Wenny menatapku kesal, di tangannya terdapat ponselku. Dia mengacungkan benda tersebut, tatapannya perlahan berubah menjadi sedih. "Tega kamu sembunyiin surat ini Mas! Memangnya kenapa kalau aku tahu?" tanya Wenny yang kemudian menitikan air mata. Aku paham maksud pertanyaan Wenny, dia menanyakan tentang surat peninggalan Sania. Wenny pasti mendapati foto surat tersebut di ponselku. Bukannya aku tidak ingin jujur, aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran Wenny. "Sayang ..." "Sayang kamu bilang Mas? Orang sayang nggak akan sembunyiin hal kayak gini! Aku kecewa sama kamu, Mas." Wenny memotong perkataanku, dia terduduk di tepi tempat tidur. Aku berjongkok di hadapan Wenny, mencoba meraih tangan Wenny yang masih menggenggam ponselku. Dia menolakku, Wenny menghindari tanganku. Wajahnya

