Aku kembali ke kamar setelah lebih tenang. Aku bersalah memang sudah main pukul saja seperti tadi. Terlebih lagi Wenny justru membantu pria b******k itu. Selama ini aku diam bukan berarti tidak tahu apa-apa soal Wenny dan Febriko. Beberapa waktu yang lalu aku sempat ngopi bareng dengan Putra. Dia lah yang menceritakan soal Febriko. Mengenai bagaimana pria b******k itu membuat Wenny sakit hati, kemudian menimbulkan perkelahian antara Wika dan istriku. Maaf saja, aku tidak akan merasa kasihan dan memberikannya kesempatan untuk mendekati Wenny lagi. Dia sendiri yang bersalah karena sudah menyia-nyiakan Wenny. Aku mendapati Wenny sedang tertidur, matanya terlihat bengkak. Sepertinya Wenny menangis sendirian. Aku menghela napasku pelan, merasa bersalah karena sudah menyebabkan Wenny menangis

