"Seandainya aku udah pergi lagi ke Amsterdam, kamu nggak masalah kan ngebiarin Bela bareng Kenzo lagi?" Zia menggelengkan kepalanya pelan, memejamkan matanya, gadis itu sedikit memijit pelipisnya yang agak berdenyut menyisakan rasa nyeri yang mampu membuatnya meringis sesekali. Bahkan novel dipangkuannya sama sekali tidak menarik setelah ia kembali teringat percakapannya dengan Christ sore tadi, padahal ia sangat antusias untuk menyelesaikan bab novel kesukaannya itu. Tapi setelah ia menyadari bahwa Kenzo belum kembali, bahkan jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, mendadak ia teringat percakapannya dengan Christ. "Zia nggak ngerti sama jalan pikirnya orang dewasa. Kenapa Om Christ rela ngebiarin Kak Bela deket sama Bang Kenzo lagi? Disatu sisi Bang Kenzo udah jadi pacarnya Zia seka

