POV ELFIRA
Aku meregangkan otot-otot tanganku yang terasa kesemutan semua, akibat berkas-berkas sialan yang berserakan di atas meja kerjaku. Kubawa mataku berkeliling, ternyata sudah tidak ada orang di sini kecuali aku yang masih saja berada di sini, karena ulah Pak Kendra itu. Walau jam kerja sudah sejak tadi lewat, tapi aku masih di sini dengan masih banyak berkas yang belum selesai kuperiksa semuanya. Dan masih ada beberapa lagi yang butuh aku periksa juga selesaikan segera.
“Haaahh ....” Helaan napasku yang terdengar berat dan kasar.
Sungguh hari yang sangat melelahkan hari ini. Hanya karena aku tidak sengaja berkata kasar dan menyalahkannya atas kesalahanku, dan membuatnya kesal. Sehingga berakhir begini. Sekali lagi aku pandangi komputer di depanku dan membuak satu berkas lagi sebelum aku memutuskannya untuk pulang, lalu melanjutkannya besok pagi saja.
Sudah sangat tidak sanggup mataku ini, juga tanganku kalau harus menyelesaikan semuanya hari ini juga, bahkan aku sudah sangat lapar. Gara-gara hukuman ini aku sampai rela tidak ikut makan siang bersama teman-teman yang lain juga Elma. Memilih untuk menyelesaikannya terlebih dahulu.
Kukira dengan tetap tinggal di kantor dan bekerja tidak ikut makan siang akan membantuku untuk bisa menghemat waktu, tapi ternyata berkas ini memang terlalu banyak dan susah, bahkan sudah hampir magrib pun. Pekerjaanku belum juga usai.
“Dia memang Bos yang kejam,” kataku mendumel sambil menatap jejeran angka dan huruf di layar komputerku.
Rasa kesal, mengantuk, lelah dan lapar semua bercampur menjadi satu kesatuan. Sehingga ada rasa memaki serta melemparkan semua berkas-berkas ini ke wajah kaku dan menyebalkannya Pak Kendra.
“Kenapa yang lain pada memujinya. Mungkin karena dia belum tahu, kalau pria yang dia kagumi dan puja-puja itu hampir mirip dengan singa jantan lapar yang kejam.” Aku masih saja menggerutu karena kesal.
“Siapa yang mirip Singa Jantan lapar yang kejam, Elfira Agnes Zalia?”
Aku tersentak mendengar suara itu dan dengan sigap aku berbalik seraya berdiri dari kursi menghadap orang tersebut, dan ternyata pak kendra. Dia menatapku dengan sangat tajam. Aku menggigit bibir dalamku seraya menutup mata. Aku hanya bisa merutuki diriku dalam hati.
Mampu kau, Fi. Kenapa juga dia masih ada di sini? Astaga ... jangan sampai dia kembali menghukumku. Aku membatin seraya menunduk tidak berani membalas tatapannya.
“Pak Kendra, masih di sini, Pak?” tanyaku basa-basi.
“Memang kenapa kalau aku di sini? Lagian ini kantorku. Tidak akan ada yang melarangku di sini, bukan?!”
Benar juga yang dikatakannya, sih, tapi apakah dia bisa mengatakannya lebih lembut dan tidak perlu menatapku seperti singa begitu? Dia hampir sama persisi, bahkan mungkin dia spesies yang sama.
“Harusnya saya yang bertanya begitu padamu. Kenapa kau masih di sini? Apakah segitu nikmatnya bekerja sampai kau lupa pulang?!”
Astaga ... kenapa rasanya aku sangat ingin melemparinya komputer itu ke wajahnya? Apa tadi dia bilang? Senikmat itu bekerja, apa dia lupa ingatan atau pura-pura lupa. Atau mungkin sedang mengejekku. Kalau karena dirinyalah aku sampai masih berada di sini. Sementara di rumahku pasti kasur dan gulingku sudah sangat merindukanku.
Namun dengan menyebalkan dan menjengkelkannya dia, dia sampai mengatakan hal yang sangat membuatku muak melihat wajahnya dan mendengar suaranya itu. Aku mendengus sebal.
“Bisa nggak usah ngejek, Pak?”
“Bagaimana? Sudah selesai?” tanya Pak Kendra to the pint.
Aku hanya menggeleng. Malas membuka suara. “Ya sudah, selesaikan. Kalau sudah selesai, letakkan saja di atas mejaku. Aku akan memeriksanya besok saja,” katanya santai seraya berbalik meninggalkanku setelah kalimatnya selesa.
Terdiam, melongo dan tidak percaya yang hanya bisa aku lakukan saat ini. Aku menatapnya dengan sangat jengkel. Aku menendang kursi Elma dengan sedikit keras, sehingga membuat kakiku sakit, dan mungkin luka. Astaga ... Pak Kendra sangat menjengkelkan.
Sama sekali tidak ada tampan-tampannya seperti yang lain bilang. Kenapa aku harus terjebak dengan bos yang seperti ini. Tiba-tiba saja aku ingin resign dan meninggalkan dengan segera kantor juga Pak Kendra. Padahal, dulu akulah yang paling antusias dan bersemangat di kantor ini, bahkan tidak pernah ada niatan untuk keluar dari perusahaan ini. Namun kenapa sekarang malah berubah kayak begini setelah bertemu dengannya?
“Dasar manusia Es menyebalkan.”
***
“Ah .. akhirnya, selesai juga,” kataku seraya mematikan komputerku.
Sekali lagi aku rentangkan tanganku untuk melemaskan otot-ototku yang tegang karena hampir seharian kupakai mengetik. Pinggangku rasanya mau patah akibat duduk terus, dan jangan lupakan dengan cacing-cacing di perutku yang sudah sejak tadi mendemo mint makan.
“Tinggal mengantarnya ke ruangan Pak Kendra, dan setelahnya gua bisa pulang istirahat,” kataku bangkit berdiri dan merapikan meja menyusun berkas-berkas dan membawanya ke ruangan Pak kendra.
Walau sangat sulit, tapi aku tetap berusaha untuk bisa sampai di ruangan Pak Kendra dengan segera. Setelah semua berkas itu aku letakkan, lalu aku keluar dan segera menuju parkiran. Selama perjalanan melewati lorong-lorong kantor yang kosong dengan pencahayaan yang remang-remang, membuat bulu kudukku meremang karena takut.
Aku teringat perkataanku pada Elma siang tadi. “Lebih baik ketemu setan kantor, daripada harus bertemu dengan Pak Kendra.”
Seketika aku merutuki diriku yang harus mengatakan itu. Kalau benar itu terjadi, aku ketemu setan-setan penjaga kantor ini. Kemungkinan aku akan jatuh pingsan, dan yang lebih parah aku akan tewas karena rasa takut.
Kupercepat langkahku saat aku semakin takut, dan untung saja tidak sampai bertemu dengan penjaga kantor ini hingga aku sampai di parkiran tempat mobilku kuparkir pagi tadi. Aku segera masuk dan menstater, lalu membawanya pergi dari sana.
“Hah, lain kali aku tidak mau lagi berurusan dengan Pak Kendra,” kataku. “Sangat menyebalkan, dia membuatku kelelahan.”
Tidak butuh waktu lama untuk aku sampai di rumah, karena jalan yang terlihat kurang dengan kendaraan yang biasa membuat jalan penuh, dan akan membuat mobil-mobil atau kendaraan lain suah lewat. Juga kemungkinan akan membuat kita terjebak di antara kerumunan mobil-mobil.
Perutku sekali lagi berbunyi, dan aku melirik jam tanganku. Pantas saja perutku sangat sakit, dan bisa jadi asam lambungku naik. Itu karena sekarang sudah jam delapan malam. Dan aku belum makan siang serta makan malam.
Aku pun bergegas turun dari mobil berjalan menuju ke dalam rumah, tapi belum sampai langkahku terhenti saat melihat mobil asing yang terparkir di depan rumahku. Siapa pemilik mobil itu, atau Bunda dan Ayah kedatangan tamu? Kalau benar siapa? Pikirku.
Astaga ... aku baru ingat kalau malam ini sahabat dan keluarga sahabat Ayah yang akan dijodohkan denganku. Malam ini akan datang dan menemui kami untuk saling mengenal dan membahas tentang perjodohan tersebut.
Aku memukul keningku pelan. Kenapa aku sampai lupa hal itu,. Bukankah aku sangat ingin menghindari ini, tapi kenapa aku sampai melupakannya. Tahu begitu aku akan berlama-lama di kantor tadi. Sampai mereka semua pergi dan pertemuan ini akan gagal.
Namun, bagaimana sekarang. Bingung juga karena aku sudah di sini. Untuk kembali pergi itu sepertinya tidak mungkin sekali. Ayah akan sangat marah kalau tahu aku sengaja untuk meninggalkan atau menggagalkan pertemuan malam ini, lalu aku harus bagaimana?
“Aduh ... bagaimana ini? Aku tidak mungkin pergi dengan berjala kaki?! Tenagaku sudah habis terkuras karena hukuman Pak Kendra tadi.”
Aku terus saja memutar otak mencari ide untuk lolos malam ini tidak bertemu dengan tamu Ayah. Karena sampai mereka melihatku dan setuju dengan perjodohan ini. Aku akan berada dalam masalah. Tidak ada cari lain selain jalan kaki untuk bisa kabur. Akan tetapi, baru saja ingin berbalik hendak pergi, tiba-tiba suara berat Ayah terdengar begitu jelas di telingaku.
