Suasana di sebuah rumah mewah sedang geger. Beberapa orang tampak mondar-mandir mengelilingi peti mati yang tiba hari itu dengan pengiriman khusus. “Bagaimana bisa kita kecolongan alamat?” kata salah seorang dari mereka. “Aku rasa, kita tidak bisa meremehkan Ludira,” timpal yang lain. “Aku sudah bilang kepada kalian!” teriak seorang laki-laki tua yang turun dari lantai dua. “Ayah,” kata mereka kompak. Ketiga laki-laki yang sedari tadi berdebat, menundukkan kepala mereka. Sementara beberapa orang yang sepertinya adalah karyawan, mundur mendekati dinding. “Walau Hadinata sudah mati, dan kita mengorbankan orang terbaik kita untuk kematian itu, Danar tetaplah seorang pemimpin yang mumpuni,” kata orang tua itu. “Silakan, Tuan Satria,” kata seorang pelayan seraya menarik kursi untuknya du

