Dewi mengetuk pintu flat Kala. Andika sudah berada di kafetaria bawah menyeruput kopinya. Itu tandanya Kala masih aman di kamarnya. Kala yang masih berselimut enggan untuk membuka mata. Ketukan itu sama sekali tidak berhenti. Mau tak mau dia bangun dan menuju pintu. Melalu lubang pintu dia melihat Dewi di sana. Serta-merta Kala membuka pintu, karena tak ingin mendengar omelan wanita itu. “Jam berapa ini?” tanya Dewi sambil melangkah masuk. Matanya langsung nanar menatap ke seluruh kamar yang berantakan khas remaja. “Aku belum sempat membereskannya,” kata Kala sebelum Dewi bertanya lebih lanjut. Dewi menggelengkan kepala dan mengambil kursi terdekat. “Duduklah,” katanya. Kala menurutinya, duduk di depan Dewi. “Aku akan bicara serius kali ini. Tentang Ludira,” ucap Dewi dengan mimik