“Mau ke mana kamu Elfira?”
Aku memejamkan mataku seraya menggigit bibirku. Terlambat sudah, aku tidak akan bisa lolos dan akhir dari semuanya sudah bisa dipastikan akan seperti apa. Aku berbalik dengan perlahan dan takut-takut. Kudapati wajah Ayah yang terlihat sedikit heran dan sedikit kesal. Aku tersenyum kecut sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Ayah,” ujarku salah tingkah. “A-ayah di sini?” tanyaku gugup.
“Kamu kenapa seperti itu? Kayak maling ketangkep warga saja,” ejeknya membuatku mendengus pelan.
“Ck, Ayah. Tega banget ngatain, Elfira.”
“Lah, salah kamu sendiri.” Ayah malah sama sekali tidak merasa bersalah. “Lagian, kamu kenapa dan kenapa juga baru pulang di jam segini? Bukankah Ayah sudah memberi tahumu kalau malam ini ada pertemuan dengan anak sahabat Ayah?”
“Astaga ... Ayah, Elfira ingat, tapi masalahnya di kantor kerjaan pada numpuk. Nggak bisa ditunda lagi, kalau ditunda malah tambah banyak. Elfira juga yang bakalan tersiksa,” kataku membela diri.
“Alasan saja kamu,” katanya tidak percaya. “Bilang saja kamu sengaja mau menghindari pertemuan ini, ‘kan?” tebak Ayah yang celakanya memang benar.
“Mana ada begitu, Yah? Nggak lah,” kataku mengelak.
“Terus itu kenapa kamu mengendap-endap kayak maling mau kabur tadi? Andai Ayah nggak ke luar dan mergokin kamu. Mungkin kamu sudah pergi dari sini.”
Aku menghela napas kasar mendengar ocehan Ayahku. Aku heran di sini yang jadi emak-emak itu siapa? Ayah atau Bunda? Masalahnya, yang lebih sering ngoceh dan marah-marah itu Ayah, bahkan dia sudah seperti radio rusak. Sementara Bunda sangat kalem dan sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah mengomeliku. Bunda akan membelaku di saat Ayah memarahiku.
“Kenapa malah bengong di sana? Ayo masuk,” ajak Ayah. “Teman Ayah dan anaknya sudah menunggumu sejak tadi,” katanya menarik tanganku.
Aku mengikut saja dengan pasrah. Toh, tidak ada pilihan lain selain pasrah saja. Mau lari juga percuma dan tidak akan mungkin bisa. Andai tahu akhirnya akan begini mungkin aku akan meminta Pak Kendra untuk memberiku hukuman memeriksa berkas lebih banyak. Agar aku tidak menghadiri pertemuan ini.
Di ruang tamu samar-samar aku mendengar Bunda berbincang dengan seseorang yang juga perempuan. Mereka terdengar akrab. Apa mungkin sahabat Ayah teman Bunda juga? Ah, tidak tahulah. Soalnya aku sama sekali tidak mengenali semua teman Bunda dan Ayah. Sebab, aku tidak pernah ikut saat mereka akan bertemu dengan teman-teman mereka. Bukan Ayah atau Bunda yang tidak ingin membawaku, tapi aku yang selalu menolak setiap kali mereka mengajakku.
“Hei ... Itu dia yang ditunggu-tunggu ternyata sudah datang,” seru Bunda saat melihat Ayah membawaku sudah seperti menyeretku ke ruang tamu menghampiri mereka.
“Wah, sudah datang ya. Dia lebih cantik aslinya di banding foto, ya, Pa.” Seorang wanita paruh baya mengatakan itu pada seorang pria paruh baya yang duduk di sampingnya.
Aku dapat melihat mereka dengan jelas saat aku dan Ayah sudah berada dekat dengan mereka. Dan mataku tertuju pada satu pria yang ikut duduk di sana dengan posisi membelakangiku. Dari postur tubuhnya aku tidak asing. Kira-kira dia siapa?
Apakah pria ini yang akan dijodohkan denganku? Kenapa dia terlihat tidak antusias dengan sama sekali tidak menoleh saat wanita itu memujiku, apakah dia sama denganku? Tidak menginginkan perjodohan ini. Semakin dekat semakin jelas mereka bertiga, dan betapa terkejutnya aku saat melihat dengan jelas pria yang duduk di antara mereka yang tadinya membelakangiku.
Jantungku berdebar begitu kencang, mulutku menganga dan mataku seolah ingin ke luar dari tempatnya. Namun, dia hanya terlihat biasa-biasa saja, bahkan sama sekali tidak bereaksi saat melihatku. Tatapannya dingin dan tak terbaca.
Astaga, hari kesialan apa ini? Kenapa sangat menyebalkan? batinku menjerit.
Bersambung!!