Setelah kepulangannya, Kala menghadapi kembali rutinitas sebagai seorang pemilik perusahaan, walau kendali tetap ada di tangan Andika, tapi dia adalah pemimpin yang sesungguhnya. Ide gila yang dia lempar beberapa hari yang lalu, masih menjadi pertimbangan bagi Wana dan Bayu. “Hari ini kamu mau ke mana, Kal?” tanya Andika menyadarkan lamunan Kala. Bung di balkon sudah berganti dengan yang baru, tak lagi sama tapi masih memberinya bekas yang nyata. “Sam,” desis Kala. Andika paham dan mengambil kunci mobil dadi meja kerjanya. Kala mengikutinya turun dan masuk ke dalam mobil. Kafe Han sudah tutup dan berganti menjadi sebuah toko bunga. Mereka menuju Bogor. Selama kepergian Kala, Andika tetap menyuruh orang untuk menjaga dan membersihkan kuburan Sam. Lima tahun berlalu, tapi bagi Kal

