"Mas Gilang ..." Aku langsung mendengar suara perempuan saat aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali, aku melihat Wika dan Putra yang terlihat lega. Yang aku ingat setelah kecelakaan adalah aku berada di IGD sebuah rumah sakit, mendapatkan pertolongan dan kemudian aku kembali kehilangan kesadaran. "Wenny ..." Aku mencari keberadaan Wenny. "Kak Wenny sedang istirahat, dia tadi pingsan," ujar Wika yang membuatku terdiam. Aku memejamkan mataku sejenak. Sementara Putra menepuk pelan bahu sebelah kiriku, sedangkan tangan kananku mengalami patah tulang, terpaksa harus digips. "Tenanglah Mas. Kak Wenny baik-baik saja," kata Putra yang membuatku sedikit tenang. Walaupun aku tidak bisa yakin jika tidak melihat secara langsung kondisi Wenny. Pintu kamar rawatku terbuka pelan, muncul sosok De

