"ABAAAANGGG!!!" "Hahahaha," Kenzo tertawa puas sambil berlari menjauhi kamar Zia yang baru saja ia jahili. Menyenangkan sekali rasanya melihat wajah imut itu memerah emosi dan pipinya yang menggembung lucu, bahkan tak jarang Zia menangis kesal karena ulahnya. Tapi tentu saja setelahnya ia akan memeluk tubuh mungil itu erat, menggumamkan kata maaf dan memberinya hadiah hadiah kecil seperti es krim, lollipop, boneka baru atau apapun permintaan kekasih kecilnya itu. Kenzo menoleh saat mendengar suara derap langkah kaki mendekat, matanya membulat dan refleks kakinya berlari menjauh, tawanya menggelegar melihat Zia yang berlari mengejarnya, gadis itu mengangkat tongkat mayoret miliknya, berancang ancang memukul Zo jika sudah dekat. Namun bukan itu yang membuat tawa Kenzo pecah, melainkan ek

