Kala menatap wajah cantik yang ada di depannya itu, wajah yang menawannya beberapa hari ini. Wanita itu tersenyum, menatap wajah tampan di depannya, yang mungkin terpesona dengan kecantikannya. “Aku tahu, aku cantik,” kata Bianca, nama wanita itu. Kala tertawa melihat tingkat percaya diri Bianca yang di atas rata-rata itu. “Kamu memang cantik.” “Wanita tercantik?” selidik Bianca. Kala tercenung mendengarnya. Bukan, Bianca bukan wanita tercantik yang pernah dia temukan. Masih ada Kirana, kakak keduanya yang sangat cantik, dan akan membunuh siapa saja yang ada di hadapannya dengan itu. Lalu, ada Samantha. Ah, mengingat Sam, membuat hati Kala nyeri. “Berarti, aku bukan yang tercantik.” Bianca merenggut. Berpura-pura kesal. Kala tertawa, dia tahu, Bianca hanya berpura-pura. “Kamu cantik

