ada orang yang mau melakukan itu. Kalau ada, ya, mungkin dia akan memilih hukuman yang sangat mudah dan tidak akan membuat dirinya kesulitan, dan mungkin juga aku akan melakukan hal yang sama. “Maksud Bapak? Saya—“ “Aiz, kamu terlalu lelet. Kalau begitu biar saya sendiri yang menentukan kamu akan dihukum apa,” katanya menyela kalimatku. Astaga ... ada apa dengan pria satu ini? Kenapa dia sungguh menyebalkan?! Pertemuan pertama yang sangat mengesankan untukku, sehingga membuatku enggan lagi bertemu dengannya. Namun, bagaimana itu bisa. Dia Bosku, dia atasanku sekaligus pemilik perusahaan ini. Tidak mungkin sekali kalu aku tidak akan bisa bertemu dengannya walau aku mau. *** “Fi, itu apa?” tanya Elma saat melihatku membawa begitu banyak kertas-kertas sampai membuat aku tidak bisa melihat jalan di depan saking banyaknya. “Lo memangnya lihat apa?” tanyaku berhenti berjalan karena memang sangat susah. Bayangkanlah aku membawa begitu banyak berkas ini sampai membuat wajahku tidak terlihat turun ke lantai satu. Bagaimana kesulitannya ku ini. Hah, beginilah punya Bos nggak ada akhlak. “Gua lihat seperti kertas, dan mungkin itu berkas. Betul begitu?!” Aku memutar bola mata jengah di balik tumpukan berkas yang menghalangi wajahku, sehingga membuat Elma mungkin tidak dapat melihat wajah kesalku ini. “Memang ini berkas, Ma.” Aku mengatakannya dengan penuh penekanan. “Sudah tidak usah banyak cincong, mending lo bantuin gua buat nurunin ini, deh.” Tanpa menunggu aku suruh untuk kedua kalinya, Elma bergegas membantuku. Bukan hanya Elma saja, tetapi yang lain juga seraya mengejekku. Bukannya aku senang dibantu, aku malah kesal saja dengan mereka yang terus mengejek. “Ini berkekas sebanyak ini, mau lo apain, Fi?” tanya Dion teman satu divisi denganku. “Mau gue makan,” jawabku asal dan ketus yang membuat yang lain tertawa, tapi tidak dengan Dion. Ia terlihat ikut kesal dengan jawabanku. Salah sendiri bertanya hal yang mungkin sudah dia tahu, memang berkas seperti ini enaknya di apain? Kalau aku , sih, maunya dibuang aja. Mataku sakit melihatnya, apalagi otakku. Sudah mengeluh sejak tadi. Ini semua karena Pak Kendra yang menyuruhku memeriksa berkas sebegitu banyaknya. Tidak tahu apakah aku sanggup atau tidak, juga sepertinya aku akan datang telat malam ini. Biarlah, itu artinya aku bisa terbebas dari pertemuan bersama sahabat Ayah yang akan mengenalkanku dengan calon jodohku. Hah, ada untungnya juga Pak Kendra menghukumku seperti ini, meski lebih banyak ruginya, sih. “Ini kenapa banyak bangt berkas lo bawa, Fi?” “Pak Kendra ngehukum gua,” sahutku dengan raut wajah bete seraya duduk di kursiku. “Karena?” tanya Elma penasaran. Aku pun mulai menjelaskan pada Elma kenapa sampai Pak Kendra menghukumku seperti ini. Menyuruh memeriksa berkas sebanyak itu. Elma tertawa membuatku mendengus kesal. “Ketawa terus, Ma. Lo emang selalu senang saat gua dalam kesulitan kayak gini, kan?” “Hahah ... memang lo ada masalah apa sama Pak Kendra sampai Bos lo sendiri lo bentak-bentak?” Aku memutar bola mata malas. “Mana gua tahu kalau dia itu Pak Kendra—CEO perusahaan ini. Lagian, kan gua nggak pernah ketemu sama dia,” ungkapku. “Astaga ... lo nggak pernah ketemu sama Pak Kendra?” Aku mengangguk. Elma membulatkan matanya seolah sedang melihat setan di siang hari. Hanya karena mendengar aku tidak pernah bertemu Pak Kendra selama bekerja di sini. “Selama lebih lima tahun, Fi?” Sekali lagi, aku mengangguk mengiyakan. Elma menggeleng masih dengan mata yang melotot, membuatku takut saja. Takut mata Elma akan terjatuh ke luar. “Astaga ... terus lo kerja di sini ketemu sama siapa saja?” tanyanya. “Ketemu lo, Pak Andra yang ganteng, Dion, dan yang lain-lainnya.” Elma menepuk jidatnya, aku bingung dan heran dengan apa yang dia lakukan saat ini. “Lo tahu nggak, Fi?” aku lantas menggeleng mendengarnya bertanya. “Enggak, gua nggak tahu dan nggak mau tahu. Waktu gua sudah terbuang hanya karena lo, Ma.” “Ck, dasar. Ihh ... fi, sini gua kasih tahu lo. Karyawan di sini itu bela-belain datang cepat supaya bisa ketemu dengan pak Kendra yang ganteng itu. Dan lo selama lima tahu saja nggak tahu siapa CEO lo. Parah banget,” cerocos Elma tiada henti membuat telingaku sakit. “Memang itu penting, Ma?” tanyaku lantas dia mengangguk, aku membuang napas kasar. “Gua lebih baik ketemu setan kantor ini di banding harus bertemu dia,” kataku seraya menghadap komputer dan menyalakannya, mengabaikan Elma di sampingku yang terus saja mengatakan hal yang membuatku muak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN