Aku Adalah Aku!

1042 Kata
Kala sedang menatap mata Sari dengan intens. Dia sebenarnya tak suka dengan semua pertanyaan yang Sari ajukan. Semua pertanyaan itu mengorek tentang peristiwa kemarin. “Apa sudah selesai?” tanya Kala jengah, karena Sari balas menatapnya dengan lembut. “Sudah. Kamu sudah sangat membantu,” kata Sari membuat Kala menghela napasnya. “Apakah aku sakit jiwa? Hanya karena aku tak merasakan perasaan bersalah saat membunuh mereka?” tanya Kala membuat Sari heran. Bocah berusia sebelas tahun, mengajukan pertanyaan yang membuatnya kagum, bagaimana otak bocah ini merespons setiap keadaan. “Belum tentu, dan belum bisa aku simpulkan,” jawab Sari berusaha senetral mungkin. Jiwa Kala perlu bimbingan agar berkembang selaras. Walau mungkin instingnya bisa bermain, tapi perasaannya harus mengimbangi. “Lalu, apa pertanyaan dan apa yang kamu suruh tadi akan mendapatkan kesimpulan?” tanyanya penasaran. “Benar, aku perlu beberapa waktu untuk menganalisisnya,” jawab Sari. "Apakah sudah selesai?" Kala kemudian meninggalkan Sari. Beranjak karena perutnya minta camilan. Sari mengikutinya keluar, tapi arah mereka berbeda. Kala menuju meja makan, sementara Sari menuju ruangan Dewi. “Aku sudah memberinya tes. Anak ini, mengolah data dengan aktif. Otaknya merespons dengan cepat dan taktis. Aku tak melihat sesuatu yang mengarah ke arah gangguan. Hanya mungkin kamu harus membiarkannya bermain sesuai dengan usianya,” papar Sari sebelum Dewi membuka mulut untuk menanyakan hasil pertemuannya dengan Kala. “Apakah, dia ada kecenderungan untuk apatis? Atau sadistic?” Dewi menyampaikan kegelisahannya. “Aku tak menemukan itu. Semoga saja tidak. Aku akan mengabarimu nanti setelah hasil keluar,” kata Sari sambil berlalu. “Kala mungkin sedang di dapur jika kamu mencarinya,” imbuh Sari. Dewi mengangguk. Tahu, ruangan yang akan dimasuki Kala hanya dapur, perpustakaan, kamar kakak-kakaknya dan ruang berlatih. “Mas Kala mau makan apa?” tanya seorang pembantu saat Kala masuk ke dapur. “Donat,” kata Kala sambil duduk di kursi kesukaannya. Kursi dengan meja tinggi yang menghadap jendela dengan pemandangan kebun mangga. Seorang pelayan mengambilkan beberapa donat dan minuman untuk Tuan Kecil mereka itu. Kala mengambil donat yang diletakkan di piring, kue berbentuk lingkaran dengan taburan gula halus di atasnya itu, adalah kudapan kesukaan Kala. Jangan lupakan es sirup merah yang manis. Kala akan menikmati waktunya tanpa banyak bicara. Kadang dia akan membawa permainan rubiknya untuk menghalau bosan di sana. Karena tak ada jadwal untuk latihan dan belajar, maka Kala merasa beberapa hari ini akan menjadi sangat membosankan. “Kal, boleh aku bergabung?” tanya Bayu yang sudah duduk di dekatnya. “Apa, Ayah sedang tidur hingga kau bisa kelayapan?” tanya Kala heran Bayu bisa berkeliaran. “Kamu ini. Tuan Danar sedang menerima telepon dari Tuan Tua,” jawab Bayu sambil mengambil donat di piring Kala. “Minta sendiri!” teriak Kala sambil menepis tangan Bayu. Namun Bayu cekatan dan menggigit donat itu seakan meledek Kala. Membuat bocah itu merengut. Seorang pelayan datang membawakan lagi donat dan kopi untuk Bayu. “Kapan, Mbah Kakung minta kita ke Jogja?” tanya Kala. “Kata Rama, persiapan sudah berjalan tujuh puluh persen, kita akan berangkat setelah semuanya siap,” kata Bayu. “Ruwatan itu seperti apa?” tanya Kala. Bayu menyesap kopinya sebelum menjawab pertanyaan kritis bocah di sampingnya itu. “Ruwatan itu prosesi adat untuk membuang sial. Akan ada perhelatan wayang kulit semalam suntuk, prosesi potong rambut dan pelarungan di laut,” jawab Bayu. “Kata Mbak Kakung, urutan apa itu Sendang kapit apa itu masuk urutan untuk diruwat, memangnya kenapa?” lanjut Kala membuat kepala Bayu seketika pening. “Sendang kapit pancuran, itu urutan anak perempuan diapit oleh dua anak laki-laki. Dalam hitungan Jawa, maka akan membuat anak perempuan yang terapit itu dilingkupi oleh bala,” papar Bayu sebisa mungkin memberi penjabaran yang bisa dicerna oleh Kala. “Nanti kamu juga akan tahu prosesinya,” imbuh Bayu sebelum mulut kecil itu melontarkan pertanyaan lain. Bayu melirik jamnya, kemudian menyesap kopinya sampai tandas. Lalu beranjak meninggalkan Kala. “Aku akan kembali ke kantor Tuan,” pamit Bayu. Kala hanya mengangguk sambil mengunyah donatnya. Kirana dan Wana memasuki dapur, berpapasan dengan Bayu yang keluar. “Kami sudah menyiapkan meja makan, jika Mas Wana dan Mbak Kirana ingin makan siang sekarang,” kata salah seorang pelayan. “Kal, kamu mau makan bersama kami?” tanya Wana membuat Kala berpaling dan mengangguk. Empat donat yang masuk ke perutnya yang kecil, tidak membuat nafsu makannya hilang. Berbagai lauk dan sayur terhidang di meja. Makanan mereka tak pernah beranjak dari selera nusantara. Menu akan berganti dari Sabang sampai Merauke. Hanya sesekali mereka menikmati menu masakan luar negeri. “Persiapan sudah selesai. Lusa kita akan berangkat. Kita tak bisa berangkat bersama. Aku tak ingin menggunakan pesawat untuk saat ini. Nagasastra sedang dalam mode waspada setelah kejadian kemarin,” papar Danar setelah Bayu kembali ke ruangan. “Lalu bagaimana rencananya?” tanya Bayu memastikan. “Kamu akan berangkat bersamaku dan beberapa orang. Terlebih dahulu. Setelah itu Andika dan Dewi akan berangkat bersama anak-anak,” lanjut Danar menjelaskan semuanya. “Koordinasikan dengan Andika dan Dewi. Bawa orang yang memang kompeten. Aku tak ingin ada kecolongan lagi,” imbuh Danar membuat Bayu mengerti. Segera dia beranjak untuk berkoordinasi dengan kedua rekannya itu. Sekalipun Dewi seorang perempuan, dia adalah salah seorang yang diandalkan di Ludira. Kemampuannya mengatur strategi dan memegang senjata tak bisa diremehkan. Itulah sebabnya dia menjadi pengasuh daei ketiga anak itu. "Andika, temui aku di ruang kerja," katanya di saluran telepon lalu mematikannya dan menghubungi Dewi. "Datanglah ke ruang kerja, sekarang," katanya. Sambil menunggu kedua rekannya tersebut, Bayu menatap jendela yang berhiaskan pemandangan kebun belakang. Hari-hari ini akan berlangsung lambat dan sangat waspada. Ketua Hadinata tidak akan mentolerir saru kesalahanpun di acara besarnya. Sebagai keluarga Jawa yang taat dengan adat istiadat, maka perhelatan ruwatan ini memiliki makna dan arti khusus bagi Hadinata. Sebuah sentimentil tentang budaya yang dituangkan dalam setiap lakunya. Sebuah penghargaan dan penghormatab terhadap adat yang ditekankan dalam setiap lakunya. Hadinata adalah generasi ketiga dari Ludira yang mampu mempertahankan eksistensi mereka. Ketukan pintu membuyarkan lamunan Bayu sosok Andika dan Dewi berbarengan memasuki ruang kerja mereka. "Ada apa?" tanya Andika seraya duduk di kursi tanpa diperintah. Dewi menyusul setelah menyeret salah satu kursi lain ke meja Bayu. "Perintah untuk ke Yogya sudah turun, aku ingin kita berkoordinasi dengan baik tentang keamanan," kata Bayu memulau koordinasi mereka. Ketiganya menampilkan wajah serius detik itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN