“Hidup itu tidak akan menjadi beban, jika kamu melakukannya dengan ikhlas,” kata Andika membuat Wana mencebik. “Mereka berdua merepotkan,” sergah Wana, padahal dalam hati dia tersenyum. Dia tak pernah merasa terbebani sama sekali menjadi penjaga bagi mereka berdua. Karena dia adalah anak tertua dan mereka adalah tanggung jawabnya. “Terima kasih sudah bersabar, Wana. Mereka akan menjadikanmu tempat berlabuh dan mengadu, jadi kuatkan dirimu.” Dewi menambahi, tapi dia tahu, Wana selalu kuat untuk itu. Wana tertawa. Dia melihat gerbang rumah mereka. Suasana perumahan yang rindang dengan banyaknya pepohonan, membuat suasana menjadi lebih syahdu. “Mbah Kakung pasti sedang menunggu,” desis Wana membayangkan laki-laki tua itu berdiri di depan pintu, di undakan paling atas, dengan tongkat ka

